NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Bertanggung Jawab

Maaf. Apa … emm…”

Sebenarnya Ayu belum berfikir sejauh bantuan apa yang mau ditawarkan. 

Masuk modal nekat. Bibirnya jadi kaku sejenak.

Hingga dia reflek menjawab, “Bapak mau saya buatkan kopi?”

Arvin malah membuka laptopnya dan fokus mengetik lagi. “Lagi-lagi kamu melanggar perintah saya untuk jangan masuk ke ruangan ini!”

“Maaf.” Ayu mundur, memutar badan pelan. 

Ternyata memang sia-sia dan berakhir dicap salah lagi.

Arvin sekilas melirik mundurnya Ayu. Sampai suara beratnya terpaksa keluar lagi dengan jari-jari tetap mengetik lincah.

“Sana buatkan kopi, tapi setelahnya jangan pernah masuk ke sini lagi!”

“Ba–baik, Pak” 

Dengan hati yang sempat ciut lalu mendadak bersemangat, Ayu bergegas menuju dapur. Dia berjanji akan membuat kopi paling mantap di dunia.

Dulu di desa, Ayu sangat sering membuatkan bapaknya secangkir kopi. Kopi yang selalu membuahkan pujian.

Bahkan para tetangga atau tamu yang datang jadi tidak sungkan memuji rasa kopi buatan Ayu.

Maka, harusnya Arvin menerima rasanya juga.

Dengan cekatan, Ayu mencampur bubuk kopi dan gula dengan takaran hasil buah pengalamannya.

Hasilnya harum. Nikmat. Sempurna.

Ayu meletakkan secangkir kopi buatannya di samping Arvin. Dia menunggu Arvin meminumnya dengan tegang.

Ketika mata pria itu bergulir ke kopi buatan Ayu, tangannya ragu-ragu meraihnya. Dia menelisik, mengangkatnya, lalu diletakkan kembali.

“Ada yang salah sama kopinya … Pak…?”

“Kau tidak mencampur ini dengan racun kan?”

Ayu menggeleng cepat. “Tentu tidak Pak!”

Arvin menyenderkan punggung sambil menghujani tatapan curiga kepada Ayu.

“Bisa saja kamu masukkan racun karena dendam sama saya.”

Ayu tergelak.

Lalu cepat-cepat menutup mulut.

“Kenapa kamu ketawa?” Arvin terkejut sembari menaikkan punggung lagi.

“Maaf Pak … soalnya tuduhan bapak lucu.”

Dahi Arvin mengernyit.

“Saya tidak pernah kepikiran ke arah sana. Andaipun pernah, saya mungkin tak akan tega. Jangankan mencelakai bapak, menginjak semut saja saya tidak sanggup.”

Arvin enggan merespon penuturan Ayu yang terlalu polos dan naif itu.

Dia langsung menarik dirinya kembali kepada pekerjaan di laptopnya. 

Sadar gerak Arvin memang sedang ingin fokus bekerja, Ayu membatalkan keinginan melihat Arvin menyesap kopi buatannya.

Akan tetapi, kopi itu dirasa masih belum cukup.

Rasa bersalah Ayu masih besar. Tanggung jawabnya masih kurang.

Ayu yang hampir sampai di ambang pintu, tiba-tiba membalikkan badan.

“Pak!”

“Ada apa lagi?”

“Saya tidak mau tidur sampai bapak selesai lembur. Saya akan ikut terjaga, duduk di sofa. Semoga dengan ini bisa menebus kecerobohan saya soal menghilangkan kertas itu. Permisi.”

Ayu menarik pintu pelan.

Begitu pintu tertutup, Arvin mendengus.

“B o d o h. Dia pikir dengan begitu bisa meringankan pekerjaanku.”

Saat hendak mengetik kembali, aroma kopi disebelahnya menarik-narik.

Matanya jadi melirik ke sana. Ada enggan yang kemudian berubah ingin. 

Apalagi saat melihat hitam pekat kopi itu yang kepul uapnya meliuk-liuk.

‘Jangankan mencelakai bapak, menginjak semut saja saya tidak sanggup.’

Ingatan kata-kata ayu tadi menggelitik perutnya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arvin mendengar alasan yang sangat menggambarkan arti lemah. Tapi lucu.

Lalu, Arvin tanpa ragu meraih dan menyeruput secangkir kopi buatan Ayu itu.

Cangkir diletakkan kembali. Arvin tertegun.

Kepalanya mengangguk-angguk sebentar sebelum akhirnya kembali bergulat dengan lembur.

Di luar, Ayu tidak main-main dengan ucapannya. Dia bersiap-siap ikut lembur di sofa ruang tengah.

Dengan semangat membara, dia gunakan lemburnya dengan membaca buku resep hingga selesai sampai halaman terakhir.

Karena Arvin tak kunjung keluar dari ruangannya, Ayu mengalihkan kesibukannya kepada game di HP.

Arvin belum juga selesai. Bahkan setelah jam menunjuk pukul 12 malam.

Raut Ayu jadi menekuk. Padahal sudah bolak-balik baca buku resep. Main HP lagi. Baca buku resep lagi.

Sampai akhirnya, buku dan HP berubah menjadi benda membosankan.

Ayu yang sudah tak kuat lalu merobohkan diri. Tertidur pulas sedikit miring. Kepalanya bergerak tidak nyaman di atas pinggiran sofa yang ia jadikan bantal.

Jam dinding menunjuk waktu 02.15. Arvin melangkah lesu, baru keluar dari ruang kerjanya. Dia berjalan sambil terus memijat-mijat bahunya sendiri.

Sampai di ruang tengah, dia mendapati Ayu di sofa, tertidur lelap. Langkah kakinya melambat kemudian berhenti. 

Cukup lama dia melihat Ayu dari tempatnya hingga Arvin memutuskan datang mendekat.

Sampai di dekat Ayu, Arvin semakin jelas melihat rupa Ayu saat tidur. Wajah yang polos itu nampak semakin polos. Jernih dan mendamaikan.

Arvin dapat jelas melihat Bibir tipis merah muda Ayu yang tiba-tiba bergerak pelan. Membuat jakun Arvin reflek naik turun.

Arvin menyilangkan tangan di dada. Ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. Apakah itu soal mau mengangkat Ayu lalu dipindahkan ke kamarnya? 

Tentu saja tidak.

Arvin malah bergegas pergi menuju kamarnya.

Tak lama, Arvin kembali dengan tangan membawa sebuah selimut hangat.

Selimut itu ia bentangkan dan diletakkan di atas tubuh Ayu, pelan dan hati-hati.

Arvin sempat merapikan selimut di sekitar leher Ayu. Kepalanya agak dekat dengan Ayu. Sehingga, ketika hendak bangkit kembali, Arvin mendengar Ayu tiba-tiba mengigau.

“Pak Arvin jangan marah-marah terus. Ini kemejanya sudah saya setrika.”

Lirih suara Ayu membuat Arvin terdiam sebentar. 

Dia kembali berdiri, mematikan lampu ruangan, lalu beranjak pergi.

...***...

Pagi hari, Ayu mulai pelan-pelan bangun dan terduduk. 

Sambil menguap panjang, dia merentangkan tangan sampai otot-otot tubuhnya terasa ketarik. Dia meraba-raba selimut yang kini masih menutupi tubuh bawahnya, serta memastikan bahwa benda yang ia sentuh benar-benar nyata.

Semburat bingung muncul di wajahnya yang nampak masih setengah sadar.

Pasalnya, Ayu bingung karena semalam tidak merasa membawa selimut. Kejadian terakhir yang ia ingat; tubuh sangat lelah lalu tidak kuat membuka mata.

Setelah Ayu memperhatikan lebih seksama, selimut itu dirasa tidak asing. Ayu menarik ujungnya lalu mengendusnya.

“Bau parfum pak Arvin,” ucapnya dengan suara khas orang belum sadar dari tidur sepenuhnya.

Lantas, dia mulai berdiri, hendak mencari Arvin.

Samar-samar jam dinding terlihat, menunjukkan pukul 06.10.

“Jam segini, pak Arvin biasanya masih berolahraga,” ucapnya sembari mengucek-ngucek mata.

Entah karena separuh jiwanya masih lari-larian di dunia mimpi atau apa, Ayu terhuyung-huyung pergi menuju ke ruang gym, hanya untuk membuktikan ada atau tidaknya Arvin di tempat tersebut.

Di ruang gym, kebetulan sosok yang dicari Ayu baru selesai berolahraga. Arvin hanya mengenakan celana training hitam dan sedang mendekat menuju pintu keluar.

Ayu membuka pintu masuk ruang gym, lalu langsung nyolong masuk.

Baru ketika di depannya nampak sosok Arvin yang perkasa—lekukan lengan kekar, dada terpampang bidang, dan otot perut terpahat tangguh berkotak-kotak—mata Ayo sontak membulat. Menarik semua ruh kembali ke tubuhnya.

Kesadarannya yang langsung terkumpul menghentak otot-otot tubuhnya.

Ayu kehilangan keseimbangan. Bergerak miring ke samping.

Arvin mengayunkan langkah lebar. Melesat menangkap Ayu ke pelukannya.

Mata mereka bertemu.

Ayu melemas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!