Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Cara untuk Kembali — Harga yang Tak Terbayangkan
Malam itu, aku duduk di lantai kamar, dikelilingi lembaran-lembaran kertas berisi catatan dari buku lama itu. Lampu meja menyala redup, menciptakan bayang-bayang yang bergerak pelan di dinding. Setiap kalimat yang kubaca terasa semakin berat, seakan beban di pundakku tumbuh seiring dengan bertambahnya pemahamanku.
Buku lama itu menjelaskan lebih rinci — melintasi batas dua dunia bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah pertukaran energi, keseimbangan mutlak yang tak bisa ditawar.
"Tak ada yang boleh mengambil lebih dari yang diberikan. Jika kau ingin kembali, kau harus meninggalkan sesuatu yang setara nilainya — sesuatu yang menjadi bagian terpenting dari dirimu. Bukan sekadar ingatan, bukan sekadar waktu. Melainkan esensi dari siapa kau sebenarnya."
Jantungku berdegup kencang, tangan gemetar menyentuh baris itu. Jadi bukan hanya separuh ingatan — itu baru permulaan. Harga sebenarnya jauh lebih besar.
Aku terus membaca, napas tertahan di setiap kalimat:
"Tiga syarat untuk membuka gerbang kembali:
Pertama — bulan purnama harus bersinar di kedua dunia sekaligus, pada malam yang sama.
Kedua — kau harus meninggalkan salah satu milikmu yang paling berharga di dunia asal, sebagai jaminan agar gerbang tak pernah tertutup selamanya.
Ketiga — saat melintasi batas, kau harus melepaskan separuh kekuatan yang kau miliki. Kekuatan itu akan tetap tinggal di sini, menjaga keseimbangan, sementara kau pergi dengan separuh sisanya."
Aku terkulup di lantai, air mata jatuh membasahi kertas. Separuh kekuatanku — kekuatan yang kubutuhkan untuk melindungi diriku dan Arga nanti — harus kutinggalkan di sini. Dan benda paling berharga yang harus kutinggalkan... aku tak tahu apa itu. Semuanya terasa berharga. Tapi buku itu memberikan petunjuk:
"Benda yang paling berharga bukanlah yang paling mahal. Ia adalah benda yang menyimpan jejak hatimu — sesuatu yang tak bisa digantikan oleh apa pun."
Aku menatap sekeliling kamar, mencari benda itu. Foto keluarga? Buku kesayanganku? Kalung pemberian sahabat? Tak satu pun terasa cukup. Hingga tanganku menyentuh saku jaket — dan di sana, terasa benda kecil yang keras. Aku mengeluarkannya. Itu adalah kancing kemeja Arga yang terlepas saat kami berpelukan terakhir kali, saat cahaya mulai menarikku pergi. Aku menyimpannya tanpa sadar, dan kini benda itu terasa begitu hangat di tanganku.
Inilah benda yang menyimpan seluruh hatiku. Inilah yang paling berharga.
Tapi masih ada satu hal yang membuatku takut — peringatan terakhir di halaman itu, tertulis dengan tinta merah pudar:
"Peringatan terbesar: dunia yang kau tuju telah berubah sejak kau pergi. Waktu berjalan berbeda di antara dua kenyataan. Yang kau temukan di sana mungkin bukan lagi seperti yang kau tinggalkan. Dan jika hatimu berubah, gerbang itu akan menutup selamanya — dan kau takkan pernah bisa kembali ke salah satu dunia."
Waktu berjalan berbeda? Artinya... bisa saja saat aku tiba di sana, beberapa hari telah berlalu, atau bahkan beberapa tahun? Arga — bagaimana keadaannya? Apakah ia masih menunggu? Atau ia sudah berhenti berharap?
Pikiranku menjadi kacau. Keraguan mulai merayap masuk — apakah aku siap kehilangan separuh ingatanku? Apakah aku siap kembali ke dunia yang mungkin tak lagi sama? Apakah aku siap menghadapi kenyataan bahwa Arga mungkin tak lagi sama?
Namun saat aku menggenggam kancing itu erat, bayangan wajah Arga muncul di benakku — tatapan matanya yang penuh cinta, janjinya bahwa ia akan menungguku selamanya. Dan aku tahu: keraguan apa pun takkan pernah lebih besar dari cintaku padanya.
Aku berdiri perlahan, menyusun semua catatanku dengan rapi. Aku tahu harganya tak terbayangkan — separuh ingatan, separuh kekuatan, dan kemungkinan menemukan dunia yang berbeda. Tapi cinta kami lebih mahal dari itu semua. Dan aku rela membayar berapa pun harganya.
Aku melihat ke luar jendela — bulan purnama akan datang dalam tiga hari. Tiga hari lagi untuk bersiap. Tiga hari lagi untuk meninggalkan dunia ini — dan kembali ke tempat di mana hatiku berada.
Namun di balik bayangan jendela, sosok yang sama dari perpustakaan itu kembali berdiri. Ia melihatku menggenggam kancing itu, dan senyum tipis tersungging di bibirnya — senyum yang penuh kepuasan, seakan rencananya berjalan persis seperti yang ia inginkan.
"Kau memilih jalannya..." bisiknya pelan. "Dan kau takkan pernah tahu — bahwa kau bukan hanya kembali untuk cinta. Kau kembali untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu."
....