NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa Dia Semenyebalkan Ini?

Melody menatap Messy tajam. Jika tadi masih ragu, sekarang ia yakin betul posisi Messy di sini adalah salah satu penguasa sekolah. Cewek-cewek bahkan rela mengerubungi dia dan Adden.

Hari pertama saja Melody sudah jadi musuh sekolah nomor satu. Tapi ia tak akan membiarkan hal itu mengganggunya. Sudah terlalu sering ia merasa tak diinginkan, jadi sekelompok anak manja ini takkan bisa menjatuhkannya.

Apa mereka pikir Melody ingin berada di sini?

Seandainya mereka tahu, Melody jauh lebih nyaman di tempat sebelumnya. Setidaknya di sana ia tak perlu berpura-pura menjadi orang lain demi menyenangkan hati siapa pun.

Ia bisa menjadi dirinya sendiri, Melody, remaja bermasalah dengan sejuta catatan kriminal yang sudah merasakan pahitnya hidup. Siapa mereka yang berpikir membawa Melody ke sini bisa menyembuhkan luka batinnya?

Mereka tak tahu apa-apa.

"Jangan didengerin, nanti makin kesel."

Melody menoleh lagi ke arah Enno. Matanya menatap Melody dengan tatapan sendu. Melody baru sadar, warna mata cowok itu cokelat muda manis seperti madu. Wajahnya sebenarnya tampan, hanya saja kurang percaya diri.

"Siapa juga yang peduli?" jawab Melody santai, berusaha terlihat cuek.

Ia tahu Enno maksudnya pada orang-orang di meja itu, termasuk Adden. Melody ingin menengok, tapi menahan diri agar tak terlihat peduli.

"Nama kamu siapa? Kenapa sih kamu biarin mereka seenaknya?" tanya Melody memotong, padahal sebenarnya ia sudah tahu nama cowok itu.

Enno menyibakkan rambut panjangnya yang menutupi mata. Ia menatap Melody sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan terbata.

"N-nama aku Enno."

Belum sempat melanjutkan, sesuatu menghantam punggung Melody. Gadis itu diam tak bergeming. Ia tetap menatap Enno, membiarkan cowok itu menyelesaikan kalimatnya.

Melody paham kenapa Enno tak berani melawan. Dia gagap. Orang-orang yang merasa rendah diri biasanya mencari kelemahan orang lain untuk merasa lebih hebat, dan celah bicara Enno jadi sasaran empuk. Padahal itu bukan keinginannya.

Kalau Melody sendiri?

Alasannya simpel, karena dia bukan dari kalangan mereka. Dia datang dari daerah kumuh, dan yang paling parah, dia hadir mengganggu kehidupan indah keluarga Messy.

Enno menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri agar suaranya lebih lancar. "Mereka itu preman di sekolah ini. Suka ngerjain orang yang bukan golongan mereka."

"Siapa aja sih mereka?"

Melody sudah tahu siapa pelaku yang melempar tadi, kemungkinan besar orang yang sama yang melempar punggungnya juga.

"Issac, dia itu kapten tim bola basket. Terus ada Messy, Jojo, sama Adden. Ditambah cewek-cewek pemandu sorak yang sok populer. Mereka itu satu kelompok yang solid banget."

Melody menoleh ke kanan, memejamkan mata sejenak. Ingatannya kembali melayang pada janji-janji yang pernah mereka ucapkan dulu.

...(Flash Back On)...

“Kamu janji nggak bakal jahat atau nge-bully pas di sekolah nanti?” tanyanya.

Ia kembali melompati pagar itu untuk minggu kelima berturut-turut. Mereka sepakat bertemu tiga kali seminggu. Melody duduk bersila di atas selimut tua di atas rumput. Rasa nyeri di punggungnya membuatnya tidak berani bergerak kasar.

Ia membaringkan tubuh dan sibuk mematahkan ranting kering dengan jari. Udara di sana beraroma segar, campuran bau rumput, bunga, dan pepohonan.

Adden meletakkan dua kuntum bunga berkelopak putih yang sangat disukainya di dekat selimut. Melody bahkan tidak tahu jenis bunga seperti itu ada di sana.

Berbeda jauh dengan rumah ibunya di pinggiran kota. Di sana tidak ada halaman hijau atau bunga yang tumbuh subur. Yang tersisa hanya rumput kering kecokelatan yang tampak seperti terbakar. Tanahnya berdebu, membuat siapa saja bersin dan sepatu menjadi kotor.

“Aku janji,” jawab pemuda itu sambil menatap Melody lekat-lekat.

Mata Adden gelap sekali, hampir hitam pekat, sama seperti warna rambutnya. Sosok itu mengingatkan Melody pada aktor Vino G Sebastian di FTV favoritnya.

Mungkin karena itulah satu-satunya film yang bisa ditonton di rumah. TV mereka selalu buram setiap kali mencoba mengganti saluran. Adden perlahan tampak seperti versi muda dari aktor idamannya itu.

Pertama kali menontonnya, ia langsung teringat saat pertama kali bertemu Adden. Saat itu Melody berkeliaran ingin melihat kehidupan orang lain, lalu melompati pagar dan berhadapan langsung dengan cowok itu.

Seorang anak laki-laki yang mau mendengarkan semua ceritanya tanpa menghakimi.

Terkadang Adden tampak melamun dan wajahnya berubah cemas. Melody sering bertanya-tanya apa yang dikhawatirkannya, tapi Adden tak pernah bercerita dan Melody pun tak pernah memaksa.

Adden juga tidak pernah menanyakan dari mana asal Melody atau di mana ia tinggal. Sepertinya sudah sangat jelas, Melody bukan berasal dari lingkungan mewah seperti tempat tinggal Adden.

“Aku janji. Apalagi sama kamu. Aku nggak akan pernah bisa jahat sama kamu, Melody. Kalau ada yang berani ganggu atau sakitin kamu, aku yang bakal hajar mereka.”

Senyum pun terbit di bibir Melody mendengarnya. Ia menunduk melihat kukunya yang kotor karena sibuk mematahkan ranting tadi.

Merasa memiliki Pelindung di dunia nyata, Melody sadar Adden hanya anak sebaya, tapi rasanya hangat mengetahui ada seseorang yang bersedia menjaganya.

Saat ia mendongak, mata gelap itu sedang memperhatikan gerakan jarinya.

“Janji?”

“Iya. Selamanya.”

...(Flash Back Close)...

“Hei, kamu nggak apa-apa?” bisik Enno dengan suara panik.

Mata Melody terbuka lebar. Ia baru sadar sedang tenggelam dalam ingatan masa lalu, salah satu kenangan indah yang tersisa.

“Aku baik-baik aja.”

Enno tampak menegang lalu buru-buru menunduk, seakan tidak pernah bicara padanya. Melody segera menyadari penyebabnya saat kursi di sebelahnya bergetar. Ada orang yang baru saja duduk di samping kanannya.

Kepalanya perlahan menoleh. Jantungnya berdegup kencang dan perutnya terasa melilit. Aroma parfum khas itu membuatnya sadar sosok ini nyata dan benar-benar ada di sisinya.

Adden.

Pemuda itu menyunggingkan senyum sinis. “Aku cuma mau jelasin dulu ya. Sodaraan sama Messy bukan berarti aku juga mau kenal sama kamu.”

“Salam juga buat kamu, Adden.”

Meski sikap Adden sekarang sangat menyebalkan, Melody tidak bisa menampik bahwa cowok itu kini jauh lebih tampan dibanding saat mereka kecil.

Sejak dulu Melody tahu, Adden pasti akan tumbuh menjadi sosok yang memikat. Kulitnya sawo matang, auranya dingin dan mengintimidasi.

Untuk pertama kalinya, Melody merasa gugup berada di dekatnya. Bukan gugup karena suka, tapi karena ini bukan Adden yang ia kenal. Adden yang dulu tidak akan pernah membuatnya merasa kecil atau sendirian seperti sekarang.

Lucu, orang yang kita harap berubah justru tetap sama. Tapi orang yang tak pernah kita sangka malah berubah menjadi jauh lebih buruk.

Pada akhirnya, mereka semua mengecewakan. Rasanya seperti dikhianati karena terlalu berharap mereka punya niat baik sama seperti kita.

“Hahhh!” Aden mendekat, dan otot tubuh Melody langsung tegang bersiap menerima serangan. “Aku ke sini cuma mau pastiin kamu ngerti pesan dari aku dan yang lain. Jauh jauh dari aku, dari geng aku, termasuk Messy. Kehadiran kamu dari tempat sampah tempat kamu berasal udah cukup buat ngerusak hidup dia. Nggak ada yang butuh atau pengen kamu ada di sini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!