Velica seorang artis terkenal yang iseng membaca novel bertema " Gadis seindah musim semi " yang sedang booming dengan banyak sanjungan banyak orang. Bukannya menyanjung, Velica justru mengkritik tokoh utama novel tersebut yang menurutnya terlalu menganiaya sang antagonis.
"Kasihan sekali Clarissa ini, Padahal Robert itu tunangannya, Tetapi mengapa ia harus di benci karna marah ketika tunangannya berselingkuh." Ujarnya kesal.
"Padahal Clarissa punya segalanya, Ia juga melakukan semuanya untuk Robert, Robert itu lah yang tidak tahu diri. Sudah di bantu dia malah menyukai anak dari seorang pelayan, Sih Nadia itu!"
"Jika aku menjadi Clarissa, Sudah ku buat kedua orang itu kehilangan wajahnya di muka umum, Beraninya dia yang seorang pemuda miskin memperlakukan Clarissa begini!" Velica melempar novel itu dengan kesal.
Tak lama, Novel itu terbuka sendiri...membuat Velica masuk ke dalam nya. Jika penasaran cuss langsung baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Perasaan ragu robert
...Chapter 9...
...----------------...
Setelah polisi datang, Pelayan itu di tangkap dan akan segera di interogasi. Sedangkan semua tamu kembali menikmati pesta dengan riang.
"Clarissa, Sebenarnya mengapa kalung mu bisa hilang?" Tanya Axion, Keduanya kini duduk berhadapan sambil menikmati hidangan.
"Aku tidak tahu, pelayanku bilang kalung itu hilang saat mengeceknya tadi, Jadi aku berpikir mungkin pelayan itu yang mengambilnya." Ucap Clarissa,
"Owh...begitu ya." Angguk Axion, Semua kejadian di masa lalunya jadi berbeda, Apakah karna dia yang berubah?
"Lain kali aku akan menjagamu?" Ucap Axion, Clarissa tersenyum manis sambil mengangguk.
"Alurnya sudah berubah, Axion bukan lagi seseorang yang menyukai Nadia. Tapi bagaimana bisa begini." Batin Clarissa.
"Axion, apa kau menyukai nona Nadia?" Tanya Clarissa, Axion langsung menggeleng cepat.
"Aku hanya menyukai-mu, Tenang saja...jika dia mengganggumu, Aku akan membuatnya hilang untuk selamanya." Ucap Axion dengan tatapan lurusnya.
Clarissa menatap Axion dengan wajah sedikit meringis, Aura seorang penjahat dalam cerita memang berbeda. Berada di dekatnya saja bisa membuat seseorang merasa ketakutan. Tetapi justru hal itu yang Clarissa suka dari Axion. Dia hanya menampilkan apa yang ada di hatinya, Berbeda dengan Robert yang terlihat manis tapi siap menikamnya kapan saja.
"Tidak bukan begitu, Aku hanya mendengar beberapa orang berbicara." Ucap Clarissa menjelaskan.
"Dia memang sekelas denganku, Mommy ku merasa kasihan padanya karna tak bisa bersekolah, Itu sebabnya ia di daftarkan bersama denganku, Dan keluargaku yang menanggung biaya sekolahnya. Jika kau keberatan, Aku akan meminta mommy untuk mengeluarkannya dari sekolah." Ucap Axion,
"Tidak perlu, Aku hanya bertanya saja. Karna ku dengar kalian sangat dekat. Dan sepertinya dia juga sekolah di tempat yang sama dengan Robert." Ucap Clarissa tersenyum tak enak.
"Ya...Robert bersekolah di sana, Apa keluarganya sendiri yang membayar?" Tanya Axion, Jika ia...pria itu benar- benar tidak tahu diri, Bagaimana bisa ia membunuh Clarissa yang memperlakukannya sebaik ini.
"Ya...Daddy yang membayarnya, Agar dia bisa bersekolah dan tidak selalu bermain denganku." Ucap Clarissa jujur.
"Jadi ini alasan mengapa Clarissa tidak bersekolah di sekolah biasa, Karna mungkin tuan Louis tahu bahwa Robert akan selalu mengikuti Clarissa. Apa sejak awal tuan bellen memang tidak menyukai kedekatan Clarissa dan Robert." Batin axion.
"Clarissa, Kau ada di sini?" Robert datang dengan senyuman manisnya, Ia berlaku seolah tidak mengetahui apa-apa.
"Kau di undang?" Tanya Axion, Ia tak merasa memberikan undangan pada Robert. Tetapi pemuda itu datang dengan jas rapih yang terlihat mahal.
"Tidak, Aku datang untuk menggantikan temanku, Kevin Pratama. Dia sedang sakit sekarang. Jadi dia memberikan undangannya padaku." Ucap Robert tersenyum ia duduk di sebelah Clarissa.
"Oh yaa?" Axion menatapnya tajam, Apalagi dia yang menatap Clarissa dengan wajah liciknya.
"Kenapa? Apa aku tidak pantas berada di sini, Apa karna rumor di sekolah itu?" Tanya Robert dengan wajah memelas, Sesekali melirik Clarissa.
"Rumor? Rumor apa?" Tanya Clarissa, Walaupun ia sudah tahu.
"Rumor soal aku yang menjadi tunangan-mu, Bukan salahku jika itu tersebar. Karna sejak kecil kita selalu bersama. Dan semua teman sekolahku bilang, Kau cocok denganku. Mungkin itu sebabnya, Tuan muda Axion tidak suka keberadaan ku di sekitarmu. Tapi percayalah Clarissa, Aku hanya ingin berada di sekitarmu seperti yang lain. Bukan aku yang menyebar rumor itu." Ucap Robert menatap Clarissa dengan mata yang sayu.
"Memangnya kenapa jika aku tidak menyukaimu berada di sekitar Clarissa, Aku itu tunangannya. Bukan kau!" ucap Axion dengan dingin, Robert tersenyum sinis. Sejak kecil Clarissa selalu membelanya, Apalagi Axion yang terlihat tidak menyukainya.
"Kenapa mereka terlihat ribut?" Bingung rosely, Ia menatap interaksi Clarissa, Axion dan Robert.
"Robert, Pria miskin itu pasti sedang melakukan sesuatu." Mia menggertakan giginya, Kevian yang kebetulan berada di sebelahnya langsung terkejut.
"Astaga, Wanita ini seram sekali." Batin Kevian.
"Axion, Jarang banget dia marah." Luzkay menatap Axion dengan wajah bingungnya, Mia menatap kakaknya yang berada di sampingnya dengan kesal, Ia langsung menarik rambut pemuda dingin itu.
"Jangan sok kenal!" Kesal Mia, Luzkay meringis dan langsung menatap tajam adiknya.
"MIA!" Teriaknya kesal, Gadis itu bukannya takut malah menepis tangannya. Ia berjalan mendekat ke arah Clarissa.
"Robert, Jika benar ada rumor di sekolah kalian seperti itu, Kau bisa menjelaskan dan menolak rumor itu. Dan katakan, Tunanganku bukanlah kau, Tetapi Axion." Ucap Clarissa bangkit dari duduknya, Ia menggenggam tangan Axion di hadapan semua orang.
"Axion pantas untuk marah, Karna dia punya hak. Jadi jangan mempersulitnya. Kau mengerti?" Ucap Clarissa, Robert menatapnya tak percaya. Clarissa mengakui hubungannya dengan Axion.
"Jadi, Tunangan nona Clarissa itu tuan muda Alexion." Ucap Rosely, Saling memandang dengan Riana dan Nasya.
Bagaikan sebuah debu, Beberapa teman sekolah Axion segera menyebarkan kebenaran tersebut. Rumor bahwa Robert adalah tunangan Clarissa itu langsung lenyap bagaikan debu tertiup angin.
"Jadi Nadia itu tidak ada hubungannya dengan tuan muda Alexion."
"Di lihat dari mana pun, Mereka memang terlihat serasi, Robert tidak sebanding berada di antara mereka."
"Gila, Ini berita hot."
"Nadia itu kenapa ga jelasin ya, Kok dia suka-suka aja di dekat Tuan muda Alexion."
"Hahahaa...Robert terlihat malu tuh."
Semua anak muda ibu kota yang menghadiri pesta seakan mengulitinya hidup-hidup. Robert yang selalu bersikap tenang dan menampilkan wajah manisnya. Kini mulai kehabisan akal.
"Kenapa, Mengapa...Clarissa memperlakukan-ku seperti ini. Apa salahku." Batinnya menatap semua orang yang menatapnya dengan tatapan sinis, Kepalanya pusing dan matanya mulai memburam.
Clarissa menatap Robert, Ia tahu bahwa mental pemuda itu sedang kacau, Citranya yang ia bangun dengan susah payah itu hancur hari ini, Semua penjilat miliknya seolah meludahinya.
"Robert, Kau butuh istirahat. Tante dayanti, Boleh aku meminjam dokter khusus keluargamu untuk membantu Robert." Tanya Clarissa, Dayanti pun memanggil pelayannya. Pelayannya itu membawa Robert menuju sebuah kamar tamu yang berada di gedung itu.
"Tentu boleh Clarissa, Tante memang menyediakan seorang dokter khusus untuk hadir di pesta ini, Berpesta sembari berkerja." Ucap dayanti terkekeh.
Axion menatap Clarissa yang khawatir, Entah mengapa hatinya tak tenang. Mengapa Clarissa begitu peduli pada Robert. Apakah dia masih menyukai Robert seperti kehidupan pertama?
"Teman-teman kalian sudah tahu bahwa tunanganku adalah Axion, Jadi...jangan berpikir tentangku dan Robert lagi." Ucap Clarissa menatap beberapa orang yang heboh tadi.
"Aku juga tidak memiliki hubungan apapun dengan Nadia, Jadi...jangan memperlakukannya seolah dia adalah wanitaku." Ucap Axion dengan dingin.
...--------------------------------...
Nadia menatap ibunya yang kini terlihat begitu pucat, Ayunda mulai histeris saat kedua tangannya terasa terbakar oleh api. Kulit tangannya mengelupas, Dan membengkak.
"Ibu, Apa yang terjadi?!" Kaget Nadia menatap ibunya yang mulai merasa kesakitan. Kini ia berada di mess belakang rumah keluarga William, Ia memilih pulang duluan untuk mengecek kalung yang ia curi.
"Tangan ibu, Rasanya seperti terbakar...Panas!" Teriaknya mencemplungkan kedua tangannya pada air dingin, Tetapi itu juga tak mempan.
"Ibu ada apa? Jangan membuatku khawatir ibu." Nadia menatap ibunya yang semakin pucat, Ia pun memanggil dokter khusus keluarga William.
"Pak di mana dokter Farid?" Tanya Nadia. Pak Yogi pun menggeleng.
"Dokter Farid ikut nyonya ke pesta, Kan buat siaga kalau-kalau penyakit tuan dan nyonya kambuh." Ucap pak Yogi ( Salah satu Penjaga rumah keluarga William).
"Lalu, Bagaimana ini? Ibu...sedang sakit." Batin gadis itu, Nadia mengingat satu nama sekarang, Robert. Robert pasti bisa membantunya. Pemuda itu kan selalu ada untuknya.
"Aku akan menghubungi Robert, Ibu tenang saja." Ucap Nadia, Ia mulai menelpon Robert yang status telponnya berdering. Namun hingga beberapa menit, Pemuda itu tak mengangkat telponnya.
"Bagaimana ini, Aku tak mungkin meminta tolong Axion, Semua akan tahu perbuatan kami." Ucap Nadia.
...--------------------------------...
Robert berbaring lemah, Ia punya trauma di kucilkan sejak kecil. Itu sebabnya ia ingin sekali menjadi orang kaya. Karna menjadi miskin benar-benar di anggap kecil.
"Anda sudah meminum obatnya?." Tanya dokter Farid, Ia membawa air dan sebuah obat penenang.
"Handphonemu berdering sedari tadi, Kau ingin mengangkatnya?" Tanya dokter Farid, Robert pun mengambil handphonenya. Ia menatap belasan nomor tak terjawab dari Nadia.
Ia memilih menelpon balik Nadia, Tidak biasanya gadis itu menelponnya sebanyak ini. Dan benar saja, Nomor gadis itu tidak aktif sekarang. Ia kembali memijat pelipisnya, Perasaan malu dan tatapan semua orang membuatnya merasa di kuliti hidup-hidup tadi. Tetapi Clarissa tetap peduli padanya, Ia jadi ragu, Apakah Clarissa tidak pernah menyukainya? Bukankah tatapan Clarissa selama ini hanya untuknya?
"Ini, Dari nona Clarissa. Katanya saat seperti ini, Anda sangat senang makan, Makanan manis." Ucap dokter Farid, Memberikan sepotong kue cake dan beberapa coklat.
Robert menatap cake itu, Ia mulai menyendok cake itu ke dalam mulutnya. Manis.... Ia mengingat masa kecilnya bersama Clarissa, Gadis periang itu selalu saja mengikutinya, Dan tahu semua hal yang ia sukai maupun tidak.
"Aku tidak boleh goyah, Aku tetap harus merebut kekayaan keluarga bellen."
Clarissa menatap Robert dari luar bersama Axion, Clarissa tersenyum manis melihat Robert memakan, Cake dan coklat pemberiannya.
"Baru begini kau sudah bimbang, Lalu bagaimana jika aku mengeluarkan seluruh kemampuan aktingku. Robert, Kau akan jadi orang pertama yang akan ku buat bertekuk lutut, Sedangkan Axion. Dia akan jadi tameng paling kuat untukku." Batin Clarissa tersenyum pada axion yang menatapnya cemburu.
"Kau terus menatapnya, Kau bilang tidak menyukainya." Kesal Axion, Ia tak suka Clarissa memberikan perhatian lebih pada Robert.
"Aku melakukan ini hanya karna hutang budi-ku padanya, Seseorang yang akan aku miliki sepenuhnya hanyalah kamu, Axion." Ucap Clarissa, Axion memeluknya dengan erat.
"Kau memang baik hati." Ucap Axion menghirup aroma lembut rambut Clarissa yang membuatnya tenang.
TBC like dan komen pokoknya.