NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH ENAM

Rakha hanya mendengus pelan, menatapnya dengan mata gelap yang penuh peringatan. Tapi Aditya tak berhenti di situ. Ia menyipitkan mata, condong sedikit lebih dekat, seolah ingin memancing sesuatu keluar dari Rakha.

"Come on, bro," ucapnya pelan. "Gue cuma pengen liat. Katanya Maharani itu the real deal-cantik, classy, tapi fragile. Lo tau sendiri, tipe kayak gitu kelemahan gue."

Ia menurunkan suaranya, senyumnya melebar dengan nada goda yang nyaris sinis.

"Bare face di pagi hari? Oversized shirt? Damn, I bet that's hard to ignore."

Senyumnya hilang seketika ketika Rakha melangkah maju.

Sorot mata Rakha kini tajam, tenang tapi berbahaya-jenis tatapan yang membuat udara di antara mereka mendadak berat. "Watch your mouth, Dit." Suaranya rendah, nyaris seperti geraman. "Don't ever talk about her like that. Not in front of me."

Aditya menahan tatapan Rakha, tapi senyumnya kembali muncul-kali ini lebih tipis, lebih hati-hati.

"Whoa, easy there, tiger," katanya pelan. "Didn't know she's off-limits."

Ia tertawa kecil lagi, tapi tanpa nada riang. "Looks like gue baru nyentuh sesuatu yang... sensitive."

Rakha tak menjawab. Hanya menatapnya tajam sebelum akhirnya berbalik, berjalan melewati Aditya menuju mobil.

Langkahnya tenang, tapi dari caranya mengepalkan tangan, jelas sekali amarahnya belum benar-benar padam.

Aditya menatap punggung sahabatnya yang menjauh, lalu menghembuskan asap terakhir dari rokoknya.

"Damn, bro..." gumamnya pelan. "If she can shake you like that, berarti cewek itu jauh lebih berbahaya dari yang gue kira."

Aditya membuang puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya perlahan, lalu melangkah mendekat ke arah Rakha dengan senyum yang belum hilang sepenuhnya. "Tapi serius, bro," ujarnya pelan, nada suaranya kali ini sedikit lebih tajam. "Gue nggak nyangka lo bakal secepat itu bawa cewek itu ke rumah. Usually, lo keep your distance. Cold, calculated, untouchable. Tapi sekarang?" Ia menyeringai miring. "She's in your house. That's a whole different game."

Rakha berhenti melangkah. Bahunya tegang.

"Don't twist it, Dit," ucapnya datar tanpa menoleh. "Dia di sini karena urusan keamanan. That's it."

Aditya mendengus pelan. "Yeah, right. Security reasons." Ia berjalan mengitari Rakha, menatap wajah sahabatnya dari sisi lain. "Tapi lo tahu kan, gue udah kenal lo setengah hidup gue? Dan gue bisa bedain kapan lo ngomong fakta, dan kapan lo cuma nyoba ngeyakinin diri sendiri."

Rakha berbalik cepat, menatap Aditya lurus dengan sorot mata yang dingin tapi penuh tekanan.

"Gue nggak perlu lo psycho-analyze gue."

Aditya mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah, tapi matanya tetap menatap tajam. "Tenang, Rakha. Gue cuma khawatir. Lo udah terlalu lama hidup buat satu hal-revenge. Dan cewek itu, bisa aja ngerusak fokus lo tanpa lo sadari."

Rakha menghela napas panjang, menatap ke arah gerbang seakan mencoba menghindari pandangan sahabatnya.

"Gue nggak bakal kehilangan arah cuma karena seorang perempuan, Dit."

Aditya tersenyum tipis. "Lo yakin?" katanya lirih. "Karena dari cara lo ngelindungin dia, seolah-olah... she's not just a part of the plan anymore."

Rakha menatapnya diam-diam, tapi ekspresinya sulit dibaca. Hening menggantung di antara mereka beberapa detik sebelum ia menjawab datar:

"Lo salah. Semua masih berjalan sesuai rencana."

Aditya menyipitkan mata, lalu tertawa kecil tanpa humor. "Kalau lo bilang gitu, gue percaya-untuk sekarang." Ia menepuk bahu Rakha pelan, lalu beranjak ke arah mobil. "Ayo, kita bahas sisanya di jalan atau di kantor lo. Gue penasaran seberapa jauh lo bakal bawa permainan ini."

Rakha menatapnya sekilas, kemudian melangkah ke arah pintu mobil tanpa berkata apa pun. Tapi di balik ekspresinya yang tenang, pikirannya terus berputar. Kata-kata Aditya menggema di kepalanya seperti gema samar yang sulit diabaikan.

She's not just a part of the plan anymore.

Dan untuk pertama kalinya, Rakha tidak sepenuhnya yakin apakah Aditya salah.

Mobil meluncur perlahan keluar dari halaman rumah Rakha, meninggalkan kediaman besar itu di belakang mereka. Suasana di dalam mobil terasa tegang, hanya diisi suara mesin dan denting halus jam tangan Aditya yang memantulkan cahaya pagi.

Beberapa menit pertama, tak ada yang bicara. Rakha fokus menatap jalan di depan, ekspresinya kembali datar, tapi tangan kirinya menggenggam lutut terlalu erat-tanda bahwa pikirannya tidak sepenuhnya tenang.

Aditya akhirnya membuka suara lebih dulu.

"Jadi, ini beneran soal Soetomo, ya?" suaranya pelan tapi mantap. "Gue tahu lo nyimpen dendam lama, Rakha. Tapi nyeret Maharani ke dalamnya... itu langkah yang berani-atau gila."

Rakha tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap lurus ke depan.

"Gue nggak nyeret dia. Gue cuma manfaatin situasi."

Aditya menoleh, alisnya terangkat. "Situasi? Come on. Kita ngomongin anaknya Soetomo. The same family yang ngehancurin hidup Aira tiga puluh tahun lalu." Nada suaranya mengeras sedikit. "Lo pikir mereka bakal diem aja kalo tahu lo pegang salah satu dari mereka di rumah lo?"

Rakha akhirnya menatap Aditya sekilas, matanya gelap. "Makanya gue nggak mau ada yang tahu." Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, nadanya lebih rendah. "Selama ini, keluarga Soetomo udah nutupin semua jejak mereka. Pembunuhan itu, manipulasi media, pemalsuan laporan keuangan, semuanya bersih. Tapi sekarang-dengan Maharani di pihak gue, mereka nggak bisa sembunyi selamanya."

Aditya menghela napas berat. "Lo yakin dia di pihak lo? Karena dari yang gue liat, dia bahkan nggak tahu apa-apa tentang masa lalu keluarganya."

Rakha terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada pelan tapi tegas.

"Itu justru kenapa dia penting."

Aditya menyipitkan mata. "Explain."

Rakha menatap keluar jendela, memperhatikan deretan gedung yang mereka lewati. "Dia satu-satunya yang nggak terlibat langsung dalam permainan kotor ayah dan kakaknya. Tapi dia tahu sesuatu-entah sadar atau nggak. Gue lihat dari caranya ngomong, dari potongan cerita kecil yang dia sebut. Ada celah yang bisa gue gali."

Aditya tertawa pendek, tapi tanpa humor. "So basically, you're using her as bait."

Rakha menatapnya lurus, suaranya datar. "Gue nggak pake kata 'using'. Gue cuma bilang... dia bagian dari strategi."

"Strategi buat apa? Ngebongkar kejahatan keluarga Soetomo, atau ngebales dendam atas kematian Aira?" tanya Aditya tajam.

Pertanyaan itu membuat Rakha diam. Ia tak langsung menjawab, hanya menarik napas dalam, lalu menatap ke depan lagi.

"Dua-duanya," jawabnya akhirnya, pelan tapi mantap. "Karena keadilan yang gagal ditegakkan waktu itu-akan gue tegakkan dengan cara gue sendiri."

Aditya menggeleng kecil. "Damn, Rakha... lo masih nggak bisa move on dari Aira, ya?"

Rakha menutup matanya sejenak, lalu menjawab dengan nada rendah namun menggigit.

"Kalau lo ngeliat apa yang gue liat waktu itu, lo juga nggak akan bisa."

Suasana kembali hening. Hanya suara jalan dan angin yang terdengar.

Setelah beberapa saat, Aditya berkata pelan, hampir seperti gumaman:

"Gue ngerti lo, bro. Tapi lo harus hati-hati. Kadang... saat lo ngeburu kebenaran, lo bisa kehilangan diri lo sendiri."

Rakha menatap lurus ke depan, tanpa ekspresi.

"Atau mungkin," katanya dingin, "gue justru nemuin siapa diri gue yang sebenarnya."

Mobil terus melaju, meninggalkan bayangan pagi yang perlahan menipis. Tapi di antara mereka berdua, satu hal jadi jelas-permainan ini baru saja dimulai, dan Maharani Soetomo adalah kunci yang bisa membuka segalanya... atau menghancurkan semuanya.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!