Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 gerbang air mata darah dan amukan pedang berat kematian
Angin ngarai berembus semakin kencang, membawa debu merah yang mengotori udara sore di perbatasan. Bunyi kelepak bendera bergambar tengkorak di atas menara benteng terdengar ritmis, seolah menjadi detak jarum jam yang menghitung sisa waktu kehidupan orang-orang di sekitarnya.
Yan Xinghe terus melangkah maju. Setiap pijakan sol sepatunya di atas batuan kapur merah menyisakan suara hantaman yang berat. Beban lima ribu kati dari *Pedang Berat Tanpa Bilah* di punggungnya menekan fisiknya tanpa ampun, memaksa sumsum tulangnya untuk terus memadatkan esensi guntur pasif. Wajah pemuda itu tetap tenang, sedingin es abadi yang tak tersentuh matahari, menyembunyikan pergolakan rasa sakit dari tiga meridiannya yang retak.
Di atas menara pengawas benteng kayu, sepasang mata tajam milik seorang pria paruh baya berbaju zirah besi hitam mengunci siluet Xinghe. Pria itu adalah Komandan Tie Wuqi, pemimpin Faksi Gagak Besi di pos perbatasan ini. Di tangan kirinya, selembar kertas perkamen tipis berisi lukisan wajah Xinghe dan plakat buronan dari Tanah Suci Gerbang Langit Abadi bergetar ditiup angin.
"Dia benar-benar datang," desis Tie Wuqi, senyum serakah terukir di wajahnya yang penuh bekas luka bakar. "Seorang pemuda berjubah hitam yang memanggul balok logam raksasa. Tanah Suci menawarkan tiga ratus batu spiritual tingkat tinggi dan sepuluh pil pembuka meridian untuk kepalanya. Hadiah yang terlalu mewah untuk sekadar membantai seekor tikus fana."
Tie Wuqi mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat tak bersuara kepada lima puluh anak buahnya yang bersiaga di sepanjang tembok benteng.
*Sreeet... Sreeet...*
Bunyi tarikan tali busur panah bergema serentak. Lima puluh anak panah berujung besi hitam yang telah dicelupkan ke dalam bisa *Kalajengking Gurun* kini membidik lurus ke arah dada dan kepala Xinghe yang terus berjalan mendekat tanpa mengubah ritme langkahnya.
Jarak antara Xinghe dan gerbang kayu raksasa kini tersisa lima puluh langkah.
"Berhenti di sana, Buronan!" suara Tie Wuqi menggelegar dari atas menara, dialiri oleh energi spiritual **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Kelima**. Tekanan suaranya menciptakan riak gelombang udara yang menerbangkan kerikil di depan gerbang. "Kau telah menyingkirkan Keluarga Mu dan Sekte Pedang di selatan, wilayah Kekaisaran Naga Langit bukan tempat di mana sampah sepertimu bisa bertingkah sombong. Berlututlah dan biarkan aku memenggal kepalamu tanpa perlawanan, atau aku akan memerintahkan pasukanku untuk menjadikan ibu dan adikmu sebagai tumpukan daging cincang!"
Ancaman yang menyebutkan keluarganya membuat langkah kaki Xinghe terhenti sejenak. Ia perlahan mendongak, menatap deretan pemanah bersenjata lengkap di atas tembok. Sepasang manik mata gelapnya yang tak berdasar berkilat memancarkan pendar ungu sesaat, sebuah tatapan tirani yang membuat beberapa pemanah di atas menara tanpa sadar menggigil dingin meskipun matahari sore menyengat kulit mereka.
"Kau memiliki lima puluh pasukan, sebuah benteng kayu, dan kultivasi meridian yang rapuh," suara Xinghe mengalun datar, sehalus belaian angin namun membawa bobot yang menekan mental lawan. "Semua itu... tidak cukup untuk membayar harga dari kalimat terakhirmu tadi, Komandan."
"Sombong! Lepaskan panah! Jadikan dia sarang landak!" raung Tie Wuqi, merasa terhina oleh ketenangan pemuda di bawahnya.
*SYUUT! SYUUT! SYUUT!*
Lima puluh anak panah besi hitam melesat serentak membelah udara sore, menciptakan ilusi gelombang awan hitam yang mendesing tajam mengincar seluruh tubuh Xinghe. Kecepatan panah-panah tersebut sangat mengerikan, sanggup menembus pelindung besi praktisi fana dalam sekejap.
Di balik batu persembunyian, Yan Qingshan mengepalkan kapak bajanya hingga berderit keras, bersiap melompat maju jika adiknya terdesak. Namun, Ye Ling’er menahan lengan pemuda kekar itu, matanya menatap lurus ke arah Xinghe dengan ketenangan yang aneh.
Xinghe tidak melompat mundur ataupun menghindar. Tangan kanannya bergerak ke belakang dengan gerakan mengalir yang penuh estetika dominasi sejati, mencengkeram gagang kulit *Pedang Berat Tanpa Bilah*.
Dengan satu sentakan memutar yang bertenaga, ia menarik balok logam hitam itu dari punggungnya. Kain kanvas pembungkusnya robek berhamburan menjadi serpihan kecil akibat gesekan energi fisik murni.
Xinghe tidak melepaskan teknik pedang tingkat tinggi. Ia hanya mengayunkan balok logam seberat lima ribu kati itu dalam satu gerakan memutar horizontal di depan dadanya.
*WUZUSH!*
Ayunan itu tidak menciptakan cahaya spiritual, melainkan melahirkan sebuah gelombang tekanan angin absolut yang sangat padat dan berat. Udara di depan Xinghe seolah-olah terkompresi secara paksa menjadi sebuah dinding transparan setebal satu meter.
*KRAK! KRAK! PRANG!*
Lima puluh anak panah beracun yang melesat kencang mendadak berhenti di udara saat bersentuhan dengan dinding tekanan angin tersebut. Dalam hitungan milidetik, seluruh batang kayu dan ujung besi hitam panah-panah itu hancur berkeping-keping menjadi serbuk halus, luruh ke tanah tanpa sempat menyentuh sehelai pun benang jubah hitam Xinghe.
Daya hancur mekanik fisik murni mengalahkan kuantitas serangan jarak jauh.
Seluruh pemanah di atas menara pengawas membelalakkan mata ngeri, rahang mereka jatuh hampir menyentuh dada. Menghancurkan lima puluh anak panah sekaligus menggunakan sapuan angin senjata adalah kebrutalan fisik yang melampaui logika Alam Penyempurnaan Tubuh.
"Buka gerbang! Pasukan tombak, hancurkan dia di tanah!" Tie Wuqi menyadari serangan jarak jauh tidak akan membuahkan hasil.
Pintu gerbang kayu raksasa setinggi lima meter itu berderit terbuka dengan cepat. Dua puluh orang prajurit bertubuh kekar mengenakan zirah besi abu-abu melesat keluar, memegang tombak panjang bermata kait. Mereka bergerak membentuk formasi *Gagak Mengepung Mangsa*, berlari kencang dengan langkah kaki teratur yang menggetarkan jalan setapak ngarai.
Xinghe menatap datangnya dua puluh tombak itu dengan pandangan bosan. Jalur meridiannya yang retak sempat berdenyut perih, mengirimkan gelombang rasa sakit ke dadanya, namun kemauan bajanya mengunci ekspresi wajahnya tetap sedingin es abadi.
Ia memajukan kaki kirinya setengah langkah, merendahkan pusat gravitasinya menembus permukaan tanah kapur merah. Kedua tangannya kini menggenggam gagang pedang beratnya.
**"Seni Pedang Berat Penakluk Gunung: Sapuan Angin Pemutus Poros!"**
Xinghe mengayunkan balok logam hitam itu dari kanan ke kiri dalam satu ayunan horizontal penuh yang brutal. Kali ini, ia menyuntikkan setitik kecil energi campuran guntur dan api Gagak Emas dari Dantiannya ke dalam struktur meteorit tersebut.
Guratan emas-merah di bilah pedang hitam itu menyala terang. Sebuah gelombang kejut fisik yang bercampur percikan listrik ungu melesat membelah ruang ngarai.
*DUUUAAARRR!*
Dua puluh prajurit tombak yang berada di barisan terdepan bahkan tidak sempat menaikkan pertahanan mereka. Zirah besi abu-abu, tombak kait, dan tubuh fisik mereka yang berada di Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Menengah hancur berantakan seketika layaknya kaca tipis yang dihantam palu raksasa.
Benturan dari beban lima ribu kati yang dialiri energi guntur mereduksi dua puluh nyawa menjadi kabut darah merah dan serpihan daging yang menyembur mengotori dinding ngarai kapur. Tidak ada jeritan penderitaan; kematian datang terlalu cepat melampaui kecepatan hantaran saraf mereka.
Lantai jalan setapak di depan gerbang benteng kini terbelah menjadi parit dalam sepanjang belasan meter, dipenuhi oleh sisa-sisa darah yang mengepulkan asap panas.
Tiga puluh pengawal yang tersisa di atas tembok benteng seketika kehilangan seluruh kendali atas kandung kemih mereka. Beberapa melepaskan busur panah mereka, tubuh mereka gemetar hebat hingga jatuh berlutut di atas menara. Itu bukan lagi pertarungan bela diri fana; pemuda berjubah hitam itu adalah dewa iblis yang berjalan membawa kiamat kecil di tangannya.
"Monster..." suara Tie Wuqi bergetar hebat, keangkuhannya sebagai komandan tentara bayaran runtuh berkeping-keping. Perbedaan tingkat kekuatan fisik murni pemuda ini terlalu tidak masuk akal.
Menyadari sisa pasukannya tidak akan berguna selain menjadi abu tambahan, Tie Wuqi mengambil keputusan paling ekstrem. Ia meraung buas, meraih sebilah halberd raksasa—*Tombak Bercabang Gagak Hitam*—dari tempat penyimpanannya. Pria paruh baya itu meledakkan seluruh energi spiritual dari lautan Dantian Alam Meridian Tingkat Kelimanya.
Kabut energi berwarna abu-abu kehitaman meledak menyelimuti tubuh zirah besarnya. Urat-urat di lengannya membengkak, memompa tenaga spiritual penuh ke dalam mata halberd yang mulai memancarkan proyeksi kepala burung gagak raksasa yang memekik serak.
"Yan Xinghe! Ambil serangan terkuatku!"
Tie Wuqi melompat turun dari atas menara pengawas setinggi sepuluh meter. Tubuhnya menukik tajam bagai meteor jatuh, mengayunkan halberd raksasanya dari atas ke bawah menggunakan seluruh momentum gravitasi dan tenaga meridiannya untuk membelah kepala Xinghe.
Jurus **"Tebasan Paruh Gagak Pembelah Batu"**. Serangan pamungkas yang sanggup menghancurkan dinding benteng pertahanan kota kecil dalam sekali tebas.
Menghadapi serangan vertikal yang membawa seluruh sisa kehormatan Faksi Gagak Besi tersebut, Xinghe tidak bergeser satu inci pun dari posisinya berdiri.
Tepat saat mata halberd Tie Wuqi berada satu meter di atas kepalanya, keretakan di tiga meridian internal Xinghe pecah membesar. Rasa sakit yang merobek jiwa menghantam kesadarannya, membuat Xinghe memuntahkan seteguk darah segar yang menodai lantai tanah di depannya. Tubuhnya sempat goyah sesaat, tenaganya menyusut drastis.
"Mati kau!" Tie Wuqi melihat kelemahan itu, matanya menyala oleh harapan kemenangan yang baru lahir.
Namun, mata Tie Wuqi salah membaca situasi. Bagi seorang mantan Kaisar Pedang, bahkan jika tubuhnya hanya menyisakan satu hela napas terakhir, sisa Niat Pedangnya sudah lebih dari cukup untuk menundukkan makhluk fana di bawah kakinya.
Xinghe menggertakkan gigi yang berlumuran darah kotor. Menggunakan kemauan bajanya sebagai tuas, ia memaksakan sisa energi guntur di enam meridiannya yang utuh untuk meledak serentak melalui lengan kanannya.
Ia tidak mengangkat pedang beratnya untuk menangkis. Dengan gerakan mengalir yang memanfaatkan sisa momentum putaran tubuhnya, Xinghe mengayunkan balok logam hitam itu dari kiri ke kanan secara diagonal, menghantam langsung ke arah sisi samping bilah halberd Tie Wuqi.
Pertarungan mekanik presisi tinggi di tengah penderitaan fisik.
*CLAAAANG!*
Bunyi benturan logam yang luar biasa nyaring menggema melintasi seluruh pelosok ngarai, menciptakan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang meretakkan batuan kapur di sekitarnya.
Harapan di mata Tie Wuqi menguap dalam sekejap mata. *Tombak Bercabang Gagak Hitam* miliknya—senjata spiritual tingkat rendah yang telah menemaninya dalam ratusan pertempuran—hancur berantakan menjadi puluhan serpihan besi tajam saat bersentuhan dengan massa padat *Meteorit Bintang Kegelapan*.
Tenaga balasan dari benturan lima ribu kati itu merambat naik menghancurkan seluruh persendian pergelangan tangan, siku, hingga meremukkan tulang bahu kiri dan kanan Tie Wuqi secara serempak. Pria paruh baya itu membelalakkan mata kehilangan fokus, tubuh besarnya terseret ke depan akibat hilangnya momentum serangan.
Sebelum tubuh Tie Wuqi menyentuh tanah, Xinghe memutar kembali pedang beratnya menggunakan satu tangan, menghantamkan permukaan datar balok logam tersebut tepat ke arah dada sang komandan.
*BUMMM!*
Seluruh zirah besi hitam di dada Tie Wuqi amblas sedalam tiga inci ke dalam rongga dadanya. Jantung dan seluruh jaringan organ dalamnya hancur menjadi pasta darah akibat transfer energi kejut mekanik murni. Tubuh besar Komandan Faksi Gagak Besi itu terlempar sejauh belasan meter, menghantam pintu gerbang benteng kayu dengan keras hingga pintu tebal tersebut jebol runtuh sebagian.
Tie Wuqi jatuh terkapar di tengah puing-puing kayu, darah segar mengalir deras dari mata, hidung, dan mulutnya. Sepasang matanya mendelik kosong menatap langit sore, tubuhnya mengejang kaku beberapa kali sebelum akhirnya diam selamanya.
Komandan pos perbatasan, praktisi Alam Meridian Tingkat Kelima, tewas mengenasan di bawah injakan kekuatan fana yang murni.
Keheningan yang mencekam kembali mencengkeram Gerbang Air Mata Darah. Sisa tiga puluh pengawal di atas tembok benteng tidak lagi memiliki kapasitas untuk berpikir rasional. Mereka membuang senjata mereka, melompat turun dari bagian belakang menara, dan lari terbirit-birit masuk ke dalam rimbunnya belantara ngarai utara seakan sedang dikejar oleh dewa kematian itu sendiri. Faksi Gagak Besi telah musnah dari peta perbatasan dalam waktu kurang dari lima belas menit.
Xinghe menarik kembali pedang beratnya, bersandar ringan pada bilah tumpul hitam tersebut untuk menopang tubuhnya yang kembali gemetar hebat. Ia kembali memuntahkan darah hitam kotor, napasnya tersengal parah. Pengerahan tenaga murni di tengah meridian yang retak telah memberikan umpan balik yang merusak sebagian jaringan otot lengannya.
Ia menutup matanya perlahan, mengaktifkan kembali putaran kelima *Seni Penempaan Tulang* sekadar untuk menghentikan perdarahan internal di lautan energinya.
Yan Qingshan, Shen Yulan, dan Xiaoxiao bergegas berlari keluar dari balik batu persembunyian setelah memastikan situasi aman. Wajah sang ibu dipenuhi air mata kelegaan bercampur ngeri melihat pelataran benteng yang kini berubah menjadi kolam darah. Qingshan segera memapah pundak adiknya yang sedingin es, menyalurkan sedikit esensi elemen tanah yang hangat dari tekniknya untuk menstabilkan suhu tubuh Xinghe.
"Xinghe... kau memaksakan dirimu lagi," ucap Qingshan dengan nada menegur yang sarat dengan kecemasan tulus seorang kakak.
Xinghe membuka sepasang mata gelapnya, senyum tipis yang penuh ketegasan terukir di bibirnya. "Gerbang telah terbuka, Kakak. Tidak ada lagi yang menghalangi rute kita masuk ke dalam wilayah Kekaisaran."
Ye Ling’er melangkah melewati puing-puing pintu gerbang, matanya menatap mayat Tie Wuqi dengan pandangan kompleks. Rasa hormat dan ketakutannya terhadap kapasitas bertarung pemuda berjubah hitam di sebelahnya kini telah mencapai tingkat pemujaan mutlak. Xinghe baru saja membuktikan bahwa batasan alam kultivasi fana tidak berlaku di depan wawasan kaisarnya.
Rombongan kecil keluarga Yan melangkah melewati Gerbang Air Mata Darah yang bersimbah darah, secara resmi menapakkan kaki mereka di atas tanah luar milik Kekaisaran Naga Langit. Perjalanan mereka melintasi wilayah baru yang penuh dengan intrik militer dan pertumpahan darah berskala besar telah resmi dimulai, menyongsong fajar baru yang akan ditulis menggunakan ujung pedang berat sang penakluk.
Dua hari perjalanan berlalu dengan cepat setelah rombongan keluarga Yan berhasil melewati puing-puing Gerbang Air Mata Darah. Bentangan alam gersang berdebu merah perlahan berubah menjadi lanskap pegunungan kapur hitam yang puncaknya selalu diselimuti oleh kabut abu-abu tebal. Udara di wilayah luar Kekaisaran Naga Langit ini terasa sangat berat, sarat dengan konsentrasi energi elemen besi dan tanah yang sangat liar, sebuah indikasi geografis yang menegaskan bahwa wilayah ini merupakan medan pertempuran konstan selama ratusan tahun.
Selama perjalanan tersebut, Xinghe memfokuskan seluruh waktunya di dalam kereta barang—yang berhasil dijarah Qingshan dari sisa logistik Faksi Gagak Besi—untuk memulihkan keretakan di tiga meridian petirnya. Memanfaatkan sisa-sisa akar herbal dari kantong penyimpanan Tie Wuqi, ia meracik bubuk obat penstabil inti tingkat rendah untuk mempercepat proses regenerasi selular *Tubuh Fana Tanpa Cacat* miliknya.
Pada sore hari ketiga, roda pedati mereka melambat saat Ye Ling’er yang berkuda di depan memberikan isyarat berhenti.
Di ujung lembah sempit di hadapan mereka, sebuah pemukiman militer berukuran sedang berdiri di antara tebing batu hitam. Pemukiman itu dikelilingi oleh parit pertahanan yang diisi pancang besi tajam dan tembok barikade kayu setinggi tiga meter. Di atas gerbang utamanya, sebuah bendera kain satin hitam dengan sulaman benang perak berbentuk kepala naga yang sedang mengaum berkibar dengan gagah.
"Kota Perbatasan batu Hitam," Ye Ling’er menunjuk pemukiman tersebut, menyingkap caping bambunya. "Ini adalah pos komando terdepan milik *Faksi Militer Naga Perak*, salah satu dari tiga kekuatan militer raksasa yang menguasai tatanan internal Kekaisaran Naga Langit. Kota ini merupakan pusat perdagangan logistik militer, tempat berkumpulnya para tentara bayaran, pedagang senjata, dan praktisi pengelana dari berbagai benua."
Xinghe menyibakkan tirai kereta sutranya perlahan, matanya yang segelap malam memindai fluktuasi energi yang memancar dari dalam pemukiman tersebut. Berbeda dengan Kota Awan Mengambang yang damai dan tertata, atmosfer Kota Batu Hitam ini terasa sangat beringas, tajam, dan didominasi oleh hukum rimba militer murni.
"Tempat yang sempurna untuk bersembunyi sekaligus mencari material baru," gumam Xinghe santai, ia menyampirkan kembali pedang berat hitamnya ke punggung. Cedera meridiannya telah pulih delapan puluh persen, tenaganya telah kembali stabil di tingkat puncak Alam Penyempurnaan Tubuh.
"Kita akan menetap di tempat ini selama beberapa minggu," perintah Xinghe pada keluarganya seraya melompat turun dari kereta. "Kakak membutuhkan arena bertarung yang sesungguhnya untuk menguji batas *Pernapasan Harimau*-nya, dan aku... membutuhkan *Inti Monster Elemen Besi tingkat tinggi* untuk membuka gerbang menuju **Alam Pembukaan Meridian**."
Langkah kaki Xinghe yang membawa beban lima ribu kati kembali menapak mantap di atas jalan berbatu menuju gerbang Kota Batu Hitam, memimpin keluarganya memasuki pusaran konflik baru yang jauh lebih luas dan berdarah. Papan catur Kekaisaran Naga Langit secara resmi telah menyambut kedatangan sang kaisar yang sedang mendaki kembali menuju takhta Tiga Ribu Dunia. Badai kehancuran baru siap digulirkan di bawah kibaran bendera kepala naga tersebut.