Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu
Arkan berjalan pulang menuju rumah singgah. Kakinya menyusuri jalanan setapak yang licin.
Hujan mulai reda, hanya menyisakan gerimis kecil.
Lampu senternya mulai kehabisan daya, dan harus segera di charger.
Cahayanya tampak meredup, dan Arkan mendadak menghentikan langkahnya saat melintas di rumah Dayang Sari.
Ia melihat asap mengepul dari arah rumah bagian dapur.
"Sedang apa Bu Guru malam-malam begini? Apalagi tengah malam?" gumamnya dengan rasa penasaran.
Entah dorongan darimana, ia melangkah menuju rumah tersebut.
Kakinya menapaki anak tangga, dan tiba di depan pintu.
Rumah betang yang berukuran cukup besar itu hanya dihuni oleh Dayang Sari seorang.
TOK TOK!
Arkan mengetk pintu, dengan tubuhnya yang basah kuyup.
Terdengar langkah kaki Dayang Sari yang menuju ke arah depan, dan derit papan yang seolah menjerit saat sedang di injak.
Kreeeeek!
Pintu terbuka. Dan gadis cantik dengan kulit putih halus yang terkena sinar lampu bohlam membuat Arkan terpukau.
Kali ini, ia berdiri mematung, dan seperti kerbau yang di cocok hidungnya.
Rambut Dayang lurus dan basah. Wajahnya juga tampak pucat. Dan untuk apa ia mandi di tengah malam seperti ini?
"Bang Arkan? Kamu juga habis patroli ya?" sapa Dayang dengan wajah datar.
"Iya, Bu Guru... Kami sedang mengejar Kuyang yang kabur ke arah sungai, tetapi menghilang,"
Masuklah, tubuh kamu basah, nanti bisa terserang demam." Dayang Sari menarik pergelangan tangan Arkan untuk masuk.
Saat kulit mereka bersentuhan, Arkan mendadak merasakan sengatan yang seolah mengalir keseluruh darahnya.
Baginya, Dayang begitu sangat cantik, penuh pesona, dan ia tidak sanggup untuk mengatakannya.
Sentuhan itu, sudah membuatnya lupa diri.
Saat Arkan sudah berada di dalam rumah, Dayang langsung menutup pintu. Lalu mengambilkan handuk untuk Arkan.
"Keringkan tubuhmu, nanti kamu demam." ia menyodorkan handuk tersebut kepada Arkan.
Akan tetapi, pemuda itu hanya bengong. Hal itu membuat Dayang Sari membantu membuka pakaian Arkan yang diam membeku seperti patung.
Dengan lembut, gadis tersebut mengeringkan rambut Arkan, lalu mengeringkan tubuhnya.
Perlakuan Dayang padanya, membuat Arkan tak dapat menghindar. Ia tidak tahu, apa yang saat ini sedang di alaminya. Hanya saja, ia ingin mengatakan, jika Dayang sangat cantik maksimal.
Tangan Arkan perlahan diangkat. Lalu jemari tangannya memegang dagu Dayang.
Anehnya gadis itu hanya diam saja. Bahkan tak ada niat untuk menepis
Ada sebuah pepatah yang sering kali terdengar. 'Jangan coba-coba merantau ke Kalimantan, sebab jika anak daerah menyukaimu, maka kau tak akan ingat pulang, tidak ingat keluargamu, dan kau akan tertahan di pulau tersebut selamanya'
Kedua mata mereka saling beradu. Tubuh Arkan semakin panas.
"Kamu butuh kehangatan. Ulun sedang membuat teh dau gaharu, dan itu dapat menghangatkan tubuhmu," bisik Dayang Sari, tepat di telinga Arkan.
"Apakah ikam mau?" tanya Dayang dengan lembut, dan itu langsung terekam di otak sang pemuda.
Arkan mengangguk pelan, dan ia menurut saja saat tuntun untuk ke kursi tamu yang terbuat dari pahatan kayu ulin.
Dayang berjalan menuju dapur. Sedangkan Arkan menatap punggung sang gadis yang melenggok dengan langkah menggoda.
Dada Arkan terasa sesak. Ia seakan terhipnotis oleh semua pesona yang di diberikan Dayang Sari.
Arkan lupa, tujuannya datang ke kampung ini untuk mencari informasi tentang Kuyang. Tetapi ia sudah di luar kendali.
Tak berselang lama, Dayang datang membawa nampan yang berisi dua gelas teh daun gaharu.
Gadis itu menyuguhkannya kepada Arkan, dan membuat dada sang pemuda semakin sesak.
Arkan menyesapnya. Rasa hangat langsung menyambut tenggorokannya, dengan aroma khas yang membuat ia tak dapat mendeskripsikan rasanya.
Ia meletakkan gelas diatas meja, dan pandangan mereka kembali bertemu. Terlihat Dayang Sari tersenyum padanya. Dan mendadak membuat merasakan pandangannya menggelap. Dan semua mendadak sunyi.
***
"Arkan, Arkan, Sadarlah.. Ikam bangun." sebuah tamparan kecil mengenai pipinya.
"Hah!"
Arkan tersentak bangun. Ia menatap kerumunan orang-orang yang memandanginya.
"Kamu ngapain tidur di sini?" tanya Pak Taslim. "Kalau sampai di telan tangkalaluk (ular sanca) kan bahaya," omelnya lagi.
Arkan memegangi kepalanya yang terasa sakit, dan ia masih tidak mengerti mengapa bisa tertidur di dalam semak.
Terakhir yang ia ingat adalah ia meminum teh daun gaharu di rumah Dayang Sari.
Warga membantunya untuk bangkit, dan ia berdiri dengan sempoyongan.
"Kamu kenapa tidur di sini?" tanya Pak Taslim sekali lagi.
Arkan terdiam. Saat bersamaan, ia melihat Dayang Sari diantara kerumunan warga.
Ia langsung membeku. Akan tetapi, itu hanya sesaat, sebab Dayang Sari sudah menghilang, dan membuat jantung Arkan semakin menderu.
"Saya, saya mungkin kedinginan," jawabnya berbohong.
"Ya, sudah, ikam lebih baik guring di rumah saja." saran Pak RT.
(Ya sudah, lebih baik kamu tidur di rumah)
Arkan menganggukkan kepalanya. Lalu berjalan sempoyongan, dan meninggalkan kerumunan warga yang saat ini sedang menatapnya dengan bingung.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Dayang Sari sedang duduk di tepian ranjang.
ia menatap wajahnya di cermin. Kecantikannya s3makin kian bertambah. Pancaran pesona yang tak dapat di pungkiri, membuat ia akan dapat mengendalikan siapapun.
Di lantai kamarnya, terdapat sisa tali pusar yang tergeletak begitu saja. Mendadak ia merasa mual saat melihatnya, dan dengan tangan yang gemetar, ia memungutnya, lalu melemparkannya ke kolong rumah.
Seekor biawak yang sedang tertidur langsung menyambut makanan tersebut, dan membawanya lari ke dalam semak.
Dayang Sari mengambil syal miliknya' lalu ingin melilitkan ke lehernya.
TOK!
Sebuah ketukan yang cukup pelan di jendela.
"Dayang..." suara Damang Jaya terdengar memanggilnya dari arah bawah.
Dayang Sari membuka jendela, lalu melongok ke arah bawah. "Atok..."
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya pada sang cucu.
"Aku..."Dayang Sari tak melanjutkan ucapannya. Tapi aku....,"
"Untuk tiga malam ini kamu jangan keluar malam..." potong Damang Jaya dengan cepat.
Sesaat suasana menjadi hening. Lalu meteka terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
"Atok ada masak kuah kuning ular sawa, nanti makanlah di rumah atok," ucapnya pelan. Lalu berjalan pergi meninggalkan rumah Dayang Sari.
Sementara itu, di balai desa, Pak RT sedang duduk sembari memijat kepalanya yang sakit.
"Kita masih gagal untuk menangkap Kuyang tersebut." ucapnya dengan nada kesal. Ia merada, jika desa sudah dalam ancaman. "Bola apinya masuk ke dalam sungai,"
"Lalu bagaimana?" tanya Pak Lurah dengan wajah putus asa.
"Perkuat doa. Gantungkan mandau du deoan pintu dan jendela.dan jangan lupa tabur garam kasar di sekitar rumah. Serta jangan ada perempuan hamil yang keluyuran saat malam hari..." suara Damang Jaya memecah ketegangan yang sedang terjadi.
"Saya setuju... Dan saya akan bantu untuk pasang kamera di tiga titik yang eawan akan kemunculan Kuyang." ucap Pak Lurah.
"baiklah, saya juga setuju," Pak RT menyahuti, dan diikuti oleh yang lainnya. "Anak TK kita liburkan dulu sekolahnya, demi keselamatan kita bersama.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺