NovelToon NovelToon
I Will Go To Your Destiny

I Will Go To Your Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: M.Khaidar Ali Fathan

Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Masa lalu, di bawah bintang

Di sepanjang perjalanan menuju puncak Gunung Eclipse, suasana alam malam terasa begitu hidup. Suara silih berganti mengiringi setiap pijakan kaki mereka, mulai dari deruan angin malam yang berembus, dengungan sekumpulan kunang-kunang yang terbang rendah di antara semak-semak, hingga gemercik aliran air sungai yang saling menyahut.

Sambil melangkah menaiki jalur pegunungan, Devan mendongak, memandangi langit-langit malam yang bersih tanpa awan dengan Kerlip bintang-bintang di atas sana

"Beruntung cuaca hari ini cerah," ucap Devan takjub. "Pemandangan luar angkasa dari sini saja sudah mulai terlihat jelas di mata, apalagi kalau kita sudah sampai di puncak gunung ini."

Kinanti yang berjalan di sebelahnya tersenyum manis. "Ya, sangat indah. Terakhir kali aku ke sini bersama dengan Ayahku, kami duduk diam sambil mendengarkan dongeng beliau."

"Dongeng? Dongeng tentang apa? Coba boleh diceritakan?" tanya Devan penasaran, ingin mengalihkan perhatian agar perjalanan tidak terasa melelahkan.

"Boleh, dengarkan ya," sahut Kinanti. "Jadi..."

*Dongeng Asal-Usul Kerajaan Central*

Pada zaman dahulu, terdapat seorang pengembara yang terus berjalan dari timur ke barat, dari selatan ke utara, demi memperoleh ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Tepat setelah pengembara ini pergi ke arah utara, ia menemukan sebuah kuil besar yang tersembunyi di bawah reruntuhan dekat aliran sungai yang cukup deras.

Pengembara itu segera masuk ke dalam kuil untuk mencari tahu. Di tengah-tengah altar ruangan utama, ia menemukan sebuah bola besar yang bercahaya redup, sementara dinding-dinding yang menutupi ruangan itu dipenuhi oleh ukiran aksara bintang yang misterius.

Ketika pengembara itu melangkah mendekati bola cahaya tersebut, kesadarannya mendadak tersedot masuk ke dalam sebuah penglihatan gaib. Di dalam penglihatan itu, muncullah sesosok makhluk raksasa nan bercahaya yang mengambang di tengah kegelapan semesta yang tak berujung.

Makhluk itu memperlihatkan perjalanan hidupnya selama berabad-abad, mencoba mencari tanda-tanda kehidupan lain di antara miliaran bintang, namun usahanya sia-sia.

Merasa kesepian di tengah kehampaan jagat raya, makhluk itu akhirnya memutuskan untuk menciptakan kehidupannya sendiri. Ia mengubah seluruh kekuatannya menjadi sebuah galaksi, membagi energinya menjadi bintang dan matahari di pusat galaksi, lalu membentuk tubuhnya sendiri menjadi sebuah planet tempat tinggal makhluk hidup.

Kinanti menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, membuat Devan semakin hanyut dalam cerita.

"Di saat itulah, sang pengembara tersentak keluar dari penglihatannya. Ruangan kuil di sekitarnya mulai bergemuruh hebat, bertransformasi menjadi ruang cahaya yang benderang. Dari balik cahaya itu, sosok makhluk bersinar terang tadi melangkah menghampiri sang pengembara yang masih terpaku."

Makhluk bercahaya itu kemudian berkata kepada sang pengembara:

{"Selamat datang ke tempatku..."}

"Kau berhasil diterima di sini karena kau memiliki tujuan yang murni, yaitu mencari ilmu seluas-luasnya. Aku akan membukakan tabir rahasia yang hanya boleh diketahui oleh kita berdua. Pertama, perkenalkan, namaku adalah Orbiter Ars, Sang Guardian Nova."

"Aku di sini ingin menunjukmu dan keturunanmu sebagai penghubung antara diriku dan umat manusia. Mulai detik ini, aku akan selalu terhubung dengan keturunanmu ketika mereka telah siap untuk bertemu denganku. Melalui setiap penglihatan masa depan, aku akan membagikan informasi penting itu kepada penerusmu. Dengan rahasia ini, aku membuat manusia di luar sana menganggapmu sebagai Raja di planet ini. Ingatan ini akan ditanamkan di setiap individu di Planet Nova, dan mulai sekarang kau harus mengemban tugas besar ini."

Pengembara itu tentu saja bingung dan bertanya, "Kenapa harus aku? Walaupun niatku baik, aku tidak mempunyai pengalaman sama sekali dalam membangun sebuah kerajaan. Aku hanyalah seorang pengembara biasa."

Orbiter Ars hanya tersenyum samar dan menjawab, "Aku tahu kau pasti bisa. Aku percaya kepadamu..."

"Perlahan, sosok Orbiter Ars pun menghilang seiring dengan siluet cahayanya yang memudar," lanjut Kinanti. "Ketika pengembara itu terbangun sepenuhnya di tengah ruangan altar, ia terkejut melihat dirinya sudah mengenakan pakaian khas raja lengkap dengan mahkota emas di kepalanya. Dengan tubuh yang masih terhuyung, ia berjalan keluar kuil dan mendapati sepasukan prajurit sudah berlutut menunggunya."

Salah seorang prajurit langsung menghampirinya dengan cemas, "Raja, bagaimana keadaanmu setelah bertapa seharian di dalam kuil?"

Sang pengembara mengerutkan dahi. (Ha? Tunggu, apakah aku sedang bermimpi?) Ia mencoba mencubit pinggangnya sendiri dengan keras. "Aduh! Ternyata enggak. Aku tidak apa-apa, tenang saja."

Prajurit itu bernapas lega. "Kalau begitu, ayo kita segera pulang ke istana, Raja. Utusan dari kerajaan lain sudah tiba dan ingin berkonsultasi dengan Kerajaan Central."

"Oke," jawab sang pengembara yang kini telah menjadi raja. Sambil menoleh ke arah kuil untuk terakhir kalinya, ia berbisik di dalam hati, (Entah apa yang sebenarnya terjadi, tetapi takdir ini tampaknya memang menuntunku untuk menjadi seorang pemimpin. Makhluk itu telah mempercayakan planet ini kepadaku, aku tidak akan pernah mengecewakannya.)

Kinanti mengakhiri ceritanya dengan senyuman tipis. "Sang raja pun pulang membawa tanggung jawab besar sebagai penengah antara Guardian Nova dan manusia. Konon, Orbiter Ars akan sesekali memanggil sang raja melalui penglihatan spiritual jika ada hal mendesak yang harus disampaikan."

"Oh ya, dongeng tersebut memang sudah diceritakan secara turun-temurun, tapi sampai sekarang tidak ada satu orang pun yang bisa membuktikan kebenarannya,"

tambah Kinanti lagi. "Kalau dalam sejarah asli yang tertulis di buku sejarah kerajaan, wilayah Central ini berdiri karena penyatuan antara Kerajaan Eclipse dan Kerajaan Vitral. Nama dinasti 'Ars' sendiri terbentuk karena Raja Eclipse menikah dengan Ratu Vitral.

Gabungan kekuatan kedua kerajaan itulah yang terbesar di dunia ini hingga sekarang."

Kinanti bergumam pelan, "Banyak orang yang memercayai dongeng itu dan mencoba pergi ke wilayah utara untuk mencari kuil tersebut, tetapi ya... begitulah, hasilnya tetap nihil."

Devan terdiam seribu bahasa, mencerna setiap bait cerita Kinanti. (Hmmph... Aku tidak tahu mana yang benar, tetapi kenapa aku merasa dongeng itu terasa sangat nyata? Ditambah lagi, aku sendiri pernah mengalami perjalanan melintasi luar angkasa menggunakan pesawat Exga.)

“Devannnn! KAU DI MANAAA!”

“Oiii Devannnnn!”

Tiba-tiba, telinga Devan kembali menangkap suara teriakan teman-teman krunya dengan sangat lantang. Suara itu menggema begitu dekat, membuat Devan tersentak dan refleks melirik ke sana kemari demi mencari sumber suara, meskipun hasilnya tetap nihil.

Kinanti yang menyadari perubahan sikap Devan langsung bertanya heran, "Ada apa, Devan? Kau sedang mencari apa?"

"Aku... seperti mendengar suara teriakan," jawab Devan bimbang.

"Suara apa?" tanya Kinanti sambil memasang telinga, namun ia tidak mendengar apa pun selain deru angin.

"Suara... Ah, maaf, kayaknya itu cuma perasaan ku saja," kelit Devan cepat.

Di dalam hatinya, Devan mulai dilingkupi tanda tanya besar. (Kinanti tidak mendengar suara teman-temanku, berarti memang hanya aku yang bisa mendengarnya. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa aku tidak bisa melihat fisik mereka, sementara suara mereka tetap terhubung dengan jelas? Kalau memang ini yang terjadi, apakah semua ini ulah dari Orbiter Ars? Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan kepadaku?) Devan mencuri pandang ke arah Kinanti dengan dahi berkerut.

Tepat beberapa meter sebelum mencapai puncak Gunung Eclipse, jalur pendakian berganti menjadi deretan anak tangga batu kuno yang tertata rapi, seolah sengaja dipahat oleh tangan manusia.

"Ada anak tangga? Ini memang sengaja dibuat, Kinanti?" tanya Devan mengalihkan pikirannya.

"Ya, anak tangga ini sudah ada sejak zaman Raja Eclipse dulu. Puncak gunung ini adalah tempat bersejarah di mana pernikahan antara Raja Eclipse dan Ratu Vitral dilangsungkan."

"Oalah, pantas saja. Tapi tampaknya anak tangga ini sudah mulai berlumut, hati-hati licin ya," peringat Devan.

Mereka pun mulai menaiki satu per satu anak tangga batu tersebut dengan perlahan.

Namun sial, di tengah-tengah tangga, kaki Kinanti tidak sengaja menginjak bagian batu yang tertutup lumut basah.

"Eh—Aaa!" Kinanti tergelincir, tubuhnya jatuh ke belakang.

Dengan refleks cepat, Devan langsung bergerak maju dan dengan sigap menangkap tubuh Kinanti sebelum sempat menghantam batuan keras.

Detik itu juga, suasana mendadak hening. Devan dan Kinanti saling bertatapan dalam posisi Devan yang tengah menggendong tubuh gadis tersebut. merah pekat langsung menjalar di pipi keduanya. Bi Eni dan kedua prajurit pengawal yang berdiri di belakang hanya bisa bungkam, memalingkan wajahnya.

Mencoba memecah keheningan, Devan berdeham pelan dengan wajah yang ikut memerah. "Kau... tidak apa-apa, Tuan Putri?"

"Tidak apa-apa, Devan," balas Kinanti pelan. Ia mencoba untuk turun dan berdiri sendiri.

Namun begitu kakinya menapak tanah, rasa sakit yang luar biasa menusuk pergelangan kakinya. "Aduh, duh!" Kinanti meringis kesakitan, tubuhnya kembali goyah.

Devan berlutut sejenak untuk memeriksa kaki Kinanti yang ternyata sudah mulai memerah dan membengkak akibat keseleo. Tanpa banyak bicara, Devan kembali berinisiatif menggendong tubuh Kinanti dengan erat, memimpin jalan menuju puncak.

"Eh, Devan! Aku kayaknya berat deh, biar aku jalan sendiri saja pelan-pelan," protes Kinanti dengan wajah yang sudah memerah.

"Tenang saja, Tuan Putri, kita sudah hampir sampai kok," balas Devan santai, terus melangkah ke atas tangga.

Begitu mereka menapakkan kaki di area puncak, seluruh rasa lelah dan kecanggungan itu seketika sirna. Mereka semua terpukau, membeku menatap pesona malam di depan mata. Puncak Gunung Eclipse menyuguhkan panorama langit malam yang luar biasa, bertabur jutaan bintang yang berpijar tanpa terhalang apa pun.

Devan perlahan menurunkan gendongannya, membantu Kinanti untuk duduk di atas selembar kain yang telah digelar di rerumputan, lalu mengambil posisi duduk di sampingnya.

"Bagaimana, Devan? Cantik, kan, bintang-bintangnya?" tanya Kinanti, memecah keheningan malam sembari menatap langit.

"Ya, cantik banget," sahut Devan, matanya tak berkedip memandangi gugusan galaksi di atas sana.

Kinanti menoleh sedikit, memandangi wajah Devan yang terbias cahaya bintang, lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan. "Aku tidak tahu, Devan... Kenapa setiap kali berada di dekatmu, aku selalu merasa tenang dan damai, seperti saat aku berada di dekat Ayahku.

Aku... aku..."

Gadis itu menggantung kalimatnya saat melihat Devan yang masih terlalu fokus menatap panorama langit. Kinanti tersenyum simpul, menyembunyikan sisa kalimatnya rapat-rapat. "Wah, kayaknya kau benar-benar terpukau ya? (Mungkin tidak sekarang... Nanti pasti ada waktunya)

Sementara itu, Devan membatin di dalam benaknya yang terdalam, (Apakah di antara kerlip cahaya bintang itu terdapat rumahku, Bumi? Apakah teman-teman krunya di luar sana juga sedang melihat keindahan yang sama?)

"Ayo semuanya, makanan sudah siap nih! Ayo Pak Prajurit, Tuan Putri, Nak Devan, kita makan malam dulu!" seru Bi Eni memecah lamunan mereka, memanggil dari dekat api unggun kecil tempat ia menyiapkan hidangan instan hangat.

"Bibi sudah memanggil tuh, ayo kita makan," ajak Kinanti.

Dengan sigap, Devan kembali menggendong Kinanti menuju ke arah tempat makanan disajikan. Sambil berjalan, Devan menatap Kinanti dan tersenyum hangat. "Terima kasih, Tuan Putri. Ini adalah malam yang tidak akan pernah kulupakan."

"Sama-sama, Devan," sahut Kinanti, wajahnya kembali tersipu malu di bawah cahaya api unggun.

"Kami datang, Bi!" seru Devan riang.

Mereka berlima akhirnya duduk melingkar,

menyantap makanan hangat bersama-sama di bawah lindungan langit Gunung Eclipse yang begitu indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!