NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 "Sulit Mengatakan Tidak"

Chapter 15

Matahari baru saja mengintip dari balik kubah Station 5, membiaskan cahaya kekuningan yang lembut di atas dedaunan hijau di halaman depan Home. Suasana masih begitu sunyi, hanya menyisakan deru pelan dari mesin pendingin stasiun di kejauhan. Teiben berdiri dengan tenang di dekat koridor luar, menggenggam sebuah gembor air tua. Rambutnya agak berantakan terkena angin pagi, namun seulas senyum ramah sudah bertengger di wajahnya yang kalem. Ia mengarahkan corong gembor, membiarkan rintik air membasahi tanaman hias yang berjejer rapi. Sreeek... "Teiben! Tolong bantu angkat ban simulator di Garage! Berat banget, asli!"

Belum juga air di dalam gembornya habis seperempat, Lei sudah muncul dari tikungan koridor dengan napas terengah-engah. Kulitnya yang kecokelatan mengilat oleh keringat, dan baju seragamnya tampak acak-acakan. Teiben menoleh, sedikit terkejut, namun langsung mengangguk sembari menurunkan gembornya. "Ah, Lei. Baik, sebentar aku—"

"Teiben! Tolong ambilin kotak jahit di ruang tengah, dong! Rok seragamku robek sedikit nih, buruan ya!" Huah tiba-tiba menyembul dari balik pintu geser, wajahnya cemberut manja sembari memegangi pinggiran rok abu-abunya yang sedikit terkoyak. Teiben mengerjap, membagi pandangannya antara Lei dan Huah. "Eh, iya Huah. Siap, habis dari Garage aku akan—"

"Bro! Bantu benerin kail pancingku bentar! Benangnya kusut semua gara-gara si Lei kemarin!" Zhou datang melenggang dengan santai, mengabaikan tatapan tajam Lei yang berdiri di dekatnya. Ia menyodorkan gulungan joran pancing tepat di depan wajah Teiben, memamerkan kekacauan benang nilon yang menyerupai sarang burung. "Zhou, tunggu sebentar, aku harus—"

"Maaf, Teiben. Kalau tidak merepotkan, bisa bantu dorong tabung oksigen cadangan ke ruang medis? Petugasnya sedang kewalahan," potong Shin yang tiba-tiba melintas dengan seragam rapi, menatap Teiben dengan pandangan penuh rasa bersalah namun sangat membutuhkan pertolongan.

Teiben menghela napas pendek, senyumnya tidak luntur meski otot lehernya mulai menegang. "Tidak masalah, Shin. Biar aku—" "Teiben. Tolong ambilkan arsip laporan pergerakan Cataclysm nomor 14 di perpustakaan bawah tanah sekarang." Elas berjalan melewati kerumunan itu tanpa menghentikan langkah, jemarinya sibuk mendorong bingkai kacamatanya ke atas hidung sembari membawa tumpukan buku tebal.

"Lalu Teiben," Mei mendadak muncul dari arah dapur, mengenakan celemek putih polos yang membungkus tubuh rampingnya dengan pas. Ia memberikan senyuman manis yang begitu hangat, membuat siapa pun sulit untuk menolak. "Tolong sekalian buang sampah dapur ke kontainer luar ya, baunya sudah agak mengganggu."

Halaman depan Home seketika berubah menjadi pasar malam kecil yang bising. Semua orang menatap Teiben dengan tatapan penuh harap. Teiben, dengan sifat altruistisnya yang mendarah daging, hanya bisa tertawa canggung sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Baik, Lei." "Siap, Huah, Zhou, Shin." "Tidak masalah, Elas, Mei. Semuanya biar aku yang urus."

Satu hari penuh pun berjalan bagai siklus penyiksaan tanpa henti bagi fisik Teiben. Dari mengangkat ban simulator yang super berat, memilah benang pancing yang rumit, berlari ke perpustakaan bawah tanah, hingga mengurus sampah dapur. Jangankan untuk beristirahat, Teiben bahkan belum sempat menyentuh jatah makan siangnya yang kini sudah mendingin di atas meja makan.

Matahari telah bergeser jauh ke barat ketika Huah berjalan melewati ruang santai. Langkah kakinya terhenti saat melihat sesosok tubuh terkapar lemas di atas sofa panjang. Itu Teiben. Wajahnya pucat pasi, tangannya terkulai lemas menyentuh lantai, dan napasnya terdengar putus-putus seperti mesin Neo Gear yang kehabisan daya magma. Huah berjalan mendekat, berkacak pinggang. "Kamu capek, Teiben?" Teiben mendongak sedikit, memaksakan seulas senyum tipis yang tampak sangat dipaksakan. "Sedikit... hanya perlu meluruskan punggung."

Huah menghela napas panjang, wajah kekanak-kanakannya berubah menjadi penuh kebingungan yang bercampur kesal. "Kalau capek ya bilang enggak aja dari tadi! Kenapa semuanya kamu iyain, sih?" Teiben tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat lelah. "Aku tidak enak, Huah. Mereka kan teman-teman kita. Aku merasa bersalah kalau menolak."

Plak! Huah langsung menepuk jidatnya sendiri dengan keras hingga menimbulkan suara nyaring. "Astaga, itu masalahmu! Kamu itu terlalu baik sampai bego!" Huah tiba-tiba mundur dua langkah, membusungkan dadanya dan berdiri tegak dengan mata melotot, meniru gaya seorang instruktur militer yang kejam. "Berdiri! Kita latihan sekarang!" Teiben mengerang pelan, namun tetap memaksakan dirinya untuk duduk tegak di tepi sofa. "Latihan apa?"

"Latihan bilang 'Tidak'!" Huah menunjuk Teiben dengan telunjuknya. "Ikuti kata-kataku. Tidak." Teiben berdehem pelan, suaranya mencicit kecil. "...tidak..." "Lebih keras!" bentak Huah, menikmati peran barunya sebagai guru. "Tidak," ucap Teiben, sedikit menaikkan volumenya. "Kurang! Lebih tegas, pakai penekanan dari perut!" Huah menyipitkan matanya, memberi aba-aba dengan tangan. Teiben menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, lalu berteriak sekencang-kencangnya. "TIDAAK!"

Suara itu menggema di seluruh penjuru koridor Home. Beberapa anggota yang kebetulan sedang melintas—termasuk Sei yang biasanya cuek—langsung berhenti dan menoleh dengan tatapan heran bercampur ngeri. Teiben yang menyadari dirinya menjadi pusat perhatian langsung panik setengah mati. Wajahnya memerah padam hingga ke telinga. "Maaf! Maaf semuanya! Aku tidak bermaksud berteriak! Maaf!" Teiben membungkuk berkali-kali ke arah koridor kosong.

Huah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan frustrasi yang mendalam. "Lihat? Kamu bahkan baru belajar nolak aja langsung minta maaf. Payah!" Tak lama kemudian, Lei berjalan melintas sembari membawa sebuah obeng besar. Begitu melihat Teiben, matanya langsung berbinar penuh harap. "Ah, Teiben! Kebetulan banget. Bantu aku bentar di Garage, dong—"

Teiben langsung menegang. Ia menarik napas dalam-dalam, melirik Huah yang berada di sudut ruangan. Huah memberikan isyarat dengan mengacungkan jempolnya, seolah berkata, 'Ayo, lakukan!' Jemari Teiben gemetar hebat. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya saat melihat wajah tulus Lei. "...Maaf Lei... aku... aku..." Teiben menelan ludah, dadanya bergemuruh hebat. "...tentu saja aku bantu! Ayo ke Garage!"

Gubrak! Huah langsung jatuh terduduk di atas lantai stasiun, memegangi kepalanya dengan kedua tangan. "ASTAGA TEIBEN! Kamu bener-bener gak tertolong!" Beberapa jam setelahnya, giliran Zhou yang datang mendekat saat Teiben baru saja kembali dari Garage dengan pundak yang semakin merosot. "Bro, bantu bentar. Kailku lepas lagi nih."

Teiben mematung. "Maaf aku..." Ia diam selama beberapa detik, mencoba memanggil kembali energi dari latihan bersama Huah tadi. Namun, melihat wajah Zhou yang tampak sangat membutuhkan bantuan, pertahanannya runtuh lagi. "...sebentar ya, aku ambil tang dulu." Huah yang mengintip dari balik pilar hanya bisa meremas rambutnya sendiri dengan gemas. "Kamu itu sebenarnya alergi ya sama kata 'enggak'?! Bisa mati ya kalau ngomong satu kata itu?!"

Malam pun tiba, membungkus Station 5 dalam kegelapan buatan yang sunyi. Teiben duduk sendirian di bangku koridor luar, menatap lurus ke langit-langit kubah yang gelap. Tangannya terasa begitu pegal, dan pundaknya terasa kaku akibat kerja fisik yang melampaui batas sepanjang hari. Ia memijat lengannya sendiri sembari bergumam lirih, "Kenapa aku tidak bisa menolak ya... Kenapa rasanya berat sekali..."

"Karena kau terlihat bodoh." Sebuah suara menghakimi yang memecah keheningan. Teiben menoleh dan mendapati Belial berjalan mendekat. Wanita bertanduk biru itu mengenakan pakaian kasualnya, membiarkan ekor panjangnya meliuk santai di atas lantai. Tanpa meminta izin, Belial langsung duduk di ujung bangku yang sama, menyilangkan kakinya yang jenjang.

"Eh? Belial?" Teiben mengerjap, tak terduga. Belial menatap Teiben dengan sepasang mata birunya yang tajam menembus kegelapan. "Aku memperhatikanmu sejak pagi. Mereka meminta sesuatu, kau mengerjakannya tanpa protes, lalu mereka pergi begitu saja tanpa memberi apa-apa. Besok, mereka pasti akan meminta lagi hal yang sama." Belial condong ke depan, memberikan tatapan yang menghakimi dan heran. "Apa untungnya semua itu bagimu?"

Teiben terdiam sejenak. Ia menatap telapak tangannya yang mulai kapalan karena terlalu sering membantu montir dan urusan dapur. "Aku tidak memikirkan untung atau rugi, Belial. Aku membantu mereka... karena mereka adalah temanku. Kita semua di sini adalah keluarga." Belial mengernyitkan dahi, ekor birunya berkedut tanda tidak mengerti. "Manusia memang makhluk yang aneh dan tidak logis. Kalian rela membiarkan diri kalian sendiri menderita dan kelelahan hanya demi kenyamanan orang lain. Di garis depan, pemikiran seperti itu hanya akan membuatmu mati dalam hitungan detik."

"Mungkin kau benar," Teiben tersenyum kecil, tatapannya melembut menatap Belial. "Tapi kalau semua orang berpikir tentang untung rugi dan menolak membantu, tidak akan ada yang saling menopang di dunia ini. Tempat ini akan terasa sangat dingin." Belial mendesah panjang, menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku sembari membuang muka. "Itulah kenapa aku tidak pernah mengerti kalian. Benar-benar membuang energi." Ia berdiri, berbalik, dan berjalan pergi meninggalkan Teiben sendirian. Namun sebelum benar-benar menghilang di tikungan, ia menggumam lirih, "Dasar manusia aneh."

Keesokan paginya, Teiben berada di dalam Garage yang bising oleh suara mesin. Di sana, Komandan Ace sedang berdiri di atas perancah, mengecek sirkuit internal pada kaki *Neo Gear* miliknya. Teiben berdiri di bawah, memegang papan dada sembari mencatat setiap instruksi dan angka yang disebutkan oleh sang komandan. Ace menurunkan kacamata pelindungnya, menatap Teiben dari ketinggian. "Hari ini kau sudah membantu berapa orang, Teiben?" Teiben tertawa canggung, matanya beralih dari papan catatan. "...aku tidak menghitungnya, Komandan."

"Itulah masalah utamamu," Ace melompat turun dari perancah dengan gerakan yang sangat kokoh, mendarat tepat di depan Teiben. Ia meletakkan kunci inggris besar di atas meja kerja, lalu menunjuk ke arah mesin Gear yang setengah terbuka di samping mereka. "Lihat mesin itu." Teiben menoleh, menatap jalinan kabel dan hidrolik besi yang rumit.

"Mesin itu dibuat dari baja terbaik yang dimiliki The Hawk. Sangat kuat dan kokoh," ucap Ace dengan suara beratnya yang berwibawa. "Tapi, kalau kau memaksanya terus bekerja tanpa jeda, tanpa memberikan waktu untuk mendinginkan sirkuitnya... mesin itu akan aus, terbakar, dan akhirnya rusak total." Ace melangkah mendekat, menatap lurus ke dalam manik mata Teiben. "Manusia juga begitu, Teiben. Energimu, mentalmu, waktumu... semuanya memiliki batas." Teiben menunduk, meremas pinggiran papan catatan di tangannya. Kata-kata sang komandan terasa menghantam tepat di dadanya. Ace mengulurkan tangannya yang besar, lalu menunjuk tepat di tengah dada Teiben. "Membantu orang lain adalah hal yang sangat baik. Tapi jangan sampai, orang yang paling tidak pernah kau bantu di dunia ini... adalah dirimu sendiri."

Suasana Garage mendadak hening setelah kalimat tajam dari Komandan Ace selesai menggantung di udara. Teiben masih terpaku, menatap dadanya sendiri yang baru saja ditunjuk oleh sang komandan. Kalimat itu berputar-putar di dalam kepalanya bagai alarm peringatan. “Jangan sampai orang yang paling tidak pernah kau bantu... adalah dirimu sendiri.”

Suara langkah kaki yang santai memecah keheningan Garage. Zhou berjalan masuk sembari memanggul joran pancing kesayangannya di pundak. Wajahnya tampak begitu ceria tanpa beban. "Bro! Teiben! Bantu benerin kailku bentar dong, mumpung hari ini gak ada jadwal patroli!" Secara refleks, tubuh Teiben bergerak. Mulutnya terbuka secara otomatis untuk mengucapkan kata yang biasa ia gunakan. "Baik—"

Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Teiben menghentikan kalimatnya, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Ia melirik ke arah Komandan Ace yang berdiri beberapa langkah di sampingnya. Ace tidak berbicara, ia hanya melipat kedua tangannya di depan dada dan memberikan anggukan pelan dari kejauhan. Isyarat mata sang komandan seolah menegaskan, Tidak apa-apa. Lakukan.

Teiben menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin Garage memenuhi paru-parunya. Jantungnya berdegup kencang, dan sebutir keringat dingin mulai meleleh di pelipisnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya di Station 5, ia memantapkan suaranya. "Maaf, Zhou. Hari ini aku tidak bisa. Aku ingin istirahat."

Seketika, keheningan total melanda area sudut Garage tersebut. Teiben memejamkan mata erat-erat, tubuhnya gemetar dan seluruh punggungnya mendadak basah oleh keringat. Di dalam hatinya, kepanikan luar biasa berkecamuk, 'Gawat, dia pasti marah. Dia pasti berpikir aku berubah menjadi orang jahat yang sombong. Persahabatan kami akan hancur setelah ini...'

"Oh. Ya udah." Suara Zhou terdengar sangat santai, bahkan cenderung acuh tak acuh. Teiben membuka matanya dengan perlahan, sedikit melongo. "Eh?" Zhou memutar joran pancingnya di udara dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak berubah. "Aku cari Lei aja kalau gitu. Mungkin dia lagi senggang di ruang simulator. Duluan ya, Bro!" Zhou berbalik dan berjalan melenggang pergi sembari bersiul kecil, meninggalkan Garage tanpa raut kekecewaan sedikit pun.

Teiben mematung di tempatnya, matanya berkedip beberapa kali seolah baru saja menyaksikan sebuah keajaiban fiksi ilmiah yang tidak masuk akal. "...eh? Cuma... cuma begitu?" Komandan Ace yang melihat reaksi polos itu hanya bisa menyunggingkan senyum tipis di wajah tegasnya. Ia menepuk pundak Teiben dengan pelan sebelum berjalan kembali menuju perancah mesin. "Lihat? Dunia tidak akan runtuh hanya karena kau berkata tidak, Teiben."

Sore harinya, Teiben duduk sendirian di bangku taman *Home*. Angin sore berembus sepoi-sepoi, memainkan ujung rambutnya. Ia menyandarkan punggungnya dengan rileks, meluruskan kedua kakinya, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa begitu lega. Beban tak kasatmata yang selama ini menggelayuti pundaknya seolah menguap bersama angin sore. Sreeek...

Suara gesekan dedaunan kembali terdengar, dan sesosok tubuh ramping bertanduk biru melintas di depannya. Belial berhenti melangkah, melirik ke arah Teiben yang tampak begitu santai menikmati sore tanpa tumpukan pekerjaan milik orang lain. "Jadi?" Belial bertanya singkat, menaikkan sebelah alisnya.

Teiben mendongak, menyambut tatapan Belial dengan senyuman paling tulus yang ia miliki hari ini. "Ternyata... berkata tidak itu sama sekali tidak sesulit yang kubayangkan, Belial." Belial mendengus pelan, membuang muka untuk menyembunyikan ekspresinya. "Akhirnya otak manusiamu itu berfungsi juga untuk belajar." Ia mulai melangkah pergi, membiarkan ekor birunya menyapu dedaunan kering di atas jalan setapak. Namun, sebuah gumaman pelan kembali terdengar dari bibirnya sebelum ia menjauh, "...meski menurutku kau masih terlalu baik untuk ukuran seorang pilot."

Teiben tertawa renyah, tawa lepas yang tidak lagi menyiratkan beban atau rasa tidak enak. "Mungkin kau benar, Belial. Aku akan tetap menjadi diriku yang suka membantu." Ia menatap langit senja yang mulai dihiasi semburat warna oranye keemasan di atas kubah stasiun. "Tapi mulai sekarang, aku juga akan mulai belajar untuk berbuat baik kepada diriku sendiri."

Belial terus berjalan tanpa menoleh ke belakang ataupun menghentikan langkah kakinya. Namun, jika ada orang yang berdiri tepat di hadapannya saat itu, mereka akan melihat bahwa sudut bibir wanita bertanduk biru itu sedikit terangkat ke atas, membentuk seulas senyuman tipis. "...Lumayan."

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!