Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Bocah yang Cuma Mau Susumu
Setelah malam yang panjang itu, Satya muntah tepat ketika Laras baru selesai mengganti bajunya.
Susu hangat membasahi bahu blus yang masih bersih. Laras tidak sempat mengeluh. Ia segera memiringkan tubuh bayi itu, menyeka mulutnya, lalu meraba perut kecil yang terasa keras.
“Kembung lagi, Le?”
Satya meringis dan menendang-nendang.
Laras membaringkannya di atas alas kain. Kedua kaki kecil itu ia gerakkan perlahan seperti mengayuh sepeda, lalu telapak tangannya mengusap perut Satya searah jarum jam. Setelah beberapa saat, angin keluar disusul suara kecil yang membuat Laras hampir tertawa.
“Nah. Begitu lebih enak.”
Satya memandangnya dengan mata berair. Tangannya meraih jari Laras dan menggenggamnya erat.
Rasa lapar Laras belum hilang, tetapi genggaman itu menahan keluhannya di dalam dada.
Pagi itu, Iwan datang membawa sarapan. Laras langsung berdiri di pintu sebelum ia sempat meletakkan bungkusan.
“Wan, ini memang jatah saya?”
“Iya, Mbak.”
“Bukan jatah Komandan?”
Iwan menghela napas panjang. “Komandan sarapan di kantor. Ini dari dapur batalyon untuk Mbak Laras. Saya sudah tulis namanya. Kalau masih ragu, saya stempel sekalian.”
Laras tersipu. “Saya cuma tidak mau salah ambil.”
“Kalau Mbak tidak makan, yang salah malah saya. Satya menyusu apa nanti?”
Ia membuka bungkus itu. Nasi hangat, telur balado, tumis kangkung, dan tempe. Aroma cabai serta bawang membuat air liurnya berkumpul. Laras menyuap perlahan, memaksa diri tidak terlihat terlalu lapar di depan Iwan.
Iwan pura-pura sibuk memeriksa engsel pintu.
“Makan saja sampai habis, Mbak. Saya tidak lihat.”
Untuk pertama kalinya sejak datang, Laras menghabiskan nasi tanpa menyisakan separuh untuk besok.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Menjelang siang, suara ramai terdengar dari rumah Bu Ratna. Beberapa perempuan berjalan membawa kotak makanan dan tas arisan. Laras yang sedang menjemur kain bedong berhenti sejenak.
Bu Ratna berdiri di teras menyambut mereka. Matanya sempat bertemu mata Laras, lalu berpindah begitu saja.
Tidak ada undangan.
Laras menunduk dan kembali memasang penjepit. Ia bukan anggota Persit. Ia juga tidak punya uang untuk iuran arisan. Tidak diundang seharusnya bukan masalah.
Tetapi ketika ia melewati rumah itu sambil menggendong Satya, percakapan di teras mendadak mengecil.
“Itu anak Pak Bima?” seseorang bertanya pelan.
“Iya. Sekarang maunya sama pengasuh baru itu terus.”
“Wajar, yang dicari susunya.”
Terdengar tawa tertahan.
Laras memperbaiki selendang agar sisi blus yang kembali lembap tertutup. Satya sedang tumbuh kuat, sedangkan tubuhnya sendiri belum sempat pulih. Susunya sering merembes sebelum jadwal menyusu berikutnya.
Ia tidak menoleh.
Di kamar belakang, Laras membuka blus dan menyusui Satya sampai bayi itu tenang. Setelahnya, ia menepuk punggungnya lebih lama, memastikan tidak ada udara tertahan di perut.
“Kita tidak perlu menjawab semuanya, Le,” bisiknya. “Kamu sehat saja. Itu jawaban kita.”
Hari kelima berganti hari keenam.
Pipi Satya yang sebelumnya cekung mulai tampak berisi. Ia tidak lagi muntah setiap selesai minum. Demamnya pun tidak kembali. Laras mencatat waktu menyusu dan muntahnya di buku kecil, juga berapa kali popoknya basah agar ia bisa melapor bila harus ke poliklinik.
Iwan melihat catatan itu ketika mengantar air minum.
“Mbak sampai tulis begini?”
“Kalau perutnya bermasalah lagi, dokter perlu tahu.”
“Pantas dua hari ini dia tidak teriak seperti sirene.”
“Jangan dibandingkan dengan sirene. Nanti Satya tersinggung.”
Iwan terkekeh. “Dia belum paham.”
Satya mengeluarkan suara protes dari kasur.
“Tuh, dia paham.”
Tawa Iwan berhenti ketika melihat seseorang di halaman. Ia langsung berdiri tegak.
“Selamat sore, Komandan.”
Bima baru pulang dinas. Lengan kemeja lorengnya digulung sampai siku, wajahnya kusam oleh debu dan lelah. Ia mengangguk kepada Iwan, lalu pandangannya jatuh pada Laras yang sedang mengangkat Satya.
“Demam?” tanyanya.
“Tidak, Komandan. Dua hari ini suhunya normal. Muntahnya juga berkurang.”
Bima melihat buku catatan di tangan Iwan. “Itu apa?”
“Catatan minum sama popok Satya, Komandan. Mbak Laras yang buat.”
Laras menunggu komentar, tetapi Bima hanya mengulurkan tangan. Iwan menyerahkan buku itu. Ia membaca beberapa baris, lalu mengembalikannya.
Pandangannya sempat berhenti pada tulang pipi Laras yang semakin kentara.
“Jatah makannya diantar?” tanya Bima kepada Iwan.
“Siap. Pagi dan siang.”
“Pastikan.”
Hanya satu kata. Bima bahkan tidak melihat Laras saat mengucapkannya, tetapi tengkuk perempuan itu mendadak hangat. Ia menunduk, berpura-pura membetulkan kain bedong Satya.
“Lanjutkan.”
Kata yang sama lagi.
Namun kali ini, Laras tidak merasa ingin bersembunyi.
Sore berikutnya, Satya rewel menjelang tidur. Laras membawanya ke halaman kecil agar mendapat angin. Ia menyanyikan tembang Jawa yang biasa dinyanyikan Mbah Inah untuk Nala, pelan dan tanpa kata-kata yang jelas.
Satya berhenti menangis. Kepalanya bersandar di dada Laras, satu tangannya masuk ke lipatan selendang.
Laras bergoyang perlahan. Cahaya senja jatuh di wajah bayi itu. Untuk beberapa detik, ia bisa membayangkan Nala berada di lengan satunya.
Suara sepatu berhenti di teras.
Bima berdiri di bawah atap, sudah berganti kaus gelap dan celana lapangan. Ia tidak menyapa. Pandangannya menetap pada Satya yang tertidur tenang, lalu beralih ke wajah Laras.
Laras menunggu, tetapi laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa.
Bima hanya berdiri satu detik lebih lama daripada seharusnya, kemudian masuk ke rumah.
Pintu menutup pelan di belakangnya.
Laras menunduk pada Satya, sementara satu pertanyaan mengambang bersama sisa tembang di udara senja.
Apa sebenarnya yang dipikirkan laki-laki itu ketika melihat mereka?