"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 // MBKCM
Lima belas hari berlalu dengan cepat, seperti pasir yang luruh di dalam jam kaca tanpa bisa dihentikan. Bagi Kiana, dua minggu terakhir ini adalah masa-masa di mana kehidupannya mulai berjalan aman dan tenang. Tidak ada lagi teror, telepon makian, atau kemunculan tiba-tiba dari Dafa. Pria itu seolah lenyap ditelan bumi mungkin sudah ditangkap oleh anak buah Pak Adnan si rentenir, atau melarikan diri ke luar kota demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Kiana tidak peduli lagi.
Namun, ketenangan di permukaan itu berbanding terbalik dengan badai yang berkecamuk di dalam dadanya. Hari ini adalah tanggal penentuannya. Hari di mana siklus bulanannya seharusnya datang.
Di pagi hari, saat bersiap-siap di dalam kamar kosnya, Kiana menatap pantulan wajahnya yang sedikit pucat di cermin. Dia meremas kedua tangannya, mencoba meyakinkan diri sendiri.
"Pasti hari ini datang. Harus datang. Pria itu mandul, Kiana... dia mandul. Kamu aman," bisiknya berkali-kali pada diri sendiri, mencoba membangun benteng pertahanan dari rasa takut yang mulai mengikis kewarasannya.
Siang harinya di Butik Elegance, suasana cukup senggang. Kiana seperti biasa sedang berlutut di dekat rak pajangan, merapikan barisan sepatu hak tinggi setelah melayani pelanggan yang baru saja keluar dari butik. Pikirannya melayang jauh, membuat gerakannya menjadi lambat dan tidak fokus.
Saskia yang melihat sahabatnya melamun segera berjalan mendekat, lalu menepuk pundak Kiana pelan. "Hei, Kia! Melamun saja dari tadi. Sepatu-sepatu mahal ini sampai kamu liatin sepuluh menit tanpa kedip tahu."
Kiana tersentak, lalu mendongak dan memaksakan sebuah senyuman. "Ah, maaf, Sas. Aku cuma lagi mikirin beberapa tata letak barang saja."
Saskia berkacak pinggang, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Sudah, jangan terlalu stres kerja. Hari ini kan gajian! Berhubung aku dapat bonus penjualan gaun beludru kemarin, nanti setelah pulang kerja aku beliin minuman kesukaanmu ya, milkshake stroberi di kafe seberang jalan. Pokoknya aku yang traktir!"
Kiana yang sedang banyak pikiran dan merasa badannya agak tidak nyaman sejak pagi hanya bisa menanggapi tawaran itu dengan suara yang pelan. "Iya, Sas... terima kasih ya."
Saskia mengernyitkan dahi, mencondongkan tubuhnya untuk memeriksa wajah sahabatnya. "Ih, lemas banget sih jawabnya? Kamu sakit, Kia? Wajahmu pucat loh dari tadi pagi."
"Tidak kok, aku baik-baik saja. Cuma agak kurang tidur," bohong Kiana, kembali melanjutkan aktivitasnya merapikan sepatu demi menghindari interogasi Saskia yang lebih dalam.
***
Di jam pulang kerja, sesuai janji Saskia, mereka berdua sudah berada di coffee shop yang terletak di seberang mall. Suasana kafe cukup nyaman dengan pendingin ruangan yang sejuk. Saskia berjalan kembali ke meja mereka setelah memesan, membawa nampan berisi dua gelas minuman besar. Dia meletakkan satu gelas merah muda di depan Kiana.
"Ini dia! Milkshake stroberi ekstra es buat Kiana Mahira, dan ini mango milky buat aku," ujar Saskia riang, langsung menyeruput minumannya sendiri. "Ayo diminum, Ki, biar segar."
Kiana tersenyum, meraih gelas plastik tersebut dan mendekatkannya ke mulut. Namun, baru saja sedotan itu berada beberapa sentimeter di depan bibirnya, aroma manis stroberi yang bercampur susu kental manis mendadak menusuk indra penciumannya dengan cara yang sangat aneh.
Ulu hati Kiana seketika bergejolak hebat. Rasa mual yang teramat sangat menyergap tenggorokannya tanpa ampun. Kiana menjauhkan gelas itu dengan cepat, menutup mulut dan hidungnya menggunakan sebelah tangan, wajahnya berubah menjadi semakin pucat pasi.
Saskia yang sedang asyik meminum minumannya langsung menghentikan kegiatannya. "Kamu kenapa, Kia? Kok mukanya langsung begitu? Ini baunya enak kok, sama seperti yang biasa kamu suka beli minggu-minggu lalu."
Saskia merasa bingung. Dia bahkan mendekatkan hidungnya ke gelas Kiana untuk memastikan susu itu tidak basi. "Gak basi kok, beneran enak aromanya."
Kiana mencoba berpikir positif, menelan ludahnya dengan susah payah untuk menekan rasa mual yang terus bergejolak. "Aku... aku gak tahu, Sas. Mungkin... karena ini minuman yang sering di belikan Dafa untukku bahkan di malam sebelum kejadian keji itu. Mungkin sekarang tubuh dan otakku merasa jijik sama aromanya karena teringat dia."
Saskia langsung memasang wajah bersimpati, mengangguk-angguk percaya. "Oh, begitu... ya ampun, sampai trauma penciuman begitu ya gara-gara si bajingan itu. Ya sudah, tukeran aja ya biar aku yang minum stroberinya, kamu minum mango milky punyaku ini. Ini enak banget nggak kalah sama yang stroberi."
Saskia menggeser gelas mangganya ke hadapan Kiana. Kiana mengangguk, mencoba meraih gelas kuning tersebut. Namun, demi Tuhan, aroma dasar susu dan krim yang menguar dari minuman kedua ini justru membuatnya semakin mual. Perutnya seperti diaduk-aduk dengan kasar dari dalam.
Kiana tidak bisa menahannya lagi. Rasa mual itu sudah mencapai puncaknya hingga dia harus bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, berlari kecil memegangi mulutnya menuju wastafel di dalam toilet kafe tersebut.
"Uhukk... hoekkk..."
Kiana mencengkeram pinggiran wastafel marmer, memuntahkan cairan bening karena lambungnya memang kosong sejak siang. Tubuhnya gemetar hebat, air mata meleleh di sudut matanya akibat rasa mual yang menyiksa.
Saskia mengikutinya dari belakang. Dia berdiri di ambang pintu toilet dengan raut wajah yang sangat khawatir, lalu maju untuk memijat tengkuk Kiana dengan lembut. "Astaga, Kia! Kamu masuk angin kayaknya nih. Kamu kecapek an nih, kita pulang aja ya sekarang? Istirahat di kosan."
Kiana hanya bisa mengangguk lemah, membasuh mulutnya dengan air mengalir.
Sepanjang perjalanan pulang di dalam angkutan umum, Kiana merasa tidak tenang. Kepalanya berdenyut pening, dan satu demi satu gejala aneh di tubuhnya mulai menyatu menjadi sebuah kesimpulan mengerikan yang enggan dia akui.
Begitu mereka sampai di kosan, Saskia langsung merebahkan diri di lantai kamar Kiana yang beralaskan karpet tipis karena gerah. Sementara Kiana, dengan jantung yang berdegup layaknya genderang perang, berjalan menuju lemarinya. Dia membuka laci paling bawah, merogoh ke dalam tumpukan pakaian, lalu mengambil sebuah benda kecil berbentuk pipih panjang yang dia beli secara online beberapa hari lalu untuk jaga-jaga. Sebuah testpack.
Karena kamar mandi kos ada di luar kamar dan harus melewati lorong yang sering dilalui anak kos lain, Kiana mengepalkan tangannya dengan sangat erat, menyembunyikan benda terlarang bagi wanita yang belum menikah itu di dalam genggamannya agar tidak ada yang melihat.
"Aku ke kamar mandi sebentar ya, Sas," pamit Kiana dengan suara bergetar.
"Iya, jangan lama-lama. Kalau mau muntah lagi muntahin aja semuanya," sahut Saskia dari dalam kamar tanpa curiga.
Di dalam bilik kamar mandi yang sempit dan remang-remang, Kiana melakukan tes tersebut dengan tangan yang gemetar hebat, bahkan beberapa kali alat itu nyaris terjatuh ke lantai. Setelah selesai, dia meletakkannya di atas permukaan datar, menutup matanya rapat-rapat sambil merapalkan doa yang tidak putus-putus.
"Tolong... Ya Allah, aku mohon. Jangan sekarang. Biarkan ini negatif. Pria itu mandul... dia sendiri yang mengatakannya..."
Setelah tiga menit yang terasa seperti beberapa abad, Kiana membuka matanya perlahan. Dia menunduk, menatap layar kecil pada alat pipih tersebut.
Di sana, tertera dua garis. Hasilnya garis merah terang, sangat jelas tanpa ada keraguan sedikit pun. Kiana positif hamil.
Dunia seolah runtuh menimpa tubuh Kiana saat itu juga. Lututnya mendadak kehilangan seluruh kekuatan hingga dia jatuh terduduk di atas lantai kamar mandi yang dingin. Alat testpack itu terlepas dari genggamannya, menggelinding di dekat kakinya. Dua garis merah itu seolah mengejek seluruh keyakinannya selama lima belas hari ini. Pria itu berbohong. Pria berjas abu-abu itu tidak mandul. Dan sekarang, ada benih dari pria asing itu yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Kiana keluar dari kamar mandi dengan langkah kaki yang sangat lemas, menyeret tubuhnya kembali ke kamarnya dengan pandangan yang kosong dan mati.
Saskia yang sedang menunggu sambil bermain ponsel langsung mendongak. Melihat ekspresi Kiana yang seperti mayat hidup, dia langsung bangkit duduk dengan bingung, tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Kiana di kamar mandi tadi.
"Ada apa, Kia? Kok mukamu makin pucat begitu? Masih mual ya? Kamu mau aku beliin obat masuk angin atau minyak angin di warung depan?" tanya Saskia beruntun, bersiap untuk berdiri.
Namun, alih-alih menjawab, Kiana justru menjatuhkan dirinya. Kiana ambruk ke pelukan Saskia, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sahabatnya itu. Tubuhnya bergetar hebat, dan detik berikutnya, tangisan yang luar biasa pilu pecah seketika.
"Eh? Kia? Kamu kenapa? Kenapa menangis sesenggukan begini?" Saskia panik, membalas pelukan Kiana sambil mengelus punggungnya.
"Aku... aku hamil, Sas... Garisnya dua... Aku hamil," bisik Kiana di sela tangisnya. Suaranya terdengar sangat parau dan dipenuhi keputusasaan. "Ini tidak mungkin... Pria itu bilang dia mandul, Sas... Kenapa bisa begini?"
Kiana menangis tertahan, membekap mulutnya sendiri dengan bantal di dekatnya karena takut tetangga sebelah kamarnya mendengar aib besar ini. Kosan ini memiliki dinding yang tipis, dan dia tidak ingin dicap sebagai wanita murahan oleh lingkungan sekitar.
Saskia tertegun, tubuhnya ikut kaku mendengar pengakuan itu. Dia menatap langit-langit kamar kos dengan mata berkaca-kaca, ikut merasakan penderitaan luar biasa yang harus ditanggung oleh sahabat terbaiknya.
****
Ribuan kilometer dari Jakarta, di sebuah ruang rapat eksekutif di salah satu gedung pencakar langit di kawasan Marina Bay, Singapura.
Ardan baru saja menyelesaikan rapat besarnya dengan para investor asing. Setelah para petinggi keluar dari ruangan, Ardan melonggarkan sedikit dasinya, duduk bersandar di kursi kebesarannya demi sedikit bersantai dengan Bimo yang sedang merapikan berkas di meja.
Bimo melirik bosnya, lalu menghela napas pelan sebelum membuka suara. "Pak Ardan, saya baru saja menerima telepon dari Jakarta. Dari Pak Arya."
Ardan tidak membuka matanya, hanya bergumam pendek. "Apa yang paman katakan?"
"Pihak keluarga kita dan keluarga Abraham tampaknya sudah tidak sabar, Pak. Bimo dapat info kalau Kakek Wirya dan Paman Arya sudah mulai merencanakan tanggal dan konsep pernikahan untuk Anda dan nona Dania secara sepihak. Mereka berniat mengumumkannya begitu Anda kembali ke Jakarta nanti," lapor Bimo dengan nada hati-hati.
Ardan membuka matanya, tatapannya langsung berubah dingin menatap langit-langit ruangan. "Biarkan saja mereka merencanakan apa pun yang mereka mau. Aku masih punya waktu lima belas hari lagi di sini untuk memikirkan kata-kata penolakan yang paling tepat agar mereka tidak bisa membantah lagi."
"Tapi, Pak... Dania itu pilihan terbaik dari segi bisnis dan.."
"Aku tidak peduli, Bimo," potong Ardan tajam. "Pernikahan itu akan selalu berakhir percuma untukku. Aku tidak suka Dania, sifatnya terlalu palsu. Dan yang paling penting, pernikahan ini tidak akan menguntungkan apa pun bagi Dania. Menikah denganku hanya akan menghancurkan masa depannya sebagai seorang wanita yang pasti mendambakan seorang anak. Aku tidak bisa memberikan itu."
Bimo terdiam sejenak, menimang-nimang dokumen di tangannya sebelum memberanikan diri menanyakan satu hal yang mengganjal di kepalanya sejak lama. "Tapi, Pak... bagaimana jika hasil pemeriksaan medis Anda selama ini itu salah? Bagaimana kalau ternyata Anda sebenarnya normal dan subur?"
Mendengar pertanyaan itu, Ardan mendadak terdiam. Suasana ruangan rapat langsung terasa membeku.
Pertanyaan Bimo barusan entah bagaimana memicu ingatan Ardan melompat kembali pada sosok Kiana. Gadis yang dia renggut kesuciannya di dalam mobil malam itu. Jika dia normal... jika dia subur... maka ada kemungkinan besar wanita itu akan mengandung darah dagingnya saat ini setelah malam intens yang mereka lalui tanpa pengaman sama sekali.
Namun, Ardan segera menggelengkan kepalanya kecil, mengusir pemikiran konyol itu dari otaknya.
"Tidak mungkin, Bimo," ujar Ardan, suaranya terdengar sangat yakin namun sarat akan kepasrahan yang mendalam. "Setiap tahun, aku selalu melakukan check-up menyeluruh di rumah sakit besar yang berbeda-beda di berbagai negara. Mulai dari Amerika, Jerman, sampai Jepang. Dan semua hasilnya selalu sama. Saluran reproduksiku bermasalah. Aku mandul, Bimo. Itu fakta medis yang tidak bisa diubah oleh keajaiban apa pun."
Ardan berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan pelabuhan Singapura di sore hari.
"Ini memang sudah takdir hidupku, Bimo. Jangan dibahas lagi," lanjut Ardan dengan punggung yang tampak begitu sepi dan terbebani. "Mungkin saatnya nanti ketika aku pulang ke Jakarta, aku harus jujur dan membuka seluruh hasil rekam medis ini pada Kakek agar beliau berhenti menuntut seorang cicit dariku. Tapi kita tunggu sampai kesehatannya sedikit membaik. Aku tidak ingin berita ini membuat serangan jantungnya kambuh lagi."
Bimo hanya bisa menundukkan kepala, ikut merasakan kesedihan tersembunyi dari sang atasan yang memiliki segalanya di dunia in. Kekayaan, ketampanan, dan kekuasaan, namun harus kehilangan satu hal paling mendasar sebagai seorang pria.
Kedua pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa di belahan bumi yang lain, di sebuah kamar kos, sebuah keajaiban medis yang mereka anggap mustahil justru baru saja meruntuhkan dunia seorang gadis tak bersalah.