NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 07 - Briefing untuk Dokter Keras Kepala

Alya datang ke pos komando tepat pukul tujuh pagi.

Dia memakai kemeja lapangan warna krem, celana bahan gelap, dan sepatu yang semalam dia bersihkan dari noda darah. Tas catatan ada di tangannya. Rambutnya diikat rapi di bawah kerudung.

Prajurit di depan pos menegakkan badan.

"Pagi, Dokter."

"Pagi. Komandan ada?"

"Sudah menunggu."

Alya hampir tersenyum.

Damar menunggu.

Kalimat itu terdengar aneh.

Ruang pos komando sederhana, hanya meja panjang, peta wilayah, radio, dan beberapa kursi. Damar berdiri di depan peta bersama Kapten Rendra dan dua perwira lain. Begitu Alya masuk, pembicaraan berhenti.

"Duduk," kata Damar.

Alya duduk di kursi paling ujung.

Damar menunjuk peta.

"Ini wilayah kerja kita. Pos utama, pos bawah, jalur desa, sungai kecil, dan tiga jalur tidak resmi yang sering dipakai penyelundup."

Dia menjelaskan dengan cepat. Bukan seperti suami bicara pada istri. Seperti komandan memberi briefing kepada anggota tim.

Alya mencatat.

Jalur rawan longsor saat hujan.

Desa dengan akses motor saja.

Titik sinyal hilang.

Kontak radio darurat.

Rumah warga yang bisa dipakai sebagai titik kumpul.

"Kalau ada kejadian di area merah, kamu tidak masuk sebelum ada pengamanan," kata Damar.

Alya mengangkat tangan.

Kapten Rendra tampak menahan senyum.

Damar meliriknya. "Ini bukan kelas."

"Saya ingin bertanya."

"Tanya."

"Kalau pasien di area merah dalam kondisi henti napas?"

"Tim pengamanan masuk dulu."

"Butuh berapa menit?"

"Tergantung situasi."

"Kalau henti napas, otak tidak menunggu situasi aman."

Damar menatapnya.

Ruang itu hening.

Alya tahu dia terdengar menantang. Tapi baginya, ini bukan adu ego. Ini soal protokol yang harus bisa dipakai saat darah benar-benar mengalir.

"Saya tidak meminta izin untuk bunuh diri," katanya lebih pelan. "Saya meminta protokol yang realistis. Kalau saya harus menunggu, siapa yang melakukan bantuan hidup dasar pertama? Prajurit? Warga? Apakah mereka sudah dilatih?"

Kapten Rendra akhirnya bicara.

"Belum semua."

Alya melihat Damar.

"Maka latih mereka."

Damar melipat tangan di dada.

"Kamu mau melatih prajuritku?"

"Saya mau mereka bisa menjaga orang tetap hidup sampai saya datang."

Kapten Rendra mengangguk. "Itu masuk akal, Dan."

Damar diam beberapa detik.

Lalu dia berkata, "Siapkan materi. Mulai sore ini. Dua gelombang. Prajurit dan perwakilan warga."

Alya mencatat lagi.

"Baik."

"Tapi kamu juga ikut latihan keselamatan lapangan."

Pena Alya berhenti.

"Maksudnya?"

"Evakuasi dasar, cara berlindung, membaca jalur aman, komunikasi radio, dan fisik minimal."

"Saya dokter."

"Dokter yang suka masuk area operasi."

Kapten Rendra menunduk lagi.

Alya menarik napas.

"Baik."

Damar tampak sedikit terkejut.

"Semudah itu?"

"Kalau pelatihan itu membuat saya bekerja lebih aman, kenapa saya menolak?"

Mata Damar bergerak.

Mungkin dia menyiapkan perdebatan panjang dan tidak mendapatkannya.

Briefing selesai setengah jam kemudian. Saat semua orang keluar, Damar menahan Alya.

"Dokter Alya."

Alya berhenti.

"Materi sore ini jangan terlalu akademis."

"Saya tahu."

"Prajurit tidak butuh kuliah kedokteran."

"Saya juga tahu."

"Dan warga—"

"Mayor."

Damar berhenti.

Alya menutup buku catatannya.

"Saya sudah pernah berbicara dengan keluarga pasien yang bahkan tidak lulus SD. Saya tahu bagaimana menjelaskan tanpa membuat orang merasa bodoh."

Damar diam.

"Anda boleh meragukan banyak hal tentang saya. Tapi jangan ragukan cara saya menghadapi pasien."

Dia keluar sebelum Damar menjawab.

Sore itu, halaman pos kesehatan berubah menjadi kelas darurat. Prajurit duduk di sebelah warga. Ada ibu-ibu Persit, beberapa pemuda desa, kader posyandu, dan dua guru sekolah dasar.

Alya berdiri di depan mereka dengan boneka pelatihan seadanya. Karena tidak ada manekin CPR, Joko membuat alat simulasi dari bantal keras, handuk gulung, dan papan.

"Hari ini kita tidak belajar menjadi dokter," kata Alya. "Kita belajar menjaga orang tetap hidup sampai bantuan datang."

Beberapa prajurit awalnya tampak santai. Ada yang berbisik, ada yang tersenyum geli melihat bantal di depan.

Alya menunjuk salah satu prajurit.

"Mas, kalau teman Mas jatuh dan tidak bernapas, apa yang Mas lakukan?"

Prajurit itu kaget. "Panggil dokter, Dok."

"Dokternya dua puluh menit dari lokasi."

Dia terdiam.

"Dalam dua puluh menit itu, teman Mas bisa kehilangan otak, bukan hanya napas."

Senyum-senyum hilang.

Alya mulai menjelaskan pemeriksaan respons, membuka jalan napas, kompresi dada, posisi pemulihan, cara menghentikan perdarahan, dan cara membuat tandu sederhana. Dia tidak memakai istilah sulit kecuali perlu, dan setiap istilah langsung dia terjemahkan ke tindakan.

Setelah demonstrasi, dia meminta peserta mempraktikkan.

Prajurit yang tadi santai mulai berkeringat saat melakukan kompresi dada.

"Lebih kuat," kata Alya.

"Nanti patah, Dok."

"Kalau dia sudah tidak bernapas, tulang rusuk bukan masalah terbesar."

Kapten Rendra tertawa pendek. "Dengar itu."

Damar berdiri di belakang, memperhatikan tanpa bicara.

Saat sesi perdarahan, Alya menggunakan kain merah sebagai simulasi. Dia meminta Bu Niken menekan luka.

"Bu, kalau darah banyak, jangan panik melihat warna. Tekan di sumbernya. Kuat. Jangan buka-buka kain tiap lima detik untuk mengecek. Itu hanya membuat darah keluar lagi."

Bu Niken mengangguk serius.

"Kalau orangnya teriak sakit?"

"Bilang, 'Lebih baik sakit daripada mati.'"

Ibu-ibu tertawa tegang.

Suasana mulai hidup. Mereka bertanya, mencoba, salah, lalu mengulang. Alya membiarkan mereka gagal sebentar sebelum memperbaiki posisi tangan.

Damar memperhatikan cara Alya menunduk membantu seorang prajurit muda memasang balutan. Tidak ada jarak dibuat-buat. Tidak ada rasa jijik. Tidak ada sikap seolah dia lebih tinggi.

Dia ingat tuduhannya dua tahun lalu.

Kamu mendapatkan posisi yang kamu inginkan.

Posisi seperti apa yang dia maksud?

Perempuan itu sekarang berjongkok di tanah, lututnya kena debu, telapak tangannya masih ada bekas lecet, suaranya serak karena menjelaskan dari tadi.

Apakah itu posisi yang diinginkan orang serakah?

"Dan," Kapten Rendra berbisik di sampingnya, "dokter baru ini lumayan."

Damar meliriknya.

"Lumayan?"

"Maksud saya bagus. Ibu-ibu juga langsung nurut."

Damar kembali menatap Alya.

"Dia memang bisa bicara kalau sudah soal pasien."

Kapten Rendra mengangkat alis. Ada sesuatu di nada Damar yang tidak biasa, tapi dia cukup pintar untuk tidak mengomentari.

Latihan selesai menjelang magrib. Peserta bubar dengan wajah lelah tapi puas. Beberapa ibu meminta jadwal lanjutan. Prajurit muda yang tadi salah kompresi bahkan meminta izin mengulang besok.

Alya membereskan kain dan bantal simulasi.

Damar mendekat.

"Kelasnya bagus."

Alya menatapnya curiga.

"Anda sudah memuji saya kemarin. Hari ini juga? Ada apa?"

Wajah Damar kembali datar.

"Jangan berlebihan."

"Saya hanya memastikan tidak sedang demam."

Kapten Rendra yang lewat pura-pura batuk.

Damar menatapnya sampai pria itu mempercepat langkah.

Alya menahan senyum.

Untuk sesaat, udara di antara mereka tidak setajam biasanya.

Lalu Damar berkata, "Besok pagi latihan fisik. Jam lima."

Senyum Alya mati.

"Apa?"

"Kamu setuju ikut latihan keselamatan lapangan."

"Saya kira mulai dari radio dan peta."

"Kita mulai dari tubuhmu."

Alya menatapnya. "Kalimat itu terdengar sangat buruk."

Damar tampak baru sadar, rahangnya mengeras.

"Maksudku stamina."

"Tentu."

"Jam lima. Jangan terlambat."

Alya menghela napas.

"Baik, Komandan."

Malam itu, saat Alya kembali ke rumah dinas, Bu Niken menyusul dengan semangkuk bubur kacang hijau.

"Dokter harus makan. Besok latihan sama Komandan, kan?"

Alya berhenti di depan pintu.

"Berita di kompleks ini bergerak lebih cepat daripada ambulans."

Bu Niken tertawa.

"Lebih cepat dari peluru, Dok."

Alya menerima mangkuk itu.

Setelah Bu Niken pergi, dia duduk di teras, menatap sepatu lapangannya.

Jam lima pagi.

Latihan fisik.

Damar akan melihatnya terengah-engah, mungkin jatuh, mungkin memaki dalam hati.

Alya mengaduk bubur kacang hijau.

Baiklah.

Kalau ini panggung baru yang disiapkan pria itu, dia akan naik.

Tapi dia tidak akan jatuh hanya untuk memuaskan prasangka siapa pun.

Sebelum tidur, Alya membuka buku catatan kecilnya dan menulis materi latihan berikutnya: perdarahan, patah tulang, henti napas, gigitan ular, evakuasi ibu hamil.

Di halaman paling bawah, tanpa sadar dia menulis satu kalimat lain.

Jangan lupa bernapas.

Dia menatap tulisan itu, lalu mencoretnya cepat.

Terlambat. Suara Damar sudah telanjur tinggal di kepalanya, menyebalkan dan berguna di saat bersamaan.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!