NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Bima Pradipta datang ke kediaman Arga sore itu.

Tidak sendiri.

Ratna ikut bersamanya.

Kedatangan mereka diumumkan Marni dengan wajah tegang, seperti orang membawa bara api di tangan.

"Tuan Bima dan Nyonya Ratna sudah di ruang tamu."

Alya sedang membaca hasil pemeriksaan awal yang dikirim Dokter Mira. Belum lengkap, tetapi cukup memberi tanda bahaya. Fungsi hati Arga sedikit terganggu. Ada indikasi penggunaan obat penenang jangka panjang. Panel toksikologi masih diproses.

Arga duduk di kursi dekat jendela. Ia baru selesai fisioterapi ringan yang dipaksakan Alya selama dua puluh menit. Wajahnya pucat dan suasana hatinya buruk.

"Mereka cepat," katanya.

"Orang yang panik selalu cepat."

"Ayahku tidak panik."

"Yang panik bukan dia."

Arga memandang pintu. "Kamu ingin aku turun?"

"Kamu kuat?"

"Kalau aku bilang tidak?"

"Aku akan turun sendiri."

"Dan membuat mereka berpikir aku bersembunyi?"

"Kamu peduli?"

Arga diam.

Alya menutup tablet. "Kalau kamu turun, jangan bicara terlalu banyak. Biarkan aku mulai."

"Kamu suka memerintah."

"Kamu suka membantah tapi tetap mengikuti."

Arga tersenyum kecil. "Menyebalkan."

"Terima kasih."

Mereka turun bersama.

Bima duduk di sofa utama, tongkat di sampingnya. Wajahnya tampak lebih tua daripada saat pernikahan. Ratna duduk di sebelahnya, anggun seperti biasa. Namun mata perempuan itu langsung tertuju pada Arga yang berjalan tanpa dibantu perawat.

Kejutan itu hanya berlangsung satu detik.

Lalu ia tersenyum.

"Arga, kamu terlihat lebih baik."

"Karena semalam aku tidak minum obat cair."

Senyum Ratna menegang.

Bima menoleh. "Obat cair apa?"

Alya duduk di hadapan mereka. "Itu yang ingin saya bahas."

Ratna berkata lembut, "Alya, sebelum kamu memulai dengan tuduhan, ingat bahwa Mas Bima baru pulih dari tekanan darah tinggi. Jangan membuatnya cemas dengan dugaan yang belum jelas."

"Kalau Pak Bima tidak boleh cemas, seharusnya sejak awal obat Arga dicatat dengan jelas."

Bima mengangkat tangan. "Cukup. Jelaskan."

Alya menyerahkan map.

"Ini salinan obat yang saya temukan di kamar Arga. Sebagian punya resep, sebagian tidak. Botol cair ini diberikan rutin setiap malam, tetapi tidak tercatat di resep Dokter Hamzah yang diserahkan Marni. Dokter Mira menemukan indikasi sedasi berulang. Sampel sudah dikirim ke lab."

Bima membuka map. Tangannya sedikit gemetar.

Ratna berkata, "Dokter Mira bukan dokter keluarga."

"Justru karena itu dia independen."

"Independen bukan berarti lebih tahu."

"Tidak. Hasil lab yang akan bicara."

Bima membaca halaman demi halaman. Wajahnya makin gelap.

"Ratna, kamu tahu soal obat ini?"

Ratna tidak tampak panik. "Aku tahu Arga diberi obat tidur tambahan. Dokter Hamzah bilang itu membantu. Arga sering gelisah malam hari."

Arga tertawa pelan.

Bima menatapnya. "Apa?"

Arga menatap Ratna. "Aku gelisah karena setiap kali bangun, aku merasa tubuhku bukan milikku."

Ratna menatapnya dengan sedih yang indah. "Kamu sakit, Arga. Ibu hanya ingin kamu tenang."

"Aku tidak pernah memanggilmu Ibu."

Ruang itu beku.

Marni yang berdiri di dekat pintu menunduk lebih dalam.

Bima memejamkan mata sebentar. "Arga."

Arga bersandar. Napasnya sedikit berat. Alya melihat, tetapi tidak menghentikannya.

Ada kalimat yang harus keluar dari mulutnya sendiri.

"Ayah," kata Arga, "selama ini semua orang bilang aku sakit. Aku percaya. Aku minum apa pun yang diberikan. Aku tidur saat disuruh tidur. Aku diam saat orang mengatakan Pradipta Group terlalu berat untuk orang sepertiku. Tapi kalau ternyata sebagian sakitku dibuat lebih buruk oleh obat yang tidak jelas, apa Ayah masih mau menyuruhku diam?"

Bima tampak terpukul.

Ratna langsung berkata, "Tidak ada yang membuatmu sakit, Arga. Jangan biarkan istrimu menanamkan kecurigaan."

Alya tersenyum sedikit. "Saya bahkan belum perlu menanam. Tanahnya sudah penuh."

Ratna menatapnya tajam.

Bima meletakkan map. "Mulai hari ini, semua pengobatan Arga diawasi Alya dan dokter independen. Dokter Hamzah diberhentikan sementara sampai hasil lab keluar."

"Mas!" Ratna tampak benar-benar terkejut.

"Aku belum selesai."

Ratna menutup mulut.

Bima melanjutkan, "Marni."

Marni tersentak. "Iya, Tuan."

"Semua laporan rumah ini dikirim ke Alya. Salinan ke aku. Tidak ke Ratna."

Wajah Marni pucat.

Ratna berdiri. "Mas Bima, kamu membiarkan anak baru masuk menghancurkan sistem yang sudah kita bangun?"

Bima menatap istrinya.

"Sistem yang membuat putraku tidak punya satu pun foto di ruang keluarga?"

Ratna membeku.

Alya menunduk sedikit.

Ia tidak menyangka Bima memperhatikan itu.

Atau mungkin ia sudah lama memperhatikan, hanya terlalu pengecut untuk bertindak.

"Itu tidak ada hubungannya," kata Ratna pelan.

"Semua ada hubungannya."

"Aku merawat rumah ini. Aku menjaga nama keluarga ini saat Salma meninggal dan kamu hancur. Aku membesarkan Daren, mengurus Rafi, menerima Arga meski dia selalu menolakku. Sekarang kamu lebih percaya pada perempuan yang baru masuk semalam?"

Suara Ratna pecah di ujung.

Cantik.

Sangat cantik.

Jika Alya masih muda, ia mungkin akan tergerak.

Bima juga tampak goyah.

Alya berkata, "Bu Ratna, kalau Anda merasa difitnah, kita tunggu hasil lab. Tidak perlu menangis sebelum bukti keluar."

Ratna menoleh cepat. "Kamu tidak punya sopan santun."

"Saya punya. Saya hanya tidak memakainya untuk menutup masalah medis."

"Kamu pikir kamu siapa?"

"Istri Arga."

"Kamu menikah dengannya karena perjanjian bisnis."

"Benar."

"Jangan berpura-pura penuh kasih."

"Saya tidak pernah berpura-pura."

Arga menatap Alya.

Alya melanjutkan, "Saya tidak berkata saya mencintainya. Saya berkata saya bertanggung jawab atas orang yang secara hukum menjadi suami saya. Kalau Bu Ratna menganggap tanggung jawab hanya sah setelah ada cinta, mungkin itu sebabnya rumah ini kacau."

Bima menahan napas.

Ratna seperti ingin menamparnya.

Namun ia tidak bisa.

Tidak di depan Bima.

Tidak setelah botol obat itu ada di meja.

Ponsel Bima berdering. Ia melihat layar, lalu mengangkat.

"Ya?"

Wajahnya berubah.

Alya memperhatikan.

"Sekarang?" Bima mendengarkan. "Baik. Kirim ke emailku."

Telepon ditutup.

"Dari siapa?" tanya Ratna.

Bima menatap Alya. "Laboratorium."

Ratna kaku.

Alya juga sedikit terkejut. "Cepat sekali."

"Pemeriksaan awal obat cair." Bima membuka email di ponselnya. Matanya membaca. Makin lama, rahangnya makin keras.

Ratna berkata, "Mas, hasil awal bisa salah."

Bima tidak menjawab.

Ia menyerahkan ponsel kepada Alya.

Alya membaca cepat.

Obat itu mengandung sedatif kuat dalam kadar yang tidak wajar untuk penggunaan harian tanpa pengawasan ketat. Ada komponen yang dapat memperburuk fungsi pernapasan jika dikombinasikan dengan obat lain yang juga dikonsumsi Arga.

Belum cukup untuk menyebut pembunuhan.

Cukup untuk menyebut bahaya.

Alya mengangkat mata.

Ratna masih berdiri tegak, tetapi wajahnya memucat.

Arga berkata pelan, "Jadi selama ini aku dibuat tidur."

Tidak ada yang menjawab.

Kalimat itu lebih mengerikan karena suaranya tidak marah.

Hanya kosong.

Bima berdiri dengan bantuan tongkat.

"Ratna, mulai hari ini kamu tidak mengatur apa pun di rumah Arga."

"Mas--"

"Tidak ada bantahan."

"Kamu menuduhku?"

"Aku sedang menahan diri untuk tidak memanggil polisi sebelum laporan lengkap keluar."

Ratna mundur setengah langkah.

Marni menutup mulut.

Dari ranjang kursi, Arga tiba-tiba batuk keras. Alya segera mendekat, menahan bahunya, memberi isyarat pada Lilis yang baru masuk membawa air hangat. Arga menolak dibantu berlebihan, tetapi tangannya mencengkeram pergelangan Alya.

Kuat.

Terlalu kuat untuk orang yang katanya tidak punya tenaga.

Setelah batuk mereda, ia menatap Ratna.

"Mama Ratna."

Ratna membeku mendengar panggilan itu.

Arga tersenyum tipis. "Mulai hari ini, jangan masuk kamarku tanpa izin istriku."

Alya menoleh kepadanya.

Arga masih pucat. Napasnya belum stabil. Namun matanya tajam.

Ratna menatap mereka berdua.

Untuk pertama kalinya, ia melihat bukan satu orang sakit dan satu pengantin baru.

Ia melihat pintu yang selama ini terkunci mulai terbuka dari dalam.

Bima berdiri di belakang mereka dengan wajah kaku. Rasa bersalah terlihat jelas, tetapi Alya tidak membiarkannya berubah menjadi adegan penyesalan yang indah.

"Pak Bima," katanya tanpa menoleh penuh, "kalau Anda ingin menebus sesuatu, jangan minta Arga memaafkan dulu. Pastikan tidak ada orang yang bisa mengulanginya."

Bima menatapnya, lalu mengangguk perlahan.

Dan orang yang memegang kuncinya adalah Alya.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!