NovelToon NovelToon
MEKANIK DARI LEMBAH BESI

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: T28J

(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.

⚙⚙⚙

Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.

Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.

—T28J

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRAKENFORD ARC 19 - DUO VS MONSTER

...Malam terbelah, langit pun gemetar... ...

......dua lawan satu, dan satu adalah bencana besar....

...⚙⚙⚙...

Malam di Brakenford terkoyak oleh raungan yang merontokkan keberanian. Bonebreaker Brute menerobos keluar dari kepulan debu. Tubuhnya menjulang setinggi atap rumah desa, bahunya lebar dan kokoh, lengannya sebesar batang pohon. Kulitnya keras dan kasar seperti batu gunung, membentuk perisai alami yang membelah udara dengan desisan berat. Bayangannya begitu besar hingga menelan seluruh area gerbang desa.

Di kejauhan, Garrick memfokuskan matanya. Palu di bahunya turun sedikit. “…monster kelas atas.”

Di hadapan raksasa itu, Arven dan Liora berdiri berdampingan. Namun kini, tidak ada lagi nada santai di tatapan mereka, hanya kewaspadaan tajam, sadar bahwa mereka menghadapi sesuatu yang jelas berada di luar batas kekuatan biasa.

“Jangan gegabah,“ bisik Arven rendah. Matanya bergerak cepat, mengunci setiap tarikan otot dan pergerakan tubuh raksasa itu. Bukan sekadar melihat monster, melainkan membaca pola serangan, seperti sedang memeriksa peta kerusakan pada mesin besar.

Liora mengangguk singkat. Valkyra di tangannya berderit halus, mekanismenya menyesuaikan diri dan mengunci posisi. Seolah senjata itu pun tahu ini bukan lawan yang bisa dianggap enteng.

BOOM...

Tangan raksasa itu menghantam tanah tepat di depan mereka. Tanah pecah berantakan ke segala arah. Debu merah dan serpihan batu melesat cepat seperti peluru, menelan seluruh pandangan dalam kabut tebal yang menyengat. Namun saat debu mulai perlahan turun dan membersih, mereka sudah tidak ada di tempat semula.

Liora muncul di sisi kiri. Arven di sisi kanan. Dua arah serangan. Satu target utama.

Arven langsung merasakan beratnya pertarungan ini. Ini bukan seperti menghadapi Nightclaw yang lincah. Juga bukan Stonefang biasa. Setiap gerakan Bonebreaker terasa sangat padat dan berat, namun jauh lebih cepat daripada yang terlihat oleh mata.

Saat ia akan mengayunkan Titan Wrench, bahkan hembusan angin dari ayunan cakar raksasa itu saja hampir membuatnya terpental jatuh. Ia terpaksa berguling cepat di tanah yang retak, napasnya mulai memburu dan pendek.

“...Dia terlalu cepat untuk ukuran segitu!“ serunya sambil menyeka keringat yang menempel di wajahnya.

Dari sisi samping, gerakan musuh baru mulai mendekat. Seekor Nightclaw Stalker dan Stonefang Ravager. Mereka datang bersamaan, mencoba mengganggu fokus dan mengunci ruang gerak.

Namun di titik inilah cara pandang Arven berubah. Baginya, kekacauan ini bukan sekadar huru-hara. Ini adalah sebuah sistem. Dan sistem selalu memiliki celah yang bisa dimanipulasi.

“Dia tidak panik…” bisik Rogan pelan. “Dia baca semuanya…”

Ia cepat merogoh sabuk perkakasnya, lalu menarik sebuah tabung oli bertekanan tinggi.

PSHHT...

Cairan licin dan kental itu disemprotkan deras ke permukaan batu jalan di depannya. Tiga ekor Nightclaw yang sedang melesat cepat langsung kehilangan pijakan seketika.

BUK... BUK... BUK...

Tubuh mereka saling bertabrakan keras satu sama lain, terguling-guling kacau di tanah tanpa bisa mengendalikan arah.

Arven tidak berhenti di situ. Ia menendang keras tuas pengunci tiang penyangga di sampingnya. Katrol besar di atasnya berputar liar dengan kencang, tali baja yang tergantung menjatuhkan beban berat dan langsung mengunci tepat ke celah punggung seekor Stonefang Ravager.

CLICK...

Monster itu langsung terangkat paksa dari tanah. Kakinya mengayuh-ayuh kosong di udara tak bisa menyentuh apa pun. Raungannya pecah di udara, bukan karena marah, tapi karena panik dan tak berdaya.

Di sisi lain, Bonebreaker Brute mengaum keras. Raungannya bukan sekadar suara, getarannya merambat masuk ke tulang, berdenyut di dalam dada setiap kali terdengar.

BOOOOM...

Tanah di bawah kakinya meledak. Tubuh raksasa itu lenyap seketika dari pandangan, menyisakan kawah retak yang dalam, batu-batu besar terangkat tinggi seperti dicabut paksa dari perut bumi.

“Pindah, sekarang!“ teriak Arven.

Liora sudah bergerak lebih dulu. Kakinya menekan tanah ringan, tubuhnya meluncur ke samping cepat seperti bayangan yang lepas dari cahaya. Namun cakar raksasa menghantam tepat titik tempatnya berdiri hanya sepersekian detik lalu. Gelombang kejut meledak menghantam udara. Tanah terbelah lebar. Tubuh Liora tetap terpental, terhempas beberapa meter jauhnya, berguling keras di atas tumpukan batu pecah.

“UGH-!“

Bahu kirinya menghantam benda keras. Napasnya tersendat tertahan di tenggorokan.

Arven masuk menyerang dari sisi kanan. Langkahnya berat tapi terkunci stabil, satu kaki menghentak kuat ke depan, tumit mencengkeram tanah, pinggang diputar penuh tenaga.

Seluruh berat tubuhnya ditumpukkan ke satu titik serangan.

⚙ MECHANIC DRIVE : ⚙

⚙ BOLT HAMMER!!! ⚙

CLAAANG...

Titan Wrench menghantam telak lutut raksasa monster itu. Percikan api meledak terang, tapi tubuh Bonebreaker sama sekali tidak bergerak. Tidak goyah sedikit pun.

Mata Arven menyempit melihat hasilnya. “Tulangnya sekeras batu gunung.“

Belum sempat ia menarik napas atau mengatur ulang posisi, lengan raksasa itu menyapu horizontal dengan kecepatan mematikan. Udara terbelah keras bahkan sebelum serangannya benar-benar sampai.

WHOOOOSH...

Arven refleks mengangkat senjatanya tinggi, memposisikannya sebagai tameng di depan dada, kuda-kudanya diturunkan serendah mungkin, mencoba menyerap seluruh energi benturan. Namun tubuhnya tetap terlempar jauh bak anak panah. Kakinya terangkat lepas dari tanah, punggungnya menghantam keras gerobak tambang besar. Kayu penyangga pecah berkeping-keping. Rangka besinya melengkung tak berbentuk.

“ARGH-!“

Udara keluar paksa dari paru-parunya. Dunia terasa berputar pelan di kepalanya.

Liora langsung memaksakan diri bangkit. “Arven!“

Bonebreaker tidak memberi jeda sedikit pun.

Kedua lengannya diangkat tinggi-tinggi ke udara, otot-otot di tubuhnya mengencang keras seperti batu yang hidup dan berdenyut.

BOOOOOM...

Ia menghantam tanah dengan segala kekuatan yang dimilikinya. Gelombang kejut menyebar ke luar dengan dahsyat. Tanah terangkat naik. Retakan menjalar liar ke segala arah. Sisa bangunan yang masih berdiri runtuh satu per satu seolah ditarik paksa ke bawah.

Liora cepat melompat mundur, namun tetap terseret arus angin dan getaran, sepatu botnya menggesek keras permukaan tanah, meninggalkan garis parit panjang sebelum akhirnya tubuhnya berhenti.

Debu tebal menutup seluruh pandangan. Sunyi menyelimuti, hanya dalam sepersekian detik lalu

sepasang mata merah menyala terang muncul menembus kabut tebal itu. Bergerak sangat cepat.

“Di kiri-!“ seru Arven, suaranya parau memecah keheningan.

Terlambat. Pukulan itu datang tepat dari sisi buta. Tubuh Liora terhempas keras ke samping. Ia membentur dinding rumah kayu, balok-balok penyangganya patah, runtuh menimpanya bersamaan.

Ia jatuh berlutut di tumpukan puing, satu tangan menahan berat tubuhnya, napasnya terdengar berat dan tidak stabil. Malam ini, ritme pertarungan mereka benar-benar pecah.

Bram mengencangkan genggaman pada kedua tombaknya. “Dia mulai kehabisan…” Tapi ia tidak bergerak. Tidak ingin mengganggu mereka.

Bonebreaker Brute melangkah maju perlahan. Gerakannya lambat tapi sangat berat. Setiap langkahnya menekan tanah lebih berat meninggalkan jejak yang dalam. Bukan terburu-buru, tapi seperti predator besar yang tahu persis mangsanya sudah mulai melemah dan tak berdaya.

Arven bangkit perlahan dari tumpukan reruntuhan. Darah mengalir tipis dari sudut bibirnya. Namun tatapan matanya tidak menunjukkan kepanikan. Tidak goyah sama sekali. Masih terus menghitung dan membaca pola.

“Ketemu,“ senyum kecil muncul di wajahnya. “Liora.“

Liora mengangkat wajahnya pelan. Masih berlutut. Napasnya memburu berat.

“Masih bisa berdiri?“

Ia menyeringai tipis, meski bahunya bergetar hebat menahan nyeri yang menusuk. “...aku belum mau mati hari ini.“

“Bagus.“ Arven menunjuk cepat dengan dagunya ke bawah tepat ke arah kaki raksasa monster itu. “Aku butuh sepuluh detik.“ Tatapannya tajam dan tegas. “Bawa dia ke jalur rel.“

Liora mendorong tubuhnya bangkit dengan paksa. Kakinya sempat goyah sejenak, bahu kirinya turun sedikit, menahan nyeri yang masih terasa tajam. Tapi ia tetap berdiri tegak.

Di sisi lain, Arven sudah bergerak cepat. Ia berlari menyusuri tumpukan reruntuhan, langkahnya cepat tapi terarah, matanya menyapu area sekitar mencari sesuatu yang bisa dipakai.

Sebuah rantai besi tebal, setengah tertanam di puing-puing derek tua. Arven langsung meraihnya.

“Alat ini berat...“ geramnya pelan menahan tenaga.

Ia menarik sekuat tenaga. Rantai itu bergeser perlahan, menyeret serpihan batu dan kayu yang menimpanya, meninggalkan jejak kasar di permukaan tanah.

Sementara itu...

“HEY!“ Suara Liora memecah kebisingan medan perang. Ia melangkah maju, satu kaki di depan, tubuhnya condong sedikit ke depan siap menyerang. “MONSTER!!“

⚙ VALKYRA - WIND ARCH MODE : ⚙

⚙ TWIN FANG!!! ⚙

TWANG... TWANG...

Dua tembakan panah energi melesat lurus menghantam bahu raksasa monster itu. Namun, panah itu tidak menembus dalam. Hanya menancap dangkal seolah menghantam dinding gunung yang kokoh.

Bonebreaker Brute langsung menoleh tajam. Matanya menyala merah membara. Targetnya terkunci sempurna pada Liora. Ia melangkah maju. Lalu mulai berlari kencang. Tanah bergetar hebat setiap kali kakinya menghantam rel, besi jalur rel berderit nyaring menahan beban luar biasa itu.

Tepat seperti yang direncanakan. Liora mundur dua langkah, gerakannya ringan dan terukur sempurna. Cakar raksasa itu datang menyapu dengan kecepatan mematikan.

⚙ CRESCENT STEP!!! ⚙

Liora memutar tubuhnya cepat. Tumitnya menjadi poros, pinggang diputar, bahu mengikuti aliran gerakan. Tubuhnya melengkung tipis, melewati jalur cakar itu dengan jarak yang nyaris tidak ada. Ujung cakar batu itu hanya menyentuh helaian rambutnya saja. Tanah di belakangnya hancur lebur terkena serangan itu.

Liora tidak berhenti. Ia langsung masuk mendekat ke dalam jarak serang. Terlalu dekat untuk ukuran bertarung melawan raksasa sebesar itu.

Makhluk itu mengangkat tangan lainnya, lalu dihantamkan ke bawah dengan keras. Liora sudah tidak ada di sana. Kakinya menghentak batu kecil, tubuhnya meluncur ke samping, lalu mendorong maju kembali.

⚙ VALKYRA - STORM SPEAR MODE : ⚙

⚙ TEMPEST LANCER!!! ⚙

KLAK-SHRK...

Tombak terbentuk sempurna dalam sekejap mata.

Ia menusuk dari bawah ke atas, pinggulnya ikut mendorong, seluruh berat dan tenaga tubuhnya dialirkan langsung ke ujung tombak. Bilah besi menembus lapisan luar kulit keras di paha raksasa itu. Tidak terlalu dalam tapi cukup terasa.

Otot besar itu menegang kaku. Raungan keras pecah di udara, getarannya terasa sampai ke tanah.

RAAAAAARGH...

Liora cepat menarik senjatanya keluar sebelum tekanan balik menghantam tangannya. Gagang senjata itu masih bergetar hebat di genggamannya. “...memang keras.“

Tangan raksasa itu langsung menyambar balik. Gerakannya cepat. Tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar itu.

Liora menendang tanah keras, meloncat jauh ke atas tumpukan batu runtuh di sampingnya. Batu itu retak dan pecah seketika saat berat tubuhnya mendarat di atasnya.

Ia lanjut melompat lagi ke dinding bangunan, kakinya menapak sebentar mencari tumpuan, lalu mendorong tubuhnya melayang tinggi ke udara. Tubuhnya berputar satu kali penuh memacu momentum.

⚙ VALKYRA - WINDBLADE MODE : ⚙

⚙ SKY ARC!!! ⚙

SLASH...

Dua bilah pedang menyapu udara, melepaskan gelombang energi tajam. Serangan itu menebas tepat ke wajah raksasa itu. Kulit kerasnya tergores panjang. Tidak dalam tapi cukup kuat membuat kepala besar itu terdorong miring ke samping. Matanya berkedip sesaat kehilangan fokus. Perhatiannya kini tertuju penuh dan bulat pada Liora. Tepat di tengah jalur rel.

Sementara itu, Arven sedang sibuk mengaitkan ujung rantai tebal itu ke poros roda gerobak besi besar. Ia menarik kuat sekali untuk memastikan kaitannya terkunci rapat dan tidak akan lepas. Matanya melirik cepat ke depan, menghitung jarak dan waktu dengan teliti. “...sedikit lagi.“

Arven terus bergerak. Langkahnya memotong medan pertempuran, bukan sekadar menghindar, ia masuk menyusup di celah-celah serangan, melewati debu, batu yang jatuh, dan bayang-bayang raksasa yang terus bergerak. Rantai besi tebal di tangannya diseret paksa. Beratnya menarik bahunya turun, otot lengannya menegang keras menahan beban. Ia memutar mengelilingi area pertarungan, mengukur jarak dan sudut pandang sambil terus berlari.

Sekali ia hampir tersapu oleh kaki raksasa itu, ia merunduk serendah mungkin, bahunya nyaris tersentuh permukaan cakar batu. Namun ia tidak berhenti sedetik pun. Sampai akhirnya ia sampai di gerobak tambang itu. Roda besi kokoh. Rel lurus memanjang. Posisi tepat sempurna.

“Ya... ini dia.“

Ia mengangkat ujung rantai, lalu mengaitkannya kuat-kuat ke poros roda gerobak. Satu tarikan keras untuk memastikan. Kunci rapat. Rantai menjadi tegang setengah, belum menarik beban penuh.

Arven langsung bergerak lagi. Tangannya menyambar sebuah tabung logam besar yang tergeletak di tanah, alat tua peninggalan tambang, tapi masih utuh dan berfungsi. Dengan gerakan cepat ia memasangnya ke poros penggerak roda. Tangannya bekerja cekatan, tanpa ragu sedikit pun.

PSHHHT...

Udara bertekanan mulai mengalir masuk mengisi tabung. Roda besi bergetar halus menahan tenaga yang terakumulasi. Tekanan di dalamnya naik dengan cepat.

“...sedikit lagi.“

Di sisi lain medan pertempuran, ritme gerakan Liora mulai terlihat patah. Langkahnya masih terlihat cepat tapi tidak lagi ringan dan melayang seperti tadi. Tarikan napasnya terdengar pendek dan memburu. Bahu kirinya terlihat turun sedikit, menahan nyeri yang tak kunjung hilang.

Ia berhasil menghindar satu tebasan, lalu yang kedua, namun jeda waktunya terlambat hanya sepersekian detik. Tangan raksasa itu menyambar cepat dari arah samping.

GRAB...

Tubuh Liora tertangkap basah di udara. “GHH-!“

Jari-jari batu itu menutup rapat. Menekan tubuhnya dengan kekuatan luar biasa. Armor pelindungnya berderit nyaris pecah. Tulang-tulangnya terasa bergetar di dalam daging. Kakinya terangkat lepas dari tanah.

Bonebreaker mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, bayangannya menutupi cahaya api di belakangnya. Siap menghantamnya ke tanah hingga hancur.

“ARVEN-!“ Teriakan Liora pecah memecah kebisingan.

“Sial—!” Bram melangkah setengah maju. “Kita harus...”

“Jangan.” Suara Garrick memotong. “Lihat!”

Di sisi rel, Arven menoleh seketika. Matanya menangkap seluruh situasi dalam satu pandangan singkat.

“SEKARANG!!“ Ia menghantam tuas pelepasan dengan telapak tangannya sekuat tenaga.

⚙ MECHANIC DRIVE : ⚙

⚙ OVERLOAD HAULER!!! ⚙

Udara bertekanan tinggi di dalam tabung meledak keluar sekaligus. Roda besi berputar liar dengan kecepatan maksimal, gerobak besar itu melesat cepat di atas rel besi.

WHOOOSH...

Percikan api menyembur terang dan panas dari gesekan roda yang melaju kencang. Rantai yang terhubung langsung menjadi tegang penuh seketika, lalu, melilit kuat ke pergelangan kaki monster.

CLANK-KRAK...

Kaki Bonebreaker Brute terkunci mati tidak bisa bergerak. Tarikan mendadak itu menghantam keseimbangannya dengan dahsyat. Tubuh raksasa itu tersentak keras ke belakang langkahnya terpeleset dan kehilangan tumpuan. Cengkeraman tangannya melemah seketika. Tubuh Liora terlepas, jatuh bebas dari ketinggian.

Namun bahkan sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Arven sudah bergerak lagi.

“Belum selesai!“ Ia menarik cepat tuas tambahan yang terhubung ke rantai lain, menarik sisa struktur derek besi tua yang masih tersangkut di tumpukan bangunan. Kayu penyangga retak. Besi rangka berderit keras menahan beban.

⚙ MECHANIC DRIVE : ⚙

⚙ ROCKET WRECKER!!! ⚙

^^^*gambar buatan AI^^^

Ia mengunci tuas kedua dengan kuat lalu melepaskan pengaman utama. Derek tua raksasa itu tercabut paksa dari pondasinya. Terlempar jauh ke depan dengan momentum dahsyat. Berputar cepat di udara seperti palu godam raksasa yang dilepas dari pegas.

WHOOOSH...

Bonebreaker baru saja mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang goyah, tapi sudah terlambat. Benturan keras menghantam tepat ke dadanya.

DUUUARRR...

Gelombang kejut meledak keluar ke segala arah. Udara tertekan hebat. Debu di sekitarnya tersapu bersih sesaat. Tubuh raksasa itu terangkat sedikit dari tanah akibat hantaman lalu jatuh terhempas.

Tanah bergetar hebat saat tubuh besar itu menghantam permukaan. Batu-batu di sekitarnya pecah berantakan. Rel besi berguncang keras melengkung. Tubuhnya terguling miring ke samping, rantai besi masih terikat kuat mengikat salah satu kakinya.

Di area dada yang terkena hantaman, retakan besar dan panjang menjalar jelas terlihat. Seolah batu karang yang paling keras pun akhirnya mulai menyerah dan pecah.

Bram terdiam. “…itu bukan kebetulan…”

Rogan menelan ludah. “Mereka… mengatur pertarungan ini…”

Di sisi lain, Liora jatuh menghantam tanah keras. Tubuhnya memantul sekali sebelum berguling di atas rel besi yang retak dan tumpukan serpihan batu. Bahunya membentur benda keras, napasnya terpotong seketika.

“UGH-!“

Ia berhenti dalam posisi setengah berlutut. Dada naik turun dengan sangat cepat. Namun matanya langsung terangkat tajam. Mengunci sosok raksasa yang kini tengah terbaring.

“Dua belas detik, Arven...“ gumamnya pelan, napasnya masih terdengar berat dan memburu. “Kau telat dua detik.“

Di dekat rel, Arven berdiri tegak sambil masih memegang erat tuas kendali. Bahunya naik turun kehabisan napas. Tangannya belum lepas dari besi dingin itu. Ia melirik sekilas ke arah Liora, lalu kembali menatap monster di depan mereka.

“...itu toleransi deviasi,“ jawabnya datar. “Strukturnya nggak runtuh sesuai prediksi awal.“

Ia akhirnya melepaskan cengkeramannya dari tuas, jari-jarinya terlihat masih sedikit gemetar menahan sisa tenaga. Tatapan matanya tetap tajam dan waspada.

“...tapi,“ tambahnya. “Masih masuk batas aman.“

⚙⚙⚙

A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...

—T28J

1
Raihan
bagus cerita kak


bantu support juga ya Novel ku baca 😄😄
Alia Chans
lanjut👈
Almeera
hadir kak 🌹🌹
Mystic Novel
nah seperti ini, mungkin bisa di konvert ke kata yang lebih sederhana dan bukan puitis, soalnya ini genre fantasi...

tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Mystic Novel
Thor, karena ini cerita fantasi, narasinya kalau bisa lebih sedikit di sederhanakan, karena pembaca susah nebak suasana dan dunianya.
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
seram kalo bisikan
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wow bagusnya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
memasuki sepatu sambil lari 🤔
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
yah serius lah /Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
keren ini /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
mantap ada transformers /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wah nasibnya gimana?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
titan yang ada "attack on titan"
Oto,'Pemuja Hati'
Jadi keingat dengan dunia game dengan menggunakan sistem kartu.. m😌
Oto,'Pemuja Hati'
Aku masih terkagum-kagum dengan gambarnya.. m🥹 Terlalu konsisten.. m🥰
SANG
Oke Thor💪👍 tetap semangat ya💪👍
SANG
Jempol untukmu dek👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Go go go go...💪👍
Muqimuddin Al Hasani
belum ngerti maksud kartunya
T28J: sudah rilis bab pemberitahuannya a'. How to Play Card-nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!