Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketulusan dari keluarga lain
Malam telah membungkus kota dengan sempurna ketika pesta pernikahan paling megah abad ini digelar. Aula ballroom bernuansa kerajaan itu disulap bagaikan istana dalam dongeng, bertabur ribuan lampu kristal dan dekorasi bunga mawar putih impor. Banyak tamu undangan kelas atas sempat dibuat bertanya-tanya mengapa pesta megah ini diadakan tepat pada malam hari, namun kemewahan dan pengaruh besar keluarga St. Claire seketika membungkam segala keraguan mereka.
Celeste memandangi pantulan dirinya di depan cermin besar ruang rias. Ia seakan tak percaya. Bayangan gadis kesepian yang dulu selalu mengurung diri kini terbalut gaun pengantin putih gading bertahtakan permata halus, dipoles dengan riasan wajah yang sempurna.
Pintu ruang rias mendadak terbuka. Dari balik cermin, Celeste melihat Chintya dan Caelia melangkah masuk.
Celeste membatin, bersiap menahan deretan ejekan atau sindiran ketus yang biasanya meluncur dari mulut mereka. Namun, tebakannya meleset jauh.
Chintya berjalan mendekat dengan raut wajah yang amat hangat, sebuah tatapan penuh kasih sayang yang selama 20 tahun ini hanya pernah Celeste impikan dalam tidur.
"Ya ampun, anak Mama..." bisik Chintya, mengusap lembut bahu Celeste dengan matanya yang berkaca-kaca. "Kamu cantik sekali, Sayang. Mama sampai mau menangis melihatnya."
Caelia ikut mendekat, merangkul bahu Celeste dari belakang dengan senyum manis tanpa cela. "Iya, Ma. Celeste pangling banget. Aku bahagia banget akhirnya adikku yang cantik ini dipersunting keluarga St. Claire."
"Ingat pesan Mama ya, Nak," lanjut Chintya mengelus pipi Celeste yang tertutup blush on tipis. "Jaga kesehatanmu di rumah baru. Jangan capek-capek. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Mama, ya?"
Celeste mematung. Lidahnya kelu. Dada bagian dalamnya mendadak terasa dihantam kepedihan yang teramat luar biasa. Kenapa? Kenapa rasa sayang, perhatian, dan panggilan hangat ini baru datang sekarang? Apakah karena tugasnya sebagai 'alat pelunas beban' keluarga Delacroix telah selesai, sehingga mereka akhirnya bisa bersikap manis? Segitu tidak berharganya kah dirinya selama ini, hingga baru dianggap anak setelah berhasil dikeluarkannya dari rumah? Atau mereka hanya berakting saja?
Rasa sakit itu menggerogoti jiwanya, namun Celeste hanya sanggup mengangguk pelan seraya mengulas senyum kaku. "Iya, Mama... Caelia... terima kasih."
Klek.
Suara pintu ruang rias kembali terkuak, memutus atmosfer palsu di antara mereka. Eleanor melangkah masuk dengan keanggunan seorang ratu, didampingi oleh seorang wanita cantik berusia awal 30-an bergaun navy elegan. Itu Flavio, putri sulung keluarga St. Claire sekaligus kakak kandung Lucian. Ini adalah kali pertama Celeste melihat sosok kakak iparnya tersebut.
Ketegangan tak kasat mata mendadak memenuhi ruangan. Chintya dan Eleanor saling menatap kaku, melemparkan aura persaingan dingin antar-nyonya besar yang membuat Celeste ikut menahan napas.
"Boleh saya bicara sebentar secara pribadi dengan Celeste?" tanya Eleanor dengan nada tenang namun tak terbantahkan.
Chintya menelan ludah kaku, lalu mengangguk sopan. "Tentu, Nyonya Eleanor. Kami permisi keluar dulu."
Chintya dan Caelia melangkah keluar, meninggalkan Eleanor, Flavio, dan sang pengantin wanita di dalam ruangan yang mendadak hening.
Eleanor mendekati Celeste, lalu menuntun perempuan itu untuk duduk di sofa panjang. Eleanor menggamit kedua tangan dingin Celeste, menggenggamnya penuh kehangatan.
"Saya ingin menyampaikan sesuatu sebelum kamu masuk ke keluarga St. Claire" Eleanor membuka suara menatap kedua mata hazel Celeste.
"Iya... saya dengarkan" jawab Celeste sambil menyembunyikan gugupnya.
"Pertama... mulai sekarang kamu tidak boleh memanggil saya Nyonya," ujar Eleanor lembut. "Biasakan memanggil saya Mommy, dan panggil anggota keluarga lain seperti panggilan Lucian."
Flavio tersenyum menawan, mengangguk setuju dari samping sofa. "Benar. Kau sudah resmi menjadi anggota keluarga kami sekarang, Celeste. Panggil aku Kak Vio."
Celeste mengangguk patuh. Perasaan hangat yang tulus merayapi dadanya, meluluhkan sedikit luka yang dipahat keluarganya tadi. "Baik... Mommy, Kak Vio."
"Kedua..." raut wajah Eleanor berubah sedikit lebih serius. "Keluarga St. Claire bukan keluarga biasa. Kami harus bertarung dengan musuh-musuh di luar sana. Mommy belum bisa memberi tahu detailnya sekarang, tapi kamu harus selalu waspada."
Apa lagi kalau bukan mafia? batin Celeste dalam hati. Mungkin Mommy cuma tak ingin aku panik dan ketakutan.
Celeste kembali mengangguk mengerti. "Celeste faham, Mom."
"Ketiga..." Eleanor mengelus punggung tangan Celeste. "Jika Lucian bersikap aneh atau dingin kapan pun itu, tolong mengertilah dia, Sayang. Jangan dimasukkan ke dalam hati. Suatu saat nanti, kamu akan tahu sendiri alasan di balik sikap suamimu itu."
Meski benaknya diliputi rasa penasaran yang besar tentang rahasia apa yang disembunyikan Lucian, Celeste memilih tidak bertanya lebih jauh dan kembali mengangguk pasrah.
Eleanor mendesah lega melihat betapa penurut dan tenangnya Celeste. Sungguh, perempuan ini sangat cocok berada di keluarganya.
"Dan yang terakhir..." Eleanor menatap mata hazel Celeste dengan pendar khawatir yang nyata. "Kamu harus sangat hati-hati dengan kakeknya Lucian, mertua Mommy. Beliau adalah orang paling keras di keluarga ini dan tinggal di Eropa. Beliau hanya sesekali pulang ke sini. Jadi, Mommy minta tolong kepadamu... bersikaplah seolah-olah kamu adalah Caelia di depan beliau."
Raut wajah Celeste seketika berubah. Senyum tipisnya lenyap. "Kenapa... kenapa bisa begitu, Mom?" tanya Celeste dengan suara yang bergetar samar.
Eleanor menarik napas panjang sebelum menjawab jujur. "Pengantin yang diinginkan beliau sejak awal aliansi ini adalah Caelia. Jika beliau sampai tahu pengantinnya ditukar dan kamu bukan Caelia... kamu dan Lucian tidak akan selamat dari kemarahannya."
Deg.
Celeste menunduk dalam-dalam. Perasaan sakit yang teramat familiar kembali menusuk hatinya hingga ke dasar ter dalam. Lagi dan lagi... ia harus hidup dalam bayangan Caelia. Ia berpikir, dengan menerima pernikahan ini dan pergi dari rumah Delacroix, ia akan merdeka dan bisa menjadi dirinya sendiri. Namun ternyata, rantai bayang-bayang kembarannya masih membelenggu lehernya.
Eleanor, yang memahami alasan di balik keterdiaman dan keputusasaan Celeste, langsung meremas erat jemari gadis itu.
"Mommy tahu kamu merasa sangat keberatan harus berpura-pura menjadi Caelia di depan kakeknya Lucian," tutur Eleanor penuh penyesalan dan ketulusan. "Tapi kamu tenang saja, Sayang. Hal ini hanya berlaku di depan beliau saja. Di depan Mommy, Daddy, Lucian, dan anak-anak Mommy lainnya, kamu tidak perlu berpura-pura. Kamu boleh dan bebas menjadi dirimu sendiri."
Celeste mengangkat wajahnya yang pucat, menatap mata Eleanor yang hangat. "Celeste... Celeste bakal usahain, Mom. Tapi... bagaimana kalau penyamaran di depan Kakek itu harus terjadi di siang hari?"
Eleanor yang sudah mengetahui rahasia penyakit Xeroderma Pigmentosum yang diidap Celeste langsung tersenyum menenangkan. Ia mengusap pipi Celeste dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
"Serahkan kepada Mommy. Kau hanya perlu memerankan Caelia dengan tenang," pangkas Eleanor mantap. "Kamu tidak sendirian lagi sekarang. Kamu adalah bagian dari keluarga ini, dan kami akan menjagamu."
Air mata haru menggenang di pelupuk mata Celeste. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa benar-benar memiliki sebuah keluarga yang siap pasang badan untuknya.
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Mom," bisik Celeste tulus.