Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
aib sempak
Leonard berdiri dengan sekuat tenaga.
Tapi lagi-lagi kakinya terpeleset oleh banyak nya sabun di lantai yang sudah tercampur air.
Gedebug...
Kening Leon terjedot bathub, dia hanya tengkurap dengan perasaan pasrah.
Mereka bertiga meringis menyaksikan Leon yang amat tersiksa oleh lantai licin.
'kenapa aku gampang percaya pada wanita asing, benda itu memang wangi, tapi dia juga berbahaya! Aku sampai tidak bisa berdiri!'
Batin Leon, dia masih tengkurep seraya menutup mata, dingin, lelah, juga lapar.
Itu yang dia rasakan.
Azura mendekati Leon, dia membuka pembuangan air yang berada di lantai.
Leon sedikit mengangkat wajah ketika kaki Azura berjalan di atas lantai tanpa terjatuh.
'lihatlah, mereka memang sudah merencanakan hal ini! Mereka telah menjebak ku!'
Leonard menatap kaki Azura yang berada tepat di hadapannya.
Dia tidak berani mengangkat kepala lebih tinggi, karna pakaian Azura begitu pendek.
"Bangun cepet! Jangan tidur di situ"
Azura mengulurkan tangannya.
Leon bukan hanya tidak menjawab, tapi dia malah membuang muka.
Azura kesal setengah mati, mengancam Leon dengan kata-kata yang tidak di mengerti.
"Yaudah kalo Lo mau terus di situ! Gue bakal tinggal dan ogah bantuin Lo buat pulang! Lo pulang sendiri aja sana!"
Sentak Azura.
"Udah bagus Lo di kasih tinggal di sini! Malah ngelunjak ya Lo, setan!!"
Azura hendak berbalik, tapi kakinya di cekal oleh Leon.
"Kyaa...!"
Dia hampir saja terjatuh jika tangannya tidak sigap memegangi wastafel.
Dia menukik alis, matanya melotot seram, tapi Leon tidak melihatnya.
"Lo mau bikin gue mati!! Bodoh! Kalo gue jatuh terus kepala gue pecah gimana?"
Monica juga Farah meringis melihat kemarahan Azura.
Mereka yakin, Leonard akan menjadi bulan-bulanan Azura saat ini.
"Aku tidak bisa berdiri! Lantai ini terus menjatuhkan ku"
Sahut Leon pelan.
Dia melepaskan kaki Azura.
Azura berdecak pinggang.
Menatap Leon geram.
"Lo juga yang tolol! Ngapain mainin sabun sampai habis gitu? Main masak-masakan Lo?!"
Leon hanya tertunduk, sedikit tidak mengerti dengan yang Azura katakan.
'tapi aku yakin, dia sedang mengatai aku'
Batinnya menebak.
Azura kembali mengulurkan tangan, kali ini Leon tidak menolak, dia mengambil tangan Azura dan menariknya.
Azura gak jatuh, dia pegangan pada wastafel untuk menahan dirinya juga Leon.
Leon berhasil berdiri, meskipun kakinya tak berhenti bergetar.
Azura melihat banyak sabun di kepala lelaki itu.
Dia menyuruh Leon untuk duduk di lantai.
"Duduk dulu di situ, gue mau manggil orang!"
Leon melotot.
'setelah bersusah-payah aku berdiri, gadis ini malah memintaku untuk duduk'
"Siapa kau berani memerintahku?"
Sahutnya dingin.
Azura mengangga.
"Udah! Gue bilang duduk ya duduk! Ribet banget si Lo!"
Sahut Azura galak.
Azura melengos ke luar, meninggalkan Leon yang hanya diam mematung.
Dia masih tidak berani melangkah, takut lantai akan menjatuhkan ya lagi.
"Farah! Lo panggilin kang Rudi deh, buat bantu mandiin dia"
Titah Zura, Farah dengan cepat ngacir ke depan untuk menemui Kang Rudi.
***
Farah tidak menemukan Rudi di halaman depan.
Dia kemudian berlari menuju pos dekat gerbang.
Rudi tenyata tengah ngopi sambil ngobrol ringan dengan jusep, security rumah Azura.
Nafas Farah ngos-ngosan.
Rudi dan jusep serentak berdiri heran melihat Farah yang tampak panik.
"Kenapa neng?"
Tanya jusep.
Farah menunjuk rumah dengan nafas yang belum teratur.
"Itu, hah. Hah. Kata non Zura. Hah. Kang Rudi bantu mandiin den Leon. Hah. Hah."
Rudi dan jusep saling pandang.
"Den Leon? Siapa?"
Rudi heran, melirik jusep yang menggeleng.
Farah menarik nafasnya dalam.
Huftt...
" Itu cowok yang semalem ada di kamar non Zura"
Rudi tambah heran.
" Cowok yang di kamar non Zura? Kenapa harus saya yang mandiin?"
Farah mendelik.
"Ya masa saya kang yang mandiin, malu atuh! Dia kan cowok"
Rudi menggaruk kepalanya, jusep terkekeh pelan.
"Mungkin maksud kang Rudi, kenapa den Leon harus di mandiin sama dia? Emang gak bisa mandi sendiri?"
Jelas jusep terkekeh.
Rudi mengangguk membenarkan perkataan jusep.
" Kalo dia bisa mandi sendiri, ngapain saya di suruh manggil akang?"
Sahut Farah
" FARAH!! Kang Rudi nya ada gak?"
Teriak Zura di depan pintu, berdecak pinggang.
"Ada non! Ini lagi mau ke sana"
Teriak Farah, dia menatap Rudi.
"Tuh kan kang, non Zura yang manggil! Ayo"
Farah berjalan lebih dulu, di ikuti Rudi. jusep hanya melongo kembali ngopi.
'den Leon gak bisa mandi? Apa dia anak kerabatnya non Zura yang masih kecil? Tapi dari kemarin gak ada anak kecil yang tinggal di sini kecuali den Excel?'
Batin jusep bingung, sambil nyeruput kopi.
***
Rudi bergegas masuk kamar Leon, dan mendapati pria itu berdiri mematung dengan tubuh menggigil.
" Den, saya bantu mandiin?"
Melihat pria yang masuk kamar mandi, Leon menatap Rudi tajam.
Dia ingin mundur, tapi dia takut terpeleset dan berujung tidak bisa berdiri lagi.
"Jangan coba-coba untuk menyakiti aku!"
Peringatnya tegas.
Tatapannya tak lepas dari Rudi yang menggaruk kepala.
Rudi mengambil shower kecil.
Leon memelototkan matanya.
"Sudah ku bilang, jangan pernah coba menyakiti aku! Atau aku tidak akan mengapunimu!"
Ucapnya dingin, Leon sedikit panik.
Rudi tak menggubris.
Dia menyalakan shower, dan menyirami lantai lebih dulu.
Leon waspada, di mengira Rudi tengah menyirami lantai dengan sesuatu yang berkedok air.
" Apa itu benar-benar air?"
Rudi hanya mengangguk.
" Jika itu air, lalu kenapa aku terus terjatuh tak bisa bangun?"
Tanyanya lagi.
Rudi mematikan shower, menatap Leon.
" Ini memang air, yang bikin kamu jatuh itu sabun yang tumpah. Tuh liat"
Rudi menunjuk botol sabun kosong.
Leon melihatnya.
Memang, saat Leon ingin menekanya.
Botol itu malah jatuh dan pecah, Leon yang sayang akan wanginya, segera menyendok sabun itu menggunakan tangan.
Dan memasukannya ke dalam bathub.
Dia menyalakan kran air, tapi tidak tau cara mematikannya.
Alhasil, kamar mandi seperti kolam licin.
***
Setelah Rudi membantu Leon mandi dan berganti baju.
Akhirnya mereka keluar dari kamar.
Rudi menyusut keringatnya.
'saya lebih baik nyuci mobil berkali-kali dari pada bantu dia lagi!'
Batin Rudi dongkol.
Saat Rudi membantunya, Leon terus-terusan menolak dan juga banyak bertanya, membuat Rudi yang jarang bicara dengan orang baru terpaksa menjawab, karna Leon terus menatap tajam.
Leon sudah memakai baju pemberian Azura, dia setia memakai jubah kebanggaannya.
Rudi membawa Leon ke ruang tamu.
Leon berjalan dengan penuh wibawa.
'aku tidak akan membiarkan gadis itu menghinaku lagi! Jika perlu, aku akan membalas penghinaannya!'
Tekadnya dalam hati.
Ternyata Jody sudah pulang.
Leon sedikit percaya pada orang itu karna Jody tidak pernah mengkritik nya, berbeda dengan Zura dan Monica.
Bahkan Monica sempat mengusirnya.
'kurang ajar!'
Batin Leon kesal ketika mengingat hal itu.
Mereka bertiga menatap Leon yang sudah siap.
Tapi ada yang aneh.
Monica berdiri, membuat Leon sedikit mundur.
Tapi dia ingat bahwa dia tidak akan takut pada mereka.
Jadi, dia maju lagi selangkah.
Monica mengulurkan tangannya, hendak meraih jubah Leon.
Leon dengan sigap menepis lengan Monica dan menatapnya tajam.
"Jangan pernah menyentuh barang miliku!"
Peringatnya tegas.
Monica menghela nafas, di kembali duduk dan menyuruh Azura yang mengatur lelaki itu.
Saat Azura berdiri.
Leon tak bisa menghentikan kakinya yang tiba-tiba mundur.
Menatap Azura sengit.
"Lepas jubah Lo!"
Ucap Azura dingin, wajah datar.
"Kau menginginkan jubah ku?"
Leon malah bertanya.
Azura melipat tangannya.
Menatap datar Leon.
"Kita mau keluar, Lo ngapain masih pake jubah gitu? Mau main superhero - superhero an?"
Tanyanya asal.
Jody dan Monica terkekeh, begitu juga pekerja yang mendengar ucapan Azura.
Leon menatap semua orang yang menertawainya.
'jika aku tidak menurutinya, gadis sombong ini akan terus menertawakan aku!'
Leon dengan terpaksa membuka jubahnya.
Lalu menyimpan dengan sangat hati-hati pada kursi.
Azura yang melihat penampilan pria itu, merasa ada yang janggal oleh penglihatan matanya.
Zura menatap Jody yang tengah minum teh.
"Papi... Kayaknya dia gak pake sempak deh?"
Uhuk..uhuk..
Jody tersedak mendengar perkataan ngawur Zura.
Jody segera berdiri dan menatap Zura.
Monica menjewer telinga Azura.
"Kamu kalo ngomong jangan jorok-jorok!"
Zura meringis, mengusap telinga, panas.
Cemberut kesal pada Monica.
"Aku gak jorok, liat aja tengah celananya. Nonjol gitu kayak gak pake CD!"
Jelas Azura.
Dengan polos.
Monica, Jody, dan Leon sendiri.
Melirik ke arah tengah celana Leon yang memang menonjol.
Hening...
Leon dengan sigap menutupi celananya.
Monica mengangga, Jody segera meneriaki Monica yang malah terus menatap tanpa kedip.
"Mami!!!! Keterlaluan ya! Gak boleh liat liat punya orang!"
Monica membalikan tubuhnya dengan pipi merona.
Azura tertawa ngakak membelakangi Leon.
'gadis sialan! Sampai kapan kau akan mempermalukan aku?!'
Batin Leon, marah campur malu.
Dia terus menutupi area itu dengan kedua tangan, dengan wajah memerah malu.
Jody bergegas membawa Leon ke kamar, dia akan membantu pria itu untuk mengenakan sempaknya.
Sepeninggalan Jody.
Azura dan Monica terus tertawa menertawakan kebodohan Leon.
"'Aku Raja dari kerajaan Lunaventia' ha ha ha... Mana ada raja bodoh gitu!"
Ejek Azura mengulang kata pertama kali identitas Leon.
Bersambung...