Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Pertama
"Lus, kamu bisa bantu di IGD, hari ini ada pemeriksaan kesehatan anggota."
"Siap dok."
"Terima kasih ya Lus."
"Sama - sama dokter."
Agus terpaksa menempatkan Lusia Irene ke IGD atas permintaan Gio Abraham sahabatnya. Akhirnya Anna dengan jas putih dokternya menuju ke IGD. Memang banyak sekali anggota Polisi dan Brimob yang sedang antri untuk periksa kesehatan. Semua dokter di rumah sakit polri ini dikerahkan.
Gio yang melihat Lusi yang sedang membaca prosedur untuk kegiatan saat ini sedang mempersiapkan dirinya dan menuju ke meja bersama salah satu ners. Waktu melihat dokter Lusia Irene menuju ke meja yang di siapkan semua perwira pertama sampai menengah yang bujang menuju ke meja dokter Lusi, namun oleh AKP Gio Abraham langsung memotong barisan mereka dan ada di tempat urutan pertama. Semua yang ada di antrian itu hanya berdiam, mana ada yang berani dengan intel satu ini. Gayanya santai tidak menggunakan seragam. Namun dia tetap terlihat ganteng.
Lusi yang melihat Gio menerobos barisan meminta Gio untuk kembali antri dan meminta yang ada dibelakangnya untuk maju, namun polisi itu hanya terdiam.
"Dok... Biar komandan Gio yang pertama."
"Tetapi... Bapak yang."
"Tidak masalah dokter." Gio hanya tersenyum.
"Dokter mau periksa saya atau mereka di hukum sama saya."
"Dokter biar komandan Gio yang pertama." Ners Ari yang sudah dinas lama di rumah sakit ini membujuk dokter Lusi untuk memeriksa komandan Gio.
Lusi pun mulai memeriksa Gio, namun sialnya Gio terus menatapnya. Membuat dia sedikit gugup.
"Pak bisa ngak, tatapannya pindah ke Ari, jangan ke saya."
"Dokter saya laki - laki normal loh."
"Komandan tatapnya ke Ari jangan pake hati."
"Dokter menghina saya ya."
"Ngak pak, saya sedikit gugup takutnya bukan nadi bapak yang saya suntik." Lusi langsung meminta masker dan akhirnya dia menutup mukanya dengan masker. Gio tersenyum. Hatinya bahagia sekali bisa melihat dokter Lusi malu. Memang terlihat raut wajahnya memerah lagi. ini kali kedua Gio melihat muka itu sebelum ditutup dengan masker oleh Lusi.
"Bagus dokter. Biar kecantikan dokter, hanya aku yang nikmati, buat yang lain di tutup saja." Ari tersenyum. Melihat tingkah komandan Gio. Setelah Komandan Gio pergi, Lusi menarik nafas panjang. Dia merasa lega terhindar dari bencana besar yang sedang mengacau hatinya. Satu jam kemudian handphone Lusi berdering ada pesan yang masuk.
"Hasil kesehatan saya, akan saya dapat beritanya dari kamu ya dokter cantik. ingat simpan nomor saya. Gio Abraham 😘😘😘."
Lusi begitu kaget menerima pesan dari nomor baru dan ternyata pesan dari komandan Gio Abraham. Sore hari Lusi baru selesai membantu di IGD. Dia sudah memesan kepada ners Ari untuk hasil kesehatan dari komandan Gio diberi kepadanya. Karena perintah dari Gio, akan menanyakan kepadanya.
Sampai poli onkologi, begitu kagetnya dia dengan kopi dan kue di atas mejanya.
"Tumben dokter baik."
"Oke ngaku salah ngak perna beli kamu kue dan kopi. Tetapi itu bukan saya yang beli. Itu ada laki - laki gabut yang kurang ajar, yang hanya perhatikan orang lain dari pada sahabatnya, saya sendiri."
"Maafkan aku dokter, jangan marah ya."
"Kamu ngak salah. Sahabatku itu yang tidak tahu diri."
"Maksud dokter ini yang beli...."
"Iya yang beli Komandan Gio Abraham. Kamu makan kalau tidak dia bisa sniper aku dari gedung tingkat di sebelah kiri sana."
Kembali Lusi dibuat terkejut dengan tingkah seorang Gio Abraham komandan Satuan Intelejen Brimob. Karena tidak mau menyia - yiakan berkat Tuhan lewat komandan Gio yang memberi kepadanya. Lusi pun menikmati kue dan kopi yang diberi oleh Gio. Dan tanpa sepengetahuan Lusi, Dokter Agustinus Wirawan mengabadikan moment itu dengan sebuah vidio dan dikirim kepada Gio sahabatnya. Dengan caption informasi buat sahabat biadab. Gio menerima vidio dari Agus dengan senyuman dan tertawa. Gio tertawa karena Agus mengatai dia biadab akibat kopi dan kue yang dia kirim hanya buat Lusi sedangkan diruangan itu ada Agus juga.
"Lihat apa kamu?" Gio langsung dengan cepat menutup handphonenya. Dia tidak tahu bahwa Agus juga mengirimkan vidio Lusi kepada Niko dengan banyak catatan.
"Ngak ada."
"Ngak ada apa. Muka kamu itu ngak bisa berbohong. Pasti Vidio dokter Lusi menikmati kopi dan kue dari pengemarnya.
"Bangkek, Agus kirim vidio Lusi ke kamu juga." Gio tidak menyangka kalau Agus juga mengirim vidio Lusi kepada Niko, susah payah dia meminya Niko menghapus vidio itu.
"Kenapa harus hapus. Aku juga laki - laki normal, bidadari seperti Lusi masa aku lewatkan. Cantik sekali dia bro."
"Hapus ngak......"
"Iya aku hapus. Tetapi ada syaratnya malam ini traktir aku dan agus di kafe biasa. Bagaimana?"
"Oke." Niko senang sekali. Malam hari nanti dia bisa nongkrong bersama Agus dan Gio di kafe langganan mereka. Hukuman buat laki - laki pelit.
Satu minggu kemudian hasil pemeriksaan kesehatan anggota polisi dan Brimob sudah keluar. Ners Ari sudah mengirim file kesehatan dari AKP Gio Abraham kepada dokter Lusia Irene. Dan Lusi sudah meneruskan kepada Gio. Tidak ada satu menit, Gio membalas pesannya. Bahwa dia tidak mengerti bahasa kedokteran jadi dia mau mendengar langsung penjelasan dari dokter Lusi.
"Dokter aku kan hanya dokter residen, tidak ada aturan yang bisa mengikat saya atau menghukum saya jika tidak menyetujui keingin dari seorang komandan kan." Agus tersenyum, dia tahu bahwa siapa orang yang di maksud oleh Lusi.
"Ngak ada sih. Kamu jadi dokter residen kamu membayar bukan di bayar."
"Berarti bisa ya jika saya tidak mengikuti aturan dari komandan Gio Abraham."
"Aku pasien dari kamu dokter Lusia Irene." Lusi kagetnya minta ampun melihat Gio sudah berdiri tepat disampingnya. Lusi melihat ke arah dokter Agus yang menjadi mentornya, namun Ipda dokter Agustinus Wiratman, Sp. B(K) Onk spesialis bedah umum kanker dan tumor. Namun dokter Agus hanya tertunduk.
"Tetapi saya disini hanya dokter...."
"Dokter residen, yang di mentori oleh dokter Agustinus. Tetapi kamu dokter dan aku pasien. Ingat sumpah janji dokter."
"Baik silahkan duduk komandan."
"Karena ini jam makan siang bisa tidak kamu temani saya makan."
"Jangan mau Lus kalau makan di kantin rumah sakit."
"Bawa kamu makan di restoran mahal pun aku sanggup. Jangan ada penolakan."
Akhirnya Lusi memenuhi ajakan Gio makan siang bersama. Dia sudah tidak menggunakan seragam rumah sakit. Lusi sudah menggunakan celana jins dan kemeja putih, sepatu sneaker berwarna putih dengan totebag dari kain jins. Gio bahagia sekali bisa membawa wanita mandiri ini kelaur makan siang. Sebenarnya hasil pemeriksaan kesehatannya sudah dibaca oleh Agus sahabatnya. Ini hanya alasan Gio agar bisa mengajak makan dokter Lusia Irene.