NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 28

Pagi di penthouse itu terasa seperti fajar di tanah pemakaman. Dingin, sunyi, dan penuh sesak oleh aroma perpisahan. Zoya berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang tertutup kain khimar hitam.

Matanya sembab, namun ada binar ketegasan yang mulai menyala di sana. Ia tidak lagi ingin menangis di kaki Arvin. Ia menyadari bahwa memohon pada hati yang tertutup ego adalah kesia-siaan.

Di ruang makan, Arvin duduk dengan kaku. Di sampingnya, Mama Rosa sudah hadir sepagi itu, menyesap teh dengan wajah penuh kemenangan.

"Arvin, tunggu apa lagi?" suara Mama Rosa memecah keheningan. "Berita tentang menantu keluarga Dewangga sudah mulai menyebar di kalangan kolega Mama. Kau tidak bisa mempertahankan wanita seperti ini. Dia memalukan! Ceraikan dia sekarang, dan biarkan dia kembali ke kampungnya."

Arvin diam, namun rahangnya mengeras. Ia melirik Zoya yang baru saja keluar dari kamar. Zoya tidak menuju meja makan. Ia membawa tas ranselnya, tas yang sama yang ia bawa saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini.

"Mau ke mana kau?" tanya Arvin, suaranya parau namun tetap dingin.

Zoya berhenti, namun tidak menatap Arvin. Ia menatap lurus ke arah pintu keluar. "Aku akan ke kampus untuk menyelesaikan urusanku. Dan setelah itu... aku ingin pulang ke pesantren, Tuan. Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku."

Arvin tersentak. Genggamannya pada sendok menguat. "Siapa yang memberimu izin untuk pulang?"

"Hatiku yang memberi izin, Tuan," suara Zoya bergetar namun tenang. "Kau bilang kau tidak ingin tanganmu kotor untuk wanita tanpa integritas seperti aku. Jadi, biarlah aku pergi agar tanganmu tetap bersih. Aku sudah cukup sakit hati dengan tuduhanmu. Ternyata, setinggi apa pun gedung yang kau miliki, kau tidak punya cukup ruang untuk sedikit saja kepercayaan pada istrimu."

Zoya melangkah pergi sebelum Arvin sempat menjawab. Arvin hendak mengejar, namun tertahan oleh tarikan tangan Mama Rosa.

"Biarkan dia pergi, Arvin! Itu lebih baik untukmu!"

Di kampus, Zoya tidak pergi ke kantin atau perpustakaan untuk meratap.

Ia menuju laboratorium komputer di sudut fakultas. Dengan kemampuan analisis digital yang ia pelajari dari mata kuliah Sistem Informasi, Zoya mulai masuk ke dalam peladen (server) internal pengiriman berkas mahasiswa.

Jarinya menari lincah di atas papan ketik. Ia melacak log aktivitas akun administrasi Pak Hendra. Ia menemukan sesuatu yang janggal, ada akses masuk pada pukul 06.00 pagi, saat kantor seharusnya belum buka.

"Zoya!" suara bisikan memanggilnya.

Zoya menoleh. Liam berdiri di sana, wajahnya penuh kecemasan. "Zoya, aku sudah melakukannya. Aku berhasil mendapatkan akses ke rekaman CCTV lorong arsip lewat bantuan anak IT yang kukenal. Kamu harus lihat ini."

Liam memutar sebuah klip video di ponselnya. Dalam rekaman yang sedikit buram itu, terlihat Pak Hendra masuk ke ruang arsip bersama seorang wanita asing bertopi hitam, wanita yang sama yang pernah Zoya lihat, itu Nadia.

Mereka tampak memasukkan sesuatu ke dalam map berwarna hijau milik Zoya.

Zoya memejamkan mata sejenak, mengucap hamdalah. "Terima kasih, Liam. Kamu sudah mempertaruhkan segalanya untuk membantuku."

"Aku tidak bisa membiarkan orang baik sepertimu dihancurkan, Zoya," ujar Liam tulus. "Lalu, apa rencanamu? Apa kau akan memberikannya pada Dekan?"

"Dekan tidak akan percaya padaku jika aku yang membawanya. Dia hanya percaya pada satu orang," Zoya mengambil flashdisk, menyalin data video dan log sistem itu.

Zoya duduk di depan komputer, membuka akun emailnya. Ia mengetikkan alamat email pribadi Arvin Dewangga. Email yang biasanya ia gunakan untuk mengirimkan daftar belanjaan atau jadwal kontrol dokter Arvin, kini akan berisi sesuatu yang berbeda.

Kepada - Arvin Dewangga

Subjek - Hormat Terakhir Dari Aku.

"Tuan, ini adalah bukti integritasku yang kau pertanyakan. Video ini menunjukkan siapa yang memasukkan kunci jawaban itu ke map milikku, dan log sistem ini menunjukkan kapan 'file' palsu itu dibuat. Aku tidak butuh kekuasaanmu untuk menyelamatkan aku, aku hanya butuh kebenaran."

"Terima kasih telah memberi aku tempat berteduh selama ini, meski itu terasa seperti penjara. Aku melepaskanmu dari tanggung jawab menjaga 'aset' yang kau benci ini. Aku pulang ke pesantren. Jangan cari aku lagi."

Zoya menekan tombol Send dengan tangan gemetar. Ia kemudian berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan keluar. Ia merasa ringan, namun hatinya perih luar biasa.

Arvin berada di tengah rapat besar saat notifikasi email di ponselnya berbunyi. Ia biasanya mengabaikan email saat rapat, namun nama pengirimnya membuatnya terpaku - Zoya Alana.

Ia membuka email itu. Matanya melebar saat melihat lampiran video dan data teknis yang sangat detail. Arvin menonton video itu dengan napas tertahan. Ia melihat Nadia. Ia melihat pengkhianatan yang sebenarnya terjadi di bawah hidungnya.

Seketika, rasa bersalah menghantam Arvin seperti godam godam besar. Ia teringat kata-kata kasarnya semalam. Ia teringat bagaimana ia membiarkan Zoya menangis sendirian sementara ia sibuk menjaga harga diri perusahaannya.

"Rapat bubar!" teriak Arvin.

"Tapi Pak, ini baru dimulai..."

"AKU BILANG BUBAR!"

Arvin berlari menuju parkiran. Ia masuk ke mobilnya dan memacu kendaraan itu dengan kecepatan gila. Ia membuka aplikasi GPS. Titik biru Zoya bergerak... menjauh dari kampus, menuju Terminal Bus Antar Kota.

"Jangan pergi, Zoya... kumohon jangan pergi," bisik Arvin, tangannya gemetar di atas kemudi.

Ia tiba di terminal saat sebuah bus menuju Jawa Tengah mulai bergerak. Arvin berlari menembus kerumunan orang, matanya mencari sosok bercadar hitam yang sangat ia kenali.

"ZOYA!" teriak Arvin sekuat tenaga.

Langkah Arvin terhenti saat ia melihat Zoya sedang berdiri di depan pintu bus yang hampir tertutup. Zoya menoleh. Mata mereka bertemu. Tidak ada lagi ketakutan di mata Zoya, hanya ada kelelahan yang mendalam.

Zoya tidak turun. Ia hanya menatap Arvin dengan tatapan perpisahan yang menyayat hati, lalu perlahan pintu bus tertutup. Bus itu melaju, meninggalkan Arvin yang mematung di tengah debu terminal.

Sang penguasa itu kini terduduk di aspal terminal yang panas, menunduk dengan tangan menutupi wajahnya. Ia telah memenangkan kebenaran, namun ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang mencintainya tanpa syarat.

...----------------...

To Be Continue ....

1
mauza SEB
lanjut ka
Tri Hastuti
seneng liatnya klau harmonis ky gt
mauza SEB
lanjut ka
Devi Novita
Arvin setres perlu ke psikolog tuh biar hilang sifat posesif over protectivenya akibat rasa trauma ditinggalkan sehingga merasa kehilangan, awas lama2 kamu bisa kehilangan istrimu Vin karena merasa lelah terkekang dan GK dihargai siap siap aja lu
Fauziah
pergi yg jauh zoya
Fauziah
begini orang yg pintar tp bodoh
Fauziah
dengan cara yg salah
mauza SEB
lanjut ka
ρυтяσ kang'typo✨
Alhamdulillah.... ternyata Arvin bener mau berubah dan belajar menjadi lebih baik lagi, g nyangka banget😭😭🥰jadi terharuuuu
zhelfa_alfira
semangat kk
ρυтяσ kang'typo✨
please..... jangan biar kan momen ini berakhir 🥺🥺🥰🥰
ρυтяσ kang'typo✨
fix ya.... sudahi dramu yang menyebal kan Arvin, sekarang kasih Zoya cinta yang tulus😉
FHR
Ayo Arvin tunjukkan cintamu..
ρυтяσ kang'typo✨
apa akan berjalan mulus cinta yang baru mereka rasakan
ρυтяσ kang'typo✨
semoga u beneran bisa di percaya Arvin
mauza SEB
lanjur kq
mauza SEB
di tunggu kelanjutan nya ka
FHR
Untuk menjadi pasangan yang setara, Arvin harus mempantaskan dirinya dengan Zoya.
mauza SEB
aupdet nya sedikit2 ya ka😌
Zee
Bagussssss, kebawa banget emosinya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!