NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik-Detik Menuju Batas Kesabaran Terakhir

Matahari sore telah tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala kota, meninggalkan semburat warna merah keunguan yang perlahan ditelan oleh kegelapan malam yang pekat. Hujan gerimis mulai turun membasahi jalanan aspal, menciptakan pantulan cahaya lampu merkuri yang berpendar samar. Alessa berjalan terhuyung-huyung menyusuri gang-gang sempit di dekat area pelabuhan tua. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, tetapi karena kain gorden yang melilit punggungnya kini telah basah kuyup oleh keringat bercampur rembesan darah baru. Setiap langkah kaki yang diayunkannya terasa laksana hantaman palu gada tepat di atas luka sabetan yang menganga di balik kemeja biru pudarnya.

​Waktu menunjukkan pukul tujuh malam lewat empat puluh lima menit. Jam digital tak kasat mata di dalam kepala Alessa berdetak semakin kencang, memancarkan sinyal darurat yang membuat jantungnya bertalu-talu tak keruan. Hanya tersisa lima belas menit sebelum tenggat waktu jahanam yang ditetapkan oleh Rian tiba. Lima belas menit sebelum monster itu menyadari pelariannya dari rumah, dan lima belas menit sebelum para preman pelabuhan datang membawa rantai untuk menyeretnya ke dalam kegelapan yang sesungguhnya.

​Uang seikat dari Ko Alung tergenggam erat di dalam saku kemejanya. Uang itu adalah tiket kebebasannya, namun di saat yang sama menjadi beban moral yang mengingatkannya bahwa dia kini benar-benar sebatang kara, berlari dari satu-satunya tempat yang pernah dia sebut sebagai rumah. Rasa kehilangan yang teramat mendalam kembali mencengkeram dadanya tanpa ampun, berkolaborasi dengan rasa sakit fisik yang melumpuhkan untuk meruntuhkan kewarasannya.

​Alessa berhenti sejenak, bersandar pada dinding batako sebuah gudang tua yang berlumut. Dia mendongak, membiarkan rintik hujan membasahi wajahnya yang lebam, mencoba membasuh rasa panas yang membakar kulit wajahnya akibat sisa-sisa air mata dan bedak yang telah luntur total.

​“Kenapa dunia ini luas sekali, tapi tidak ada satu pun sudut yang aman untukku?” batin Alessa meratap, suaranya tercekat di tenggorokan. “Aku sudah memberikan segalanya, aku sudah menahan semua makian dan pukulan selama berbulan-bulan. Kenapa batas kesabaranku harus diuji sampai sehancur ini?”

​Kesedihan itu bergolak, lalu dengan cepat memicu letupan amarah yang luar biasa pekat di dalam hatinya. Amarah kepada Rian yang tega menghancurkan ikatan darah di antara mereka demi seonggok uang judi, amarah kepada takdir yang merenggut kedua orang tuanya terlalu cepat, dan amarah kepada tubuhnya sendiri yang terasa begitu ringkih dan tak berdaya di saat dia sangat membutuhkan kekuatan. Rasa frustrasi yang menumpuk selama berhari-hari kini telah mencapai puncaknya, mengkristal menjadi sebuah keputusasaan yang berbahaya. Alessa merasa berada di ujung tebing; satu dorongan kecil lagi, dan dia akan jatuh ke dalam kegilaan yang absolut.

​Namun, tepat ketika air matanya hendak tumpah lagi dan mengundang depresi yang melumpuhkan, sekring pertahanan psikologis aneh di dalam otaknya kembali memercikkan api. Tameng sarkasme radikal miliknya mendadak aktif, memutus untaian melankolis yang hampir saja membuatnya menyerah di gang gelap itu.

​Alessa membuka matanya, menatap sepasang sepatu kanvasnya yang kini dipenuhi lumpur hitam dan air selokan yang menggenang. Dia mengembuskan napas panjang dengan suara mendengus, lalu memaksakan seulas senyum getir di bibirnya yang pecah.

​"Luar biasa," gumam Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi. "Skenario hidup gue malam ini bener-bener dapet skor sebelas dari sepuluh untuk kategori drama klise paling menderita. Hujan gerimis? Ada. Gang gelap berlumut? Ada. Punggung berdarah-darah pakai korset gorden jendela? Ada banget. Kurang ada musik latar biola yang sedih saja ini mah, biar penonton di bioskop pada nangis berjamaah."

​Dia mencoba menegakkan tubuhnya, yang langsung disambut oleh sengatan ngilu luar biasa di punggungnya, membuat Alessa refleks mengumpat pelan dalam bahasa Italia yang diajarkan ibunya.

​"Porco diavolo... Sakitnya konsisten banget, gak ada diskon sama sekali," desis Alessa sambil memegangi pinggangnya. "Gue rasa malaikat pencatat amal buruk Kak Rian malam ini lagi lembur parah sampai harus pakai kalkulator ilmiah buat menghitung semua dosa penyiksaan dia ke gue. Kalau dihitung pakai kurs rupiah, dosa dia mungkin sudah setara sama utang luar negeri negara berkembang."

​Sarkasme konyol itu, sekonyol apa pun kedengarannya di tengah malam yang mencekam, berhasil mengalirkan kembali pasokan adrenalin ke dalam pembuluh darahnya. Menertawakan penderitaan adalah cara Alessa untuk merebut kembali kendali atas dirinya sendiri; sebuah pernyataan bahwa takdir boleh saja mencabik-cabik fisiknya, tetapi takdir tidak akan pernah diizinkan untuk membunuh selera humor gilanya yang bebas.

​Dengan sisa kekuatan kosmik yang tersisa dari tekad dinginnya, Alessa kembali melangkah. Dia harus menuju ke terminal bus utama yang berada di pinggir kota. Hanya ada satu masalah besar: jalan tercepat menuju terminal adalah dengan melewati jalan protokol yang berada tepat di depan area lokalisasi pelabuhan—tempat di mana anak buah Rian dan para penagih utang biasanya berkumpul untuk minum-minum.

​Saat Alessa melangkah mendekati persimpangan jalan protokol, matanya menangkap siluet tiga orang pria berbadan besar yang berdiri di bawah kanopi warung remang-remang. Salah satu dari mereka mengenakan jaket kulit hitam yang sangat Alessa kenal. Itu adalah salah satu preman yang sore tadi ikut menyeretnya di terminal. Mereka sedang merokok sambil sesekali memeriksa jam tangan mereka, bersiap-siap untuk bergerak menuju rumah Alessa.

​Jantung Alessa berdegup kencang laksana jaran kepang. Dia segera memundurkan langkahnya, bersembunyi di balik tumpukan palet kayu bekas di tepi gang. Napasnya memburu, memicu rasa sesak di dadanya karena lilitan kain gorden yang terlalu ketat.

​"Sial," umpat Alessa dalam hati. "Waktu tinggal sepuluh menit lagi, dan para panitia penjemputan neraka itu sudah bersiap-siap di depan. Kalau gue nekat lewat jalan utama, itu sama saja kayak gue menyerahkan diri secara sukarela dan minta dibungkus pakai pita kado."

​Pikiran Alessa berputar cepat mencari jalan keluar. Satu-satunya rute alternatif adalah memutar melewati kompleks pergudangan tua yang sepi dan gelap merayap, jalur yang terkenal rawan karena tidak memiliki lampu penerangan sama sekali dan jalannya hancur berlubang. Tapi, dia tidak punya pilihan lain. Batas kesabarannya telah habis; dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi barang dagangan untuk melunasi utang judi kakaknya.

​Alessa berbalik, memilih jalur memutar yang gelap gulita. Hujan gerimis kini berubah menjadi sedikit lebih deras, membasahi kain kemejanya secara menyeluruh, membuat balutan kain gorden di punggungnya terasa semakin berat dan menekan lukanya dengan kejam. Rasa perihnya kini telah bermutasi menjadi rasa kebas yang menjalar hingga ke ujung jemari tangannya—sebuah pertanda bahwa tubuh fisiknya telah mencapai batas ambang pertahanan tertinggi.

​Sambil meraba dinding-dinding seng gudang dalam kegelapan, Alessa terus melangkah maju. Setiap kali kakinya terperosok ke dalam lubang jalan yang tergenang air, tubuhnya berguncang, dan rasa sakit di punggungnya kembali menusuk laksana disiram air cuka. Air mata keputusasaan dan amarah kembali bercampur dengan air hujan di wajahnya.

​"Gue gak boleh pingsan di sini..." bisik Alessa pada dirinya sendiri, suaranya terdengar parau dan gemetar di tengah deru angin malam. "Gue sudah makan mi instan kedaluwarsa, gue sudah dapet sarapan cacian makian, gue sudah ngerasain spa belerang antiseptik di rumah mandi, dan gue sudah bikin komedi di toko roti Ko Alung. Semua penderitaan itu bakal jadi sia-sia kalau gue milih mati konyol di gang becek begini."

​Dia memaksakan otaknya untuk terus memproduksi humor gelap demi menjaga kesadarannya yang mulai timbul tenggelam akibat vertigo.

​"Lagipula, kalau gue pingsan di sini dan dimakan tikus gudang, itu bener-bener akhir cerita yang gak estetik banget," gumam Alessa dengan tawa getir yang tertahan. "Penulis skenario hidup gue pasti bakal dapet kritik pedas dari kritikus film karena bikin akhir cerita yang antiklimaks. Minimal gue harus pingsan di tempat yang agak mewah dong, biar dapet rating tinggi."

​Tepat pada pukul delapan malam, suara sirine pelabuhan berbunyi nyaring di kejauhan, menandakan pergantian giliran kerja para buruh kapal. Bagi Alessa, suara sirine itu terdengar seperti gong pembuka dari babak pelariannya yang sesungguhnya. Detik-detik menuju batas kesabaran terakhirnya telah resmi terlewati. Dia bukan lagi Alessa yang pasrah menerima setiap pukulan ikat pinggang Rian di sudut kamar; dia kini adalah seorang pelari yang mempertaruhkan seluruh sisa hidupnya demi sebuah kemerdekaan.

​Di ujung gang pergudangan, cahaya lampu jalan raya terminal mulai terlihat memancar samar. Terminal bus tinggal berjarak beberapa ratus meter lagi di depannya. Namun, tepat ketika Alessa hendak melangkah keluar dari kegelapan gudang menuju area terang terminal, sebuah suara langkah kaki yang berat dari arah belakang seketika membuat seluruh darah di tubuhnya membeku.

​"Heh. Ternyata kamu di sini, anak haram."

​Suara parau yang sangat dia kenal itu terdengar begitu dekat, memecah kesunyian malam di antara deru hujan. Alessa membeku, perlahan membalikkan tubuhnya yang gemetar. Di sana, berdiri di bawah guyuran hujan dengan sepasang mata yang menyala penuh amarah gila dan tangan yang memegang sebilah balok kayu, adalah Rian. Kakaknya telah berhasil melacak jalurnya.

​Melihat siluet monster itu, rasa takut yang sempat hilang kini kembali mencoba menguasai hati Alessa. Namun, amarah yang pekat dan dingin segera mengunci rasa takut itu di dalam laci terdalam pikirannya. Batas kesabaran Alessa telah habis secara mutlak. Dia menatap Rian lurus-lurus, tangan kanannya diam-diam meraba saku kemeja biru pudarnya, menggenggam erat seikat uang dari Ko Alung seolah-olah itu adalah senjata rahasia miliknya. Malam penentuan telah tiba, dan Alessa bersiap untuk melakukan perlawanan terakhirnya, tidak peduli seberapa banyak darah lagi yang harus tumpah di atas aspal jalanan yang dingin.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!