Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Lebih Rumit
Setelah Widya pergi, rumah itu terasa semakin mencekik. Selena menatap botol-botol herbal di atas meja. Pikirannya kalut. Ia menatap ke arah pintu ruang kerja Biru yang tertutup rapat.
Selama satu bulan ini, ia memang menyadari Biru sering pulang larut malam dengan wajah yang tampak sangat lelah, bahkan terkadang napasnya terdengar berat saat mereka berpapasan di lorong. Namun, Selena selalu menganggap itu hanyalah efek dari beban kerja CEO yang luar biasa. Ia menghormati privasi Biru terlalu tinggi untuk bertanya lebih jauh.
Malam itu, saat Biru pulang, Selena sudah menunggunya di lobi. Pria itu tampak lebih letih dari biasanya, ia sedikit bersandar pada pilar pintu saat melepas sepatunya.
"Ibumu datang lagi tadi siang," ujar Selena langsung.
Biru mendongak, matanya yang tajam tampak meredup di bawah lampu temaram. "Apa yang dia inginkan? Uang untuk yayasannya?"
"Bukan. Dia menginginkan cucu, Biru. Dan dia sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan minggu depan," Selena menunjukkan botol herbal itu.
Biru terdiam kaku. Untuk sesaat, Selena melihat kilatan emosi yang aneh di mata suaminya—bukan amarah, melainkan sesuatu yang menyerupai... ketakutan? Namun dalam sekejap, topeng es itu kembali terpasang.
"Abaikan saja," kata Biru pendek, suaranya parau. Ia mulai melangkah menuju kamarnya.
"Abaikan?" Selena mengejarnya. "Biru, ibumu sangat berharap! Dia mengkhawatirkanmu, dia bilang kau terlihat pucat. Aku merasa jahat karena terus membohonginya tentang hubungan kita. Apa tidak sebaiknya kita jujur padanya kalau ini hanya pernikahan kontrak?"
Biru mendadak berhenti dan berbalik begitu cepat hingga Selena hampir menabrak dadanya. "Tidak akan pernah, Selena. Jangan pernah katakan sepatah kata pun pada ibuku tentang kontrak itu. Mengerti?"
Napas Biru memburu, dan untuk pertama kalinya, Selena menyadari betapa dinginnya telapak tangan Biru saat pria itu tanpa sadar mencengkeram pinggiran meja untuk menopang tubuhnya.
"Tapi kenapa? Dia ibumu, dia berhak tahu—"
"Karena aku tidak ingin dia kecewa!" suara Biru meninggi, lalu ia terbatuk kecil, sebuah batuk yang berusaha ia sembunyikan dengan kepalan tangan. "Urus saja novelmu, Selena. Biarkan masalah ibuku menjadi urusanku. Kita punya kesepakatan untuk tidak saling mencampuri, bukan?"
Biru berbalik dan masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan dentuman yang meninggalkan Selena dalam keheningan yang menyakitkan.
Selena berdiri mematung di lorong. Integritasnya melarangnya untuk berbohong, namun komitmennya pada Biru menuntutnya untuk diam. Ia menatap pintu kamar Biru dengan perasaan yang tidak menentu.
Ada sesuatu yang salah, sesuatu yang lebih besar dari sekadar pernikahan kontrak, namun ia tidak tahu bahwa di balik pintu itu, Biru sedang berjuang mengatur napasnya yang mulai tersengal, berusaha menyembunyikan rahasia tergelapnya dari seluruh dunia—termasuk dari istri yang mulai ia pedulikan.
*
Selena memandangi botol-botol suplemen herbal itu dengan tatapan kosong, mencoba mencerna kembali drama yang baru saja ditinggalkan Mama Widya. Seminggu tanpa kabar, hanya satu pesan singkat dari Biru yang mengatakan mereka sedang di Singapura untuk urusan bisnis.
"Bisnis atau pelarian?" gumam Selena ketus.
Suara gerbang depan yang terbuka memecah kesunyian malam. Cahaya lampu mobil mewah menyapu dinding ruang tamu. Selena berdiri tegak, merapikan piyama suteranya. Mereka pulang.
Pintu besar itu terbuka. Biru melangkah masuk dengan langkah yang, di luar dugaan Selena, tampak sangat mantap. Tidak ada sisa-sisa wajah pucat seperti saat ia berangkat seminggu lalu. Sebaliknya, kulitnya terlihat sedikit lebih bersih, meski Selena menyadari bahwa setelan jasnya tampak sedikit lebih longgar di bahunya. Pria itu terlihat sedikit lebih kurus, namun auranya tetap dominan dan tak tersentuh.
Di belakangnya, Cakra menyusul dengan wajah yang jauh lebih tenang, membawa koper-koper kecil mereka.
"Selamat datang kembali, Tuan Besar," sindir Selena lembut namun tajam. Ia berdiri di tengah lobi dengan tangan bersedekap.
"Sepertinya udara Singapura sangat cocok untukmu. Kau terlihat... jauh lebih segar."
Biru berhenti, menatap Selena sejenak. Tatapannya masih sedingin es, namun ada kilatan kelegaan yang ia sembunyikan dengan sangat rapi. "Hanya perjalanan bisnis yang efisien, Selena. Tidak lebih."
"Efisien? Sampai ibumu datang ke sini membawa suplemen kesuburan karena dia takut kau sakit?" Selena melangkah mendekat, menunjukkan botol-botol herbal di atas meja. "Dia sudah membuat janji dengan dokter spesialis minggu depan. Dia cemas, Biru. Sangat cemas."
Biru melirik botol-botol itu dengan tatapan datar, seolah itu hanyalah sampah yang tak sengaja masuk ke rumahnya. "Cakra, bawa tasnya ke atas. Aku ingin bicara dengan istriku."
"Baik, Tuan." Cakra mengangguk sopan, memberikan tatapan sekilas pada Selena sebelum bergegas naik.
Kini tinggal mereka berdua. Biru melepaskan dasinya dengan gerakan yang sangat tenang, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pria yang baru saja berjuang di ranjang rumah sakit Singapura selama seminggu terakhir. Ia menutupi segala kerapuhannya dengan keangkuhan yang sempurna.
"Abaikan saja tuntutan itu, Selena," suara Biru rendah dan berwibawa. "Aku akan mengurus Mama. Dia hanya terlalu terbawa suasana setelah pertemuan keluarga besar."
"Abaikan?" Selena tertawa hambar. "Biru, dia mencintaimu! Dia bilang wajahmu sering pucat. Aku merasa seperti penipu paling jahat di dunia karena terus membohonginya tentang hubungan kita. Kenapa kita tidak jujur saja kalau ini hanya kontrak? Itu akan mengurangi bebannya, dan bebanku juga!"
Biru mendadak melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Aroma parfum mahalnya yang bercampur sedikit bau antiseptik yang samar—yang segera ia tutupi dengan aroma kayu cendana—memenuhi indra penciuman Selena.
"Tidak akan pernah, Selena," desis Biru tepat di depan wajahnya. "Jangan pernah katakan sepatah kata pun pada ibuku tentang kontrak itu. Mengerti? Dia tidak perlu tahu apa yang terjadi di balik pintu ini."
"Tapi kenapa? Dia ibumu, dia berhak tahu bahwa anaknya baik-baik saja dan tidak perlu dipaksa—"
"Karena aku bilang tidak!" suara Biru naik satu oktav, namun ia segera mengendalikannya. Ia menatap Selena dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara otoritas dan sesuatu yang menyerupai permohonan yang tersembunyi.
"Urus saja novelmu, Selena. Biarkan masalah keluargaku menjadi urusanku. Kita punya kesepakatan untuk tidak saling mencampuri kehidupan pribadi, bukan?"
Biru berbalik, melangkah menuju kamarnya dengan punggung tegak tanpa menoleh lagi. Ia tidak ingin Selena melihat bagaimana tangannya sedikit meremas pegangan tangga untuk memastikan keseimbangannya tetap terjaga.
Selena berdiri mematung di lorong yang megah itu. Ia menatap punggung Biru yang kian menjauh. Meskipun pria itu tampak segar dan kuat, insting Selena sebagai penulis yang terbiasa membaca karakter justru menangkap sesuatu yang ganjil.
"Dia lebih kurus... dan matanya tidak bisa berbohong," bisik Selena pelan.
Di balik pintu kamarnya, Biru segera menyandarkan tubuhnya ke pintu yang tertutup rapat. Ia memejamkan mata, mengatur napasnya yang mulai terasa sedikit berat setelah 'akting' yang melelahkan di depan istrinya. Ia baru saja kembali dari perawatan intensif, namun ia lebih memilih terlihat seperti pria dingin yang kejam daripada pria lemah yang butuh dikasihani.
Dua rahasia kini kembali berdenyut di bawah satu atap yang sama. Dan kali ini, Selena mulai menyadari bahwa naskah yang ia jalani di dunia nyata jauh lebih rumit daripada draf novel yang ada di laptopnya.
***
jin ouch jin sentuh itu selena...