Sebuah cerita tentang makhluk mitologi yaitu werewolf dan vampire, menyamar dan berbaur dengan manusia untuk menemukan putri yang hilang. Salah satu dari mereka ternyata adalah mate sang putri.
Namun setelah putri yang hilang ditemukan terjadi peperangan besar yang membunuh banyak vampire.
kisah ini menceritakan tentang dua golongan vampire dan juga dua golongan werewolf yang saling memperebutkan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putriifrhm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Perkataan
"Berikan ini pada Steve, minta dia untuk menjawab secepatnya," perintah Arnold pada Argus, asistennya.
Argus menerima perkamen yang diberikan oleh tuannya itu dengan tersenyum ramah, "Baik, yang mulia,"
Dengan secepat kilat Argus melesat, berlari menuju kerajaan werewolf Abloor. Saat ia sampai di perbatasan, kawanan serigala dengan taring besar menghadangnya, "Permisi, aku ada pesan penting yang harus ku berikan pada raja Steve," ujar Argus, ia memang sangat murah senyum, hingga dalam keadaan apapun dia terus tersenyum.
Salah satu serigala menerkamnya hingga terkunci di tanah, Argus tak dapat bergerak sama sekali karena serigala lainnya juga menahan dirinya.
"Aku mohon, aku tak punya waktu," pinta Argus berusaha seramah mungkin.
Namun serigala yang menerkamnya pertama kali langsung mencakarnya.
Argus berusaha melepaskan diri dengan luka di pipinya, "Kalian sangat tidak ramah dan tidak sopan," ujarnya dengan evil smirk.
CRAASHH
Argus dengan pedang yang sedari tadi ia sembunyikan di balik jubah pakaiannya dengan mudah membelah tubuh serigala itu menjadi dua, "Maafkan aku, aku sangat tidak suka jika di perlakukan tidak sopan," gumamnya sambil mengusap pedangnya yang berlumuran darah di bulu salah satu serigala itu, kemudian kembali menyembunyikannya di balik jubah.
Ia kembali melesat menuju istana.
Di gerbang Istana.
"Dengan penuh hormat, izinkan aku menemui raja Steve, aku ingin mengirim pesan dari tuanku, raja Arnold," ujar Argus dengan senyuman ramahnya.
Dua penjaga gerbang itu saling menatap, kemudian mengangguk. Mereka membukakan gerbang kayu dengan hiasan besi tebal itu untuk Argus.
Vampire muda itu berjalan menuju singgasana raja dari bangsa werewolf itu, "Raja Steve," sapa Argus sembari menunduk penuh hormat, ia memberikan perkamen itu pada Steve.
Dengan wajah angkuh, Steve membaca isi perkamen itu, "Bilang pada Arnold, kita akan melakukan perang, besok!" ujarnya dengan penuh penekanan.
Argus mengangguk, setelah merasa tugasnya selesai, ia kembali ke istananya.
"Raja Arnold, Steve memutuskan untuk memulai perang besok," jelas Argus.
Sontak seluruh penghuni istana terperanjat, Alex memasang wajah bingung. Ia merasa sama sekali belum siap.
"Baiklah,"
.
.
Seorang gadis bersurai pirang berbaring di kasur berwarna putih,ia tersenyum sendiri sembari menatap langit-langit kamarnya.
Sang asisten yang duduk di kasur jendela memandanginya dengan tertawa geli.
"Nona Jane," panggil Hilda dengan menahan tawa.
Jane tersentak, ia segera duduk dan menatap asisten pribadinya itu, "Ya, ada apa Hilda?" sahutnya.
Ia tertawa kecil, "Nona Jane, aku bisa membaca pikiran seseorang," ujarnya.
Jane terbelalak, "Hah? A-apa? apa saja yang kau dengar?" tanya Jane.
"Alex, pria terdingin sedunia dan satu lagi yang ku ingat, aku mencintai yang satu ini," Hilda tertawa lepas. "Aku tak peduli dengan sifat dinginnya yang melukaiku, yang jelas ia adalah pria yang sangat dewasa dan aku idam-idamkan selama ini-HAHAHA," Hilda kembali tertawa terbahak-bahak, ia bahkan sampai meneteskan air mata.
Pipi Jane memerah, "Hildaaa!"
"Haha, tenang saja nona Jane, aku pengingat yang buruk, tak berapa lama aku juga akan melupakannya."
"Hilda?" panggil Jane.
"Iya nona Jane?" sahutnya.
"Apa kau akan mengikuti peperangan?" tanya Jane.
"Tidak, aku akan menjaga anda di sini," jawab Hilda.
Jane tersenyum kecut.
Ia menghela nafas kesal, perasaannya campur aduk, ia sangat khawatir dengan Leo, Alex, James, apalagi dengan ayahnya.
Gadis bersurai hitam sepunggung itu menghampiri Jane dan duduk di bibir kasur, "Tak akan ada masalah dengan Alex, Leo, maupun yang lain. Aku yakin, mereka bisa memenangkan peperangan ini,"
Jane tersenyum, ia menatap Hilda dengan hangat. Perasaannya sedikit membaik setelah mendengar perkataan Hilda.
Ya, ia yakin mereka semua akan baik-baik saja.
.
.
Di tepi lapangan yang sepi, Leo terbangun dari tidurnya dan merenggangkan tubuhnya. Menggeliat di atas hamparan rumput hijau, "Sepi?" gumamnya sambil mengucek mata.
Kemudian ia berjalan menyusuri teras istana untuk mencari keberadaan Alex, namun ia mendengar suara percakapan wanita disalah satu pintu kamar, "Jane, aku yakin ini kamar Jane," gumamnya lagi.
Leo mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, namun pintu lebih dahulu terbuka.
"Makhluk berbulu, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hilda di celah pintu.
ia membuka pintu sedikit agar Leo tidak bisa melihat Jane di dalam.
"Em, aku--"
"Okay, silahkan masuk," sela Hilda sambil tersenyum.
Leo mengerutkan keningnya, "Orang aneh."
Ia melompat ke atas kasur, tepat di samping Jane, "Hai cantik, bagaimana perasaanmu?"
Jane tersenyum, "Aku tak tahu,"
"Oh ya, kau masih ingin berkuliah?" tanya Leo lagi.
"Aku rasa tidak," Jane menyandarkan kepalanya pada bahu Leo, "Aku cukup senang di sini, aku tak ingin berpisah dengan kalian, dan aku akan membantu kalian berperang," tambah Jane.
"Tidak, kau harus tetap disini, tidak boleh ikut perang."
Jane mengangkat kepalanya dan menatap Leo, "memangnya kau siapa berani melarang ku?'
Leo berdiri dan melipat kedua tangannya di dada, "Siapa bilang kau bisa membantah perkataan ku? Apa aku pernah mengizinkanmu untuk berkata tidak?"
Mata Jane berkaca menatap Leo.
Leo terlihat panik, "Eh, jangan menangis, aku hanya bergurau-tidak bermaksud untuk memaksa-aku-aduh, maaf."
Jane dan Hilda tertawa.
"Maaf, aku hanya berpura-pura. Aku tahu kau tidak akan mungkin berkata seperti itu."
Leo mencubit hidung Jane dengan gemas hingga membuat bekas kemerahan di sana, "Kau ini."