Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Pindah ke Pradana Group
"Mustahil." Kirana mengernyit sambil menatap layar komputernya.
Jemarinya bergerak pada mouse untuk memastikan tidak salah membaca isi email tersebut namun setelah membacanya untuk ketiga kalinya, hasilnya tetap sama. Nama Rendra memang tertulis jelas sebagai karyawan yang mengajukan mutasi ke Pradana Group.
"Kamu menemukan harta karun?" Gavin berhenti di depan meja sambil membawa gelas kopi.
"Tidak." Kirana menutup email itu.
"Kalau begitu kenapa wajahmu seperti baru melihat hantu?" Gavin melirik layar monitor.
"Saya baik-baik saja." Kirana segera membuka dokumen lain.
"Itu kalimat favorit orang yang tidak baik-baik saja." Gavin menarik kursi kosong lalu duduk.
"Ada yang bisa saya bantu?" Kirana menatapnya datar.
"Bos menyuruh saya mengambil laporan." Gavin mengulurkan tangannya.
"Laporan yang mana?" Kirana membuka laci meja.
"Laporan apa saja." Gavin menyandarkan tubuh ke kursi. "Sebenarnya saya hanya disuruh memastikan kamu belum melempar komputer ke siapa pun."
"Tuan Aiden terlalu banyak waktu luang."
"Bos memang begitu." Gavin menerima map yang diberikan Kirana. "Kalau tidak mengganggu hidup orang lain, beliau tidak tenang."
Kirana segera memberikan sebuah map pada Gavin dan setelah itu Gavin beranjak menuju keruangan Aiden.
.
"Mana laporannya?" Aiden mengangkat kepala saat Gavin masuk ke ruangannya.
"Ini." Gavin meletakkan map di meja.
"Lalu?" Aiden membuka dokumen tersebut.
"Lalu saya punya kabar."
"Kenapa setiap kali kamu bilang begitu, hidup saya menjadi lebih sulit?" Aiden langsung menghela napas.
"Karena saya berbakat." Gavin duduk di depan meja.
"Keluarkan."
"Kirana sedang kesal."
"Itu kabar lama." Aiden menatap sahabatnya.
"Bukan." Gavin menggeleng cepat. "Kali ini lebih menarik."
"Aku mulai takut."
"Suaminya mengajukan mutasi ke sini."
Aiden menghentikan gerakan tangannya, ruangan itu mendadak sunyi.
"Kamu bercanda?" Aiden akhirnya bersuara.
"Saya berharap begitu."
"Apa dia gila?" Aiden menutup map perlahan.
"Saya tidak berani mendiagnosis."
.
Siang harinya, Kirana melangkah ke ruang CEO, memeluk beberapa map di tangannya.
"Tuan." Kirana berhenti di depan meja CEO sambil membawa beberapa berkas.
"Hm?" Aiden segera menyimpan ekspresinya.
"Kontrak kerja sama untuk ditandatangani."
"Kamu sudah membaca semuanya?" Aiden menerima berkas itu.
"Sudah."
"Kalau begitu pasti aman."
Kirana tidak menjawab.
Aiden menatap wanita itu beberapa saat, biasanya Kirana akan langsung pergi setelah menyerahkan dokumen namun kali ini ia tetap berdiri di tempat.
"Ada yang ingin kamu katakan?" Aiden meletakkan pulpennya.
"Saya menerima email dari HR." Kirana menggenggam map yang dibawanya.
"Aku juga." Aiden bersandar pada kursinya.
"Tuan sudah tahu?" Kirana langsung mengangkat pandangan.
"Baru beberapa menit lalu."
"Kalau mutasi itu disetujui..."
"Kamu tidak nyaman?" Aiden menyelesaikan kalimatnya.
Kirana terdiam, jawaban itu sebenarnya sudah sangat jelas.
"Saya tidak ingin masalah pribadi memengaruhi pekerjaan." Kirana mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
"Aku setuju." Aiden mengangguk pelan.
"Tapi saya juga tidak ingin bertemu dia setiap hari."
Kalimat itu keluar lebih jujur daripada yang direncanakan Kirana dan Aiden memperhatikannya selama beberapa detik.
"Aku akan menangani urusan itu." Aiden memutar pulpennya perlahan.
"Itu bukan hak Tuan."
"Benar." Aiden mengangguk lagi.
Kirana menghela napas.
"Tapi?" tanya Kirana.
"Tapi aku juga tidak suka kantor berubah menjadi sinetron."
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Kirana bergerak tipis. Sangat tipis, namun cukup untuk membuat Aiden merasa lebih lega.
Disaat yang sama, tiba-tiba Gavin masuk ke ruangan itu.
"Bos." Gavin masuk tanpa mengetuk.
"Apa lagi?" Aiden menoleh.
"Saya membawa kabar buruk."
"Terlambat." Aiden menunjuk Kirana. "Dia sudah membawa lebih dulu."
"Saya tidak membawa kabar buruk." Kirana membalas datar.
"Nah." Gavin langsung menunjuknya. "Kalimat seperti itu biasanya pembuka bencana."
Kirana menatapnya tanpa ekspresi.
"Baiklah, saya diam." Gavin langsung duduk.
"Pak Tegar ingin bertemu Tuan." Gavin menggeser sebuah map ke meja.
"Untuk apa?" Aiden membuka map tersebut.
"Soal mutasi."
"Secepat itu?"
"Katanya penting."
Kirana sudah membalik badannya, ketika ingin melangkah suara Aiden kembali terdengar.
"Kirana, tunggu sebentar."
"Saya masih ada pekerjaan." Kirana memeluk map di dadanya.
"Aku tahu."
"Kalau begitu saya kembali ke meja."
"Kamu ikut rapat."
"Saya?" Kirana mengernyit.
"Iya." Aiden menutup map di depannya.
"Kenapa?"
"Karena ini menyangkut lingkungan kerja sekretarisku."
Kirana tahu alasan itu tidak sepenuhnya benar, namun ia juga tahu membantah Aiden sering kali hanya membuang waktu.
.
Beberapa saat kemudian Kirana dan Aiden tengah melangkah ke ruang rapat, di ikuti Gavin yang sedikit tertinggal di belakang.
"Tuan Tegar." Kirana mengangguk sopan saat memasuki ruang rapat.
"Kirana." Tegar membalas sapaan itu sambil mempersilakan mereka duduk.
Aiden langsung menempati kursinya dan Gavin ikut duduk meski tidak ada yang mengundangnya.
"Kamu kenapa ikut?" tanya Tegar.
"Saya pengamat profesional." Gavin menjawab santai.
"Tidak ada profesi seperti itu."
"Sekarang ada."
Aiden memijat pelipisnya frustasi, mendengar Gavin.
"Kita langsung ke inti masalah." Tegar membuka sebuah berkas. "Rendra Atmajaya mengajukan mutasi ke perusahaan ini tiga hari lalu."
Kirana langsung mengalihkan pandangan.
"Permohonannya cukup kuat." Tegar melanjutkan penjelasannya. "Riwayat kerjanya bagus dan posisi yang dia inginkan memang sedang kosong."
"Lalu?" tanya Aiden.
"Secara profesional, dia memenuhi syarat."
Ruangan mendadak hening.
"Saya tidak ingin mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan." Kirana berbicara lebih dulu. "Kalau secara profesional dia layak diterima, keputusan tetap harus berdasarkan kemampuan."
Tegar terlihat sedikit terkejut, begitu juga Gavin.
"Bahkan sekarang pun kamu masih objektif." Gavin menggeleng kagum.
"Saya sedang bekerja." Kirana meliriknya.
"Nah, itu yang membuat saya takut." Gavin menyandarkan tubuh ke kursi.
Aiden tidak ikut bercanda, tatapannya justru tertuju pada wanita yang duduk di seberangnya.
Pintu terbuka dan Gavin langsung menoleh ke belakang, semua orang ikut melihat dan detik berikutnya suasana rapat berubah. Rendra berdiri di ambang pintu, wajah pria itu terlihat tegang saat melihat siapa saja yang berada di dalam ruangan.
"Kirana." Rendra menghentikan langkahnya.
"Tuan Atmajaya." Kirana membalas formal.
Panggilan itu membuat wajah Rendra semakin pucat.
"Aku tidak tahu kamu ada di sini." Rendra menggenggam berkas yang dibawanya.
"Sekarang kamu sudah tahu." Kirana membuka catatan di depannya.
Rendra tampak ingin mengatakan sesuatu, namun keberadaan Aiden dan Tegar membuatnya mengurungkan niat.
"Silakan duduk." Tegar menunjuk kursi kosong.
Rendra menuruti perkataan Tegar dan langsung duduk di kursinya.
"Karena semua pihak sudah ada di sini, kita bisa membahasnya sekarang." Tegar menyilangkan kedua tangannya di atas meja. "Tuan Atmajaya, apa alasan utama Anda ingin pindah ke perusahaan ini?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun semua orang di ruangan tahu jawabannya mungkin tidak sesederhana itu.
"Saya melihat peluang karier yang lebih baik." Rendra menjawab setelah beberapa detik.
"Khusus itu?" tanya Tegar.
"Iya."
Kirana tetap menulis sesuatu di catatannya, tidak ada perubahan ekspresi, tidak ada reaksi dan justru itu membuat Rendra semakin sulit bernapas.
"Menarik." Aiden memutar pulpen di antara jarinya. "Karena menurut data yang saya baca, perusahaan Anda sekarang menawarkan kenaikan jabatan dalam enam bulan."
Rendra membeku dan Gavin langsung melirik ke kanan dan kiri. Wah, bos mulai menyerang.
"Itu memang benar." Rendra mengangguk kaku.
"Lalu kenapa pindah?" Aiden menatapnya santai.
"Saya ingin tantangan baru."
"Hebat." Gavin mengangguk kagum.
Semua orang menoleh kepadanya.
"Apa?" Gavin mengangkat kedua tangannya.
"Tolong diam." Aiden menatap tajam.
"Saya sedang mengagumi kemampuan berbohong."
"Tuan Gavin." Kirana akhirnya bersuara.
"Iya?" Gavin langsung duduk tegak.
"Tolong jangan membuat rapat menjadi lebih sulit."
"Baik." Gavin mengangguk cepat.
Dua detik kemudian ia menambahkan, "Meski saya tetap merasa dia berbohong."
Aiden menutup wajahnya dan Tegar menahan tawa, bahkan Kirana hampir kehilangan ekspresi datarnya.
"Tuan Atmajaya." Tegar kembali mengambil alih rapat. "Kami akan mempertimbangkan permohonan Anda dan memberikan keputusan dalam beberapa hari."
"Baik." Rendra berdiri dari kursinya.
Namun sebelum keluar, pria itu sempat menoleh ke arah Kirana.
"Aku ingin bicara." Rendra menggenggam berkasnya lebih erat.
"Saya tidak ingin." Kirana menutup buku catatannya.
"Aku hanya butuh lima menit."
"Saya tidak punya lima menit." Kirana berdiri dari kursinya.
Kalimat itu terdengar sangat familiar karena beberapa hari lalu, wanita itu juga mengatakan hal yang sama dan kali ini Rendra sadar bahwa ia benar-benar kehilangan akses ke kehidupan istrinya.