Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Direstui?
Tidak ada satu pun pembicaraan yang dimulai. Semua sedang berperang dengan isi kepala masing-masing, termasuk Amira. Ibu Farhan sejak tadi sibuk memperhatikan penampilan Amira dari atas hingga ke bawah, seolah sedang menilai calon menantu yang akan menikah dengan anak laki-laki mereka.
Sedangkan Amira benar-benar merasa tidak nyaman dan ingin sekali pergi dari hadapan mereka; nyalinya ciut karena dia cukup sadar kalau keberadaannya tidak diinginkan. Menyadari hal itu, Farhan memberikan kode pada ibunya untuk berhenti memperhatikan Amira dengan pandangan yang sarkas.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Arhan membuka pembicaraan tanpa basa-basi.
"Secepatnya, Pah. Kedatangan aku ke sini buat memperkenalkan Amira kepada kalian. Aku berharap kalian memberikan doa juga restu untuk kelancaran niat baik aku dan Amira," jawab Farhan. Arhan mengangguk mendengar jawaban anaknya tanpa keraguan sedikit pun.
"Selain memberikan doa dan restu, apa lagi yang kalian butuhkan? Dengan senang hati kami akan membantu," ucap ayahnya.
Di samping Arhan, istrinya hanya diam dengan wajah menahan kesal. Hal itu tak luput dari penglihatan Amira. Sedangkan Amira tak berani mengeluarkan kata-kata, kecuali jika mereka bertanya.
"Sepertinya tidak ada, Pah. Kami akan menikah di KUA secara sederhana tanpa resepsi."
Ucapan Farhan itu mengundang reaksi ketus dari sang ibu.
"Apa-apaan kamu? Masa anak laki-laki satu-satunya dari keluarga Hutama menikah secara sederhana? Apa kata orang nanti? Kami hanya punya kamu sebagai putra. Selama 28 tahun kami membanggakan kamu di hadapan orang-orang, tiba-tiba kamu bersikap seperti ini."
Arhan berusaha menenangkan istrinya, mengusap tangan wanita itu agar tidak bereaksi berlebihan dan membuat Amira semakin ketakutan. Arhan cukup menaruh perhatian pada gadis itu. Gadis itu benar-benar murni terlalu kasar rasanya jika dia harus mendapatkan sikap arogan dari istrinya.
"Mah, cukup! Kamu membuat calon menantu kita ketakutan. Bicara baik-baik, jangan terbawa emosi. Semuanya bisa dimusyawarahkan," tegur Arhan.
"Anakmu itu bercanda keterlaluan! Dia mau menikah tanpa persetujuan kita saja sudah terlalu mengada-ada, sekarang malah bilang akan menikah secara sederhana. Apa kata orang-orang nanti, Pah?"
Arhan benar-benar merasa tidak enak hati mendengar perkataan istrinya. Wajah Amira terlihat sangat sedih, seolah akan segera meneteskan air matanya.
"Farhan sudah dewasa, dia sudah bisa memutuskan apa yang terbaik untuk hidupnya. Kita jangan terlalu ikut campur. Bahkan sejak tadi kamu belum menyapa calon istri Farhan. Apa kamu tidak keterlaluan?"
"Sudah… sudah, kenapa malah jadi bertengkar? Kedatangan aku ke sini bukan untuk melihat kalian adu mulut atau sibuk mengomentari pilihanku. Aku hanya ingin memberi tahu kalau aku akan menikah. Aku berharap kalian datang, jika kalian tidak datang pun tidak apa-apa," ucap Farhan.
Farhan merasa tidak enak pada Amira. Terlalu jelas terlihat kalau ibunya tidak menyukai Amira. Meskipun sang ayah cukup menerima, namun karena pembawaan pria paruh baya itu yang dingin dan tenang, jadinya terkesan seolah dia pun tidak suka.
Farhan berdiri dan menarik tangan Amira untuk meninggalkan kedua orang tuanya. Amira sudah berkeringat dingin. Saat mereka akan melangkah keluar, tiba-tiba ibunya bersuara.
"Maafkan Mama. Tinggallah lebih lama, Bibi sudah memasak untuk makan siang. Mama juga ingin bicara dengan calon menantu Mama," ucap Ayumi, ibu Farhan.
"Mau bicara apa? Mama pasti berniat memprovokasi Amira. Aku tidak akan membiarkannya," sahut Farhan curiga.
"Kamu terlalu berburuk sangka sama Mama. Percayalah, Mama tidak sejahat itu."
"Biarkan ibumu berbicara dengan calon istrimu. Papa yang menjamin semuanya akan baik-baik saja."
Farhan masih ragu, menatap lekat-lekat wajah papahnya, lalu beralih menatap ibunya bergantian. Ia takut meninggalkan Amira berdua saja dengan ibunya, namun melihat ketegasan di mata Arhan, perlahan genggaman tangannya pada tangan Amira dilepaskan. Ia menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Amira yang sejak tadi hanya diam menunduk, berusaha menahan gemetar di seluruh tubuhnya.
"Kamu dengar ya, apa pun yang terjadi, jangan takut. ada aku di sini," bisik Farhan pelan, cukup terdengar oleh Amira saja.
Amira mengangguk pelan, menelan ludah yang terasa sulit. "Iya, Mas. Aku… aku mengerti," jawabnya lirih.
Akhirnya Farhan dan Arhan beranjak menuju teras belakang rumah, memberikan ruang bagi kedua wanita itu untuk berbicara. Di ruang tamu yang luas itu kini hanya tersisa Ayumi dan Amira. Hening menyelimuti sejenak, membuat detak jantung Amira semakin tak beraturan. Ia berani berspekulasi bahwa wanita di hadapannya ini pasti akan mengeluarkan kata-kata tajam yang siap menghancurkan hatinya.
Ayumi menatap Amira dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara kekecewaan dan rasa tidak terima. Ia menegakkan punggungnya, menatap Amira dari ujung kepala hingga kaki sekali lagi.
"Kamu tahu kan, Nak, siapa Farhan bagi kami? Dia satu-satunya harapan kami, satu-satunya anak laki-laki yang selama ini kami dididik dengan segala hal terbaik," suara Ayumi terdengar tenang, namun ada penekanan pada setiap kata yang membuat suasana semakin menegangkan. "Dan kamu… lihatlah dirimu. Kamu tidak punya apa-apa, tidak punya latar belakang yang jelas, bahkan untuk wali nikah pun kamu harus menggunakan wali hakim. Apa yang bisa kamu berikan untuk Farhan?"
Tegasnya kalimat itu langsung menancap tepat di dada Amira. Ia merasa sangat kecil, sangat tidak berharga. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya menetes, jatuh di atas paha yang tertutup kain.
"Aku… aku memang sadar diri, Bu. Aku tahu aku tidak pantas berdiri di samping Mas Farhan. Aku miskin, aku yatim piatu, aku tidak punya apa-apa," jawab Amira dengan suara bergetar, berusaha menatap mata Ayumi meski rasanya sulit sekali. "Tapi aku berjanji, Bu. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik. Aku akan melayani Mas Farhan sebaik mungkin, aku akan menghormati kalian sebagai orang tuanya,"
Ayumi terdiam. Ia tidak menyangka gadis di hadapannya ini akan menjawab perkataannya yang lumayan menyakitkan.
"Kamu pikir dengan sekadar berjanji semuanya akan berjalan lancar? Pernikahan itu bukan main-main, Nak. Di keluarga kami, nama baik adalah segalanya. Farhan bisa saja menganggap remeh status sosial, tapi dunia luar tidak demikian. Apa kamu siap jika orang-orang menatapmu dengan pandangan meremehkan? Kamu siap menanggung beban menjadi istri seorang Hutama?"
Mendapatkan pertanyaan itu membuat mental Amira berkali-kali jatuh
"Aku tidak tahu, tapi aku akan berusaha," jawabnya singkat sambil Amira mengusap air matanya.
"Kamu saja tidak yakin, mental kamu terlalu lemah untuk jadi bagian dari keluarga ini. Harusnya jika kamu tidak punya status sosial tapi kamu punya mental yang kuat, tapi semua yang saya lihat benar-benar lemah," Ayumi benar-benar tidak menemukan hal yg nisa dibangkitkan saat ini selain kelemahan.
"Maaf," hanya itu yang keluar dari mulut Amira
"Sudah, hapus air matamu. Aku benci melihat orang menangis," ucap Ayumi ketus
"Aku tidak bisa melarang, karena aku tahu Farhan. Kalau aku melarang pun, dia akan tetap menerjang keinginannya. Dia keras kepala, sama persis seperti ayahnya."
Ayumi kembali menatap Amira. "Dengar baik-baik. Aku merestui pernikahan ini, bukan karena aku suka padamu, tapi karena aku tidak ingin berselisih terus dengan anakku sendiri. Tapi ingat pesanku ini belajarlah untuk menjadi pantas, jangan hanya farhan yang menerima kurang mu,"
Amira mengangguk cepat, rasa lega mulai menyelinap di tengah rasa tertekannya. "Terima kasih, Bu…"
"Hmmmh, ingat jadilah pantas untuk Farhan meskipun sedikit mustahil, "
Belum sempat Amira menjawab, Farhan dan Arhan masuk kembali ke ruang tamu. Farhan langsung berjalan cepat mendekati Amira, mengecek keadaan gadis itu dengan pandangan cemas. Saat melihat sisa jejak air mata di pipi Amira, wajah Farhan langsung berubah dingin menatap ibunya.
"Mah, apa yang katakan pada Amira?" tanya Farhan penuh curiga, langsung duduk di samping Amira dan menutupi tangan gadis itu dengan tangannya sendiri.
Ayumi hanya mendengus pelan sambil bangkit berdiri. "Aku hanya memberinya sedikit wejangan dan aturan yang harus dia patuhi sebagai calon istri Hutama. "
"Sudah selesai kan pembicaraannya? Sekarang ayo makan siang. Masakan Bibi pasti sudah dingin kalau kita berlama-lama ngobrol saja." ucap arhan memotong perdebatan
Mereka pun beranjak menuju ruang makan, menyadari bahwa perjalanan panjang menuju pernikahan itu baru saja melewati satu rintangan berat, namun rintangan-rintangan lain pasti masih menanti di depan mata.