Clarissa Joanna Lyon Watson, seorang putri Duke satu-satunya yang awalnya punya sifat manja serta lemah berubah menjadi karakter wanita bar-bar setelah siuman dari tidur panjangnya. Dengan jiwa yang berbeda. Konflik antara ayahnya yang seorang Duke dengan Putra Mahkota yang merupakan tunangannya menjadi pemicu ketidak stabilan duchy (wilayah) Lyon yang membuat Clarissa harus turun tangan dengan memberi pelajaran pada Putra Mahkota atau membuatnya mencintai setengah mati.
jangan lupa like, komen, rate dan vote ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erofantic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 : Pertarungan Dan Rasa Cemburu?
Aku berdiri dengan pose kuda-kuda dengan pedang menghunus ke depan, sedangkan Putra Mahkota berdiri dengan posisi pedang yang sama, menghunuskan pedang kearahku. Sikapnya seolah benar-benar menghadapi musuh. Tatapannya tajam seolah menelisik kelemahan lawan. Aku menyerang terlebih dahulu dengan kecepatan penuh, aku ayunkan pedang ke kiri-kanan, dia pun dengan tangkas menangkis setiap ayunan pedangku. Sesekali dalam celah kecil aku beberapa kali menyerang, dan dengan cepat pula dia mematahkan seranganku, bahkan permainan pedang yang aku kombinasikan dengan bela diri pun tidak bisa merobohkan pertahanannya yang kuat.
Tak heran dia memiliki kemampuan yang luar biasa, bukan hanya karena tuntutan menjadi orang yang kuat sebagai Putra Mahkota yang setiap saat akan menemui bahaya, tapi karena faktor genetik dan kekuatan khusus yang pastinya didapat secara turun temurun. Dimana setiap pewaris tahta yang terpilih akan diberi kekuatan khusus. Entah kekuatan khusus yang seperti apa, karena hanya pihak keluarga kaisar saja yang tahu.
Aku kembali menyerang, menghunuskan pedang kearah kepala, ketika dia menangkis ayunan pedangku, aku melayangkan tendangan kembali ke arah kepala. Dia berkelit dengan mendorong tubuhnya kebelakang, sangat cepat. Gerak refkeksnya benar-benar luar biasa.
"Kemampuan Anda benar-benar luar biasa, Nona. Pantas saja Anda sangat percaya diri untuk terjun langsung menghabisi para perampok di perbatasan. Saya sampai 'sedikit' kewalahan."
Kata sedikit yang ditekankan olehnya terdengar meremehkan ditelingaku. Aku cukup kelelahan karena mengeluarkan semua tenaga hingga nafasku lumayan tersenggal, tapi dia terlihat tidak ada kelelahan sedikit pun. Nafasnya pun masih sangat teratur. Aku jadi kesal.
"Saya berterima kasih pada Tuan Ronald yang selalu sabar menjadi guru latihan saya, Yang Mulia." Mimik wajahnya sedikit berubah, terlihat ketidaksukaan mendengar ucapanku.
"Apakah dia kesatria yang bersama Nona sewaktu di wilayah Hills?"
"Benar, Yang Mulia. Tuan Ronald menjadi tim langsung dibawah saya."
Dia mengernyitkan dahi ketika dilihatnya aku menyarungkan pedang lalu menarik dua pisau belati yang terpasang di kedua pahaku. Dengan pisau belati dikanan-kiri tangan, aku kembali menyerang. Aku cukup ahli menggunakan pisau belati dalam pertempuran, karena dimiliter pisau belati merupakan senjata kedua dalam pertahanan diri setelah senapan, apalagi untuk menghadapi pertempuran jarak dekat.
"Berarti dia juga yang menjadi alasan Nona keluar malam secara diam-diam seperti ini?" ujarnya seraya menghindari tiap sabitan pisau belatiku.
"Sepertinya Yang Mulia tidak perlu tahu untuk hal itu."
Aku terus menyerang dia dengan pisau ditangan kanan dan kiri secara random, diiringi sebuah tendangan melayang ke arah depan, mengincar perut dan dada, ke arah samping mengincar pinggang dan tulang rusuk atau kearah kepala secara beruntun. Pertempuran jarak dekat seperti ini sedikit membuat dia terdesak. Dan layaknya dari seorang Putra Mahkota, serangan yang aku lancarkan bisa ditangkisnya sempurna sekalipun dalam keadaan terdesak. Aku berjaga jarak, mengambil nafas sebentar. Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa sesak.
"Sepertinya aku harus tahu hal apa yang dilakukan tunanganku, Nona. Termasuk kedekatan Nona dengan kesatria itu."
Aku mengernyitkan dahi, sejak kapan dia menganggapku sebagai tunangannya? Setelah dia mengabaikanku dengan tidak pernah berkunjung ke kediaman Lyon atau memintaku datang ke istana, bukan itu saja, tapi dari awal dia memang mengabaikanku, makanya aku pikir pertunangan ini hanya ikatan politik saja tanpa harus melibatkan perasaan. Meskipun aku tahu si Clarissa ini yang memiliki perasaan yang kuat. Perasaan sepihak.
Aku tidak terlalu memperdulikan ucapannya, mungkin dia merasa harga dirinya terinjak kalau tahu tunangannya memiliki skandal dengan pria lain. Dan aku tidak perduli dengan harga dirinya itu yang tinggi. Aku bukanlah Clarissa yang dia kenal. Tidak ada perasaan khusus itu untuknya.
Aku kembali menyerang, dan aku merasa percaya diri melihat dia yang tidak terbiasa dalam pertempuran jarak dekat dan membuatnya 'sedikit' terdesak, berarti aku ada peluang 'sedikit' untuk bisa melukainya. Minimal aku ingin memukul wajahnya yang super tampan itu dengan sekali tonjokan. Sabetan belatiku menyerang tanpa jeda, dia menangkis tiap serangan dan menyerang balik, satu pisau belati di tangan kiriku terpental dan belati di tangan kanan tertahan dengan pedangnya. Jarak dekat hingga bisa melihat dengan jelas wajah masing-masing.
"Hubungan seperti apa antara Nona dan kesatria itu?" Tatapannya tajam lurus menatapku.
"Hubungan yang cukup menyenangkan." jawabku ngasal.
Iya, cukup menyenangkan bagiku karena Ronald termasuk kesatria yang loyal, sabar dalam melatihku berpedang, bahkan kedekatanku dengannya tidak bisa dibilang dekat sebatas kesatria dengan tuannya, tapi lebih ke teman. Bukankah itu hal yang sangat menyenangkan?
Aku melihat ekpresi Putra Mahkota berubah, ekspresi ketidak sukaan mendengar ucapanku yang ngasal. Aku kembali merasakan sesak, dan perasaan tertekan apa ini?. Putra Mahkota mendorongku dengan pedangnya, membuat tubuhku limpung. Secepatnya aku kembali dalam posisi siaga dan seketika aura yang menekan menyeruak. Aku terbelalak melihat aura mencekam itu keluar dari tubuh Putra Mahkota. Aura yang membuatku tidak bisa menggerakkan badanku sedikitpun. Kenapa ini?
"Menyenangkan katamu?" intonasinya berubah dingin, sedikit kasar. Begitupun dengan tatapannya.
"Berarti rumor skandalmu itu benar? Aku mendengar dari para pelayan yang bergunjing dibelakangmu."
Aku terkejut mendengar Putra Mahkota bisa tahu dengan rumor itu? Bahkan itu rumor yang sudah lama. Dan bagaimana bisa aura itu seolah mengunci tubuhku, aku berdiri kaku tidak bisa bergerak sedikit pun.
Putra Mahkota melangkah mendekat, aura yang terpancar semakin menakutkan. Aku benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhku. Semakin aku berontak, semakin kuat aura itu menekanku. Putra mahkota berdiri tepat di depanku lalu mengambil belati dari tangnku dan melemparkannya. Dia semakin mendekat hingga batas pakaian yang menjadi jarakku dengannya.
Kedua tangannya menyentuh wajahku, ibu jarinya dengan lembut menyentuh bibir, membuatku merinding.
"Anda terlalu dekat, Yang Mulia. Tolong jaga sikap Anda." protesku.
Bukannya menjauh, Putra Mahkota malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku dan bibirnya menyentuh bibir. Mataku tebelalak kaget.
Dia menciumku!
Awalnya hanya sentuhan bibir biasa, tapi kemudian dia seolah ******* bibirku. Aku ingin berontak, tapi tidak bisa dan malah lengannya yang kekar merangkul pinggangku, dan tangannya menekan kepalaku semakin membenamkan ciuman.
Aku tidak diberi jeda bernafas, dia semakin liar menciumku. Karena sesak, aku menggigit bibirnya keras.
"Aww... " jeritnya lirih.
Aku melotot tajam kearahnya seraya mengatur nafas.
"Apa-apaan tindakanmu ini, hah!?" emosiku menghilangkan etika dalam berbicara kepada orang dengan status tinggi. Apalagi ini kepada Putra Mahkota. Jujur aku tidak peduli dengan etika sialan apapun itu. Dia sudah mencuri ciumanku!!
Putra Mahkota menjilat darah yang keluar dari bibirnya, lalu tersenyum menyeringai.
"Ini hanya sedikit pelajaran untuk tunanganku tercinta. Aku butuh penjelasan tentang rumormu agar aku tidak berbuat lebih dari ini." Ucapnya berbisik ditelinga yang seketika membuatku merinding.
"Aku tunggu penjelasanmu diruanganku besok."
Dia melangkah pergi meninggalkan aku yang tidak bisa bergerak. Jarak lima meter setelah kepergiannya, aura yang mengunci tubuhku hilang. Aku seperti tersentak dan dengan cepat mengusap keras mulutku menghapus bekas ciumannya.
"Ah, brengsek! Apa-apaan dia sampai menciumku begitu? Dia sedang memainkan adegan cemburu apa?" umpatku. Wajahku terasa panas.
(Ini pendapat pendapat aku pibadiya)
( ・∀・)
⊂_へ つ
(_)| 🙋♀️ 💕 янǟ࿔ янǟ࿔ ☘
◦•●◉✿ Terima kasih ✿◉●•◦
ʕっ•ᴥ•ʔっ 💜 ⭕ ( ͡°ᴥ ͡° ʋ) (๑•́ ₃ •̀๑)
💐🌻🌹🥀🌻⚘🦋🎀💎💘⚘🌻
✾༊᭄◉absent 🆁🄷🅰✿🆁🄷🅰 ∘̥⃟⸽⃟ ೄྀ
mirip loh tp aq suka
sehingga meleleh kan hatiku😂😂😂🥰🥰🥰🥰
Pokoknya gk rela bngt clasisa sm si pengecut putra mahkota