Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Aksan langsung menepuk bahu Arlan sambil mendecak tidak percaya.
"Mana mungkin Mama amnesia, Ar. Mama seperti ini cuma cari perhatian kita saja. Jadi stop logika kamu itu."
Ucapan Aksan membuat Rani diam-diam mengembuskan napas lega. Hampir saja mereka menyadari kondisi yang sebenarnya. Ia sendiri belum tahu bagaimana reaksi orang-orang di rumah ini jika mengetahui dirinya kehilangan ingatan. Bisa saja mereka mengendalikan dirinya seperti dulu.
"Arlan, Arlan..." Rani menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Akademi kamu aja yang bagus, tapi kamu bodoh."
Arlan langsung memasang wajah kesal, sementara Aksan dan Arjun terkekeh puas mendengar cibiran Rani.
"Sudahlah. Kalau aku di sini terus, nanti dibilang pembuat onar lagi." Rani meraih beberapa kantong belanja di atas meja dan bersiap melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah, ia tiba-tiba berhenti lalu menoleh ke arah Roy.
"Oh ya, satu lagi."
Semua orang kembali memperhatikannya.
"Kamar utama sudah kosong, kan?" tanyanya ringan. "Dan aku bisa menempatinya?"
Kalimat itu jatuh begitu saja, tetapi efeknya membuat suasana ruang tamu langsung berubah. Terutama wajah Sintia seketika kehilangan warna.
"Ka-Kak Rani..." Sintia tergagap. "Aku pikir Kakak hanya bercanda."
Rani menoleh ke arahnya. Sejak tadi ia sudah memperhatikan setiap perubahan ekspresi wanita itu. Cara jemarinya mencengkeram ujung pakaian saat gugup, sorot matanya yang sesekali mencari dukungan Roy, hingga kebiasaan memasang wajah sedih setiap kali keadaan tidak berjalan sesuai keinginannya.
Senyum tipis muncul di bibir Rani. "Jangan bertingkah jadi korban terus, Sin."
Tubuh Sintia langsung menegang.
"Kalau kamu benar-benar berniat pergi, aku bisa membantu mengemasi barang-barangmu."
Kalimat itu membuat wajah Sintia semakin pucat.
"Mas..." panggilnya pelan sambil menoleh ke arah Roy.
Namun kali ini Rani tidak memberinya kesempatan.
"Lagipula aku hanya menawarkan bantuan." Ia mengangkat bahu santai. "Bukankah sejak tadi kamu sendiri yang bilang akan pergi?"
"Cukup, Ran!" bentak Roy.
Suasana ruang tamu yang sudah tegang seketika membeku. Namun alih-alih terkejut, Rani hanya menoleh pelan ke arahnya. Bahkan ekspresinya nyaris tidak berubah.
"Selain bisa membentakku, apa kamu tidak punya keahlian lain, Suamiku?"
Penekanan pada dua kata terakhir membuat wajah Roy berubah. Selama ini Roy terbiasa menghadapi Rani yang memilih diam. Jika terjadi perdebatan, wanita itu yang pertama mengalah. Jika terjadi kesalahpahaman, wanita itu pula yang sibuk menjelaskan dirinya. Namun malam ini berbeda. Rani berdiri di hadapannya tanpa sedikit pun berusaha meredakan keadaan.
"Kamu sedang menguji kesabaranku?" tanya Roy.
"Aku hanya berbicara." Rani mengangkat bahu ringan. "Kalau itu saja membuatmu marah, mungkin masalahnya bukan ada padaku."
"Rani."
"Apa?"
Jawaban itu keluar begitu saja, tenang dan tanpa beban.
Untuk sesaat tidak ada yang bersuara. Aksan dan Arjun yang biasanya paling cepat menyela bahkan memilih diam. Entah karena terkejut melihat perubahan Rani atau karena belum pernah melihat ayah mereka diperlakukan seperti ini.
Di sisi lain, Rani justru mulai memahami sesuatu. Roy bukan tidak bisa dilawan. Pria itu hanya terlalu lama menghadapi seseorang yang selalu mengalah. Karena itulah ketika ia berhenti mundur, Roy terlihat jauh lebih terusik daripada dirinya.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Roy melangkah mendekat membuat Rani mengernyit.
"Mau apa?"
Tidak ada jawaban. Pria itu berhenti tepat di depannya, lalu dalam satu gerakan cepat membungkuk dan mengangkat tubuh Rani ke bahunya.
"Roy!" Pekikan Rani langsung memecah keheningan.
Beberapa kantong belanja yang masih berada di tangannya nyaris jatuh.
"Turunkan aku!" perintah Rani.
"Papa!"
"Mas!"
Seruan kaget terdengar bersahutan dari belakang, tetapi Roy seolah tidak mendengarnya. Ia melangkah menuju tangga dengan tenang, sementara Rani mulai memukul punggungnya kesal.
"Kamu sudah gila, ya?"
"Bisa jadi."
"Roy, aku serius!"
"Aku juga."
Jawaban singkat itu justru membuat Rani semakin jengkel.
"Turunkan aku sekarang."
"Tidak."
"Dasar diktator."
"Terima kasih."
Rani langsung berhenti memukul.
"Itu bukan pujian."
"Kalau begitu aku memilih menganggapnya pujian."
Rani memejamkan mata sesaat. Pria menyebalkan itu bahkan memakai kalimatnya sendiri.
Dari ruang tamu, Aksan, Arjun, dan Arlan hanya bisa menyaksikan ayah mereka membawa Rani ke lantai atas tanpa mampu berbuat apa-apa.
Namun orang yang paling sulit menyembunyikan reaksinya adalah Sintia. Wanita itu berdiri membeku di tempat dengan jemari yang perlahan mengepal di sisi tubuhnya.
Tatapannya mengikuti langkah Roy hingga mencapai anak tangga terakhir. Lalu sesuatu membuat napasnya tertahan.
Di atas bahu Roy, Rani tiba-tiba menoleh ke belakang. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada senyum kemenangan. Tidak ada kata-kata sindiran. Namun sorot mata Rani seolah berkata bahwa 'dia adalah suamiku dan kami akan menghabiskan malam bersama.'
Wajah Sintia seketika menegang. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa kehilangan kendali atas keadaan.
"Dasar murahan! Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan Mas Roy kembali!" gumamnya pelan.
***
Pintu kamar utama terbuka dengan keras. Belum sempat Rani memprotes, Roy sudah menurunkannya dari bahunya dan melemparkannya di atas ranjang.
"Astaga!" Rani segera merapikan rambutnya yang berantakan lalu berpose menantang. "Kamu sudah gak sabar ya Mas?"
Roy menutup pintu lalu berbalik menatapnya. "Jangan menyalahkan aku kamu sendiri yang meminta!"
"Tentu saja, tidak. Tapi apa kamu tidak jijik padaku?"
"Benar, tapi kamu sudah mengujiku."
"Oh, benarkah? Jadi aku berhasil?"
Roy mengembuskan napas panjang. Entah kenapa, setiap kali berbicara dengan Rani malam ini, pembicaraan mereka selalu berakhir di luar dugaan.
"Kamu sengaja membuat keributan di bawah. Hanya untuk bisa aku tidurin?"
"Aku?" Rani menunjuk dirinya sendiri. "Perasaanku aku hanya pulang ke rumah."
"Kamu tahu maksudku."
"Tidak. Aku benar-benar tidak tahu."
Roy mendecak pelan. Sikap santai itu jauh lebih menyebalkan daripada tangisan atau kemarahan.
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
"Seperti yang kamu bilang tidur."
Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Roy sempat mengira dirinya salah dengar.
"Tidur? Dasar murahan!"
Rani tidak tersinggung ia justru menepuk kasur di sampingnya. "Murahan? Otak kamu aja yang mesum. Kamar utama, ranjang empuk, AC dingin. Bukankah fungsi utamanya memang untuk tidur?"
Roy memijat pelipisnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa kesulitan mengikuti jalan pikiran seseorang.
Sementara Rani terlihat sama sekali tidak terbebani.
"Aku serius."
"Aku juga serius."
"Kita sedang membahas masalah."
"Kalau begitu bahaslah. Aku mendengarkan."
Roy menatap wanita itu beberapa saat. Anehnya, semua kalimat yang telah disiapkannya sejak tadi tiba-tiba terasa tidak penting lagi. Karena setiap kali ia mencoba membawa pembicaraan ke satu arah, Rani selalu menyeretnya ke arah lain. Dan yang paling menjengkelkan, ia tidak bisa menghentikannya.
Namun, di menit berikutnya, Rani bangun dari rajang lalu mendekati Roy dengan langkah mendominasi sambil berkata, "Apa kamu benar-benar menginginkanku?"
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏