NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Bos Mafia Yang Disegani Dunia

Suamiku Ternyata Bos Mafia Yang Disegani Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Liora dipaksa menikah dengan Arkan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Ia mengira Arkan hanyalah pengusaha kaya biasa yang dingin dan tertutup. Kehidupan baru Liora dimulai di kediaman megah namun penuh ketatapan. Pelan tapi pasti, Liora mulai melihat keanehan-keanehan: pengawal yang selalu berjaga, orang-orang yang menunduk takut saat melihat Arkan, dokumen rahasia, hingga pembicaraan tentang organisasi bernama Bayangan Hitam.

Liora perlahan mengetahui kenyataan pahit: suaminya bukan sekadar pengusaha, melainkan pemimpin mafia paling berkuasa yang menguasai jalur perdagangan gelap, ekonomi bawah tanah, dan memiliki koneksi hingga ke pejabat tinggi negara. Dunia Liora berantakan, rasa takut bercampur kagum. Di sisi lain, Arkan yang awalnya menganggap Liora hanya kewajiban kontrak, mulai tertarik pada ketulusan dan keberanian gadis itu yang tidak pernah lari meski sudah tahu siapa dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengorbanan dan Harapan

Situasi menjadi kacau balau di kedua tempat. Di kediaman kami, lubang di pintu baja semakin lebar. Beberapa orang bersenjata mulai bisa memasukkan tangan dan kepala mereka, berusaha mendobrak masuk. Aku bersandar di dinding, senjata di tanganku terangkat, menunjuk ke arah mereka dengan tangan gemetar namun mata yang bertekad bulat. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhku. Aku lebih baik mati daripada menjadi alat untuk menyakiti Arkan.

"Jangan mendekat! Atau aku akan menembak!" teriakku sekuat tenaga, suaraku bergetar namun tegas.

Orang-orang itu tertawa sinis. "Tembak saja, Nyonya Cantik.

Kau bahkan tidak tahu cara mematikannya, kan? Turunkan senjatamu, ikut kami dengan tenang, dan mungkin kami akan berbaik hati padamu."

Mereka semakin mendesak. Liora memejamkan mata, mengingat wajah Arkan, mengingat semua janji kami.

Maafkan aku, Arkan... sepertinya aku tidak bisa menunggu kau pulang.

Namun, tepat saat salah satu musuh berhasil masuk separuh tubuhnya ke dalam kamar, tiba-tiba terdengar suara letusan dahsyat dari luar rumah.

Suara senapan mesin berat bergema, disusul suara teriakan musuh yang panik. Aku mendengar suara familiar, suara yang selama ini membuat semua orang segan dan takut... suara Damar!

"Mundur kalian semua! Pasukan pusat sudah datang! Kalian sudah dikepung!"

teriak suara Damar diikuti rentetan tembakan yang mematikan.

Musuh yang ada di depan pintu kamarku panik. Mereka berniat cepat-cepat masuk dan menangkapku paksa, tapi aku yang memanfaatkan momen itu langsung menembakkan peluru ke arah lampu langit-langit di dekat mereka, membuat debu dan pecahan beton jatuh menimpa mereka. Mereka mundur sejenak karena kaget.

Itu kesempatanku. Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka paksa dari luar, bukan oleh musuh, tapi oleh pasukan Damar yang akhirnya berhasil menembus pertahanan musuh.

Damar masuk dengan napas memburu, wajahnya penuh keringat dan debu.

"Nyonya! Kau aman?!" serunya cemas.

Aku langsung berlari mendekatinya, rasa lega meluap-luap.

"Damar! Terima kasih Tuhan! Aku aman! Tapi Arkan... bagaimana dengan Arkan? Dia di wilayah timur... dia terjebak!"

Wajah Damar yang tadinya lega seketika berubah pucat dan sedih. Ia menundukkan kepalanya.

"Maafkan saya, Nyonya... kami terlambat. Pesan darurat dari Tuan Arkan masuk tadi. Dia dikepung ratusan musuh.

Pasukan yang kami kirim ke sana dilawan dengan senjata berat. Kabar terakhir... Tuan Arkan tertembak dan jatuh."

Dunia serasa runtuh di kakiku. Kakiku lemas, aku hampir jatuh tersungkur jika Damar tidak menangkap tubuhku tepat waktu.

"Ti... dak mungkin... Arkan tidak mungkin kalah... dia Raja Bayangan... dia tidak mungkin jatuh..." rintihku, air mata mengalir deras tak terkendali.

"Tuan Arkan masih hidup, Nyonya. Kabar terakhir dia berhasil ditarik oleh sisa pasukannya yang setia, tapi mereka dikepung di gudang bawah tanah. Mereka kehabisan peluru, terluka parah, dan musuh terus menyerang. Kami butuh bantuan besar, Nyonya.

Tapi sekarang... tidak ada pemimpin yang memberi perintah. Semua orang bingung. Raka sudah mengumumkan ke seluruh dunia bahwa Tuan Arkan sudah mati, dan dia yang sekarang memegang kendali. Banyak cabang organisasi yang mulai berbalik arah mendukung Raka karena takut."

Aku mengangkat wajahku, menghapus air mataku dengan kasar. Rasa sedih dan takutku perlahan berubah menjadi amarah yang membara. Arkan terluka. Arkan dikhianati.

 Arkan berjuang sendirian demi melindungi kami. Dan sekarang, saat dia terpuruk, aku harus menjadi kekuatannya. Aku tidak boleh menangis dan lemah. Aku adalah istrinya. Aku adalah Ratu Bayangan.

Aku melepaskan diri dari pegangan Damar, menegakkan tubuhku setinggi mungkin. Aku menatap Damar dengan mata yang tajam, mata yang persis sama dengan mata Arkan saat dia memimpin.

"Siapa bilang tidak ada pemimpin?" suaraku berubah dingin, rendah, namun berwibawa, membuat Damar tertegun menatapku kaget.

"Selama aku masih bernapas, selama darah Arkan masih mengalir di tubuhku, Bayangan Hitam tidak akan jatuh ke tangan pengkhianat kotor itu."

Liora berjalan keluar kamar, melangkah melewati sisa-sisa pertempuran di rumah itu. Aku melihat banyak pasukan berdarah, banyak orang terluka, mereka semua menatapku dengan pandangan bingung dan putus asa.

"Pasukan! Kumpul semua!" teriakku lantang, suaranya bergema di seluruh kediaman.

Satu per satu, pasukan yang tersisa berkumpul di aula utama. Meskipun mereka lelah dan terluka, mereka tetap berdiri tegak saat melihatku berjalan masuk dengan wajah yang serius dan penuh tekad.

Aku duduk di kursi utama Arkan, kursi yang selama ini hanya diduduki olehnya. Di belakangku, Damar berdiri dengan waspada.

"Dengar baik-baik!" ucapku tegas, menatap ratusan pasukan yang ada di sana. "Tuan Arkan belum mati! Dia sedang bertempur habis-habisan melawan pengkhianat Raka dan musuh kita! Dia terluka, dia dikepung, tapi dia belum menyerah! Dan kalian...

kalian yang mengaku setia, apa yang kalian lakukan di sini? Berdiri bingung seperti ayam kehilangan induk?!"

Suara Liora meninggi penuh kemarahan.

 "Ingatlah siapa kalian! Kalian adalah Bayangan Hitam! Kalian adalah pasukan yang ditakuti seluruh dunia! Nama kalian sendiri sudah cukup untuk membuat musuh gemetar! Dan sekarang, ada seekor ular bernama Raka yang menggigit tangan yang memberinya makan.

Ada sampah bernama Viktor yang ingin membalas dendam dengan cara pengecut!"

Aku berdiri dari kursi itu, menunjuk ke arah utara.

"Tuan Arkan sedang bertempur di sana sendirian demi nama kalian! Demi nama organisasi ini! Demi melindungiku,

istrinya! Dan sekarang giliran kalian! Kalian harus pergi ke sana! Kalian harus menyelamatkan Raja kalian! Kalian harus membuktikan bahwa kesetiaan kalian bukan sekadar kata-kata kosong!"

Suasana hening sejenak, lalu perlahan terdengar suara teriakan satu orang, lalu diikuti yang lain, hingga menjadi gemuruh raksasa.

"MATI UNTUK TUAN ARKAN!"

"HANCURKAN PENGKHIANAT!"

"SELAMATKAN RAJA KITA!"

Semangat mereka kembali menyala. Rasa malu dan amarah mendorong mereka. Aku menoleh ke arah Damar yang menatapku dengan pandangan kagum dan hormat yang luar biasa.

"Damar, kumpulkan seluruh pasukan yang tersedia. Kerahkan semua kendaraan, semua senjata berat yang kita miliki. Kita bergerak ke wilayah timur sekarang juga," perintahku tegas.

"Baik, Nyonya. Tapi... Nyonya sebaiknya tetap di sini. Tempat ke sana sangat berbahaya," tolak Damar ragu.

Aku menatapnya tajam, sorot mata yang sama persis dengan Arkan saat dia marah.

 "Aku akan ikut. Aku akan pergi ke sana. Aku akan berdiri di samping suamiku, baik saat dia menang maupun saat dia terpuruk. Tidak ada bantahan, Damar. Itu perintah."

Damar menelan ludah, lalu membungkuk hormat. "Siap, Nyonya. Saya mengerti."

Beberapa saat kemudian, iring-iringan kendaraan militer dan mobil mewah penuh pasukan bergerak keluar dari gerbang kediaman kami.

 Kali ini, aku yang memimpin barisan itu. Aku duduk di mobil utama, di sebelah Damar. Di tanganku, aku memegang senjata yang sama yang biasa dibawa Arkan. Hatiku penuh ketakutan, penuh rasa khawatir akan keadaan Arkan, tapi aku tidak boleh mundur.

Di gudang tua di wilayah timur itu, Arkan bersandar di dinding dingin, napasnya tersengal. Bahu dan kakinya berdarah karena peluru musuh.

Di sekelilingnya hanya tersisa lima orang pasukan setia yang juga terluka parah. Musuh mengepung mereka rapat, menunggu

1
Dhatu Lukita
aku kasih ⭐ 5 y biar semangat
Tri Wahyuni: Terimakasih
total 1 replies
Dhatu Lukita
halo thor, ceritanya menarik yaa😍.
jangan lupa mampir ya thor 💗, tinggalin jejak oke 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!