"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Diandra menatap layar ponselnya lama, entah mengapa ia merasa sedikit resah. Sebenarnya mengapa ia seperti ini, diandra tahu. Kehadiran pria itu kembali ke dalam hidupnya, terus terang cukup meresahkan.
Tak pernah ada sesuatu antara mereka sebenarnya. Malam itu juga semuanya terjadi, memang karena mereka saling membutuhkan.
Diandra tahu, tak mungkin pria seperti xavier akan jatuh hati padanya. Secara pria sesempurna dia, dengan pesona yang luar biasa yang pria itu miliki. Sangat tak mungkin rasanya, wanita seperti dia mampu membuat pria itu tertarik padanya.
Diandra juga tak pernah berharap bertemu dengan pria itu kembali, apalagi berharap pria itu menyukainya.
Tapi jika dia boleh jujur, sebenarnya sejak malam itu diandra tak pernah bisa melupakan pria itu sedetik pun.
Apakah itu cinta, diandra tak tahu. Diandra belum pernah jatuh cinta sebelumnya, pria itu adalah pria pertama sekaligus terakhir yang pernah dekat dengannya.
"hhhhhhh..." desah nafasnya kembali terdengar kasar. toque dari kepalanya ditarik sekenanya, langkahnya lambat menuju loker, tempat diandra menyimpan pakaian dan tasnya.
"di.."
Diandra masih berjalan lesu, begitu banyak hal berkecamuk di kepalanya saat ini.
"di.."
"di.."
Tubuh diandra berbalik, tangan ronal yang menggapai pundak, menyadarkan diandra.
"kamu kenapa?"
Mata ronal memicing sebelah, kepala pria tinggi besar itu miring sedikit.
"ada masalah?"
"nggak ada chef" geleng diandra lesu, namun tak urung ia berusaha tersenyum, menenangkan pria baik itu.
"besok malam kamu bisa bantu aku, di? Lumayan buat lembur, bawa saja killian kemari"
Pria itu menatap penuh harap, diandra hampir mengangguk, tiba-tiba teringat kalau dia sudah menerima permintaan xavier tadi.
"maaf chef ronal.." ujar diandra dengan wajah tak enak hati,
"aku ada job lain, di acara ulang tahun"
"aduh.." keluh pria tinggi itu, wajahnya terlihat kecewa.
"apakah kamu akan mengajak sous chefmu juga?"
"he-eh" angguk diandra, "hanya rian yang mengerti ritme kerjaku chef, emangnya ada apa besok malam chef?"
Chef ronal terdengar menghembuskan nafasnya berat, " pak elang.." ujarnya, ia menyandarkan tubuhnya.
"memintaku menyiapkan hidangan yang lumayan banyak, untuk sebuah acara anniversary pernikahan salah satu pelanggan vip kita"
"maaf chef.." pinta diandra dengan raut tak enak hati lagi.
"yah sudahlah, nggak usah diambil pusing" ujar pria tinggi itu mengibaskan tangannya.
"palingan besok aku sedikit keteteran saja, heheheh"
Diandra masih merasa tak enak hati, chef ronal sudah sering membantunya,
"atau kubatalkan saja yah chef"
"jangan.." seru chef ronal dengan mimik kagetnya, pria itu sontak menegakkan tubuhnya.
"di dunia kita ini di, sekali kita buat cacat saja di mata pelanggan, akan sangat sulit memulihkan kepercayaan itu kembali. Sudah..." gelengnya cepat, "nggak apa-apa kok, kan aku masih ada sous chef derry"
Diandra mau tak mau mengangguk juga, matanya tak henti mengamati pria itu yang sudah meninggalkannya sendirian.
Chef ronal itu pria yang sangat baik, dulu diandra adalah sous chef dari ronal. Bimbingan ronal lah yang membuatnya bisa seperti saat ini.
Pria berusia 37 tahun itu memiliki seorang istri yang sangat cantik, diandra juga bersahabat dengan istri chef ronal.
Bisa dibilang juga kalau diandra adalah mak comblang mereka, istri chef ronal adalah teman diandra saat masih duduk di bangku SMA.
<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>
Diandra turun dari taksi dengan rian dan killian putranya, matanya menatap takjub kediaman keluarga pratama yang terlihat bagaikan sebuah istana itu.
"chef.." panggil rian, sous chef yang berdiri tegak di depan istana besar itu dengan tatapan kagum.
"ini kediaman pemilik grup pratama jaya yah?"
Diandra tak menjawab, dia hanya mengangguk, saat ini tangannya sedang sibuk menggapai pergelangan tangan killian yang hampir berlari.
"tumben chef di, bawa lian kerja?" mata pria sedikit melambai itu memicing menatap diandra.
"pengasuhnya nggak mau sampai malam yan, walau aku udah janjiin uang lembur"
Rian mengangguk paham, ia meraih kotak yang tadi diturunkan supir taksi di dekat kakinya,
"semoga lian bisa anteng yah chef!"
"semoga.." angguk diandra ragu.
Diandra mengikuti langkah rian, di anak tangga berdiri seorang wanita tua menatap mereka, aura wanita itu sedikit mengintimidasi.
"ada perlu apa?" tanya wanita itu yang memakai celemek putih, matanya terlihat penasaran dan penuh selidik.
"kami chef yang akan masak di sini, tuan xavier meminta kami kemari" ujar rian memperkenalkan diri.
Wajah tua itu berubah lebih lembut,
"siapa mbok?" terdengar suara dari pintu ruang tamu bergaya spanyol itu.
Wanita tua itu membalikkan tubuhnya dan menunduk hormat.
"chef yang diundang tuan xavi, nyonya"
Wanita tua yang dipanggil nyonya barusan, melangkah lebih dekat. Tatapan matanya memindai diandra dan rian bergantian, diandra sedikit gugup.
Tatapan wanita tua itu seakan ingin menelanjanginya, diandra mengangguk hormat, saat mata wanita itu berhenti lama menatapnya.
"saya wina pratama, neneknya xavier!, kamu kenal xavier"
Ternyata suara wanita tua itu lembut, senyumnya, sorot matanya memang masih sedikit membuat gugup.
"tidak nyonya.." geleng diandra cepat,
"tuan xavier hanya pelanggan vip di restoran kami, dan beliau meminta saya datang malam ini, kemari!"
Nyonya wina mengangguk paham, tiba-tiba matanya melirik ke samping diandra, matanya menatap lekat killian yang mulai gelisah.
Kening wanita sepuh itu berkerut, terkesima menatap bocah tampan berambut gondrong itu.
'mengapa bocah ini mirip xavi waktu kecil'
Nyonya wina, kembali menatap diandra. Tiba-tiba sebuah senyum manis mengembang di bibir wanita sepuh itu.
"siapa nama kamu?"
"diandra ratunisa, nyonya!"
Nyonya wina manggut-manggut paham, matanya kembali menatap killian. Senyum manisnya malah semakin mengembang indah.
"dan bocah tampan ini siapa namanya?"
Tangannya mengelus lembut kepala killian yang sudah bersandar ke tubuh diandra lesu. Diandra menelan salivanya kesusahan, ada rasa yang tiba-tiba mengganggunya.
Apa wanita sepuh ini melihat sesuatu pada killian, mengapa dia mengelus kepala killian terlihat penuh sayang.
"siapa nama bocah ini?" tanya nyonya wina lagi, kini matanya kembali menatap diandra lekat.
"killian mahesa.." jawab diandra pelan, rasa mengganjal masih terasa di tenggorokannya.
Wanita sepuh itu tersenyum lembut, dan tiba-tiba berbalik.
"antarkan mereka ke dapur, mbok" perintah wanita sepuh itu.
Diandra melangkah, mengikuti asisten rumah tangga kediaman keluarga pratama itu, setelah sebelumnya mengangguk hormat, pamit kepada nyonya wina yang melepas mereka dengan senyuman manisnya.
"aku tahu mengapa xavier meminta padaku untuk membiarkan dia mengurus ulang tahunku, ternyata perempuan itu penyebabnya" gumam nyonya wina pelan.
"bocah laki-laki tadi sangat mirip dengan xavi, pantas saja dia selalu menghindari permintaanku, ternyata hati xavier sudah ada pemiliknya"
"siapa pemilik hatiku, oma?"
"astaghfirullah...." seru nyonya wina setengah berteriak,
Ia memegang dadanya yang berdebar cepat karena kaget.
"kamu yah, bikin kaget saja"
Pukulnya di lengan xavier yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"oma kaget tahu!"
Xavier tersenyum setengah meringis, ia meraih pundak omanya dan merangkulnya hangat.
"siapa yang oma bilang barusan?pemilik hatiku?"
Nyonya wina hanya menggeleng pelan, dengan senyum penuh arti di bibirnya.
Bersambung...