NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pertarungan di Ceruk Batu

Mereka belum berjalan jauh ketika suara langkah kuda kembali terdengar dari belakang.

Wira menoleh cepat, tetapi Ki Rangga langsung mengangkat tangan memberi isyarat agar ia tidak berhenti. Jalur yang mereka lewati menyempit di antara dua tebing batu rendah. Di kiri, semak liar tumbuh rapat dan menghalangi pandangan. Di kanan, tanah menurun tajam menuju parit kecil yang airnya mengalir pelan. Tempat itu sunyi, tetapi justru karena sunyi itulah suara pengejar terdengar lebih jelas. Rombongan yang tadi menyisir bukit rupanya menemukan arah mereka lagi.

Panca berjalan di belakang Wira dengan napas pendek-pendek. “Mereka belum menyerah,” katanya pelan.

“Jangan bicara,” jawab Rangga singkat tanpa menoleh.

Wira menelan ludah. Sejak meninggalkan celah batu, ia terus berusaha menyesuaikan langkah dengan dua orang di depannya. Rangga bergerak seperti orang yang sudah mengenal medan ini dengan baik. Tidak ada gerakan sia-sia. Setiap langkah dipilih, setiap belokan diperhitungkan. Wira masih belum benar-benar percaya pada lelaki itu, tetapi ia tak bisa menyangkal bahwa tanpa Ki Rangga mereka mungkin sudah tertangkap di sungai tadi.

Mereka tiba di sebuah ceruk batu kecil yang tersembunyi di balik akar pohon besar. Di sana, batu besar membentuk semacam pelindung alami, cukup untuk bersembunyi dari pandangan langsung jalur atas. Ki Rangga memberi isyarat agar mereka masuk. Wira merunduk lebih dulu, lalu Panca menyusul. Ruang di dalam sempit, tetapi masih bisa menampung tiga orang jika berdiri berhimpitan.

Wira baru mengatur napas ketika Ki Rangga berhenti di ambang ceruk dan mengintip ke luar.

“Jangan bersuara,” katanya lagi.

Wira menatap wajahnya yang setengah diterangi cahaya pagi. “Mereka sedekat itu?”

Ki Rangga tidak menjawab. Dari luar terdengar suara lain, jelas dan cepat. “Cari di sekitar sini!”

Wira langsung membeku. Panca memegang lengannya tanpa sadar. Mereka bertiga diam seperti patung, sementara di luar langkah kaki makin mendekat. Dari celah sempit di depan, Wira bisa melihat bayangan bergerak lewat di atas tanah. Satu orang, lalu dua, lalu tiga. Mereka menyisir area batu dengan hati-hati.

Salah satu suara terdengar dekat sekali. “Jejaknya hilang di sini.”

“Periksa batu itu.”

Ki Rangga menggeser tubuhnya sedikit ke sisi ceruk. Tangan kanannya turun ke pinggang. Wira baru sadar, dari balik kain sederhana itu, pria itu menyimpan pisau pendek. Benda itu kecil, tetapi bilahnya tampak tajam. Ki Rangga tidak terlihat panik. Justru sikap tenangnya membuat Wira lebih waspada. Orang seperti ini biasanya sudah pernah berhadapan dengan bahaya yang lebih besar dari sekadar sekelompok pengejar.

Panca berbisik nyaris tak terdengar, “Kalau mereka masuk?”

“Diam,” jawab Rangga.

Satu penunggang turun dari jalur atas dan berhenti tepat di depan ceruk. Wira bisa melihat ujung kaki pria itu lewat dari celah. Orang itu mengamati tanah, menunduk, lalu mendekat sedikit. Nafas Wira tertahan. Jika pria itu hanya menunduk satu langkah lagi, ia pasti melihat bagian dalam ceruk.

Ki Rangga mengangkat batu kecil dari tanah tanpa suara.

Lalu melemparkannya ke sisi lain.

Batu itu membentur batang pohon di kejauhan, menimbulkan bunyi keras yang memecah sunyi. Dua penunggang di atas langsung menoleh ke arah suara. Orang di depan ceruk itu ikut berpaling. Dalam satu detik, Ki Rangga bergerak. Ia melangkah keluar dari sisi gelap ceruk dengan kecepatan yang membuat Wira terkejut. Bilah pisau menyambar tengkuk penunggang terdekat. Orang itu jatuh tanpa sempat berteriak.

Penunggang kedua langsung mencabut pedang dan menyerang. Ki Rangga menangkis dengan pergelangan tangan, lalu memutar tubuh, menekan lengan lawan ke bawah. Pedang itu bergeser, kehilangan arah. Sebelum lawan sempat menarik kembali senjatanya, Ki Rangga menghantam tulang rusuknya dengan siku. Suara erangan pendek terdengar keras di celah batu.

Wira terpaku sesaat. Semua gerakan itu terjadi terlalu cepat. Ia baru sadar mereka sedang benar-benar bertarung, bukan sekadar menghindar. Penunggang ketiga mengangkat tombak pendek dan maju dari sisi kanan. Rangga memutar tubuh, menahan ujung tombak dengan lengan kiri, lalu menekan dagu lawan dengan telapak tangan. Orang itu terhuyung.

“Keluar!” teriak Ki Rangga.

Wira tersentak. Panca sudah lebih dulu menyambar ranting keras yang tergeletak di dekat batu, lalu melemparkannya ke arah wajah penunggang yang mulai bangkit. Wira meraih batu kecil dan melemparkannya juga, mengenai bahu lawan dengan bunyi tumpul. Tak cukup untuk melukai serius, tetapi cukup untuk mengacaukan gerak.

Penunggang yang tadi jatuh masih sempat berusaha bangkit. Ia meraih pinggangnya, mungkin mencari senjata cadangan. Wira bergerak refleks, menjejak tangan pria itu dengan kaki. Orang itu mengumpat keras. Wira terkejut dengan tindakannya sendiri, tetapi tidak sempat mundur karena satu lagi penunggang dari atas mulai turun tergesa ke arah mereka.

Ki Rangga melihatnya lebih dulu. “Ke belakang!” serunya.

Wira dan Panca segera keluar dari ceruk dan menuruni sisi batu yang miring. Tanah di bawah licin oleh lumut dan embun. Wira hampir jatuh saat kakinya terpeleset, tetapi Panca menarik lengannya tepat waktu. Ki Rangga menyusul di belakang mereka setelah menahan dua lawan cukup lama. Ia memutar pisau pendek sekali lagi, membuat penyerang terdekat mundur selangkah.

Namun jumlah mereka belum habis.

Dari arah jalur atas, suara teriakan terdengar lagi. “Mereka di bawah!”

Wira menoleh sekilas dan melihat dua penunggang baru sudah muncul di pinggir batu. Satu membawa busur, yang lain tombak. Mereka tidak lagi bergerak hati-hati. Kini mereka menekan lebih cepat, seolah tak ingin kehilangan target yang sejak pagi diburu.

Panca memucat. “Mereka banyak sekali.”

“Berlari,” kata Ki Rangga.

“Ke mana?” tanya Wira.

Ki Rangga menunjuk ke arah kiri, ke jalur sempit yang memanjang di antara akar dan batu. “Turun ke ceruk batu lain. Ikuti aku.”

Wira tidak sempat bertanya lagi. Mereka berlari mengikuti Ki Rangga di sepanjang jalur yang menurun pelan. Di belakang, suara musuh makin dekat. Sesekali terdengar seruan, lalu bunyi kaki menghantam tanah. Wira memaksa napasnya teratur, walau dada terasa seperti terbakar. Belum pernah ia berlari sejauh ini dalam keadaan dikejar orang bersenjata.

Mereka tiba di sebuah cekungan batu yang lebih rendah. Di sana terdapat ruang kecil, cukup lebar untuk berdiri beberapa orang. Dinding batu di belakangnya lembap dan berlumut. Di sisi kanan, ada lubang kecil yang mengalirkan air. Tempat itu seperti perlindungan sementara yang dibentuk alam. Ki Rangga berhenti sesaat, mengamati sekeliling. Setelah yakin tidak ada orang yang langsung mengikuti, ia mengangkat tangan memberi isyarat agar Wira dan Panca menunduk.

“Di sini,” katanya. “Berhenti.”

Wira menjatuhkan diri ke batu datar yang licin, lalu menghirup napas dalam-dalam. Panca juga duduk di sampingnya, wajahnya pucat. Untuk pertama kalinya sejak lari dari desa, keduanya tampak seperti benar-benar kelelahan.

Wira mengusap keringat di pelipis. “Kita masih dikejar?”

Ki Rangga mengintip ke celah atas. “Masih.”

“Berapa banyak?”

“Lebih dari yang kalian suka dengar.”

Panca mengerang kecil. “Jawabanmu selalu tidak menyenangkan.”

Ki Rangga meliriknya sekilas. “Karena kenyataan juga sering tidak menyenangkan.”

Wira tidak menanggapi. Ia menatap jalur di belakang mereka, lalu ke atas batu, lalu ke lempeng kayu kecil yang masih tersimpan di pinggangnya. Benda itu seolah menjadi titik awal dari semua kekacauan ini. Ia akhirnya mengeluarkannya dan menatap ukiran tanda di permukaannya. Di bawah cahaya redup, ukiran itu tampak lebih tua, lebih dalam, seperti bekas yang sengaja dirawat lama.

Ki Rangga menoleh ke benda itu. “Tunjukkan.”

Wira mengulurkan tangan. Ki Rangga menerima lempeng kayu itu, lalu memeriksanya lebih dekat. Jari-jarinya mengusap tanda di tengah ukiran, berhenti pada satu titik tertentu, lalu bergerak ke sisi lain. Wira memperhatikan wajahnya yang berubah sangat sedikit. Hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa lelaki itu mengenali sesuatu.

“Apa?” tanya Wira cepat.

Ki Rangga tidak langsung menjawab. “Ini bukan hiasan.”

“Lalu?”

“Ini penanda.”

Panca mengernyit. “Penanda apa?”

“Penanda milik orang-orang yang dulu punya hubungan dengan pusat kekuasaan.”

Wira menatapnya tidak mengerti. “Pusat kekuasaan?”

Ki Rangga mengembalikan lempeng kayu itu. “Tempat yang lebih tinggi dari desa kalian.”

Wira menelan ludah. “Kerajaan?”

Ki Rangga diam sebentar sebelum menjawab. “Ya.”

Kata itu menggantung di udara. Wira tahu kerajaan bukan hal baru. Semua orang di wilayah mereka pernah mendengar tentang kekuasaan besar dari utara atau barat, tentang prajurit, pajak, pengawal, dan berita-berita yang datang dari pusat. Tapi bagi anak desa seperti Wira, kerajaan selalu terasa jauh. Sesuatu yang hidup di luar hidupnya. Sekarang, kata itu mendadak masuk ke tengah-tengah nasibnya sendiri.

Panca memandang Ki Rangga. “Kenapa kerajaan peduli pada benda sekecil ini?”

“Karena bukan bendanya saja,” jawab Ki Rangga. “Tapi siapa yang memilikinya.”

Wira memandang tangan sendiri. “Ibuku.”

Ki Rangga mengangguk kecil. “Dan karena itu, desa kalian tidak diserang secara kebetulan.”

Wira langsung mengangkat kepala. “Maksudmu mereka memang datang mencariku?”

“Sejak awal, ya.”

Kalimat itu membuat Wira terdiam. Ia ingin membantah, tetapi suara dari atas memaksa semua orang berhenti bicara. Langkah kaki kembali terdengar. Kali ini lebih dekat. Salah satu pengejar tampaknya sudah menemukan jalur turun ke cekungan itu. Ki Rangga langsung berdiri. Wira ikut bangkit, begitu pula Panca.

“Di sana!” terdengar suara seorang pria dari atas. “Mereka di bawah!”

Wira menegakkan tubuh. Jantungnya berdetak kencang. Ki Rangga menoleh cepat. “Kalau aku bilang lompat, kalian lompat.”

“Lompat ke mana?” tanya Panca panik.

“Ke sisi kiri. Ada jalur sempit.”

Wira mengamati area itu sekilas. Benar, ada celah di balik batu besar, hampir tertutup akar dan semak. Jalur itu terlihat sempit dan curam. Tetapi Rangga jelas tidak memberi mereka waktu untuk mempertimbangkan.

Satu penunggang muncul dari atas dan melompat turun ke batu besar di dekat mereka. Pedang di tangannya terangkat tinggi. Wira mundur refleks. Ki Rangga segera maju, menahan serangan pertama dengan lengan kiri, lalu menekan pergelangan lawan dengan tangan kanan. Pedang itu tertahan sesaat. Panca melempar batu kecil ke arah mata penyerang, mengganggunya cukup untuk membuat gerakan lawan melambat.

“Sekarang!” teriak Ki Rangga.

Wira tidak sempat berpikir. Ia menarik Panca dan melompat ke sisi kiri yang dimaksud Ki Rangga. Kaki mereka mendarat di jalur sempit yang licin dan penuh batu lepas. Wira hampir tergelincir, tetapi berhasil menahan tubuh dengan tangan di batu. Ki Rangga menyusul sesaat kemudian setelah menendang penyerang itu mundur.

Mereka bergerak turun dengan cepat, menyusuri jalur yang jauh lebih sempit daripada yang terlihat dari atas. Batu di bawah kaki mudah bergeser. Cabang-cabang rendah menyabet wajah. Namun jalur itu cukup tersembunyi untuk menutup pandangan dari pengejar.

Di belakang, suara teriakan masih terdengar.

“Kejar mereka!”

Wira menoleh sedikit dan melihat Ki Rangga melompat ke jalur kecil di belakang mereka. Wajahnya keras, napasnya lebih berat, tetapi masih tetap fokus. Lelaki itu jelas bukan orang sembarangan. Ia bergerak seperti seseorang yang telah melewati banyak pertarungan dan belum kehilangan ketenangan.

Setelah beberapa menit menuruni jalur itu, mereka tiba di sebuah bukaan kecil yang menghadap ke lereng landai. Di sana, pohon-pohon lebih rapat, dan suara dari atas mulai tertahan oleh dinding batu. Mereka berhenti sejenak di balik semak lebat. Panca langsung menjatuhkan diri ke tanah dan menarik napas panjang.

“Aku tidak mau jalan lagi,” katanya dengan suara serak.

Wira hampir tertawa, tapi tidak jadi karena ia sendiri sama lelahnya. Ki Rangga berdiri beberapa langkah di depan mereka, mengamati jalur yang baru ditinggalkan. “Kita tidak bisa tinggal di sini.”

“Kenapa?” tanya Wira.

“Karena mereka masih mencari.”

Wira menatapnya dengan napas masih terputus. “Kau bilang aku diburu oleh orang-orang yang tahu masa lalu keluargaku. Apa maksudmu itu?”

Rangga menoleh pelan. “Masih terlalu awal.”

“Jawab saja.”

“Aku akan, tapi tidak di tempat terbuka.”

Panca memejamkan mata sebentar. “Aku mulai benci kalimat itu.”

Wira mengabaikannya. Ia menatap wajah Ki Rangga dengan keras. “Kau tahu lebih banyak daripada yang kau katakan.”

“Ya.”

“Dan kau sengaja tidak bilang.”

“Karena kalau aku salah bicara, mereka akan tahu kita lewat sini.”

Wira menggertakkan gigi. Ia ingin memaksa, namun akal sehatnya kalah oleh kelelahan. Jauh di atas bukit, suara kuda masih terdengar samar. Artinya pengejar belum menyerah. Desa di belakang mereka masih menyala, meski api kini tampak lebih jauh. Wira merasakan sesuatu menekan dadanya, bukan cuma takut, tapi juga marah. Marah karena ia tidak tahu apa-apa. Marah karena ibunya tidak menjelaskan. Marah karena semua orang dewasa seolah memegang peta yang ia tidak bisa baca.

Ki Rangga melangkah mendekat. “Dengarkan aku baik-baik.”

Wira menatapnya.

“Kalau kau ingin tahu siapa yang menyerang desa, kau harus bertahan dulu. Kalau kau ingin tahu soal ayahmu, kau harus hidup. Dan kalau kau ingin mengambil sesuatu dari malam ini,” Ki Rangga menepuk pelan lempeng kayu di tangan Wira, “kau harus belajar membaca tanda semacam ini.”

Wira menatap benda itu lama. Ukiran kecil di atasnya tampak biasa jika dilihat cepat, tetapi setelah ucapan Ki Rangga, bentuknya terasa berbeda. Seperti pintu kecil menuju sesuatu yang lebih besar.

Panca menatap keduanya bergantian. “Kalau begitu, kita ke mana sekarang?”

Ki Rangga menunjuk ke arah timur laut, ke hutan yang lebih rapat di kejauhan. “Ada pondok tua di lereng sana. Aman untuk malam ini.”

“Pondok siapa?”

“Tempat singgah lama.”

“Dan itu aman?”

Ki Rangga menoleh sebentar. “Lebih aman daripada bertahan di bawah batu selamanya.”

Wira mengangguk pelan. Ia tidak benar-benar percaya pada lelaki itu, tapi pilihan lain belum ada. Panca bangkit dengan susah payah dan menepuk lututnya yang penuh tanah.

“Kalau begitu ayo,” katanya. “Aku sudah terlalu sering hampir mati pagi ini.”

Wira menatap arah desa sekali lagi. Asap masih terlihat di kejauhan, walau tidak setebal tadi. Wajah ibunya kembali muncul di benak. Ia tidak tahu di mana perempuan itu sekarang, tetapi ia berjanji dalam hati bahwa ini belum selesai.

Ki Rangga berbalik lebih dulu dan mulai memimpin jalan. “Jangan diam terlalu lama. Mereka bisa menemukan jejak kita lagi.”

Wira menahan napas, lalu mengikuti. Panca menyusul di belakangnya. Mereka bertiga mulai bergerak menembus jalur sempit di antara semak dan akar pohon. Dari kejauhan, suara kuda masih bergema, namun kini semakin terputus. Untuk sementara, mereka berhasil lolos.

Namun Wira tahu satu hal dengan sangat jelas: orang-orang itu tidak akan berhenti di hari ini. Desa terbakar mungkin baru permulaan. Dan dirinya, entah mengapa, menjadi pusat dari semua kekacauan itu.

Di tengah langkah yang berat, Wira merapatkan genggaman pada lempeng kayu kecil di pinggangnya.

Kalau semua ini memang berawal darinya, maka suatu hari ia akan menuntaskan pertanyaan itu sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, api yang membakar desa tidak hanya meninggalkan rasa takut. Ia juga meninggalkan tekad.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!