NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Para Bandit

Arthur berdiri tegak tanpa emosi di wajahnya, berhadapan dengan sekelompok bandit bersenjata lengkap.

"Singkirkan tubuh kalian," suara Arthur terdengar begitu pelan, namun getarannya membawa intimidasi nyata yang membuat bulu kuduk merinding. "Atau kalian akan lupa cara menggerakkan tubuh kalian," gertak Arthur, dingin tanpa penekanan yang berlebih.

Mendengar ancaman itu, para bandit saling pandang selama satu detik yang sunyi. Namun detik berikutnya, tawa terbahak-bahak memecah keheningan suasana.

Mereka menganggap pemuda di hadapan mereka hanyalah seorang pembual yang sedang mengigau di ambang kematian.

Pimpinan bandit melangkah maju satu tapak. Sambil menyeringai sinis, ia menyentakkan pergelangan tangannya, mengarahkan ujung pedang bajanya tepat di depan urat leher Arthur.

"Jangan bicara omong kosong... atau pedang ini akan langsung menggorok lehermu!" ancam pimpinan bandit itu, menekankan ujung senjatanya hingga nyaris menyentuh kulit.

Mata Arthur berkilat sekilas. Bukan karena kilatan amarah yang meledak-ledak, melainkan sebuah ketenangan—jenis ketenangan milik predator puncak yang sedang mengamati mangsa tak berdaya.

Tanpa perubahan ekspresi, Arthur mengangkat tangan kirinya dengan gerakan yang begitu kasual. Dua jarinya bergerak lincah, menjepit bilah tajam pedang itu tepat di antara sela jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Aku paling benci," ucap Arthur, suaranya merendah satu oktav, selaras dengan aura mematikan yang mendadak menguar hebat dari tubuhnya hingga membuat dedaunan kering di sekitar mereka bergetar, "disentuh oleh pedang murahan."

Krek!

Bunyi patahan besi bergema nyaring. Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, ujung pedang kokoh milik pimpinan bandit itu hancur hanya dengan jepitan dua jari.

Mata pimpinan bandit itu seketika melotot sempurna, dipenuhi rasa tidak percaya. Langkah kaki pria itu otomatis mundur beberapa tapak karena syok, sementara rahangnya mengeras menahan malu sekaligus ketakutan.

"Kau...!" Harga dirinya runtuh seketika. Merasa terdesak, ia menatap ke arah seluruh anak buahnya yang masih terpaku, lalu meneriakkan perintah tegas, "Habisi dia!"

Seketika itu juga, tujuh bilah pedang berkilau langsung melesat secepat kilat dari berbagai sudut, semuanya mengarah lurus ke titik vital di leher Arthur.

Menghadapi kepungan maut, Arthur tetap diam bergeming di tempatnya berdiri. Ia hanya menggerakkan kepalanya secara ringan—sebuah gerakan efisien yang sangat presisi untuk menghindari setiap goresan ujung bilah besi yang haus darah. Matanya masih memancarkan ketenangan yang angkuh.

Dua bilah pedang tiba-tiba menghunus serentak dari sisi kiri dan kanan secara menyilang, mengunci ruang geraknya. Arthur tidak menghindar.

Namun, tepat seperseribu detik sebelum kedua besi tajam itu sempat menggores permukaan kulit lehernya, tangan Arthur bergerak seperti bayangan. Dengan ketenangan luar biasa, ia kembali menjepit kedua bilah pedang itu sekaligus.

Krek!

Krek!

Dua senjata itu patah menjadi serpihan tak berguna dalam sekejap. Menggunakan momen tersebut, Arthur melakukan lompatan ringan ke udara.

Kedua kakinya melesat dalam tendangan ganda yang sinkron, menghantam dada kedua bandit di sisi kiri dan kanannya.

Tendangan itu terlihat begitu pelan dan tanpa beban, namun daya hancurnya luar biasa hingga membuat kedua pria itu langsung terlempar ke belakang sambil memuntahkan darah segar dari mulut mereka.

Melihat rekan mereka bertumbangan, sisa bandit yang memegang pedang langsung merapatkan barisan, bekerja sama menyerang dari berbagai arah mata angin secara serentak demi menutup semua celah pelarian.

Arthur hanya menyunggingkan senyuman tipis. Dengan santai ia melompat tinggi ke atas, membiarkan tubuhnya melayang dengan bobot yang terasa jauh lebih ringan dibandingkan hembusan angin.

Saat tubuhnya turun kembali, Arthur mendarat secara mustahil: ia berdiri dengan seimbang di atas ujung-ujung bilah pedang yang sedang mengarah kepadanya.

Ia berdiri di sana, menatap mereka dari ketinggian dengan mata yang perlahan terpejam rapat. Sesaat setelah kelopak matanya tertutup, tekanan energi magis yang kuat menekan ke bawah. Bilah-bilah pedang yang menopang tubuhnya langsung retak seketika.

Krak!

"Apa-apaan ini?! Pedangku retak?!" seru seorang bandit dengan mata terbelalak.

"Sudah terlambat," bisik Arthur, nyaris tak terdengar.

Lalu... DUAR!

Ledakan energi spiritual yang dahsyat pecah dari titik pijakannya. Pedang-pedang besi itu hancur berkeping-keping menjadi pecahan logam yang melesat ke segala arah.

Gelombang kejutnya begitu kuat hingga menghempas sisa tubuh para bandit ke udara, membuat mereka semua memuntahkan darah segar sebelum jatuh berdentum ke tanah, tidak sadarkan diri dengan luka dalam yang parah.

Di tengah kepulan debu dan serpihan besi yang perlahan turun, Arthur meluncur turun dengan anggun, kembali mendarat di atas permukaan tanah dengan posisi sempurna tanpa sebutir debu pun mengotori pakaiannya.

Pimpinan para bandit itu melotot, menyaksikan seluruh anak buahnya dikalahkan dengan begitu mudahnya.

Wajahnya seketika memerah padam hingga urat-urat di leher dan dahinya menonjol mengerikan. Rahangnya mengeras, dan kedua tangannya mengepal begitu erat hingga sendi-sendinya memutih.

"Kau... keparat! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" teriak pimpinan bandit itu dengan suara parau yang dipenuhi amarah.

Dia merentangkan kedua telapak tangannya ke depan. Detik itu juga, pusaran magis mulai bekerja, memanggil kekuatan api yang membakar.

Kekuatan api berkobar di antara kedua telapak tangannya. Itu bukan sekadar api kecil pemantik obor, melainkan akumulasi energi magis yang sangat besar dan liar.

Arthur yang melihat pemandangan itu sama sekali tidak panik. Ia tetap berdiri diam dengan tenang, melipat kedua tangannya di dada seolah serangan mengerikan di depannya tak lebih dari gigitan semut yang mengganggu.

Udara di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat panas, membakar dedaunan kering hingga menjadi abu. Namun bagi Arthur, suhu di tubuhnya tetap stabil dan dingin.

Saat bola api itu sudah berukuran raksasa menyerupai meteor, pimpinan bandit itu melompat tinggi ke udara.

Sambil mencengkeram bola api meteor itu, ia berteriak histeris dari atas, "Mati kau, manusia sombong! Hancurlah bersama abuuu!"

Bola meteor api itu meluncur deras membelah atmosfer, mengarah tepat menuju target tunggal di bawahnya.

Arthur mengangkat sudut bibirnya, mengukir senyum tipis yang meremehkan. Bukannya menghindar, ia justru berlari kencang, lalu melompat tinggi menyongsong meteor raksasa tersebut.

Pimpinan bandit yang melihat kenekatan Arthur melotot tidak percaya. "Hahaha! Benar-benar orang gila! Kau menyerahkan nyawamu sendiri!" pikirnya, menantikan tubuh Arthur hangus terbakar.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat rahang pimpinan bandit itu jatuh dengan mulut menganga lebar. Seluruh logika bertarungnya runtuh seketika.

Di udara, Arthur hanya mengangkat satu telapak tangannya yang telanjang. Dengan gerakan santai, ia menepis bola meteor yang membara itu bagaikan permainan bola voli.

Begitu kulitnya menyentuh api, keajaiban aneh terjadi. Meteor yang awalnya mengeluarkan kobaran api yang meraung-raung seketika menjinak. Api tersebut meredup, mengecil dengan cepat, dan dalam sekejap menghilang tanpa bekas.

Bola meteor yang mengerikan itu kini berubah menjadi bongkahan batu hitam biasa yang mati, kehilangan seluruh energi magisnya. Batu besar itu terjatuh bebas ke tanah.

Brak!

Arthur mendarat setelahnya. Dengan pose yang sangat mengintimidasi, ia berdiri tegak di atas bola batu besar tersebut, menatap lurus ke arah pimpinan bandit yang kini gemetar ketakutan di bawah sana.

"Mo—monster... K-Kau bukan penyihir biasa... A-Ampun, Tuan! Tolong ampuni nyawa hamba!" Pimpinan bandit itu jatuh berlutut, seluruh persendiannya lemas hingga bergetar hebat. Air mata dan keringat dingin bercampur di wajahnya yang kini sepucat mayat.

Arthur sama sekali tidak peduli. Ia menatap mangsanya dari ketinggian batu dengan sepasang mata yang sepenuhnya dingin, hampa tanpa emosi, seolah sedang melihat seonggok daging mati.

"Sejak awal, aku sudah memberikanmu pilihan yang sangat mudah," kata Arthur, suaranya terdengar begitu tenang, namun bergema di dalam kepala sang bandit.

Ia menjeda kalimatnya sejenak, melangkah turun satu demi satu langkah lambat yang sarat akan intimidasi murni. "Aku sudah menyuruhmu untuk segera menyingkir dari jalanku. Tapi... kau justru memilih untuk tetap tinggal di sini."

Sang bandit menggelengkan kepala histeris, mencoba merangkak mundur. "T-Tidak, Tuan, saya mohon—"

"Jadi..." potong Arthur, nadanya merendah bagai vonis dari dewa kematian. "Tidak ada lagi jalan keluar bagimu."

Tepat bersamaan dengan kata terakhir yang terucap dari bibir Arthur, atmosfer di atas kepala sang bandit mendadak memanas secara ekstrem.

Tanpa ada peringatan, sebuah lingkaran sihir hitam pekat muncul, melahirkan bola api raksasa yang berputar ganas tepat beberapa inci di atas kepala pimpinan bandit yang sedang menangis ketakutan itu.

Dan—DUARRR!

Ledakan dahsyat mengguncang tanah tersebut. Gelombang panas menghancurkan tubuh sang pimpinan bandit seketika hingga tak bersisa, mencabik - cabiknya menjadi serpihan-serpihan kecil.

Darah segar dan sisa-sisa kehancuran terlempar dengan liar ke segala arah, mengotori tanah dan pohon di sekitarnya.

Namun anehnya, tak ada satu tetes darah pun yang berhasil menyentuh pakaian atau kulit Arthur.

Pemuda itu tetap berdiri kokoh di tengah badai darah, mempertahankan wajah dinginnya yang tak tersentuh oleh rasa bersalah sedikit pun.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!