Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Setelah tiba di rumah neneknya Farhan Marisa langsung masuk dan mengurung diri di dalam kamar. Sementara Farhan pergi ke belakang rumah untuk melihat kakeknya yang sedang membelah kayu bakar.
"Biar aku saja!" Farhan mendekat dan meraih kapak dari tangan kakeknya.
"Yakin kamu bisa?" Dengan pandangan meremehkan. lalu duduk di kursi yang ada di belakang rumah itu dan menyeruput secangkir kopi yang memang selalu di sediakan oleh nenek Melia.
"Memangnya dulu sebelum kami pindah ke kota siapa yang bantu kakek membelah kayu-kayu ini?" praaak.... Farhan mengayunkan kapak nya dan kayu bakar itu langsung terbelah hanya dengan sekali hentakan.
Baru beberapa saat Farhan berada di sana nenek Melisa datang menyusul ke halaman belakang rumah.
"Karisa kenapa? Tadi saat nenek melewati kamar kalian nenek lihat dia agak murung." Usai berbicara nenek Melisa langsung duduk di samping suaminya.
"Tadi saat Jalan-jalan kami ketemu sama budenya Anisa, dia ngomong sesuatu yang nggak enak di dengar." Farhan meletakkan kapaknya lalu berjalan menghampiri kakek dan nenek nya dan ikut duduk di sana.
"Hei... baru satu batang!" Protes kakek Danu.
Nenek Melisa melirik suaminya dengan skor matanya, membuat sang suami tak berkutik dan menghentikan protesnya.
"Memang si nenek lampir ini dari dulu nggak pernah berubah bikin emosi saja!" gerutu nenek Melisa.
"Kalau abi dengar nenek ngomong begitu pasti di ceramahi tu." Farhan terkekeh.
"Shuuttt..." Nenek Melisa meletakkan jari telunjuk di bibirnya sebagai isyarat agar Farhan tidak mengadu kepada abinya.
Jangan sampai abi kamu tau bisa runyam!" Ucap nenek Melisa.
Walaupun sudah memiliki anak yang menjadi seorang kiyai namun nenek Melisa tetap menjalani hidupnya dengan santai bahkan terkadang masih suka ikut mendengarkan gosip jika ada salah satu tetangganya yang bergosip. Hal inilah yang membuatnya sering mendapat ceramah dari sang anak.
"Pergilah temani dia, saat ini Karisa butuh perhatian dari kita semua. jangan pernah salahkan dia karena hal ini karena sesungguhnya kebahagiaan terbesar seorang wanita itu adalah saat ia bisa memberikan anak untuk suaminya. Dia sudah sangat menderita karena hal ini, jadi kedepannya kamu harus lebih baik padanya." Nasehat sang nenek.
"Iya nek aku mengerti."
"Sayang kamu sedang apa?" Farhan berjalan masuk kedalam kamar dan melihat Karisa sedang duduk di dekat jendela memandang bunga-bunga indah yang sedang bermekaran.
"Tidak ada, hanya sedang melihat bunga-bunga itu. " Jawabnya seadanya.
"Masih kepikiran soal ucapan budenya Anisa tadi?" Tanya Farhan dengan lembut.
"Nggak, aku cuma berpikir kenapa dulu kamu nolak Anisa, tapi waktu di jodohkan sama aku kamu langsung setuju?" Karisa menoleh ke arah Farhan dan menatap lekat wajah suaminya itu.
"Sudah jodoh mungkin!" Cuma satu kalimat itu yang di ucapan oleh Farhan. Seperti tidak ingin menjelaskan apapun lagi Farhan langsung menarik tubuh Karisa lalu menghimpitnya di atas ranjang, membuat wajah Karisa langsung merona dan tersipu malu.
"Apa yang kamu lakukan mas, ini masih siang." Karisa mendorong tubuh Farhan menjauh namun terlambat Farhan sudah lebih dulu melahap bibir mungil istrinya itu. Setelah beberapa saat Farhan pun menghentikan aksinya dan mengusap bibir lembut istrinya dengan jarinya.
"Ini hukuman untuk kamu jika berani bertanya yang aneh-aneh lagi." Farhan pun menjauhkan tubunya dari Karisa.
"Aku mau pergi mengambil ikan di kolam bersama kakek untuk makan malam nanti. kamu istirahat saja, jangan banyak melamun atau berpikir yang aneh-aneh, kalau tidak aku pasti akan benar-benar menghukum kamu nanti malam." Farhan mengedipkan sebelah mata lalu pergi.
"Karisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. "Ya Allah, sejak kapan suamiku jadi seperti ini." Batin Karisa.
"Aku rela berubah jadi apa saja demi bisa membuat kamu tetap tersenyum." Batin Farhan.
"Karisa ini nenek tadi abis ngambil melon di ladang. ayo kita cicipi, biasanya yang dari ladang ini rasanya lebih manis jika di bandingkan sama yang di belakang rumah itu." Nenek melisa meletakkan sebuah nampan yang berisi buah melon yang sudah di potong-potong dan ada juga beberapa jenis buah lain yang terlihat sangat segar.
"Terima kasih banyak nek, Karisa jadi merepotkan nenek. " Karisa merasa sedikit sungkan apa lagi selama berasa di sini Karisa sama sekali belum pernah membantu apapun, bukannya tidak mau tapi nenek Melia tidak pernah mengijinkan karena di rumahnya ini semua peralatan masih manual bahkan mengambil air saja masih menggunakan timba dari dalam sumur.
Bahkan untuk memasak pun bumbu-bumbunya di giling manual menggunakan ulekan tidak menggunakan blender. Jadi nenek Melisa merasa akan Karisa pasti akan sangat kerepotan kalau harus membantu pekerjaan rumahnya. Jadi Satu-satunya hal yang bisa di kerjakan oleh Karisa adalah menyapu rumah atau halaman, itu pun kalau tidak keduluan nenek Melia mengerjakannya karena sebelum subuh nenek Melia pasti sudah bangun. sementara Karisa dan Farhan bangun lebih lambat karena cuaca di kampung ini yang terlalu dingin.
"Banyak sekali jenis buah-buahan yang nenek dan kakek tanam, apa tidak capek?" Karisa penasaran.
Apa lagi buah-buahan yang di tanam itu tidak untuk di jual melainkan untuk konsumsi sendiri tak jarang kalau musim panen tiba buah buah itu selalu dibagi-bagikan ke pada para tetangga. karena untuk keperluan sehari-hari nenek Melia dan kakek Danu sudah ada dari usaha rumah sewa mereka yang terdapat di dekat tempat wisata di kampung itu.
"Enggak capek kok nenek malah suka untuk mengisi waktu luang, kalau nggak ada yang di kerjakan nanti malah jadi penyakit. "
crush... crush... crush.... nenek melisa mengunyah buah melon.
"Bagaimana, manis kan?" Tanya nya pada Karisa yang juga sedang mengunyah buah melon itu.
"Iya benar ini lebih manis daripada yang kemarin." Ucap Karisa takjub.
"Kamu lanjut makan buahnya, nenek mau buat bara untuk bakar ikan nanti. " Nenek Melia kembali ke dapur.
"Ya ampun apa si nenek memang nggak bisa diem ya. " Gumam Karisa sambil geleng kepala.
Hari sudah terlihat hampir gelap tapi kakek Danu dan Farhan belum juga terlihat kembali.
Karisa merasa sedikit cemas pasalnya selama beberapa hari mereka di sini sudah beberapa kali Farhan ikut pergi mengambil ikan dengan kakek Danu tapi belum pernah pulang selama ini.
"Kenapa Farhan sama kakek belum pulang ya nek?"
Karisa terus saja melirik ke arah pintu belang tempat biasanya Farhan dan kakek masuk kalau habis pulang mengambil ikan.
"Mungkin sebentar lagi, terkadang kalau ada bedengan kolam yang agak longsor kakek agak lama pulangnya karena memperbaiki bedengan itu dulu." Nenek Melia menjelaskan agar Karisa tidak cemas.