NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: M.Liss

Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".

Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.

Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Lisa menarik napas lega setelah melihat rusa itu menghilang di balik pepohonan. Ia tersenyum kecil pada Fredrin yang masih terlihat waspada. "Hampir saja, Fredrin," godanya lembut.

Fredrin hanya mendengus, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. "Lebih baik waspada daripada lengah, Lisa. Apalagi sekarang kami berenam bergerak bersama, tugas kami jadi lebih berat tapi juga lebih kuat."

Wu-Yuan, sang senior yang memimpin rombongan ini, mengangguk setuju. Wajahnya tetap tenang dan berwibawa, ciri khas seseorang yang sudah melewati banyak pertempuran. Ia bukan hanya pembimbing bagi Fredrin, Lisa, dan Floyen, tapi juga sosok yang sangat dihormati oleh ji-na, Carl, dan xioyan. Di antara mereka semua, dialah yang paling mengerti seluk-beluk kekuatan dan strategi bertempur.

"Benar," sahut Wu-Yuan. "Kehati-hatian adalah kunci. Terutama di tempat seperti ini. Jejak ini semakin jelas, dan sepertinya musuh tidak berusaha menyembunyikan keberadaan mereka. Mungkin mereka merasa sangat aman di wilayah ini, tapi mereka tidak tahu apa yang kami miliki."

Di sebelah Wu-Yuan, ji-na—si penyihir—sedang memutar-mutar tongkat sihirnya dengan santai namun penuh kewaspadaan. Jubahnya berkibar tertiup angin hutan, dan bola-bola cahaya kecil sesekali muncul di ujung jarinya sebagai tanda dia siap melepaskan sihir penghancur kapan saja. Di sisi lain, Carl—si petarung andalan—berjalan dengan langkah berat namun mantap, kapak besar tersampir di punggungnya, otot-otot lengannya menegang menahan beban senjata yang berat itu. Kekuatan fisiknya adalah yang terbesar di antara mereka, pas untuk perannya sebagai penyerang dengan kekuatan kasar.

Berjalan sedikit di belakang mereka, terlihat sosok berpostur tegap dengan ciri khas bangsa Tengu. Itu adalah Shoyan. Telinganya sedikit meruncing, sepasang sayap kokoh terlipat rapi di punggungnya, dan kulitnya memiliki tekstur keras sekeras batu. Ia berjalan tenang, namun setiap langkahnya terasa kokoh. Sebagai Tank utama tim, tugas xioyan adalah menahan serangan terberat musuh, melindungi rekan-rekannya, dan menjadi benteng berjalan yang tidak bisa ditembus. Ia adalah pelindung yang paling bisa diandalkan saat situasi menjadi kritis.

Tiba-tiba, xioyan mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti. Matanya yang tajam seperti elang menatap lurus ke depan, ke arah dalam hutan yang semakin gelap.

"Ada sesuatu di depan," ujar Shoyan dengan suara berat dan dalam, khas bangsanya. "Aku merasakan banyak kehadiran, dan energi yang mereka pancarkan sangat gelap. Lebih banyak daripada yang kita kira. Bersiaplah, mereka pasti sudah menunggu."

Lisa, yang sejak tadi mengamati sekeliling dan menyusun gambaran situasi di kepalanya, segera melangkah maju sedikit. Sebagai ahli strategi, dialah yang akan mengatur cara mereka bertindak selanjutnya. Ia menatap wajah rekan-rekannya satu per satu, matanya berkilat tajam menyusun rencana terbaik di kepalanya.

"Kalau begitu, kita tidak boleh bertindak sembarangan," ujar Lisa tegas, suaranya terdengar jelas dan tegas di tengah keheningan hutan. "Dengar rencanaku. Ini formasi terbaik kita."

Ia menunjuk ke arah pemuda berambut pendek yang sudah mencabut pedangnya. "Fredrin, tugasmu tetap sebagai Open Attack. Kau yang paling gesit dan berani membuka jalan. Masuk duluan, serang barisan depan mereka, dan alihkan semua perhatian musuh ke arahmu. Kau harus menjadi tombak yang menembus pertahanan mereka."

Fredrin mengangguk mantap, tangannya mencengkeram gagang pedangnya erat. "Siap. Biar aku yang duluan masuk dan membuat mereka sibuk memikirkan pertahanan."

Lisa menoleh ke arah Carl. "Carl, kau akan mengikuti Fredrin. Setelah dia membuka celah, kau masuk dengan kekuatan penuh. Gunakan kapak besarmu untuk menghancurkan apa saja yang ada di depan mata. Kau adalah kekuatan kasar kita, hancurkan semangat mereka dengan serangan bertubi-tubi."

Carl tertawa keras sambil menepuk dadanya sendiri hingga bergema. "Jangan khawatir, Nona Strategis! Aku akan membuat tanah ini berguncang sampai ke akar-akarnya!"

Selanjutnya, Lisa menatap sosok kokoh bangsa Tengu itu. "xioyan, tugasmu paling berat dan paling penting. Begitu Fredrin dan Carl masuk, musuh pasti akan membalas dengan serangan gabungan. Di situlah kau bertindak. Kau akan menjadi Tank utama. Berdirilah di garis depan, lindungi kami semua dari serangan balik, tahan apa pun yang mereka lemparkan, dan pastikan tidak ada yang bisa melewati pertahananmu. Kau dinding kami yang paling kuat."

xioyan mengangguk pelan, matanya menyala penuh keyakinan. "Paham. Selama aku masih berdiri, tidak ada satu pun musuh yang akan melewati tubuhku. Aku akan menahan segalanya."

Lisa beralih ke Gina. "Ji-na, kau akan berada di baris belakang, di balik perlindungan Shoyan. Kau adalah kekuatan serangan jarak jauh kami. Lepaskan sihir api, petir, atau angin sesuka hati, tapi pastikan sasarannya tepat. Hancurkan formasi mereka dari jauh dan beri dukungan pada yang di depan."

Ji-na mengangguk sambil tersenyum, memutar tongkat sihirnya. "Siap. Biar aku yang membuat langit di atas kepala mereka terbakar."

Terakhir, Lisa menoleh ke arah pemuda yang berdiri tenang di balik bayang-bayang pohon, hampir tak terlihat. Floyen, si Assassin, yang gerakannya senyap seperti bayangan dan memiliki kecepatan di luar nalar manusia.

"Floyen, kau tahu tugasmu yang paling rahasia," bisik Lisa, namun terdengar tegas. "Saat semua mata musuh tertuju pada Fredrin, Carl, dan Shoyan di depan... kau harus bergerak. Hilang, cari celah, masuk diam-diam, dan cari pemimpin mereka atau penyihir terkuat di antara mereka. Serang dari samping atau belakang. Tugasmu adalah mengakhiri pertempuran ini secepat mungkin dengan satu serangan mematikan."

Floyen hanya tersenyum misterius sambil memutar belati pendek di tangannya. Sebuah isyarat tangan kecil memberitahu bahwa dia sudah paham dan siap melesat kapan saja, seolah dia sudah menjadi bagian dari bayangan di sekitar mereka.

Semua mata kemudian tertuju pada Wu-Yuan, sang senior yang berdiri tenang mengawasi semuanya. Ia mengangguk puas melihat akhirnya ada kerja sama dan kemampuan rekan-rekannya. Meski Lisa yang menyusun strategi, keberadaan Wu-Yuan memberikan rasa aman terbesar bagi mereka semua.

"Rencana yang sangat rapi dan lengkap, Lisa," ujar Wu-Yuan pelan namun tegas. "Kalian semua sudah tahu peran masing-masing. Aku bangga menjadi bagian dari tim ini. Ingat, tujuan utama kita adalah menghentikan ritual mereka dan mengetahui siapa dalang di balik semua kekacauan ini. Jangan sampai ada yang lolos membawa kabar."

Ia melangkah maju, aura tenang namun mengerikan mulai menyelimuti tubuhnya. "Dan aku... aku akan berada di tengah, mengawasi semuanya. Jika ada bahaya yang tidak bisa kalian tangani, atau jika ada yang lolos dari jangkauan kalian... aku yang akan menghadapinya. Aku akan menutupi setiap celah yang ada. Tetap berpegang pada rencana, dan kita akan menang."

Mereka berenam pun bergerak serentak melangkah masuk lebih dalam. Susunan formasi mereka sempurna:

- Fredrin di paling depan, siap menyerang.

- Carl di sampingnya, siap menghancurkan.

- xioyan tepat di belakang mereka, perisai kokoh yang siap menahan segalanya.

- ji-na di belakang Shoyan, aman dan siap melontarkan sihir.

- Lisa di tengah-tengah, mengatur arah pandangan dan gerakan.

- Floyen sudah lenyap dari pandangan, bergerak di sisi gelap.

- Dan Wu-Yuan berjalan tenang di belakang barisan, mengawasi segalanya dengan pandangan tajam seorang senior yang tak tergoyahkan.

Tak lama kemudian, hutan tiba-tiba terbuka menjadi sebuah dataran luas. Di tengahnya berdiri altar batu kuno yang memancarkan kabut hitam pekat, bau amis dan belerang tercium sangat menyengat. Dan di sekeliling altar itu, ada enam sosok asing yang sedang menunggu. Wajah mereka terlihat terkejut namun penuh kebencian melihat kelompok Wu-Yuan datang dengan begitu teratur dan penuh percaya diri.

"Jadi kalian akhirnya datang juga," suara berat terdengar dari pemimpin musuh, seorang pria bertubuh raksasa dengan jubah hitam berhias lambang tengkorak. "Kukira hanya beberapa anak muda yang tersesat, ternyata kalian membawa pasukan lengkap."

Fredrin melangkah maju satu langkah, pedang dan perisainya diketukkan berirama ke tanah, menciptakan getaran yang menggetarkan hati. Ia tersenyum menantang.

"Maaf mengecewakanmu," ujar Fredrin lantang. "Kami bukan sekadar anak-anak. Kami adalah pasukan yang memiliki tujuan, kekuatan, dan strategi. Dan hari ini... kalianlah yang tersesat ke tempat yang salah!"

Dengan isyarat tangan cepat dari Lisa, pertempuran pun dimulai.

Fredrin melesat maju sebagai penyerang pembuka, Carl mengamuk di sampingnya dengan pedang besar, xioyan berdiri kokoh di garis depan menahan serangan balik musuh yang bertubi-tubi seolah itu hanya angin lalu, Gina melontarkan sihir yang menyala terang ke udara menghancurkan barisan belakang musuh, Floyen bergerak cepat seperti kilat di balik punggung musuh, dan Wu-Yuan berdiri tenang mengawasi, siap turun tangan kapan saja jika ada bahaya mendadak.

Pertempuran besar yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bersambung....

1
T28J
keren kak, saya subscribe, semoga ceritanya konsisten dan sampai tamat ya ✍️
Chen: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!