NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Hari itu suasana di kampung terasa berbeda.

Dari rumah sederhana milik keluarga Vena yang berdiri tepat di sebelah rumah Pak Rahman, terdengar suara gaduh dan ramai sejak pagi. Orang yang lalu lalang di depan rumah itu bisa melihat wajah Bu Ratna yang tampak begitu berseri. Senyumnya tidak pernah lepas. Bahkan suaranya terdengar lebih keras dari biasanya.

"Vena mau lahiran!" serunya kepada siapa saja yang lewat.

"Rangga sudah bawa Vena ke rumah sakit!"

Nada suaranya penuh kebanggaan. Seolah seluruh dunia harus tahu bahwa cucu yang selama ini dinantikannya akhirnya akan lahir hari itu.

Di teras rumah, ibu Vena juga tidak kalah bahagia.

"Doakan ya, sebentar lagi saya jadi nenek."

"Keluarga kami akhirnya punya penerus."

Mereka tertawa bersama.

Sementara itu, di rumah sebelah, Bu Rahman mendengar semuanya dengan wajah yang semakin gelap.

Tangannya yang sedang menyapu tiba-tiba menegang. Dadanya terasa sesak. Bukan karena iri pada bayi yang akan lahir. Bukan juga karena tidak suka melihat orang lain bahagia.

Yang membuat hatinya sakit adalah kenyataan bahwa anak hasil hubungan yang membuat rumah tangga putrinya hancur kini justru dibanggakan ke mana-mana.

Celsi pernah menjadi istri Rangga selama tiga tahun. Tiga tahun hidup bersama. Tiga tahun berusaha menjadi menantu yang baik. Tiga tahun menerima berbagai sindiran karena belum juga memiliki anak.

Kini Rangga baru menikah dengan Vena dalam waktu singkat dan Vena langsung hamil.

Semua orang seolah lupa bagaimana putrinya dulu diperlakukan.

"Ya Allah, apa ini adil?" gumam Bu Rahman pelan.

Pak Rahman yang duduk di sampingnya menghela napas.

"Sabar, Bu." Pak Rahman mendekat.

"Aku tidak habis pikir, Mas," ucap Bu Rahman dengan mata berkaca "Mereka bangga sekali. Padahal itu juga dari hasil zina. Tega sekali mereka setelah menghianati, lalu berbahagia."

Pak Rahman menatap istrinya dengan lembut.

"Kita tidak bisa mengatur hidup orang, dek."

"Tapi hatiku sakit hati banget, Mas." lirih bu Rahman mulai tersedu. "Kasian Celsi."

"Mas tahu, Dek. Maafkan adek Mas."

Bu Rahman menunduk, tangannya bergerak lembut menyentuh pipinya yang basah.

Pak Rahman lalu menggenggam tangan istrinya. "Lupain masa lalu. Biarkan aja itu jadi rasa sakit yang lalu. Yang penting sekarang Celsi sudah hidup lebih baik."

Bu Rahman mengangguk pelan meski hatinya belum benar-benar tenang.

****

"Apa? Kontraksinya makin sering?"

"oke, Rangga. Ini mama sama ibunya Vena mau nyusul ke sana."

Suara bu Ratna terdengar lagi, kali ini dia bertelpon dengan anak lelakinya.

"iya, iya. Ini udah mau jalan nih. Mama tutup telpon nya ya."

Bu Ratna terburu-buru bersiap.

"Ayo cepat."

"Nanti ketinggalan."

Ibu Vena langsung menyambar tasnya.

Keduanya berangkat dengan wajah penuh harapan.

Di rumah sakit, Vena segera diperiksa oleh dokter. Rangga menunggu dengan gelisah di luar ruang pemeriksaan. Tidak lama kemudian dokter keluar.

"Kondisinya bagaimana, Dok?" tanya Rangga.

Dokter menjelaskan bahwa posisi bayi tidak memungkinkan untuk persalinan normal. Karena alasan keselamatan ibu dan bayi, operasi sesar harus dilakukan.

Bu Ratna yang mendengar penjelasan itu langsung terkejut.

"Operasi? Kenapa harus operasi?" katanya dengan mata yang hampir keluar dari rongganya.

"Memangnya tidak bisa lahiran biasa?" kali ini ibunya Vena yang bicara.

Dokter tetap menjelaskan dengan tenang.

"Ini keputusan yang paling aman."

"Kalau dipaksakan normal risikonya jauh lebih besar."

Bu Ratna masih terlihat tidak puas. Dalam pikirannya, persalinan normal jauh lebih baik. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Nggak beres ini. Masa harus operasi? Pasti ada kelainan. Di keluarga kita enggak ada yang sesar loh."

"Bu! Jangan begitu. Sesar atau normal, tetap aja bersalin. yang penting anaknya sehat," ujar bu Vena sedikit geram.

Rangga segera mengambil keputusan. "Yang penting Vena dan bayi selamat. Silakan lakukan yang terbaik, Dok."

Dokter mengangguk lalu masuk kembali.

Tak lama kemudian Vena dibawa ke ruang operasi. Waktu berjalan sangat lambat. Rangga mondar mandir di koridor rumah sakit.

Bu Ratna terus berdoa. Ibu Vena juga tampak tegang. Hingga akhirnya suara tangisan bayi terdengar dari balik ruang operasi. Semua orang langsung berdiri. Wajah Rangga berubah lega.

"Alhamdulillah..."

"iya, Alhamdulillah, Rangga. Akhirnya mama bisa gendong cucu."

Bayi itu lahir. Anak yang selama ini dinantikannya. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Ketika dokter keluar dan menjelaskan kondisi bayi, suasana mendadak membeku.

Wajah Bu Ratna berubah pucat.

Matanya membelalak.

"Apa?"

"Bagaimana bisa?"

Bayi itu lahir dengan kondisi yang tidak sempurna. Ada kelainan bawaan yang membuat penampilannya berbeda dari bayi lain.

Bu Ratna seperti tidak percaya.

Perasaannya campur aduk.

Kecewa.

Marah.

Malu.

Semua bercampur menjadi satu.

Ia bahkan tidak langsung ingin melihat cucunya.

"Ini pasti salah. Bagaimana bisa begini? Ini nggak tertukar kan, Dok?"

Rangga sendiri terdiam.

Dadanya terasa berat. Namun ketika melihat anaknya yang kecil dan tak berdaya, hatinya tetap tersentuh.

Itu darah dagingnya.

Bagaimanapun kondisinya.

Sementara itu, ibu Vena justru bereaksi berbeda. Awalnya ia juga terkejut.

"Kenapa anaknya Vena begini? harusnya kan bibir premium. Kenapa malah begini?" gumamnya masih denial.

Namun semakin lama, kemarahannya mulai mencari sasaran. Pikirannya dipenuhi prasangka.

"Ini pasti ada gang menyalahi. Iya, pasti begitu. Tapi siapa?" batinnya.

Lalu tiba-tiba satu nama muncul dalam benaknya. Keluarga Bu Rahman. Pandangannya menjadi tajam.

"Ini pasti ulah mereka."

Bu Ratna menoleh.

"Apa maksudmu?"

"Mereka iri. Dulu kan Si Celsi itu istrinya Rangga. dia pasti main ilmu hitam! Makanya anak yang harusnya normal jadi begini."

Ibunya Vena geram. Bibirnya mengerucut bergetar ke kiri dan ke kanan.

"Mereka pasti sakit hati. Lalu bersekutu dengan setan. Jelas ini pasti ulah mereka."

Bu Ratna terdiam. Tidak menjawab. Tetapi benih kecurigaan mulai tumbuh di dalam hatinya.

****

"Eh, sudah dengar belum? Itu cucunya si Weni, enggak sempurna."

"Astaghfirullah, iya, Bu. Kasian ya?"

"Iya, katanya karena kena ilmu sihir."

"Hah? Ilmu sihir apaan?"

"Ya itu sih katanya di Weni. Dan kata dia, yang nglakuin itu si Celsi. Sakit hati dia karena dulu kan, Rangga suaminya Celsi, tiba-tiba malah nikah sama Vena."

"Lah, itu mah, karma! Gara-gara ngrebut suami sepupi sendiri."

"Hahaha..."

"Hus! Jangan begitu."

Rumor mulai menyebar ke seluruh kampung. Bisik-bisik terus terdengar. Lalu berkembang menjadi cerita dari mulut ke mulut. Semua itu berhembus dari keluarga Vena tentunya.

Namun tetap saja ada orang yang percaya.

Meski begitu, tidak semua tetangga mudah terpengaruh. Banyak yang justru menggelengkan kepala.

"Si Weni ini juga aneh. Jelas kalau begitu, namanya penyakit bawaan."

"Betul. Kenapa harus dikaitkan dengan hal begitu?"

"Dokter saja bilang kelainan lahir."

"Dia nya malah asal menuduh."

Perdebatan kecil mulai muncul di warung dan pos ronda. Sebagian percaya. Sebagian lagi menolak mentah-mentah.

Sementara Bu Rahman memilih diam. Ia mendengar semua tuduhan itu. Tetapi tidak melayani.

"Sudah, buk, nggak usah digubris. Semua orang juga tau. Dia aja yang bodoh. Makanya percaya aja sama klenik begitu. Orang udah ada medisnya kok," kata salah seorang tetangga yang lebih berpihak pada Bu Rahman.

"Iya, buk, saya paham, kok. Orang yang ingin percaya akan tetap percaya meski dijelaskan berkali-kali."

Namun sikap diam itu justru membuat ibu Vena semakin marah. Dalam pikirannya, keluarga Bu Rahman telah merusak kebahagiaan anaknya. Kemarahan itu terus menumpuk. Hingga suatu siang, ia mengambil keputusan yang tidak masuk akal. Ia mengisi ember dengan air comberan. Air kotor yang berbau menyengat. Lalu berjalan menuju Kedai Ayam Geprek Cinta.

"Satu keluarga! Nggak ada yang beres. Ini jelas ilmu hitam. Mereka pasti yang bikin. Ini jelas kelakuan si celsi. Siapa lagi!?"

Ibunya Vena terus bergumam dalam perjalanan, sampai dia melihat Celsi berdiri membuang sampah di dekat jalan utama. Wajahnya terlihat tenang. Ia tidak tahu badai sedang datang ke arahnya.

Ibu Vena mendekat dengan napas memburu.

Matanya penuh amarah. Di tangannya membawa ember.

Dalam satu gerakan cepat, ember di tangan ibu Vena diangkat tinggi. Lalu seluruh isinya disiramkan ke arah Celsi.

Byur!

Air comberan menghantam tubuhnya.

Baju, rambut, wajah, semuanya basah oleh cairan kotor berbau busuk.

Para pelanggan langsung berdiri.

Suasana kedai berubah kacau.

Celsi membeku di tempatnya.

Air kotor menetes dari ujung rambutnya.

Matanya perlahan berkedip.

Masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

Sementara ibu Vena menunjuknya dengan wajah penuh kebencian.

"Tidak tau malu! Sejahat ini kamu ya!? Hatimu kotor! Dengki! Pantas saja mandul!"

1
Ma Em
Semoga Celsi berjodoh dgn Aska dan bisa hamil agar tdk dihina terus sama keluarga Rangga juga sama Bu Weni .
Danie a: semoga ya kak😅
total 1 replies
Lyeend
buat apa lagi mau tunggu di sana Celsi. pergilah bawa diri dan move on
Sri Rahayu
apa itu palsu...sengaja suaminya buat agar punya alasan utk mencari pr lain 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
Danie a: makasih kak. kaka masih ngikuti aja ya😭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!