NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Pertama

Silvia berbalik dan melirik sekilas jaket yang tergantung di ujung ranjang. Dengan santai, ia berkata, “Mandilah dulu.”

Silvia mengambil handuk dari dalam lemari dan mengulurkannya kepada Nelia. Begitu menerima handuk itu, Nelia langsung melompat ke arah Silvia dan bergelayut di bahunya, “Sil, ayo mandi bareng aku. Biar kita wangi-wangi barengan.”

Silvia menarik tirai jendela hingga tertutup. Dari balik kaca, cahaya lampu kota di kejauhan berkelap-kelip seperti bintang. Tatapan Silvia perlahan meredup.

Dulu, di waktu seperti ini, selalu ada seseorang yang berdiri di dekat jendela sambil menyuruhnya segera tidur.

Tok...Tok...

Suara ketukan terdengar dari luar.

Nelia menjulurkan kepalanya, “Siapa sih malam-malam beginian ketuk pintu?”

Silvia mendengar suara itu dan membuka pintu sedikit.

Kelvin masih mengenakan setelan jasnya yang rapi. Di tangannya terdapat segelas susu hangat yang masih mengepulkan uap.

Begitu melihat Silvia, Kelvin bertanya dengan nada datar, “Nona Nelia di mana?”

Silvia tetap menahan pintu dengan kuat. Ia melirik ke belakang, Nelia sedang menggeleng-gelengkan kepala dengan panik. Silvia mengatupkan bibir, lalu menatap Kelvin. Tangannya yang kecil keluar melalui celah pintu, “Berikan susunya padaku saja. Setelah dia selsai mandi, dia akan meminumnya.”

Kelvin terdiam beberapa saat. Ujung jarinya sempat berhenti, tetapi akhirnya ia menyerahkan gelas susu itu, “Kalau sudah dingin, minta kepala pelayan menghangatkannya lagi.”

“Tahu kok.”

Silvia menutup pintu dengan sedikit kesal.

Angin malam langsung menerpa wajah Kelvin.

Ia hanya menatap dingin ke arah Meliana yang sejak tadi mengamati dari kejauhan.

“Sudah kuberikan padanya.”

Setelah mengatakan itu, Kelvin berbalik dan masuk ke kamarnya sendiri di sebelah.

Begitu mendengar pintu kamar terkunci rapat, Nelia akhirnya berani menjulurkan kepalanya keluar. Dengan handuk yang masih membalut tubuhnya, ia berjalan keluar dari kamar mandi. Kaki jenjangnya yang putih sesekali bergoyang di depan Silvia. Nelia langsung duduk di atas ranjang Silvia.

Nelia mengambil susu yang ada di tangan Silvia lalu meneguknya. Setelah beberapa tegukan, Nelia seperti baru teringat sesuatu. Ia mengulurkan gelas susu itu ke hadapan Silvia, “Sil, kamu mau nggak?”

Silvia melirik wajah Nelia yang kini memiliki kumis putih dari susu. Ia dengan jijik mendorong tangan Nelia, “Nggak deh.”

Silvia menarik kursi di sampingnya, mengambil pengering rambut, lalu berkata santai, “Aku takut susunya sudah dikasih obat.”

“Uhuk! Uhuk!” Nelia langsung tersedak.

Ia buru-buru meletakkan gelas dan menepuk-nepuk dadanya dengan keras hingga akhirnya bisa bernapas kembali. Ia melotot ke arah Silvia, “Silvia! Kamu mau bikin aku mati kaget, hah?!”

Untuk pertama kali malam itu, sudut bibir Silvia terangkat, “Bercanda saja loh.”

Nelia langsung mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Silvia, “Kamu sekarang sudah belakang jadi nakal yah.”

“Belajar dari kamu kok.”

Setelah mengatakan itu, Silvia kembali mengangkat tangannya. Pengering rambut mulai mengembuskan udara hangat ke rambutnya yang masih basah.

Setelah menghabiskan susunya, Nelia berdiri dan berjalan ke belakang Silvia. Ia mengambil pengering rambut dari tangan Silvia, jari-jarinya dengan lembut mengusap kepala Silvia.

Silvia perlahan mengembuskan napas lega, matanya pun terpejam.

Keesokan paginya.

Matahari mulai terbit, cahaya keemasan menembus tirai tipis dan jatuh tepat di kelopak mata Silvia dan Nelia. Silvia berguling ke samping, mengusap matanya.

Seperti kebiasaannya setiap pagi, ia mendorong kaki Nelia yang melintang di atas tubuhnya.

Nelia hanya menggumam pelan, kedua tangannya terangkat untuk meregangkan tubuh, lalu ia kembali berguling dan membenamkan diri di atas ranjang.

“Sil...sekarang udah jam berapa?”

Silvia sudah mencuci wajah di wastafel. Ia melihat angka di layar ponselnya sambil mengeringkan wajah dengan handuk, “Sembilan.”

“Apa?!!” Teriakan Nelia langsung membuat dirinya sendiri terkejut. Ia bangkit dari ranjang. Dengan kesal, ia mengacak rambutnya yang berantakan, “Sil! Kenapa kamu nggak bangunin aku?!”

Mulut Silvia masih dipenuhi pasta gigi. Ia berjalan perlahan kembali ke kamar, “Kamu kan setiap hari nggak ada kerjaan. Aku pikir biar kamu tidur lebih lama. Tapi...hari ini kita di rumahmu!”

Nelia langsung berlari ke kamar mandi. Ia mengambil facial wash milik Silvia lalu membasuh wajahnya, “Orang tuaku bisa memarahiku habis-habisan!”

Silvia berkumur lalu berkata, “Nel...jawab aku dengan jujur. Kamu sebenarnya suka sama abangku kan?”

Nelia langsung membelalakkan mata. Seolah baru saja mendengar sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Ia mengusap telapak tangannya, lalu mencubit pipi Silvia dengan gemas, “Sil, kamu mikir apaan aja sih?”

Silvia mundur setengah langkah dan menangkap tangan Nelia, “Nelia, kamu masih ingat pertama kali bertemu Kak Kelvin?”

Gerakan Nelia tiba-tiba berhenti, itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu.

Saat itu musim liburan musim panas. Silvia sedang pergi ke luar negeri bersama Chris untuk mengikuti summer camp.

Karena merasa bosan dan teringat dua orang tua di keluarga Pollis, Nelia pergi ke kediaman lama keluarga Pollis sendirian.

Saat itu, Nelia berlari-lari di halaman sambil menerbangkan layang-layang. Wajahnya penuh senyum.

Tiba-tiba...

Bruk!

Nelia tersandung dan jatuh tepat di bawah pohon besar di halaman. Beberapa titik lumpur menempel di wajahnya, ia sama sekali tidak peduli.

Matanya justru tertuju pada layang-layang yang tersangkut di atas pohon, “Layang-layangku!”

Kelvin yang saat itu terkena kaki Nelia menahan pergelangan kakinya dengan kesal. Ia hendak memarahinya. Namun, tatapannya justru berhenti pada lutut Nelia yang memerah dan matanya yang mulai berkaca-kaca.

Kelvin akhirnya menghela napas. Ia bangkit dengan sedikit pincang dan memegang kedua lengan Nelia, “Kamu berdiri dulu.”

Nelia masih menggerakkan tangannya sambil terus menunjuk ke arah layang-layang. “Layang-layangku...”

Kelvin mengerutkan kening. Ia menatap layang-layang yang tersangkut di dahan pohon. Kemudian, buku yang sedang dibawanya ia serahkan kepada Nelia.

“Kamu mau ngapain?”

Kelvin menggulung lengan bajunya, tatapannya tertuju pada layang-layang di atas pohon, “Ambil layang-layangmu.”

Tanpa ragu, Kelvin mulai memanjat batang pohon. Ia akhirnya berdiri di salah satu dahan utama. Dengan hati-hati, ia meraih dahan tempat layang-layang itu tersangkut. Jari-jarinya beberapa kali tertusuk duri kecil di permukaan ranting.

Kelvin menggertakkan gigi menahan sakit. Ia tetap mengulurkan tangan untuk meraih benang layang-layang. Begitu layang-layang itu berhasil diambil, terdengar sorakan dari bawah pohon, “Kak Kelvin! Kamu hebat banget!”

Nelia melompat-lompat di bawah bayangan pohon sambil bersorak sekuat tenaga.

“Nel?” Tangan Silvia melambai-lambai di depan wajah Nelia.

Nelia akhirnya tersadar, pipinya perlahan memerah. Ia buru-buru mengalihkan pandangan kearah lain, “Hmm.”

Melihat wajah Nelia yang malu-malu, senyum Silvia langsung muncul, “Nelia, kamu malu.”

“NGGAK!!” Nelia menghindari tatapannya lalu berjalan melewati Silvia menuju kamar mandi.

Ia dengan santai membuka tas kosmetik Silvia. Kemudian mengambil krim wajah dan mengoleskannya ke wajah sendiri.

Silvia bersandar ringan di kusen pintu kamar mandi. Ia menatap Nelia yang tampak gugup, “Sil, nanti kamu harus bantu aku.”

Nelia berbisik pelan di dekat telingan Silvia. Namun sebelum Silvia sempat menjawab...

“Nelia, Silvia, selamat pagi.”

Suara rendah Kelvin terdengar dari arah pintu.

Nelia langsung terkejut, ia bersembunyi di belakang Silvia dengan gerakan refleks. Kemudian ia memasang senyum kaku, “Morning, Bang Kelvin.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!