Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Impulsif & Emosi
Entah setan apa yang telah merasukinya, Naru segera menuju ruang kepala sekolah dengan langkah tergesa dan bersungut-sungut. Niat awal mendampingi sang ayah untuk mengajukan tawaran studi banding ke Akademi perusahaan Media Hartono tiba-tiba berubah arah.
Bayangan Dilan yang memaksa Nuha terus berputar-putar di kepalanya. Semakin dipikirkan, semakin muncul keinginan konyol yang bahkan sulit ia jelaskan pada dirinya sendiri.
Brak!
Gebrakan meja langsung membuat sang kepala sekolah menegakkan punggungnya. Bahkan hampir menahan nafas kala tatapan dua mata serius itu menjurus ke arahnya.
"Ibu Kepala Sekolah yang terhormat, Saya mau mendaftar jadi siswa di sini. Tolong urus berkas-berkasnya sekarang, ayah!" perintah Naru. Cepat, mutlak, tanpa kedipan. Tatapan matanya beralih ke ayahnya.
Hening seketika menyergap ruangan.
"Heh?"
"APA?!"
seketika pasangan suami istri itu terkejut bukan main. Menatap putranya seolah-olah baru saja memproklamirkan bahwa bumi itu kotak. Di sebelahnya, Rudi Hartono langsung batuk tersedak air liurnya sendiri.
"Naru ..."
Rudi memegangi dadanya, menatap sang putra dengan tatapan super bingung. "Kamu ... kamu bilang apa tadi? Mau sekolah di sini? Kamu itu mahasiswa di Universitas Internasional bukan turun kasta jadi anak SMK lagi!"
Naru mengerjapkan mata.
Fokusnya yang tadi terkunci pada kuncir air mancur Nuha mendadak buyar. Ia menoleh lambat lambat ke arah ayah dan ibunya, baru menyadari kalimat apa yang baru saja meluncur bebas dari bibirnya. Efek panas kuping melihat Nuha dirayu Dilan ternyata sukses menyabotase otak geniusnya dalam sekejap.
"Ah ... maksud saya ..."
Naru berdeham canggung, buru-buru memperbaiki posisi berdirinya sambil memijat pelipis yang mendadak pening. "Maksud saya ..."
Mata rudi menyipit curiga melihat telinga putranya yang mendadak memerah. "Naru, Ingat tujuan kita ke sini, Studi banding perusahaan. Keikutsertaanmu ke sini bukankah ingin memantau sejauh mana jurusan Multimedia sudah didisiplinkan?"
"Iya ... Iya saya tahu," jawab Naru singkat, mencoba kembali ke mode tenangnya yang sedingin es.
"Kamu ini ada-ada saja."
Rudi menggelengkan kepala. Ia merapikan lipatan jasnya, lalu kembali menatap Ibu Kepala Sekolah. "Sekarang, serahkan berkas itu kepada Kepala Sekolah. Presentasikan!" perintahnya.
"Baiklah," angguk putranya.
"Ini ... berkas proposal kerja sama dan kurikulum magang dari pihak kami. Silakan dipelajari dulu bersama tim wakil kepala sekolah bidang humas dan kurikulum, agar nanti setelah rapat koordinasi, kita bisa langsung mengunci kontrak kuota studi bandingnya."
Rasa ketidak-tenang Naru terganggu lagi, ia menyambar kesempatan. "Kalau begitu, saya izin keluar sebentar. Mau cari udara segar," putusnya sepihak.
"Heh?"
Saat tangan Naru sudah meraih gagang pintu kayu ek tersebut, Rudi yang mulai geram dengan tingkah implusif putranya langsung menegur, "Naru! Mau ke mana kamu? Pertemuan belum selesai."
Namun, sang bunda yang sedari tadi menyimak dengan menopang dagu segera menyentuh lengan suaminya, melerai ketegangan. "Sudahlah, Sayang. Biarkan dia keluar dulu," ucapnya tenang.
Senyum tipis penuh arti terukir di wajahnya yang anggun, melirik ke arah pintu yang mulai tertutup. "Sepertinya ... ada sesuatu yang berhasil mengusik ketenangan putra kita. Seperti waktu dia kutunjukkan foto seseorang waktu lalu, hm hm?" tambahnya sambil mengedipkan sebelah mata secara rahasia kepada sang suami.
Rudi mengernyit heran, "Maksud kamu?"
"Ssshhh, nanti saja dibahasnya."
Di dalam ruang kelas XI MM 2,
Nuha duduk di bangkunya sambil berusaha mengatur napas yang masih memburu akibat emosi tadi. Di sebelahnya, Fani dengan sabar mengusap-usap punggung Nuha untuk menenangkannya.
Tiba-tiba, ponsel Nokia di saku almamater Asa bergetar nyaring, menandakan sebuah pesan masuk. Asa membukanya, mendapati SMS dari Sifa dengan gaya ketikan khas remaja awal 2000-an. Singkat, padat, dan demi menghemat tarif pulsa seratus perak per SMS.
"S4! tmN! w DkntN skr9! pNt9!!"
Asa mengembuskan napas panjang membaca perintah itu. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku lalu berdiri. "Gue pergi ke kantin dulu, ya. Sifa manggil gue, katanya penting," izinnya sebelum akhirnya melangkah keluar kelas.
Setelah Asa pergi, suasana kelas kembali sunyi. Fani menoleh ke arah sahabatnya. "Kamu enggak perlu menuruti kemauan gila Dilan kalau kamu emang enggak mau, Nuha."
Nuha mengerang pelan, "Eunggh! Iya, Fani. Tapi aku juga enggak bisa berhenti mikirin. Itu impian Sifa banget. Aku ... harus gimana?" pasrahnya. Lalu menjatuhkan wajahnya ke atas meja, menyandarkan kepalanya yang mendadak terasa berat.
"Kamu tenangin diri aja dulu, deh."
Fani menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, kembali membuka halaman novel Harry Potter-nya yang sempat tertunda. Seperti seorang kakak yang sedang mengemong adiknya, tangan kirinya tidak berhenti mengusap lembut punggung Nuha.
Dalam posisi menelungkup di atas meja, Nuha mulai melamun. Matanya menatap kosong ke lantai kelas. "Hei Hawa, aku butuh sesuatu buat mengalihkan pikiran gila ini ..." gumamnya dalam hati.
Dan benar saja, di dunia imajinasi Nuha yang mendadak aktif, seekor kelinci putih berbulu lebat tiba-tiba muncul dari bawah meja. Lucunya, kelinci itu digambar dengan air mata berlinang yang mengucur dramatis khas karakter anime komedi.
"Eh? Kamu kenapa menangis?"
Kelinci imajiner itu tidak menjawab, melainkan berbalik lalu melompat-lompat panik menuju pintu keluar kelas seolah sedang menuntun Nuha ke suatu tempat. Tanpa pikir panjang, Nuha langsung berdiri dari bangkunya dan bergerak mengekor di belakang kelinci tersebut.
Fani yang melihat gelagat aneh sahabatnya langsung menurunkan novelnya dengan dahi mengernyit. "Eh, Nuha? Mau ke mana?"
"Bentar, Fani! Ada kelinci nangis butuh bantuanku!" seru Nuha sambil setengah berlari keluar kelas.
"Hah?!"
Fani melongo, menatap pintu kelas yang kosong dengan pandangan heran, geleng-geleng kepala melihat keanehan Nuha. Dia kembali tenggelam dalam novelnya.
Sementara itu,
"Nani yattenda, ore wa," desah Naru.
(Apa sih yang lagi gue lakuin?!)
Naru tengah menyandarkan punggungnya di pagar balkon beton, melirik lurus ke arah halaman tengah sekolah yang luas sambil menyisir rambut poninya ke atas. Para siswa tampak riuh, penuh canda, tawa, dan obrolan ringan khas remaja.
Pikirannya melayang jauh.
Hidup memang tak pernah memberinya jeda. Sejak kecil, hidupnya sudah disabotase oleh ambisi sang kakek. Dituntut fokus belajar, dipaksa mengejar prestasi akademis mutlak, hingga diseret ke berbagai pertemuan bisnis penting di usia yang amat sangat muda.
Tapi, melihat segala suasana di sekolah ini. Hatinya seakan menjerit. Kebebasan, tawa lepas, nongkrong, kejar-kejaran. Seakan dia ingin sekali membuat moment itu bersama seseorang.
Saat lamunan Naru tengah melayang jauh, pendengarannya yang tajam mendadak menangkap sayup-sayup obrolan dari arah tangga. Tiga orang siswa berjalan melintas tak jauh di belakang posisinya berdiri.
"Gas! Lo bikin rencana sebanyak-banyaknya buat ngusilin seseorang," perintah Dilan dengan nada rendah yang sarat akan kekesalan. "Gue lagi dongkol banget hari ini. Bakal gue bikin cewek itu bertekuk lutut dan nangis-nangis minta ampun sama gue karena udah berani nolak gue di depan umum tadi."
Bagas, si cowok berwajah culas yang berjalan di sebelahnya, langsung menyeringai lebar. "Siap, Bos. Kalau urusan bikin mental cewek jatuh mah keahlian gue. Besok lo bakal terkejut karena gue udah nyiapin 1001 cara buat naklukin dia lewat teror mental!"
"Bagus!"
Naru mendadak mengepalkan tinjunya erat-erat. Rahangnya mengeras. Siapa lagi gadis yang dimaksud oleh Dilan kalau bukan si unik Nuha? Amarahnya kembali tersulut, namun kali ini bercampur dengan realitas baru yang harus ia hadapi.
"Gue enggak bisa mengabaikan ini begitu saja," batin Naru tajam, matanya menyipit menatap punggung Dilan yang mulai menjauh. "Dunia anak sekolah ternyata memang sekotor dan sepenuh ini dengan kenakalan."
Tanpa membuang waktu,
Naru langsung berbalik dan bergegas menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Namun, tepat saat ia sampai di koridor lantai bawah, ia menangkap siluet yang sangat familier. Nuha tengah berlari terengah-engah menyusuri lorong yang mulai sepi karena bel masuk sudah berbunyi sejak tadi.
Gadis itu tampak mengosongkan pandangan, seolah sedang mengejar sesuatu yang tak kasatmata menuju area luar gedung.
Naru mengernyitkan dahi penuh tanya. "Ada apa dengannya? Kenapa dia malah lari ke arah belakang sekolah di jam pelajaran gini?" gumamnya cemas.
.
.
. Next》Bab 11. Besok yes 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.