Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Sekar ( Revisi )
Anisa berdiri di balkon kamar villa milik Kais. Setelah membersihkan diri, Anisa memilih keluar dari kamar dan menuju balkon.
Sedangkan Kais setelah makan malam meminta Anisa langsung ke kamar dan kemudian dia mengatakan bahwa dia ada sedikit urusan dengan seseorang.
Entah urusan apa, Anisa tidak ingin tahu dan tak mau ambil pusing. Anisa menatap langit yang terlihat seperti akan turun hujan.
"Ternyata kamu disini, hemm.." Kais melingkarkan kedua tangan besarnya di tubuh Anisa dengan posisi Anisa membelakangi nya. Lalu dia meletakkan kepalanya di ceruk leher Anisa seraya mengendus wangi tubuh perempuan yang ada dalam dekapannya saat ini.
" Kita harus mengakhiri semuanya mas...ini salah. Kamu suami sahabatku Marsya, sedangkan aku tunangan Bagas. Semua yang kita lakukan itu salah mas.." Anisa bicara dengan nada lirih. Namun masih Kais dengan dengan jelas.
"Kamu bisa bicara seperti itu Nis, tapi..aku nggak bisa lagi melepaskan kamu. Aku nggak akan biarkan kamu berpikir untuk meninggalkan ku. Jika itu terjadi..jangan salahkan aku jika nanti aku akan memaksamu kembali bersama ku." Anisa terdiam mendengar ucapan Kais yang dia anggap tak masuk akal.
"Tapi aku tunangan Bagas, kamu suami Marsya..!"
"Iya, aku tahu. Tapi itu nggak akan pernah merubah ucapan ku tadi."
Anisa menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Kais. "Kita nikmati saja kesalahan terindah ini. Sampai saat nya nanti, aku yakin kita akan bersama." entah apa maksudnya dari perkataan Kais tapi bagi Anisa itu hanya ucapan ngawur Kais.
" Marsya begitu mencintai mu. Dia benar-benar takut kehilanganmu. Aku nggak mungkin terus berbuat dosa seperti ini terus, tanpa sebuah ikatan ."
Kais membalikkan tubuh Anisa dan membuat mereka saling berhadapan.
"Tapi aku lebih takut kehilangan kamu. Bahkan aku sadar sangat sadar kalau aku sangat mencintaimu. Baiklah, kalau kamu tidak ingin kita terus berbuat dosa, kita akan jadikan hubungan ini halal. Kamu ikut aku!." ungkapan hati Kais membuat Anisa melebarkan matanya.
"Tapi____
Baru saja Anisa ingin buka suara namun bibirnya sudah di bungkam oleh bibir Kais. Cium*n yang begitu lembut namun semakin menuntut. Tanpa ancang-ancang Kais meraih tubuh Anisa dan seketika kaki jenjang Anisa melingkar tepat di pinggang Kais.
Kais membawa tubuh Anisa masuk ke dalam kamar tanpa melepaskan tautan mereka. Bahkan membiarkan pintu balkon kamar itu terbuka. Di sana hanya ada gelap malam dan hamparan hutan pinus dan kebun teh yang terlihat gelap.
Hujan mulai turun menambah syahdu nya malam yang penuh gair*h. Anisa selalu tak bisa menolak saat Kais melancarkan aksinya. Benar-benar Anisa di berdaya oleh sentuhan-sentuhan Kais yang membuat lupa segalanya.
...----------------...
Pagi hari, masih di villa milik Kais, laki-laki itu mengajak Anisa ke suatu tempat. "Den Kais sudah datang, silahkan masuk. Semua sudah menunggu." Anisa yang mendengar laki-laki yang Anisa tahu adalah seorang penjaga villa Kais mengajak mereka masuk ke dalam sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari villa.
"Mas, ini ada apa? Kenapa___
"Aku akan menuruti kemauan kamu. Aku akan menjadikan hubungan kita halal." ucapan Kais tentu saja membuat Anisa terkejut.
"Mas, kamu nggak mungkin menikahi ku. Aku masih tunangan orang, kamu suami sahabatku sendiri. Kamu sudah gil* !" Anisa benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Kais. Laki-laki yang ada di hadapannya adalah laki-laki yang begitu keras kepala.
Kais tersenyum miring mendengar penuturan Anisa. " Anisa,aku akan bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan . Walaupun aku punya istri tidak ada larangan untuk menikah lagi.Bukan begitu?"
"Mas!!" Kais menangkup kedua pipi Anisa dan pandangan mereka saling bertaut.
"Ijinkan aku tanggung jawab atas dirimu Nisa. Aku hanya ingin kamu tahu, kalau kamu sangat berharga dalam hidup ku. Lagi pula, aku takut kamu hamil anak ku karena kita beberapa kali nggak pakai pengaman bukan? " Anisa mendengar ungkapan Kais tak bisa lagi berkata-kata. Hanya air mata yang kini sudah keluar dari matanya.
Pernikahan siri antara Kais dan Anisa pun akhirnya berlangsung. Kais tetap bersikukuh untuk menikahi Anisa tanpa sepengetahuan Marsya. Bahkan Anisa tak bisa lagi berpikir untuk melepaskan Bagas yang menurutnya tak punya salah apapun padanya.
Selama dua hari Anisa dan juga Kais ada di villa pribadi Kais itu. Bahkan Kais begitu di buat menggila saat selalu bersama Anisa.
Anisa pun tidak mengerti lagi kenapa stamina Kais tak ada habisnya. Untung Anisa sudah selalu sedia untuk mencegah segala kemungkinan tanpa sepengetahuan Kais . Dia tak mungkin membiarkan dirinya hamil dan kemudian itu akan membuat sahabatnya semakin kecewa padanya.
Sampai di apartemen Kais sekitar pukul delapan pagi.
"Bersiaplah, aku sudah meminta Rendi buat menyiapkan baju buat kamu. Sarapan juga sepertinya sudah datang." Anisa dan Kais masuk ke dalam apartemen dan meminta Anisa bersiap.
Anisa hanya bisa mengangguk dan melangkah ke kamar untuk membersihkan diri. Sementara Kais menata makanan yang dia pesan baru saja datang. Setelah selesai, Kais melangkah masuk ke dalam kamar yang sama di mana Anisa berada.
Saat masuk ke dalam kamar itu, terlihat Anisa sedang mengganti pakaiannya. Terlihat gerakan cepat Anisa saat membenahi penampilan nya menyadari keberadaan Kais di kamar itu. Kais hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah laku Anisa yang terlihat salah tingkah.
Setelah dirasa sudah selesai bersiap, Anisa dan Kais keluar dari kamar dan melangkah ke meja makan. Anisa memakan sarapannya dengan sedikit terburu-buru.
"Jangan terburu-buru begitu, santai saja." Anisa menatap wajah Kais yang terlihat santai.
" Tapi ini sudah hampir telat. Aku cuma karyawan. Kalau kamu kan bos, jadi bebas mau datang jam berapapun." Anisa mengerucutkan bibirnya karena sudah jam-jam rawan telat.
Kais hanya bisa mengangkat kedua bahunya dengan acuh. Melihat respon Kais, Anisa beranjak dari tempat duduknya dan merapikan penampilan nya sebelum benar-benar keluar dari apartemen.
Kais mengikuti langkah Anisa sampai ambang pintu apartemen.
Sebelum benar-benar pergi,Anisa menoleh ke arah Kais yang berdiri diambang pintu dengan bersandar di sana.
"Aku sudah pesan ojol buat kamu. Nanti kalau ada yang tanya bilang saja kamu di minta aku untuk survey proyek kita di Bandung."
Anisa mengerutkan keningnya "Jadi kamu suruh aku bohong?" Anisa mengerucutkan bibirnya menatap ke arah Kais.
"Kalau kamu ngomong jujur juga nggak masalah buat aku. Itu tergantung kamu sayang.."
Cup
Kais mengecup bib*r Anisa sekilas dan kemudian mendapatkan tatapan tajam dari Anisa. Namun Kais malah terkekeh tak terpengaruh dengan tatapan Anisa yang menatapnya sengit.
"Aku pergi.. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikum salam, hati-hati.." Anisa mengangguk dan kemudian masuk ke dalam lift yang tak jauh dari unit apartemen Kais.
...---------------...
Kantor Syailendra Group sedikit lengang karena jam sibuk dan para karyawan kebanyakan fokus dengan pekerjaan nya masing-masing.
Saat Anisa sedang sibuk dengan pekerjaan nya. Dia di kejutkan dengan kedatangan Marsya sahabatnya. "Anisa!" suara Marsya terdengar tak bersahabat memanggil nama sahabat nya itu.
"Marsya, kamu nggak ngomong mau kesini, biasanya____
"Apa aku ada keharusan untuk kasih tahu kamu kalau aku mau datang kesini, kamu saja nggak ngasih tahu aku kalau kamu pergi tugas keluar kota kemarin." dengan ketus Marsya bicara pada Anisa..
"Maaf Sya, aku____
"Ada apa ini!" suara lantang terdengar tak jauh dari posisi Anisa dan Marsya yang sedikit bersitegang.
Marsya dan juga Anisa reflek menatap ke arah dimana terlihat seorang wanita paruh baya melangkah anggun dengan rambut yang dia sanggulan kecil dan terselip hairpin yang begitu cantik membuat tatanan rambut wanita itu terlihat rapi.
"Ma_mama__
Marsya terlihat terkejut dengan kehadiran ibu mertuanya yang tiba-tiba itu. Tak berbeda dengan Marsya Anisa pun terkejut karena melihat ibu dari Kais tiba-tiba saja datang ke kantor. Karena sepengetahuan nya selama dia bekerja di perusahaan itu, Nyonya Sekar tidak pernah datang ke kantor.
"Selamat siang nyonya" dengan sopan dan sedikit membungkuk Anisa menyapa ibu dari Kais itu.
Sekar hanya menatap datar ke arah Anisa dan beralih menatap Marsya dengan tatapan yang sedikit berbeda. Bukan tatapan ramah yang di perlihatkan. Tapi tatapan jengah melihat sosok menantunya yang ada di hadapannya.
"Mama, mama tumben kesini..apa ada hal penting sama mas Kais sampai___
"Kamu sendiri, kenapa datang kesini? Bukannya kamu baru pulang dari Bali?" Ucapan Sekar tentu saja membuat Marsya menampilkan wajah terkejutnya namun dengan cepat dia merubah mimik wajahnya.
"I_iya ma,Marsya___
"Saya kesini mau bertemu dengan Kais. Kamu yang namanya Anisa?" dengan masih memasang wajah datar nya, Sekar menanyakan nanya Anisa.
"I_iya nyonya, saya Anisa." Anisa sedikit kaget karena Sekar tiba-tiba menanyakan namanya.
"Hemmm..cantik.." terdengar gumaman Sekar dan kemudian terlihat bibir Sekar tersenyum tipis. Sekar bahkan membuat Anisa tersenyum kikuk saat Sekar menatap Anisa dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Pandangan Sekar beralih ke arah menantunya. "Sebaiknya kalau kamu sedang lelah, lebih baik istirahat di rumah. Tidak perlu repot-repot kekantor buat bertemu Kais dengan wajah kusut kamu itu." Sekar menunjuk wajah Marsya dan terlihat seringai yang terkesan mengejek pada Marsya.
Marsya hanya bisa menahan kekesalan nya dengan mencengkram ujung dress-nya mendengar ucapan ibu mertuanya terkesan meremehkannya.
Bersambung