Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian I)
...Benang yang Berasal dari Fajar...
..."Kasih tidak dapat dilihat oleh mata. Maka semesta menenunnya menjadi sesuatu yang dapat dipeluk."...
^^^—Petuah Para Penenun Langit^^^
Setelah hari ketika gema Banua Toru terdengar untuk pertama kalinya, Banua Ginjang kembali menjalani putaran kehidupannya sebagaimana biasanya.
Burung-burung kembali bernyanyi. Embun kembali lahir dari pucuk Hariara Bolon. Para Partondion kembali berlarian membangunkan bunga-bunga cahaya.
Namun bagi Deak Parujar, tidak ada lagi pagi yang benar-benar sama, karena sesekali waktu ia masih akan teringat kepada sepasang mata hijau yang memandangnya dari dasar samudra.
Tatapan yang begitu tua. Begitu sunyi. Namun anehnya, tidak dipenuhi kebencian ataupun amarah. Hanya berselimutkan kesedihan dan penantian.
Deak tidak pernah menceritakan perasaannya kepada siapa pun. Bahkan kepada Jonggi, burung kecil yang setia menemaninya kemanapun ia melangkah.
Hanya angin yang mengetahui bahwa setiap menjelang fajar, Deak sering berdiri di bawah Hariara Bolon sambil memandang ke arah akar-akar pohon agung itu. Seolah ingin bertanya kepada semesta, "Mengapa aku?"
Namun angin selalu menjawab dengan desahan, bahasa yang belum sepenuhnya ia pahami.
...****************...
Suatu pagi, ketika cahaya pertama baru saja menyentuh daun-daun Hariara, Mulajadi Nabolon datang menghampiri putrinya. Beliau tidak membawa tongkat sebagimana biasanya. Ia juga tidak mengenakan mahkota cahaya. Hari itu beliau tampak seperti seorang ayah yang hendak mengajak anaknya berjalan.
"Ayah." Deak menyapa sang Pemimpin Banua Ginjang sambil membungkuk hormat.
Mulajadi tersenyum, lalu ia berkata: "Hari ini bukan waktunya belajar kepada batu. Bukan pula kepada air."
"Lalu kepada siapa Ayah?" tanya Deak penasaran.
Beliau mengangkat telunjuknya. Di kejauhan, tampak sebuah lembah yang belum pernah didatangi Deak.
Dari sana terdengar suara yang sangat lembut. Bukan berupa sebuah nyanyian. Bukan pula percakapan. Melainkan bunyi... "tak... tak... tak..." Seperti ribuan jemari yang sedang bekerja dengan sabar.
"Itu suara apa?" tanya Deak setelah berpikir dan mendengarkan dengan seksama.
"Itu suara kasih." ujar sang Ayah.
Deak memiringkan kepala, "Kasih bisa berbunyi?"
Mulajadi tertawa kecil dan menjawab: "Kadang-kadang. Jika ia sedang ditenun."
...****************...
Mereka lalu menuruni sebuah lereng yang dipenuhi bunga-bunga putih berkelopak tujuh. Setiap kali Deak melangkah, bunga-bunga itu menguncup sebentar, lalu mekar kembali setelah ia lewat.
Jonggi terbang rendah di atas kepala mereka. Sesekali burung kecil itu menangkap seberkas cahaya dengan paruhnya, lalu melepaskannya kembali hingga berubah menjadi kupu-kupu emas.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah lembah yang dipenuhi bangunan-bangunan terbuka.
Tidak ada dinding. Tidak ada pintu. Hanya tiang-tiang dari batang Hariara yang telah mengeras menjadi kristal. Di antara tiang-tiang itu berdiri puluhan alat tenun yang belum pernah dilihat Deak. Alat tenun itu bukan terbuat dari kayu. Melainkan dari akar cahaya yang hidup.
Benang-benangnya pun bukan benang biasa. Ada yang terbuat dari sinar fajar. Ada yang berasal dari pelangi setelah hujan cahaya. Ada pula yang menyerupai helaian kabut yang dipintal menjadi untaian halus berwarna putih dan kelabu.
Puluhan perempuan tua dan muda duduk di hadapan alat-alat tenun itu. Tangan mereka bergerak perlahan. Begitu perlahan hingga nyaris seperti sedang berdoa. Namun setiap sentuhan menghasilkan lembaran kain bercahaya yang memancarkan kehangatan.
Untuk sesaat, Deak terdiam. Belum pernah ia melihat sesuatu seindah itu.
"Apakah mereka sedang membuat pakaian?" tanya Deak sambil berbisik.
Mulajadi menggeleng, lalu menjawab: "Mereka sedang menenun pelukan."
Seorang perempuan lanjut usia bangkit dari tempat duduknya. Rambutnya putih seluruhnya. Namun kulit wajahnya memancarkan cahaya lembut seperti bulan purnama.
Di lehernya tergantung gulungan benang berwarna merah, putih dan hitam. Tiga warna. Yang berpadu tanpa saling menutupi.
Beliau membungkuk kepada Mulajadi Nabolon sesaat dan kemudian berujar: "Lama sekali kami menunggu Putri untuk berkunjung."
"Karena baru hari ini ia siap belajar." jawab Mulajadi Nabolon bijak.
Perempuan tua itu kemudian memandang Deak. Matanya terlihat menghangat. Hangat seperti mata seorang nenek yang telah menunggu cucunya pulang. "Datanglah, Nak. Aku Nai Tonun. Penjaga Tenunan Cahaya."
Deak duduk di sampingnya. Di hadapan mereka terbentang sebuah alat tenun yang terus berdenyut pelan, seolah ikut bernapas.
"Apa yang sedang Nenek tenun?" tanya Deak sambil memperhatikan
Nai Tonun tidak segera menjawab. Beliau mengambil sehelai benang keemasan. Lalu bertanya, "Menurutmu, benang ini terbuat dari apa?"
"Cahaya?" tanya Deak dengan mata membola.
"Benar." jawab Nai Tonun cepat, lalu ia melanjutkan bertanya: "Tetapi cahaya dari mana?"
Deak berpikir. Ia menggeleng tidak tahu.
Nai Tonun tersenyum, lalu menjawab sendiri pertanyaannya: "Ini adalah sinar pertama yang lahir setiap fajar. Bukan semua cahaya. Hanya cahaya pertama."
Beliau kemudian mengambil benang berwarna kebiruan. "Kalau ini?"
"Langit?" tebak Deak setelah berpikir.
"Ini adalah embun terakhir yang masih bertahan sebelum matahari menyentuhnya." ujar Nai Tonun kembali menjawab pertanyaannya sendiri.
Lalu beliau mengambil benang merah yang memancarkan kehangatan, "Dan yang ini... adalah harapan."
Deak mengernyit kaget dan bertanya: "Harapan bisa dipintal menjadi benang?"
Nai Tonun tersenyum lebih lebar, lalu menjawab: "Semua yang lahir dari kasih... Tentu saja dapat ditenun."
Tangan-tangan tua itu mulai bergerak dan menimbulkan suara: "Tak... Tak... Tak..."
Benang-benang cahaya saling menyilang. Membentuk pola-pola yang belum pernah dilihat Deak. Tidak ada satu pun yang dibuat secara sembarangan. Setiap garis memiliki arah. Setiap warna memiliki tempat. Setiap simpul memiliki makna.
"Apakah semua tenunan harus memiliki pola?" tanya Deak.
"Ya." jawab sang Nenek lugas.
"Mengapa?" tanya Deak lagi.
"Karena hidup juga memiliki pola. Bila satu benang dipaksa berjalan sendiri... tenunan akan robek."
Beliau menghentikan pekerjaannya sejenak. Kemudian memegang tangan kecil Deak.
"Begitu pula manusia. Tidak seorang pun diciptakan untuk hidup sendiri. Kasih selalu menenun dua hati, tiga generasi, bahkan seluruh keturunan menjadi satu." jelas sang Nenek bijak.
Mulajadi Nabolon yang berdiri tidak jauh dari sana tersenyum tipis. Inilah pelajaran yang paling beliau tunggu. Bukan tentang kekuatan. Bukan juga tentang mukjizat. Melainkan tentang kasih.
Karena beliau mengetahui dengan keyakinan penuh, bahwa suatu hari nanti, putrinya itu akan menciptakan sebuah dunia. Dan dunia hanya dapat bertahan apabila kasih menjadi benang yang mengikat seluruh kehidupan.
Di sudut balai tenun, Jonggi memperhatikan sebuah gulungan benang yang memancarkan warna perak. Burung kecil itu berkicau pelan. Seolah mengenali sesuatu.
Tanpa disadari siapa pun, gulungan benang itu perlahan berpendar. Lalu... sehelai benang tipis melayang sendiri menuju Deak Parujar.
Benang itu melingkar lembut di pergelangan tangan sang putri. Hangat. Ringan. Seperti sebuah janji.
Nai Tonun memandangnya tanpa berkata apa-apa.
Namun di dalam hatinya, beliau berbisik, "Hariara telah memilih penenun berikutnya..."
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 6 – Bagian II: Ulos Pertama untuk Sang Putri.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/