Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelas
Kepalanya masih terasa begitu berat dan tubuhnya terasa sakit. Aruna tidak tahu apa yang terjadi karena ia bahkan tak sanggup untuk membuka kedua matanya saat ini. Namun, ia bisa dengan jelas mendengar suara-suara di sekitarnya.
Siapa?
"Bagaimana keadaannya?"
Bukankah itu suara Elvio? Kenapa pria berhati dingin itu berada di kamarnya?
"Suhu tubuh Nona begitu tinggi. Nona juga kehilangan banyak berat badan serta lambungnya yang luka. Melihat kondisinya, Nona mengalami stress dan tekanan berat hingga membuatnya seperti ini, Tuan. Tubuhnya terlalu kecil untuk menanggung semua rasa sakitnya hingga membuatnya tak sadarkan diri," jelas seorang Dokter pribadi keluarga Adijaya.
Elvio terkejut mendengar penuturan pria itu, bagaimana mungkin anak sekecil ini sudah mengalami semua hal berat itu? Ia bahkan tidak menyadari perubahan tubuh Aruna yang memang nampak terlihat kurus.
"Aruna akan baik-baik saja, kan?" tanyanya dengan nada cemas.
"Saran saya, Nona harus istirahat di rumah minimal 2 minggu untuk pemulihan dan pastikan juga keadaan lingkungan tidak membuatnya stress dan tertekan. Anda tak perlu khawatir Tuan Elvio, Nona Aruna akan baik-baik saja jika anda mengikuti saran saya. Pastikan juga Nona memakan makanan yang lembut selama masa pemulihannya karena kondisi lambungnya."
"Baiklah."
Huh? Pria itu cemas padanya?
Jangan bercanda.
Setelah semua hal kejam yang ia lakukan padanya selama ini?
Aruna pasti hanya bermimpi.
Ya, ini pasti mimpi.
Namun, Aruna tak bisa mendengar apa pun lagi karena ia langsung terlelap begitu saja ketika sesuatu menembus kulitnya dan mengalir masuk di nadinya. Sepertinya itu obat yang di suntikkan padanya.
***
Esok harinya, Aruna membuka kedua matanya perlahan dan melihat sekeliling. Ini kamarnya, kenapa ia bisa berada di tempat ini? Bukankah terakhir kali ia sedang berdiri di taman bunga dan menikmati pemandangannya?
Ah, ia bertemu dengan Abimanyu.
Apakah itu sungguhan?
Aruna meringis ketika ia mencoba bangun duduk dengan susah payah, tubuhnya benar-benar sakit begitu juga bagian perutnya. Bahkan kepalanya masih terasa agak pening. Penampilannya pasti buruk sekali ia bertaruh.
Apa Abimanyu yang membawanya ke sini?
Yah, setidaknya pria itu masih memiliki hati dan tidak meninggalkannya begitu saja di tengah-tengah taman bunga.
Cklek.
"Oh! Nona! Anda baik-baik saja?" Mia memekik kaget saat melihat Aruna sudah sadar dan tengah terduduk.
"Kenapa? Apa kau pikir aku mati?"
"Nona, bukan itu maksud saya. Anda tertidur hampir seharian dan membuat Tuan besar begitu cemas," ucap Mia.
Sebelah alis Aruna naik, "Mencemaskanku? Tch, jangan bercanda."
"Saya tidak berbohong, Nona. Ketika Tuan Muda Abimanyu membuat keributan semalam dan menyuruh Kepala pelayan Sammy memanggil Dokter segera, Tuan Besar langsung bergegas keluar kamarnya dan berlari menuju kamar anda. Kami semua cemas saat anda tak kunjung sadar, Nona," jelas Mia.
Ha?
Aruna berasa menjadi orang tolol. Telinganya tak salah dengar, kan?
Mereka yang tak pernah menginginkan kehadirannya menjadi cemas saat ia tak sadarkan diri?
Woah! Apa-apaan ini?
Setelah semua hal kejam itu, kini mereka malah mencemaskannya seolah tidak pernah terjadi apa pun?
Tanpa sadar Aruna terkekeh dan membuat Mia kebingungan.
Lucu sekali, astaga!
Tuhan pasti sedang senang mempermainkan takdir dan perasaannya begini.
"No-nona."
Tok..tok!
"Nona, ini saya Sammy."
"Masuk," jawab Aruna.
Cklek.
Ketika pintu terbuka, Sammy masuk sembari mendorong troli makanan di mana terdapat sarapan Aruna yang berupa bubur dengan susu hangat di sana.
"Sarapan anda, Nona."
Aruna tidak merespon dan membiarkan Sammy mempersiapkan meja kecil di atas ranjang dan meletakkan bubur itu di hadapannya. Sengaja tidak ia tolak karena ia tak memiliki tenaga untuk berbicara lagi. Lagipula ia butuh tubuh yang sehat dan kuat jika ingin cepat-cepat tumbuh dewasa dan pergi dari tempat ini.
Tanpa banyak kata Aruna menyendok bubur hangat itu ke dalam mulutnya dan menelannya pelan. Kemudian ia mengernyit ketika perutnya bergejolak hingga Aruna kembali memuntahkan bubur yang baru ia makan sesuap tadi.
"Nona!" Mia memekik dan langsung dengan cepat dan sigap membersihkan makanan juga muntahan di sana.
"Saya akan memanggil Dokter," ucap Sammy yang langsung bergegas keluar begitu saja. Aruna bahkan tak ada tenaga untuk melarangnya karena ia tak ingin salah satu dari anggota keluarga Adijaya datang melihatnya. Akan lebih bagus jika mereka mengabaikan keberadaannya seperti dulu saja karena ia tidak terbiasa menerima afeksi dari mereka yang tak pernah ia rasakan sama sekali.
Aruna sudah berganti dengan pakaian baru di bantu oleh Mia ketika Dokter datang dan kembali memeriksanya.
"Lambung anda luka, jadi anda harus perlahan-lahan mengunyah bubur, Nona. Jangan sampai membuat lambung anda kaget dan berakhir anda memuntahkan segalanya."
"Aku mengerti," jawab Aruna seadanya. Namun, matanya melirik keberadaan Abimanyu yang memperhatikannya sembari menyender di dinding kamarnya.
"Baiklah, hubungi saya lagi jika kondisi anda masih sama, " ucap sang Dokter yang langsung pamit pergi setelah meninggalkan beberapa obat tambahan di atas meja.
Setelahnya, Aruna hanya diam dan tak bermaksud untuk menegur Abimanyu. Kenapa ia harus melakukannya? Dirinya sedang sakit saat ini dan Aruna tak butuh kehadirannya atau lainnya.
"Kalau ingin bunuh diri, cari cara yang lain. Kau menyusahkan semua orang karena tingkahmu," ketus Abimanyu santai.
Hah! Sekarang ia menuduhnya ingin bunuh diri. Bah! Biar pun hidupnya menyedihkan tapi Aruna masih ingin hidup dan menikmatinya.
"Tapi aku senang karena datang tepat waktu," sambungnya lagi.
Aruna jadi cengo dengan perubahan Abimanyu.
"Kau gila?" ucap Aruna tiba-tiba
Abimanyu mengerjap sejenak, "Apa? Hey! Apa-apan itu pertanyaanmu setelah aku menolongmu?"
"Kenapa? Bukankah kau membenciku sama seperti lainnya? Seharusnya kau biarkan saja aku terkapar menyedihkan di taman," ucap Aruna datar.
Sebelah alis Abimanyu naik sebelum pria itu tertawa terbahak-bahak kemudian ia terdiam.
"Apa maksudmu? Sejak kapan aku membencimu?'
"Bukankah sudah jelas?"
Abimanyu terdiam sejenak lalu menarik kursi dan terduduk di dekat ranjang. Wajahnya menyunggingkan senyuman tipis namun mempesona. Gen keluarga Adijaya memang hebat sekali. Lihatlah semua cetakkan sempurnanya yang tanpa cela.
"Well, aku tidak menyukaimu bukan berarti aku membencimu. Aku memutuskan pergi dari rumah saat Ayah mengadopsimu karena aku akan selalu sedih mengingat kematian Aaira saat melihatmu. Aku tidak membencimu, Aruna. Aku hanya belum siap bertemu denganmu," jelas Abimanyu.
Lalu kenapa saat ia meminta tolong dulu, mengapa mengabaikannya?
Mengapa membiarkannya kesakitan dan meregang nyawa seorang diri?
Mengapa meninggalkannya?
"Kau pasti tertekan. Maafkan aku, Aruna," ucap Abimanyu pelan.
"Semudah itu meminta maaf, akan sangat menyenangkan jika semua kesalahan bisa terselesaikan hanya dengan kata maaf saja," gumam Aruna.
Tak di sangka Abimanyu malah menggenggam jemari kecil Aruna dengan lembut.
"Aku tahu mungkin ini terasa terlambat bagimu, tapi bisakah kau memberikanku kesempatan lagi, Aruna?"
"Untuk apa?" suara Aruna terdengar begitu dingin.
Abimanyu menundukkan kepalanya sejenak sebelum mendongak dan menatap Aruna.
"Saat melihatmu pingsan di taman, aku tak bisa berpikir apa pun. Aku panik dan berlari seperti orang kesetanan di pagi buta sembari menggendongmu, membangunkan siapa saja agar memanggilkan dokter. Aku ketakutan melihat kondisimu, Aruna. Aku bahkan tak menyangka akan sepanik itu. Aku takut kehilanganmu seperti aku kehilangan Aaira. Aku tahu sulit bagimu memaafkanku, tapi aku harap kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Apa aku perlu sekarat dulu untuk merubah hatimu? Maaf, kurasa aku tak bisa," jawab Aruna dan membuat Abimanyu menunduk sedih, "Mungkin nanti, entah kapan," lanjutnya lagi, kali ini Abimanyu mendongak dengan senyuman lebarnya.
"Tak apa. Tak harus sekarang, aku akan menunggu. Setidaknya kau tidak menolak afeksi yang kuberikan padamu nanti, Aruna," ucap Abimanyu semangat.
"Kalau begitu keluarlah, aku ingin istirahat."
"Aku akan keluar kalau kau memanggilku Kak Abi," oceh Abimanyu semangat dengan senyuman lebar. Aruna sampai mengernyit dan menatapnya tak mau.
Agak ngelunjak, ya.
"Aku takkan kemana-mana kalau begitu."
"Bukankah sudah kubilang tidak sekarang?"
Abimanyu tersneyum lebar, "Aku tahu tapi aku hanya ingin mendengarmu memanggilku begitu."
Aruna tidak mengerti dengan semua perubahan ini. Semua yang terjadi saat ini seolah berbanding terbalik di masa lalunya.
Ada apa?
Apakah ini semacam ujian untuknya?
Tapi ia terlalu pening untuk sekedar berfikir dan terus meladeni Abimanyu.
"Kak Abi, bisakah kau keluar? Aku ingin tidur," ucap Aruna terpaksa.
Abimanyu tersenyum lebar, ia berdiri dan mengecup kening Aruna lembut.
"Baiklah, selamat tidur adikku," ucap Abimanyu lalu berjalan keluar dari kamar Aruna setelahnya.
"Otaknya pasti terbentur sesuatu," dengus Aruna.
Namun, apa Abimanyu benar-benar sudah menerimanya?
Bagaimana jika hal itu merupakan akal-akalan saja seperti Antares yang selalu mencoba menjahilinya.
Aruna tak mau memikirkannya dan memilih kembali merebahkan tubuhnya. Ia menutup kedua matanya dan mulai terlelap perlahan-lahan mungkin karena efek obat yang diberikan.
Anehnya, samar-samar ia melihat kehadiran Elvio di sana sedang melihatnya dengan raut wajah yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Kenapa Elvio menatapnya sesendu itu? Bukankah pria itu membencinya? Seharusnya ia membiarkan saja dirinya meregang nyawa.
Lalu kenapa?
Kenapa wajah pria itu seperti ingin menangis?
Kemudian Aruna benar-benar terlelap.