Semua persiapan telah disusun sedemikian rupa. Namun sang calon suami tidak datang ke acara pernikahan. Untuk menjaga kehormatan, suami pengganti pun di cari.
Kehidupan mereka setelah menikah dibumbui dengan adu argumen dan kekonyolan. Saat cinta itu mulai tumbuh, masa lalu datang.
Akankah mereka bisa bertahan?
Kuy baca aja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sripujiayu620, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 10
"Heh pemalas!" bentak Deniel melihat asisten yang duduk dengan santainya sambil memainkan gawainya.
"Kau memanggilku?" tanya Dinda memastikan.
"Bukan, aku manggil hantu! " kesal Deniel menatap sinis. "Ya iyalah kau, siapa lagi?" sambung Deniel.
"Ada apa heh?" tanya Dinda meletakkan ponselnya ke dalam tas.
"Buatkan aku kopi." Titah Deniel.
"Kenapa harus aku? apa di kantor ini tidak ada OB apa?" tanya Dinda sambil memutar bola matanya kesal.
"Ini perintah! lagian ku lihat-lihat kau duduk santai saja tidak ada kerjaan.Jadi cepat lakukan saja apa yang ku suruh! atau kau mau? " ucap Deniel mengantungkan kalimatnya.
"Mau dipecat? hanya itu ancaman mu padaku!" kesal Dinda menduga kalimat yang digantungkan oleh duda tampan itu.
"Gak ada yang lain gitu ancamannya? misalkan dapat bonus gitu? atau dapat tiket keluar negri gitu? lah ini ancamannya dipecat! gak asik nih si Pak Duda! jangan-jangan kere lagi." Ucap Dinda dan melangkahkan kaki nya menuju dapur yang ada di kantor.
Dengan menggerutu disertai kekesalan Dinda membuatkan kopi untuk ayah satu anak itu.
"Din!" seru Eva, sekretaris dari Deniel.
Dinda hanya melirik tak menjawab sapaan dari temannya itu.
"Gimana Din jadi asisten Tuan Deniel? enak gak?" tanya Eva merangkul temannya itu.
"Enak? yang ada itu menderita!" kesal Dinda. "Itu tetangga bikin orang darah tinggi mulu!" sambung Dinda lagi.
"Nah kamu kan tetangga tuh sama Tuan Deniel, tolong dong Din jalurin temanmu ini." Pinta Eva memelas.
"Hahahahahah kamu sama dia? emangnya kamu siap jadi ibu sambung? dia itu duda anak satu loh." Ucap Dinda dengan gelak tawanya.
"Aku sih oke-oke aja jadi ibu sambungnya. Pasti gak kalah ganteng kan anaknya sama Tuan Deniel?" ucap Eva membayangkan.
"Iya ganteng sih, tapi tuh anak bikin kesel. Nanya mulu kerjaannya!" kesal Dinda membayangkan tampang Gio si lugu plus polos itu.
"Terus…"
"Udah deh Va, jangan banyak nanya aku pusing!" Dinda langsung memotong kalimat temannya itu.
Dinda kemudian berjalan menuju ruangan direktur dan diikuti Eva dari belakang.
"Nih kopinya! airnya ini aku ambil dari air mata buaya, kopinya langsung ku petik di kebunnya!" ucap Dinda asal dan langsung meletakkan dengan kasar cangkir pada meja Deniel.
"Terus aku harus bilang waw gitu?"ucap Risal sambil mengangkat kedua bahunya.
"WAWW!" teriak Dinda dan langsung kembali duduk di sofa.
Eva hanya senyum-senyum melihat tingkah bosnya yang jarang diperlihatkan di depan umun.Hari ini kekonyolan CEO itu terlihat dengan jelas saat beradu argumen dengan Dinda.
"Pak, hari ini kita akan mengadakan pertemuan dengan perusahaan Bungas Group." Ucap Eva sang sekretaris.
"Kapan pertemuan akan diadakan?" tanya Deniel mengalihkan pandangannya pada sekretarisnya.
"Pertemuan akan diadakan 1 jam lagi, tepat pada jam makan siang." Ucap Eva sambil melihat waktu yang tertera pada jam tangannya.
"Hhmm baiklah," respon Deniel dengan anggukan kepala.
"Ya sudah saya permisi dulu." Ucap Eva direspon Deniel dengan anggukan. Eva pun langsung keluar dari ruangan direktur.
Deniel masih berkutak-katik dengan laptopnya.
"Niel, aku minta cuti yah?" pinta Dinda.
"Lah kenapa? belum seminggu kerja udah minta cuti aja sih?" tanya Deniel.
"Ya aku harus cuti lah, aku kan udah mau menuju halal. Kata orang gak boleh calon pengantin keluyuran kemana-mana.Boleh kan Niel?" pinta Dinda memelas.
"Hhmm iya-iya." Jawab Deniel.
Like, komen, dan vote.