"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"
Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Glow Up Permaisuri dan Mahkota "Penyetrum"
Setelah Tabib Agung pulang, Alistair kembali ke kamar. Ia duduk di samping ranjang, menatap Aurellia yang masih terlelap dalam pemulihan alami. Perlahan, ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat sambil mencoba menyalurkan sedikit energi pelindung untuk membantu Aurellia membaik.
Senyuman kecil, yang sangat langka perlahan muncul di wajah dingin sang Pangeran Agung. Ia mengelus pucuk kepala Lia dengan sangat lembut.
"Kalau sedang tidur begini, kamu terlihat jauh lebih penurut," bisiknya.
Pangeran Alistair mengecup kening Lia sejenak sebelum menyelimutinya dan keluar agar istrinya itu tidak terganggu.
Keesokan harinya, Lia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Alistair hanya mengeceknya sekilas, lalu bersiap pergi ke pusat kota. Malam ini adalah perayaan ulang tahun ke-15 Pangeran Rayyan.
"Lagipula, dia tidak pernah mau hadir bersamaku ke acara kerajaan," gumam Alistair pahit saat bersiap berangkat sendirian.
Ia teringat kejadian memalukan tahun lalu. Saat perayaan pernikahan Raja Iskan, Aurellia datang bukan dengan gaun indah, melainkan memakai baju pelayan kumal dengan rambut acak-acakan.
Tujuannya cuma satu yaitu ingin mempermalukan Alistair di depan umum. Alistair sebenarnya tidak peduli dihina orang, tapi ia sedih melihat Aurellia merendahkan dirinya sendiri hanya demi memuaskan rasa benci. Itulah alasan Alistair membiarkan Lia tidur hari ini, dia tidak ingin istrinya melakukan "atraksi" memalukan lagi.
Malam harinya, barulah Lia terbangun. Begitu melihat langit gelap di balik jendela, ia tidak lagi teriak histeris. Mungkin dia tertidur sangat lama lagi
"Suhada, berapa lama kali ini saya simulasi mati?" tanya Lia pada pelayannya.
"Sejak kemarin malam, Tuan Putri. Pangeran bahkan memanggil Tabib Agung, ayah Anda untuk memeriksa Tuan Putri," jelas Suhada.
Lia manggut-manggut. Dalam hati ia merasa bersalah pada Ayah Aurellia. Di novel, sang Ayah sangat membenci Aurellia karena sifatnya yang tidak sopan.
"Lalu, Pangeran di mana?"
"Pangeran sudah berangkat ke pesta ulang tahun Pangeran Rayyan di istana utama. Beliau tidak membangunkan Putri karena pesan Tabib Agung agar Putri tidak diganggu," jawab Suhada.
Lia langsung terduduk tegak.
"APA?! Dia pergi sendirian? Ke pesta besar?"
Lia teringat kelakuan Aurellia asli yang hobi bikin malu. Pantas saja Alistair nggak bangunin gue. Dia pasti trauma takut gue dateng pakai daster bolong atau baju compang-camping lagi, batin Lia merutuk.
"Suhada, siapkan air mandi! Saya mau nyusul ke istana!" seru Lia semangat.
"Menyusul? T-tuan Putri yakin?" Suhada bertanya ragu, wajahnya menyiratkan ketakutan kalau-kalau Lia mau bikin kerusuhan lagi.
Lia berdehem, memasang wajah setegas mungkin.
"Tenang saja. Hari ini saya akan membuat suami saya bangga, bukan jantungan. Cepat siapkan!"
***
Setelah mandi, Lia membongkar lemarinya. Kosong. Hanya ada pakaian sehari-hari atau baju tidur.
"Masa iya istri pangeran terkaya nggak punya gaun? Nenek Suri aja kasih emas batangan seberat dosa, masa baju aja nggak ada? Alistair nggak mungkin bangkrut mendadak, kan?" keluh Lia frustrasi.
Suhada tersenyum melihat tingkah bingung majikannya.
"Mari ikut saya, Putri."
Suhada membuka pintu rahasia di samping kamar. Begitu terbuka, Lia hampir saja pingsan (lagi) karena silau. Di sana berjajar puluhan gaun mewah dengan berbagai warna.
"Ini semua punya saya?" tanya Lia terbata-bata.
"Benar, Putri. Pangeran Alistair yang menyiapkan semuanya. Karena Putri tidak pernah mau memberi tahu warna kesukaan Anda, Pangeran berinisiatif membelikan semua warna agar Putri tinggal pilih," jelas Suhada.
Lia terenyuh.
"Gila... royal banget pangeran gue. Emang kalangan bangsawan kalau flexing nggak tanggung-tanggung," gumam Lia.
Lia akhirnya memilih gaun berwarna hijau daun dengan sulaman emas yang berkilau. Hijau sebenarnya warna favorit Aurellia yang asli, tapi dia selalu menyembunyikannya karena benci jika Alistair tahu apa pun tentang dirinya.
Saat Lia selesai berpakaian dan berhias, Suhada sampai tidak bisa berkedip. Aura putri bangsawan yang murni keluar dari tubuh Lia. Wajahnya terlihat sangat memukau dengan polesan riasan tipis.
"Bagaimana? Cantik nggak?" tanya Lia sambil berputar.
"Sangat cantik, Putri! Tapi sepertinya ada yang kurang..." Suhada membuka lemari kecil lainnya. Isinya? Berbagai macam mahkota.
Lia kembali melongo. "Ini mah harta karun beneran!"
Mata Lia tertuju pada sebuah mahkota yang paling bersinar, seolah memiliki nyawa. Begitu Lia menyentuhnya... ZZZT!
"Aduh! Nyetrum!" Lia menarik tangannya kaget.
"Itu Mahkota Permaisuri Agung, identitas sah istri Pangeran Alistair. Mahkota ini hanya bisa dipakai jika Putri menyalurkan energi dan bersumpah setia untuk berada di sisi Pangeran selamanya," Suhada menjelaskan dengan nada serius.
Lia menelan ludah.
"Selama ini saya nggak pernah pakai?"
Suhada menggaruk tengkuknya.
"Jangankan makai, Putri hampir saja membakar mahkota ini tahun lalu."
Lia mengelus dadanya. Kelakuan Aurellia asli emang minta di-ruqyah, batinnya.
Dengan tekad bulat, Lia kembali memegang mahkota itu, menyalurkan energinya, dan secara ajaib rasa setrumnya hilang berubah menjadi hangat yang menenangkan.
"Oke, Alistair sayang. Tunggu permaisurimu datang. Aku bakal bikin semua orang di istana melongo sampai rahangnya copot!" ucap Lia penuh percaya diri sambil mengenakan mahkota itu di kepalanya.