Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemberontakan Pertama
Waktu di area pertambangan bergulir tanpa ampun, dihitung bukan berdasarkan pergantian hari, melainkan berdasarkan tonase batubara yang berhasil digali dan ritme shift yang melelahkan. Hingga akhirnya, tanggal 28 kembali menyapa. Hari yang paling dinantikan oleh ribuan pekerja di site: Hari Gajian.
Rana duduk di tepi kasur mess-nya setelah mandi sore, menatapi layar ponsel barunya. Notifikasi dari aplikasi m-banking baru saja masuk, menampilkan angka nominal gaji bulan ini. Kali ini, angkanya tidak menembus sepuluh juta rupiah seperti bulan-bulan sebelumnya. Jumlahnya jauh di bawah itu, karena sebulan terakhir Rana tidak memborong shift atau mengambil lembur akhir pekan.
Melihat angka di saldo, seulas senyum tipis; senyum yang menyimpan ketegasan baru muncul di wajah Rana. Ia menggeser layar, masuk ke menu transfer, dan mengetikkan angka tiga setengah juta rupiah untuk dikirim ke rekening ibunya. Selebihnya, ia kirim ke tabungan virtual miliknya.
Ini adalah langkah pemberontakan pertamanya. Batas sabar Rana telah diuji dan diperas habis-habisan selama hampir dua tahun bekerja. Setiap tetes keringatnya selalu mengalir untuk memuaskan ego di rumah Bojonegoro, sementara dirinya sendiri hidup seperti robot yang sekarat.
Berkat dukungan Mbak Mutia dan keinginannya untuk menikmati hidup, Rana membulatkan tekad: ia ingin menyehatkan mentalnya. Ia tidak mau mati muda di tanah rantau hanya untuk menjadi mesin ATM yang tidak dihargai.
Tak butuh waktu lama. Panggilan dari Bu Retno langsung berdering di ponsel Rana. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menggeser icon jawab panggil. Ia harus menghadapi badai ini sekarang.
"Apa maksudmu mengirim uang cuma segini? Dan apa-apaan ini, pesanmu bilang kamu tidak mengambil lembur?" sergah Bu Retno langsung, bahkan sebelum Rana sempat mengucapkan salam.
Suara wanita paruh baya itu melengking tinggi melalui pengeras suara ponsel, sarat akan kemarahan. Rana memejamkan mata sejenak, menata debar jantungnya agar tidak goyah.
"Tubuhku tidak akan sanggup jika terus-menerus mengambil lembur, Bu," jawab Rana dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan di setiap katanya.
"Tamu bulananku sudah kacau balau beberapa bulan ini karena stres dan kelelahan. Apa Ibu mau aku tumbang, masuk rumah sakit, dan akhirnya tidak bisa bekerja sama sekali di sini?"
Kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja. Rana sengaja meniru gaya bahasa Rani; kalimat ancaman secara halus yang biasanya selalu berhasil membuat ibunya luluh dan mengalah.
Dan benar saja, di seberang telepon, suara kemarahan Bu Retno mendadak tertahan. Kalimat ancaman Rana ternyata berhasil memukul mundur keegoisannya sejenak. Bu Retno jelas panik membayangkan jika "sumber dana" utamanya benar-benar rusak dan tidak bisa menghasilkan uang lagi.
Setelah cukup lama keheningan yang tegang tercipta di antara sambungan telepon, Bu Retno kembali bersuara, meski nadanya masih ketus.
"Kalau begitu, bagaimana dengan setengahnya lagi? Masak kamu simpan sendiri?"
"Setengahnya untuk peganganku di sini, Bu. Ponselku yang kemarin rusak tidak bisa diperbaiki lagi. Aku terpaksa membeli ponsel baru minggu lalu," jawab Rana jujur.
Ponsel lama yang sempat ia titipkan kepada Dino untuk dibawa ke tukang servis di kota ternyata tidak membuahkan hasil. Dino mengatakan bahwa selain layarnya yang pecah, mainboard ponsel itu sudah terbakar dan berkarat karena lembap. Daripadamenghabiskan biaya mahal untuk memperbaiki barang rongsokan, lebih baik membeli baru. Begitu saran Dino waktu itu.
Rana yang awalnya dirundung rasa ragu, akhirnya memantapkan diri untuk membeli sebuah ponsel pintar kelas menengah yang baru. Bagaimanapun, Rana merasa dirinya juga seorang manusia biasa yang berhak merasakan kenikmatan dari membelanjakan hasil gajinya sendiri, bukan sekadar menonton orang lain menikmatinya.
"Kamu beli HP baru? Kalau kamu bisa beli HP baru, kamu juga harus membelikan HP baru untuk Rani!" protes Bu Retno, suaranya kembali meninggi, menuntut keadilan sepihak yang tidak masuk akal.
"Teman-teman sekolah Rani itu sudah mulai ganti ponsel merek baru yang kameranya silang itu. Dia sudah merengek terus sama Ibu."
Mendengar tuntutan itu, genggaman Rana pada ponselnya mengerat. Rasa hangat kemarahan mulai menjalar di dadanya, namun ia tetap menjaga suaranya agar tidak berteriak.
"Tidak bisa, Bu. Lagipula HP Rani itu baru berumur setahun. Dibandingkan dengan HP lamaku yang sudah usang dan rusak total, punya Rani masihlah keluaran terbaru dan masih sangat bagus untuk dipakai sekolah. Sudah ya, Bu. Aku harus tidur sekarang. Besok pagi aku masih harus bangun jam empat subuh."
Rana langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak sebelum ibunya sempat melancarkan protes lanjutan. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kecil, lalu merebahkan tubuhnya ke kasur. Dadanya naik-turun, namun ada perasaan lega yang luar biasa yang membuncah di dalam hatinya. Ia telah berhasil berkata 'tidak'.
Sementara itu, Bu Retno membanting ponselnya ke atas sofa dengan wajah merah padam. Begitu sambungan diputus oleh Rana, wanita paruh baya itu langsung meluapkan kekesalannya dengan mengomel panjang lebar, mengutuk sikap anak sulungnya yang ia anggap mulai berani membangkang dan pelit kepada keluarga sendiri.
Rani yang sedang duduk di sudut ruangan sambil asyik memoles kuku jarinya dengan kuteks baru, hanya bersikap acuh tak acuh. Ia mendengarkan omelan ibunya dengan pandangan mata yang bosan, merasa bahwa urusan keuangan atau berkurangnya kiriman dari Ranah bukanlah urusannya, selama uang sakunya sendiri tidak dipotong.
Kekesalan dan kegondokan hati Bu Retno ternyata masih berlanjut hingga keesokan pagi harinya. Dengan wajah yang masih ditekuk masam dan langkah kaki yang dihentak-hentak, beliau berjalan menuju warung sayur langganan di ujung gang untuk berbelanja kebutuhan sarapan.
"Eh, Bu Retno. Selamat pagi. Kenapa pagi-pagi begini wajahnya sudah murung begitu, Bu?" sapa Bu Jumadi yang juga baru sampai di warung tersebut.
Bu Jumadi tidak datang sendiri pagi ini. Di belakangnya, tampak anak laki-laki keduanya yang bertubuh agak pendek sedang menunggu di atas sepeda motor yang mesinnya masih menyala.
Bu Retno menghela napas panjang, meletakkan seikat bayam yang baru ia ambil kembali ke tempatnya.
"Ini soal si Rana. Anak itu mulai bertingkah, dia mengurangi jatah bulanan yang dikirim ke rumah. Saya jadi harus putar otak dan irit-irit sekali bulan ini," jujur Bu Retno, tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh kepada tetangganya.
Bu Jumadi mengernyitkan dahi, menaruh minat pada gosip baru ini.
"Lho, memangnya kenapa, Bu?"
"Dia sengaja tidak mau mengambil lembur lagi katanya. Makanya gajinya bulan ini jadi sedikit. Bilangnya lelah lah, stres lah. Padahal kerjanya kan cuma duduk di dalam ruangan ber-AC," gerutu Bu Retno dengan nada mencibir.
Bu Jumadi terdiam sejenak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pandangan yang berbeda.
"Aduh, Bu Retno... kalau menurut saya, si Rana itu ada benarnya juga. Kerja di tambang itu taruhannya fisik, Bu. Terlalu banyak mengambil kerja lembur itu memang bisa merusak kesehatan tubuh, apalagi untuk anak perempuan. Omong-omong, apa si Rana itu tidak ada keinginan atau rencana untuk menikah, Bu? Usianya kan sudah matang."
Pertanyaan Bu Jumadi yang tiba-tiba itu sontak membuat Bu Retno mengangkat wajahnya dengan cepat. Pandangan matanya menatap Bu Jumadi dengan kerutan di dahi.
"Menikah? Aduh, Bu Jumadi... memangnya ada laki-laki yang mau dengan si Rana?" sahut Bu Retno dengan nada meremehkan yang sangat kentara.
"Dia itu anaknya pendiam sekali dari dulu, kaku, dan susah bergaul dengan orang baru. Ini saja sudah setahun lebih dia merantau di Kalimantan, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda atau cerita dia dapat calon suami di sana."
Bu Retno memajukan tubuhnya sedikit, suaranya merendah namun penuh nada membandingkan.
"Padahal ya, anaknya Bu NNingsi, si Katrin itu, yang cuma kerja di catering biasa di kota, sekarang sudah dapat suami orang mapan. Hidupnya si Katrin sudah enak sekali sekarang, apa-apa berkecukupan. Nah, si Rana? Kerjanya jauh-jauh ke pulau seberang, tidak ada hasil sama sekali."
Bu Jumadi tersenyum tipis, seolah-olah obrolan ini berjalan persis menuju arah yang ia inginkan sejak awal. Ia melirik sekilas ke arah motor di belakangnya, lalu kembali menatap Bu Retno dengan pandangan penuh arti yang sarat akan maksud terselubung.
"Ya mungkin di Kalimantan sana lingkungannya keras, Bu, jadi tidak ada laki-laki yang cocok atau sesuai dengan karakter Rana yang pendiam," kata Bu Jumadi, suaranya sengaja dilembutkan.
"Kebetulan... anak kedua saya, si Puput itu, sampai sekarang juga masih single lho, Bu. Dia belum punya calon istri."
Bu Retno tertegun. Ia menatap Bu Jumadi dengan pandangan setengah tidak percaya, lalu perlahan mengalihkan pandangan matanya ke arah luar warung.
Di sana, di atas sepeda motor, tampak Puput; anak laki-laki kedua Bu Jumadi yang bekerja sebagai staf administrasi di Kecamatan dan sudah berstatus PNS, sedang sibuk memainkan ponselnya dengan wajah bosan sembari menunggu ibunya selesai belanja.
Otak Bu Retno yang penuh dengan perhitungan finansial dan status sosial, seketika berputar dengan sangat cepat.
Jika Rana dinikahkan dengan anak Bu Jumadi, Rana tidak perlu lagi merantau jauh-jauh ke Kalimantan yang membuatnya mulai berani membangkang. Rana bisa ditarik pulang ke Bojonegoro, bekerja dan hidup di bawah pengawasannya. Selain itu, gajinya atau setidaknya uang nafkahnya, bisa ikut dikelola bersama untuk kebutuhan rumah mereka.
Ditambah lagi, keluarga Bu Jumadi memiliki latar belakang yang cukup terpandang di desa karena suaminya adalah seorang mandor pertanian senior. Akan tetapi, Bu Retno masih memikirkan apakah perhitungannya kali ini benar?