"Kami hanyalah orang-orang yang berada di luar pikiran manusia. Karena kami tidaklah nyata. Kami hanyalah lambang dari jiwa yang menuntut kedamaian."
Seorang teroris tak terkalahkan di Korea mendadak melakukan boom bunuh diri tanpa sebab setelah menghancurkan sebuah perusahan dan meninggalkan banyak pertanyaan besar. Teroris yang dikenal dengan nama Jii Joon tersebut dinyatakan tewas dalam insiden tersebut dengan bukti-bukti nyata.
Namun bagi sebagian orang yang memahami kecerdasan Jii Joon memiliki keyakinan yang berbeda. Mereka yakin bahwa teroris tersebut masih hidup dengan kondisi baik dan mungkin sedang menyusun rencana untuk serangan yang lebih kuat.
Tujuan untuk mengungkap rahasia dan misteri yang terus menjadi pertanyaan besar di balik tindakan dan identitas sang teroris pun mulai dilakukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leorein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seon Mei
Singapura
Di dekat jendela seorang gadis muda, cantik dan berdarah murni Korea duduk di sebuah kursi roda menatap lurus menembus jendela kaca.
Pikirannya menari-nari tak henti memutar ulang beberapa masa lalu yang telah dia simpan di dalam kepalanya dan terus dia ingat setiap saat.
Terkadang gadis tersebut merasa rindu ingin kembali ke masa lalu tapi di sisi lain dia juga merasa takut untuk kembali ke masa lalu. Dia takut akan mengalami hal yang sama dan terluka untuk yang kedua kalinya.
Tangannya yang dibalut oleh sarung tangan tipis memegang sebuah kado yang baru selesai dia bungkus sekitar sepuluh menit yang lalu.
Pakaian pasien yang dia kenakan membuat dia terpaksa tinggal di dalam gedung mewah seorang VVIP selama bertahun-tahun dengan cara yang membosankan. Sangat membosankan.
Dari sudut pandang orang biasa. Dia adalah gadis kaya yang beruntung dan orang-orang iri kepadanya. Namun tidak ada yang tahu bahwa dia hidup dalam kebosanan di sini. Dia ingin hidup seperti orang lain yang hidup biasa saja tapi penuh kebebasan dan bisa melakukan banyak hal.
Tidak ada yang bisa ia lakukan di sini kecuali menatap keluar jendela dan melihat aktifitas orang-orang negri ini melakukan aktifitas mereka. Dan ia telah terbiasa dengan semua ini walau ia terus berharap untuk segera bebas dari semua penyakitnya ini.
Seorang dokter profesional masuk bersama dua perawat juga seorang wanita. Gadis itu melihat ke arah mereka. Ia mengenal mereka semua dengan baik. Tentu saja. Ketiga orang yang mengenakan baju putih seragam seorang perawat juga seorang dokter adalah yang selama sepuluh tahun merawat dirinya. Dan satunya adalah ibu yang selalu menemaninya hingga hari ini di penjara ini tanpa kenal lelah dan terus memberinya semangat.
Ia meletakkan kado di tangannya ke meja. Kemudian ia memutar kursi rodanya mendekati orang-orang itu. Ia tidak lumpuh, hanya saja terlalu lama disini membuatnya sedikit nyaman menggunakan kursi roda daripada kakinya. Seolah ia menyerah untuk berjuang meski sebenarnya ia masih tetap berjuang.
Kehadiran orang-orang ini tentu saja ia tahu alasannya. Saatnya pemeriksaan rutin. Setelah selesai memeriksa dirinya si dokter hanya bicara dengan ibunya kemudian dokter dan dua perawat pergi dengan tersenyum hangat kepada gadis itu. Gadis itu dapat menebak. Mungkin kesehatannya semakin membaik akhir-akhir ini. Tinggal mereka berdua.
"Sayang, ini kabar yang sangat baik. Kau bisa pergi kemanapun setelah hari ini," ucap si wanita dengan tangis haru bahagia. Perjuangan mereka selama ini tidak sia-sia. Wanita itu memeluk putri tercintanya dengan penuh cinta.
"Benarkah itu ibu!?" tanyanya ingin memastikan meski ia tahu ibunya tidak akan berbohong untuk hal seperti ini.
Dia tidak berpikir akan bebas dari penjara ini, dia hanya berpikir jika dokter itu akan bilang kondisinya membaik tapi kali ini jelas benar-benar kabar baik.
Wanita itu mengangguk antusias. Gadis itu berusaha berdiri dari kursi rodanya dengan usaha dan kakinya sendiri. Dia langsung kembali memeluk ibunya yang setia menemani dirinya. Keduanya tersenyum indah dan haru layaknya mentari terbit.
Penantian selama bertahun-tahun akhirnya terkabul hari ini. Gadis itu sangat senang. Benar-benar senang. Setelah bertahun-tahun akhirnya hari ini kebebasan dirinya kembali. Dia bisa pergi kemanapun menjauh dari penjara ini. Kebebasannya kembali. Setelah sekian lama, dia bisa merasakan kebebasan lagi. Ia tidak akan kembali ke penjara ini. Tidak akan.
"Ada kabar baik lainnya sayang. Besok kita bisa langsung kembali ke Korea," ucap wanita itu dengan senang. Dia yakin putrinya akan sangat senang. "Shin An juga sudah kembali ke Korea," tambahnya
"Ibu. Aku tidak ingin pulang ke Korea," kata gadis itu tiba-tiba dengan wajah murung.
Kebahagian di wajah wanita itu hilang. Dia heran dengan putrinya. Kenapa? Dia tahu putrinya sangat merindukan Korea, ia tahu putrinya juga sangat merindukan Shin An. Dia tahu jika putrinya sangat ingin bertemu dengan cinta pertamanya itu.
Selama sepuluh tahun, gadis ini telah membuat kado untuk ulang tahun Shin An setiap tahun. Hanya saja kado-kado itu tidak pernah satupun yang sampai ke tangan Shin An.
"Seon Mei, kenapa? Kau masih memikirkan peristiwa itu? Bukankah Suzu Ha sudah meminta mereka memaafkanmu?"
"Ibu, ini tidak ada hubungannya dengan peristiwa itu. Aku hanya ingin pergi ke Kanada. Ada urusan penting di sana," ucap gadis itu dengan sedikit sulit untuk mengatakannya.
"Kanada? Ibu tidak pernah tahu kau ada urusan di sana." Wanita itu sangat heran dengan putrinya.
Dia bahkan ingat dengan baik bahwa mereka tidak pernah pergi ke Kanada seumur hidup mereka. Lalu bagaimana putrinya yang hidup di rumah sakit ini memiliki urusan di negara itu.
"Ibu, tolong jangan bertanya apapun. Aku tidak bisa menjawabnya. Aku ingin pergi ke Kanada sendiri. Ini urusan yang harus kuurus sendiri," kata Seon Mei dengan lembut memohon agar ibunya mengerti.
Seon Mei sadar, ia tidak boleh membuat ibunya terlibat sedikit pun. Wanita itu mengangguk mengerti, ia tidak akan bertanya apapun meski sedikit. Wanita itu melihat kado baru yang dibungkus oleh putrinya untuk Shin An yang akan ulang tahun tidak akan lama ini.
"Itu untuk Shin An?" tanya ibu Seon Mei sambil menunjuk ke arah kado di meja bulat.
Seon Mei mengangguk. "Berikan semuanya langsung kepada Shin An tanpa perantara siapapun. Harus ibu langsung menyerahkannya ke tangan Shin An. Dan Shin An harus sendirian, jangan ada siapapaun di dekatnya apalagi itu adalah Suzu Ha. Tolong berikan kepada Shin An jika terjadi sesuatu kepadaku di Kanada nanti ibu," pinta Seon Mie.
Apa yang dikatakan oleh putrinya? Itu membuat wanita itu sangat cemas. Urusan apa yang sebenarnya Seon Mei maksud penting? Kenapa harus ada kemungkinan terjadi sesuatu kepada putrinya? Wanita itu ingin bertanya banyak hal tapi ia terlanjur berjanji tidak akan bertanya apapun.
"Tidak akan terjadi apa-apa denganmu Seon Mei. Kau akan sembuh," hanya ini yang bisa dikatakan ibu kepada putrinya.
Seon Mei kembali memeluk ibunya. "Penyakit ini tidak akan bisa mengalahkanku," ucap Seon Mei dengan lirih.
Benar. Penyakit ini tidak akan bisa mengalahkan Seon Mei. Sampai hari ini penyakit itu tidak bisa berbuat apa-apa kepada Seon Mei, gadis itu tahu lebih dari siapapun. Hanya saja, ada hal yang lebih berbahaya untuk dirinya melebihi penyakit ini. Dia tidak bisa lari, pilihannya hanyalah menghadapi semua itu. Tiga belas Assasin telah menunggu nyawanya.
Tiga tahun lalu di negara ini. Singapura. Seon Mei sudah terlibat oleh sesuatu yang berbahaya tanpa sengaja. Sejak hari itu, dia terus memikirkannya dan dia telah memutuskan untuk terlibat dengan semua itu secara langsung.
Jadi tidak mungkin dia mengatakan kepada ibunya bahwa ada tiga belas manusia pembunuh yang kapan saja datang untuk membunuh dirinya.