Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10.
Keesokan paginya, cahaya matahari masuk dari celah jendela apartemen, Kayla sudah bangun lebih dulu, melihat ke samping ada Arka yang masih tidur nyenyak, tangannya melingkar di pinggangnya seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Kayla duduk di ujung ranjang, diam, tidak banyak bergerak. Ia melepaskan tangan Arka dari tubuhnya pelan, tanpa banyak berpikir.
Suara notifikasi ponsel Arka terdengar berkali-kali.
...---...
Kayla menoleh, layar ponsel itu menyala lagi, dan lagi. Ia menatap beberapa detik, rahangnya sedikit mengeras.
“Harusnya aku gak peduli…” gumamnya pelan.
Tapi tetap saja tangannya meraih ponsel itu, layarnya hidup lagi dengan notifikasi banyak pesan masuk, nama sang pengirim pesan itu langsung muncul.
Clarissa.
"Morning babee."
“Udah bangun belum?."
“Kangen deh, jangan lupa yang kemaren 😋."
Kayla menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya. Dadanya mulai terasa penuh, tapi anehnya, wajahnya justru datar, tidak ada Kayla yang langsung sedih, ini wajahnya datar.
Arka masih tidur, sebenarnya cowok sudah bangun tapi seperti biasa rasa nyaman dari Kayla membuatnya memejamkan mata erat, sangat nyaman. Namun saat Kayla memegang ponselnya membuat Arka bangun.
“Ngapain lo megang HP gue?” Suara Arka tiba-tiba muncul, ia bangun dan langsung merebut ponselnya dari tangan Kayla.
Kayla tersentak menoleh pelan. Arka sudah duduk di ranjang, rambutnya berantakan, matanya tajam langsung ke arah Kayla.
“Aku cuma liat notif.” jawab Kayla singkat.
“Siapa suruh?” nada Arka langsung naik, dingin tapi tajam.
“Kenapa sih? Aku cuma-” Kayla menghela napas pendek.
“Cuma apa?” potong Arka cepat, bangkit dari tempat tidur. “Lo pikir gue gak sadar?”
“Ya aku gak sembunyi juga.” Kayla menatap Arka lelah
“Gak sembunyi?” Arka ketawa kecil, sinis. “Pegang HP orang tanpa izin itu apaan?”
“Kamu juga gak pernah jelasin apa apa ke aku.” Kayla diam sebentar, lalu menjawab getir, kalimat itu keluar pelan, tapi cukup buat suasana makin tegang.
“Jelasin?” Arka langsung mendekat, ulangnya, nadanya merendah, tapi justru lebih bahaya. “Gue harus jelasin apa ke lo?”
“Cewek itu.” Kayla menatap matanya.
Hening.
“Oh… itu.” Arka langsung nyengir tipis, Jawaban yang santai banget.
“Itu siapa?” tanya Kayla lagi, kali ini lebih tegas. Kayla makin sakit hati, mau seperti apapun Arka tetap aja rasa itu tak pernah hilang.
“Pacar baru gue.” Arka mengangkat bahu, ia menjawab santai tidak memperdulikan Kayla yang kini mendengar jawaban dari Arka langsung mundur perlahan
“Gak lucu, Ka.” Kayla ketawa kecil tapi getir, ia menggelengkan kepalanya
“Gue juga gak lagi ngelawak.” Suasana langsung sunyi beberapa detik.
"Kamu sama dia?” Kayla menelan ludahnya tak percaya
Arka tidak langsung jawab. Ia malah ambil ponselnya, membuka chat, lalu mengetik santai di depan Kayla.
“Kenapa emang?” balasnya tanpa melihat.
“Aku cuma nanya.” Kayla menghela napas, mencoba nahan emosi.
“Dan gue jawab iya, dah puas nanya nanya??!.” Arka akhirnya menoleh, seperti emosi cowok itu terpancing.
“Iya?” Kayla terpaku, suaranya pelan.
“Iya. Gue sama dia.” ulang Arka datar. Seolah itu hal biasa, seolah Kayla gak punya hak buat kaget.
“Terus lo kenapa?” lanjut Arka, menatap Kayla tajam. “Lo kan cuma partner.”
“Iya… aku tau.” Kalimat yang langsung nusuk membuat Kayla menunduk sebentar, lalu mengangguk kecil.
“Yaudah.” Arka mendengus, berjalan ke arah lemari. “Jangan sok nanya kayak pacar.”
Deg.
“Aku gak sok jadi pacar.” Kayla mengepalkan tangannya.
“Terus?” Arka balik badan cepat. “Lo ngapain drama pagi-pagi?”
“Aku gak drama!”
“Berisik lo dari tadi.” Arka makin kesal. “Bangun tidur bukannya santai malah ribut.”
Kayla menatapnya, matanya mulai berkaca-kaca.
“Tadi malam-"
“Apaan lagi sih anj*ng?” potong Arka.
“Gak jadi.” Kayla diam sejenak, lalu menggeleng.
“Kalau lo gak nyaman, ya udah. Gak usah ke sini lagi.” Arka menghela napas kasar.
Kalimat itu keluar lagi, ringan, seolah Kayla gampang diganti.
“Iya.” Kayla menunduk sendu
...---...
Mereka berangkat ke sekolah seperti biasa, tidak ada obrolan, hanya diam sepanjang perjalanan, Arka juga acuh tidak peduli semakin membuat jarak antara keduanya.
Kayla duduk di belakang motor Arka, tangannya tidak lagi memegang jaket cowok itu. Ia hanya berpegangan di sisi jok, menjaga jarak sekecil apapun yang bisa ia buat, Arka tidak menoleh, seolah tidak sadar atau memang tidak peduli.
...---...
Suasana sekolah sudah ramai saat mereka sampai, Arka memarkirkan motor seperti biasa, lalu turun tanpa menunggu. Kayla ikut turun beberapa detik setelahnya.
Baru beberapa langkah masuk ke area sekolah, suara perempuan terdengar memanggil.
“Arka!”
Kayla otomatis menoleh, seorang cewek berjalan cepat ke arah mereka. Penampilannya rapi, percaya diri, dengan senyum yang langsung terarah ke Arka, baju yang sangat ketat untuk ukuran anak SMA, rok yang diatas mata kaki, membuat lekuk tubuhnya terbentuk. Sudah pasti cewek itu Clarissa, tepatnya Clarissa Pramudia.
Kayla tau itu tanpa perlu dikenalin, Arka berhenti, tidak kaget.
“Pagi.” ucap Clarissa ringan, berdiri tepat di depan Arka.
“Pagi.” balas Arka santai, lalu tangannya merangkul pinggang Clarissa, lalu mencium perempuan itu didepan Kayla, tidak canggung dan tidak asing.
Kayla berdiri beberapa langkah di belakang, memperhatikan tanpa suara. Ia merasa mual
“Bareng yuk ke kelas.” lanjut Clarissa, nada suaranya manis, atau sengaja dibuat buat, sambil menatap Kayla penuh kemenangan.
“Iya, bentar.” Arka mengangguk kecil, matanya sempat melirik ke arah Kayla, singkat, datar, tidak peduli.
“Lo duluan aja.” Kalimat itu ringan banget keluar dari mulutnya, membuat Kayla mengangguk pelan
“Iya.” Kayla langsung pergi, ia berusaha tegar, dari dulu Arka seperti ini harusnya ia kuat, tapi lagi lagi ia tidak bisa, sesimple itu.
Ia langsung berbalik, melangkah menjauh sebelum mereka jalan bareng.
Walaupun Arka dan Clarissa beda kelas, tetap Arka menyetujui ucapan Clarissa untuk pergi bersama
Koridor terasa lebih panjang dari biasanya, Kayla berjalan lurus tanpa arah jelas, sampai akhirnya langkahnya berhenti di depan kelasnya sendiri. Kemarin Arka yang peduli saat dirinya terluka namun sekarang pengganti dirinya sudah ada membuat Arka pasti cuek kembali.
“Kayy! sekolah juga lo akhirnya” Suara yang sangat Kayla kenali terdengar, suara Naya membuat Kayla sedikit tersadar.
Kayla menoleh. Naya berdiri di depan pintu kelas, tangannya bersedekap, menatap Kayla dengan alis terangkat.
“Udah sehat? kirain ngga masuk lagi” tanya Naya ia mendekat.
“Eum iya, aku udah sembuh kok.” jawab Kayla singkat.
Naya menyipitkan mata, memperhatikan wajah sahabatnya itu lebih lama dari biasanya.
“Lo gapapa?” Naya memandang aneh Kayla, bukan karena apa tapi karena mata sang sahabat terlihat bengkak, apa ini yang dikata sudah sembuh?
“Gapapa.” Kayla mengangguk cepat, jawabannya juga yang terlalu cepat.
“Yaudah. Masuk yuk, bentar lagi guru dateng.” Naya nggak langsung percaya, tapi juga nggak maksa, ia kenal Kayla mungkin ada masanya Kayla akan bercerita
Kayla mengangguk lagi, lalu masuk ke kelas.
...---...
Pelajaran dimulai seperti biasa, guru menjelaskan di depan. Suara spidol, suara buku dibuka, semuanya berjalan normal.
Kayla duduk di bangkunya, membuka buku, mencatat, lebih fokus dari biasanya atau mungkin terlalu dipaksa untuk fokus. Dibangku sebelahnya, Arka tidak ada, tidak mau memikirkan, Kayla lebih memilih untuk fokus belajar, ia merantau kesini untuk masa depannya.
Tangannya terus menulis tanpa berhenti, seolah kalau dia berhenti sedikit saja, pikirannya bakal balik ke hal yang sama. Ke pagi tadi, nama itu dan senyum Arka.
“Kayla.” Suara Naya pelan dari belakang
“Hm?” Kayla tidak menoleh
“Lo dari tadi nulis apaan sih?” Kayla berhenti, melihat bukunya, tulisan acak goresan abstrak mengotori lembar bukunya tanpa sadar, ia langsung menutup bukunya.
“Gapapa.” Kayla memilih menelungkupkan kepalanya dimeja, tidak peduli guru yang lagi mengajar
...---...
Di luar kelas, di sisi lain koridor, Arka berdiri santai sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Clarissa ada di sampingnya, berbicara tentang hal-hal ringan, sesekali tertawa kecil.
Arka tidak banyak bicara, tapi ia tetap di sana, tetap bersama Clarissa dengan mengelus rambut cewek itu yang tergerai.
...---...
TO BE CONTINUE