NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Panggung Akademik

Kilat lampu kamera menyambar berulang kali dari berbagai sudut, menembakkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Sisa hujan badai semalam seolah masih menempel pada ujung sepatu pantofel hitamnya. Udara dingin dari pendingin ruangan aula tidak mampu mengusir hawa mencekam yang masih membalut kulit punggungnya.

Ingatan tentang sepasang lampu sorot dari mobil hitam misterius itu masih berkedut di balik kelopak matanya. Semalam, ia nyaris tertangkap oleh algojo suruhan. Ia terpaksa memecahkan kaca jendela belakang gubuk Kartika, merayap menembus lumpur pekat dan belukar berduri murni bermodal insting bertahan hidup. Darah segar sempat mengucur dari telapak tangannya yang tergores beling tajam.

Pagi ini, luka sayatan itu telah tertutup perban rapi dan tersembunyi di balik lengan jas almamaternya. Ia melangkah tegak menyusuri karpet merah. Panggung akademik ini adalah medan perangnya, dan ia menolak mundur satu sentimeter pun.

Di sudut ruangan dekat pilar marmer raksasa, siluet Aaron Jayanegara berdiri tegak. Jas hitam kasualnya menyamarkan postur tubuhnya yang siaga penuh. Pria itu menyilangkan lengan di depan dada, namun ujung matanya terus bergerak memindai setiap wajah asing di dalam aula. Jari-jari Aaron mengetuk pelan lengannya sendiri, menghitung jumlah petugas keamanan dan memetakan jalur evakuasi tercepat.

Aaron memastikan tidak ada ancaman fisik yang berani mendekati Savira hari ini. Urusan adu domba sosial dan manipulasi publik adalah panggung Savira sepenuhnya. Aaron menghargai batas itu. Ia bertugas memastikan Savira tetap bernapas, sementara Savira bertugas memenangkan perang mentalnya sendiri.

Langkah Savira beresonansi pelan di atas lantai kayu panggung. Jaraknya tinggal tiga meter dari podium utama tempat dekan fakultas menunggunya.

Tiba-tiba, Nadia Dharma melangkah maju dari sisi kiri panggung. Gadis itu memotong jalur Savira secara agresif namun dengan senyum manis yang terlukis sangat sempurna. Gaun sutra merah muda membalut tubuh ramping Nadia, membuatnya memancarkan aura putri keraton yang tidak pernah tersentuh debu jalanan.

Nadia merebut mikrofon dari tangan pembawa acara sebelum pria berjas rapi itu sempat bereaksi menahan posisinya.

"Maaf, saya harus mengatakan sesuatu yang penting untuk kakak saya," suara Nadia mengalun lembut menembus pengeras suara, memancing keheningan mendadak di seluruh penjuru aula.

Nadia menatap Savira dengan sorot mata penuh keprihatinan palsu. Tangannya yang bebas meremas dadanya sendiri seolah menahan kesedihan yang mendalam.

"Savira ini memang wanita yang sangat mandiri. Dia terbiasa hidup menyendiri, membangun tembok es yang tinggi di dunianya sendiri." Mata Nadia menyapu deretan kursi penonton, memastikan semua tokoh penting mendengarkan suaranya. "Terkadang dia terlalu sibuk bereksperimen sampai menolak semua bentuk perhatian dari keluarga kami. Papa sering duduk sendirian di meja makan, menunggu Savira yang tidak pernah mau pulang untuk sekadar menyapa keluarganya."

Gumam rendah mulai merambat cepat di antara ratusan tamu undangan. Bisikan tajam tentang anak angkat yang tidak tahu diri dan melupakan daratan mulai meracuni udara aula. Beberapa wartawan gosip bahkan mulai sibuk merekam drama keluarga konglomerat ini lewat ponsel mereka.

Savira membiarkan kata-kata racun itu menggantung bebas di udara. Ia tidak meledak marah. Otot wajahnya tetap rileks tanpa perlawanan yang sia-sia.

Ujung jarinya masuk perlahan ke dalam saku jas almamater, meraba bungkus plastik permen stroberi yang belum sempat ia buka sejak pagi. Ia membayangkan rasa manis buatan itu pecah di lidahnya, berjuang keras menekan rasa mual yang bergejolak di dasar lambungnya. Tangan yang sama kemudian beralih menyentuh patahan jepit rambut kayu beraroma melati peninggalan ibu kandungnya.

Pinggiran tajam kayu rapuh itu menekan kulit ujung jarinya. Rasa sakit fisik yang ringan itu menjangkar akal sehatnya agar tetap berpijak pada kenyataan. Nadia tidak bertindak karena murni jahat. Wanita di depannya ini sedang berjuang mati-matian melawan delusi ketakutannya sendiri, ngeri membayangkan posisinya sebagai putri utama akan segera dirampas kembali.

Aroma parfum mawar yang menyengat dari tubuh Nadia menguar kuat. Bau artifisial itu mencoba menelan aroma melati samar yang menguar alami dari pergelangan tangan Savira.

Rektor universitas melangkah maju, memutus ketegangan konyol itu dengan langkah panjang dan pasti. Pria paruh baya berjas abu-abu itu mengambil alih mikrofon dari tangan Nadia secara paksa dan halus, tidak memberikan sedikit pun celah untuk bantahan.

"Keluarga Anda pasti memiliki dinamika dan cara pandangnya sendiri, Nona Nadia." Pria tua itu membetulkan letak kacamata bacanya, menatap lurus ke arah gadis bergaun merah muda tersebut. "Tapi hari ini, Savira tidak membutuhkan nama besar keluarga siapa pun untuk memijakkan kakinya di atas panggung ini."

Layar proyektor raksasa di belakang podium menyala terang benderang secara mendadak. Deretan angka, cetak biru algoritma pelacakan, dan simulasi pemetaan data bergerak cepat memenuhi layar. Visual kompleks itu membungkam seluruh bisikan miring di bangku penonton seketika.

"Savira baru saja memecahkan struktur enkripsi pemetaan aliran dana tak kasat mata yang gagal diselesaikan oleh seluruh tim riset nasional selama tiga tahun terakhir." Suara rektor menggelegar, memenuhi setiap sudut ruangan dengan otoritas absolut. "Sistem yang ia rancang mampu melacak anomali transaksi korporasi berskala raksasa hanya dalam hitungan menit."

Savira berdiri tenang menikmati pemandangan di depannya. Ia sengaja memfokuskan otaknya pada topik riset ini sejak awal semester. Algoritma pelacakan ini adalah pedang tajam yang ia asah diam-diam untuk menguliti aliran dana kotor milik perusahaan Dharma Group di masa depan.

"Atas pencapaian ini," lanjut sang Rektor tanpa jeda, mengabaikan eksistensi Nadia sepenuhnya, "Mulai bulan depan, Savira secara resmi terpilih sebagai perwakilan tunggal negara ini untuk simposium sains global di benua Eropa."

Keheningan total menguasai aula selama dua detik penuh. Setelah itu, tepuk tangan bergemuruh menyapu ruangan sepuluh kali lipat lebih keras dari sebelumnya. Para dekan, investor independen, dan jajaran akademisi berdiri dari kursi mereka memberikan penghormatan.

Wajah Nadia memucat pasi. Darah seolah tersedot habis dari wajah cantiknya tanpa sisa.

Tangan Nadia mencengkeram sisi gaun sutranya kuat-kuat hingga kain mahal itu kusut berantakan. Bibir merah mudanya bergetar hebat mencoba mempertahankan senyum manisnya, namun sorot matanya memancarkan kepanikan absolut. Seluruh lampu sorot dan lensa kamera kini berbalik arah menyorot Savira, mengabaikan sang putri kesayangan yang kini terlihat seperti badut salah panggung.

Nadia mundur satu langkah dengan gerakan lambat. Sepatu hak tingginya nyaris terkilir di atas papan kayu. Napasnya terputus-putus, seolah udara di dalam aula ini mendadak menipis dan mencekik rongga dadanya.

Ilusinya sebagai pusat tata surya hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri. Di atas panggung ini, gelar putri keluarga Dharma tidak memiliki nilai tukar sekecil apa pun. Ia tidak memiliki pelindung, tidak memiliki karya untuk dipamerkan, dan yang paling mengerikan, ia tidak lagi memiliki perhatian dari massa.

Tepuk tangan masih bergemuruh memekakkan telinga. Suara riuh ini seharusnya menjadi melodi kemenangan yang memabukkan bagi mahasiswi mana pun. Namun bagi Savira, perayaan ini terasa sangat hambar.

Ingatannya justru terlempar mundur ke lima belas tahun yang lalu. Saat ia masih menjadi gadis kecil rapuh yang berlari kencang membawa kertas ujian matematika dengan nilai sempurna. Ia berdiri lama di ambang pintu ruang kerja Wijaya, berharap mendapatkan satu usapan hangat di puncak kepalanya. Namun pria itu hanya menyesap teh chamomile-nya perlahan, menatap kertas ujian Savira dengan pandangan kosong, sebelum beralih menggendong Nadia yang menangis keras karena krayonnya patah.

Savira menelan ludah, menyingkirkan rasa getir di pangkal lidahnya. Dulu ia adalah anjing penjaga yang kelaparan akan validasi. Sekarang, ia sudah berhenti mengemis. Ia akan memakan tuannya hidup-hidup.

Savira memutar pandangannya ke arah lautan manusia di bawah panggung. Tangan kirinya menyelusup lebih dalam ke saku jas. Ujung jarinya meraba permukaan sebuah tabung kaca dingin seukuran kelingking.

Di dalam tabung kedap udara itu, terbaring aman sehelai rambut cokelat panjang milik Nadia. Rambut itu adalah hasil rampasannya dari sisir mahal di meja rias ruang ganti beberapa puluh menit yang lalu. Malam ini, tabung kecil itu akan mendapat gilirannya terbongkar di bawah sorotan lampu meja laboratorium forensik swasta. Kebohongan keluarga ini bisa bertahan belasan tahun, tapi struktur DNA tidak akan pernah bisa berbohong.

Dada Savira berdenyut teratur. Ia menundukkan pandangannya, menembus kerumunan orang yang masih berdiri bertepuk tangan, langsung mengarah pada deretan kursi VIP.

Matanya mencari satu-satunya sosok yang paling menentukan arah kewarasannya. Pria yang membiarkannya kelaparan secara emosional, pria yang menjadikannya tameng hidup tanpa belas kasihan, pria yang menyajikan teh hangat namun menyimpan pisau beracun di balik sikap sopannya.

Wijaya Dharma duduk di sana. Jas hitamnya melekat sempurna tanpa lipatan sedikit pun. Pria paruh baya itu meletakkan cangkir teh porselennya ke atas tatakan dengan gerakan perlahan dan tanpa cela. Tidak ada senyum bangga terukir di wajahnya. Tidak ada kilat kemarahan atau kekecewaan. Hanya kekosongan kaku yang mampu membekukan darah siapa saja yang menatapnya.

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!