NovelToon NovelToon
Di Balik Seragam Yang Sama

Di Balik Seragam Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tazaya

Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang

dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pahlawan Malam

Naira keluar dari kafe saat jam hampir menyentuh pukul sebelas malam. Jalan protokol pusat kota masih cukup terang, namun GPS di ponselnya tiba-tiba memberikan rute alternatif berwarna hijau pekat. Jalan pintas melewati area perumahan tua dan pergudangan yang sudah sepi.

Naira biasanya tidak akan mau lewat sana. Tapi malam ini, rasa lelah yang luar biasa setelah begadang dua malam berturut-turut membuatnya tidak berpikir panjang. Dia hanya ingin cepat sampai di kamarnya, tidur, dan melupakan debaran aneh di dadanya. Mobil mininya pun meluncur membelah kegelapan jalan pintas tersebut.

Di saat yang sama, beberapa kilometer di belakangnya, Rama baru saja mengunci rolling door ruko fotokopi. Dia mengikat jaket parasut kusamnya erat-erat, bersiap memacu motor bebek tuanya. Rama selalu lewat jalan sepi itu setiap pulang malam. Bukan karena mengejar waktu, tapi karena lewat sana dia bisa menghemat bensin; tidak ada lampu merah yang memaksanya berhenti dan membuang bahan bakar percuma. Setiap rupiah sangat berarti bagi Rama.

Sial bagi Naira, jalan pintas itu ternyata lebih gelap dari yang dia bayangkan. Beberapa lampu merkuri di pinggir jalan mati, menyisakan keremangan yang mencekam.

BRAK!

Guncangan keras membuat setir mobil Naira hampir terlepas. Ban depan sebelah kirinya menghantam lubang dalam yang tergenang air, disusul suara desis tajam. Ban mobilnya bocor total.

Naira mengerem mendadak, jantungnya berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, dia mengambil ponsel, berniat menelepon Pak Joko. Namun, belum sempat dia menekan tombol panggilan, sorot lampu tajam dari arah belakang memantul di spionnya. Dua sepeda motor matic tanpa pelat nomor berhenti tepat di samping mobilnya. Tiga orang cowok berbadan tegap dengan wajah ditutupi masker hitam turun.

"Turun lu! Keluar dari mobil!" salah satu dari mereka menggedor kaca jendela Naira dengan kasar, sementara yang lain mulai mencoba membuka paksa pintu mobil.

Naira panik setengah mati. Dia mengunci seluruh pintu dari dalam, mundur hingga mepet ke jok penumpang, sambil mendekap tasnya erat-erat. Air matanya mulai menetes.

Di tengah kegelapan ini, dia benar-benar sendirian. Salah satu begal itu mengeluarkan sebilah celurit dari balik jaketnya, bersiap memecahkan kaca mobil.

VROOOOMMM CRAAAASH!

Suara raungan mesin motor bebek tua yang dipaksa melaju maksimal memecah kesunyian. Rama, yang melihat keributan dari jarak seratus meter, tidak membuang waktu. Dia langsung menarik gas sedalam-dalamnya dan sengaja menabrakkan roda depan motornya ke bagian samping salah satu motor begal hingga ambruk.

Rama melompat dari motornya sebelum terjatuh, mendarat dengan mulus di atas aspal.

"Woy! Siapa lu, sok pahlawan?!" bentak begal yang membawa celurit. Tiga orang itu langsung berbalik, mengepung Rama.

Dari dalam mobil, Naira membelalakkan mata. Di bawah temaram lampu jalan, dia mengenakan jaket parasut yang sangat dia kenal. "Rama?!" jerit Naira tertahan, tangannya menutup mulut karena syok.

Rama tidak menjawab. Dia melepaskan tas ranselnya, melemparnya ke pinggir jalan agar tidak mengganggu pergerakan. Tatapan matanya yang biasanya lempeng kini berubah menjadi sangat tajam dan dingin. Dia mengembuskan napas pendek, memasang kuda-kuda rendah dengan satu tangan di depan dan satu tangan melindungi dada posisi taktis yang matang, bukan asal maju.

Begal pertama maju, melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Rama. Dengan refleks yang terlatih, Rama sedikit menggeser kepalanya ke kanan, membiarkan tinju itu lewat di samping telinganya. Di detik yang sama, Rama mencengkeram pergelangan tangan begal tersebut, menariknya maju, dan menghantamkan sikutnya keras-keras ke arah rahang lawan.

BUGH!

Begal pertama langsung tumbang ke aspal, memegangi rahangnya yang bergeser.

Melihat temannya jatuh, dua begal lainnya maju bersamaan. Salah satunya mengayunkan celurit secara horizontal, mengincar perut Rama. Suara tebasan anginnya membuat jantung Naira seolah berhenti berdetak.

Rama tidak mundur. Dia justru melangkah maju menerobos jarak jangkau senjata, mempersempit ruang gerak lawan. Sebelum bilah besi itu sempat menyentuh jaketnya, Rama melakukan inside block yang telat, menangkis lengan bawah si pemegang celurit dengan keras hingga senjatanya terlepas dan berdenting di atas aspal. Tak memberi ampun, Rama memutar tubuhnya dan melepaskan tendangan belakang (back kick) yang telat dan bertenaga tepat ke arah ulu hati begal kedua.

DUAK!

Begal kedua terlempar ke belakang, menabrak bodi mobil Naira hingga penyok, sebelum akhirnya terduduk lemas sambil muntah cairan bening.

Begal ketiga yang tersisa gemetar melihat dua temannya tumbang dalam hitungan detik oleh seorang anak SMA berseragam lecek. Tanpa pikir panjang, dia membantu temannya yang kesakitan naik ke atas motor, lalu memacu kendaraannya kabur sekencang-kencangnya, meninggalkan kepulan asap tipis.

Suasana kembali sunyi. Napas Rama tampak memburu, jaket parasutnya agak kotor terkena debu aspal. Dia memungut celurit yang terjatuh di jalan, melemparkannya jauh ke dalam semak-semak agar aman. Setelah memastikan situasi benar-benar kondusif, dia berjalan mendekati pintu kemudi mobil Naira.

Rama mengetuk kaca mobil dengan pelan. "Naira, udah aman. Kamu bisa keluar."

Pintu mobil terbuka dengan cepat. Naira langsung keluar, mengabaikan semua gengsi, semua perbedaan kasta, dan semua dinding es yang selama ini dia pasang. Dia langsung mencengkeram lengan jaket Rama dengan kedua tangannya yang masih bergetar hebat. Air matanya tumpah ruah.

"Kamu... kamu gak apa-apa? Ada yang luka?!" tanya Naira panik, suaranya parau, matanya memeriksa seluruh tubuh Rama.

Rama menatap tangan Naira yang mencengkeram lengannya, lalu beralih menatap wajah cewek itu yang pucat pasi dan dipenuhi air mata. Sudut bibir Rama terangkat sangat tipis, kembali ke mode lempengnya yang menenangkan.

"Saya gak apa-apa. Dulu pas SMP saya atlet karate, jadi yang begini masih bisa diatasi," jawab Rama tenang, berusaha mencairkan suasana. Dia melirik ban mobil Naira yang kempis. "Ban kamu bocor. Bahaya kalau kamu nunggu montir jam segini di sini."

Naira masih terisak, tapi rasa takjub dan hangat yang luar biasa mendadak memenuhi dadanya. Cowok di depannya ini baru saja mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya, dan sekarang dia masih memikirkan nasib ban mobilnya.

Rama berjalan ke arah motor bebeknya yang untungnya masih bisa menyala meski ada beberapa lecet baru. Dia kembali menghampiri Naira.

"Masuk ke mobil, kunci pintunya dari dalam. Saya bakal kawal mobil kamu dari belakang, jalan pelan-pelan sampai kita nemu tukang tambal ban 24 jam di depan sana. Oke?"

Naira menatap Rama dalam-dalam. Malam ini, di tengah jalanan gelap yang sepi, dia menyadari satu hal yang mutlak. semua uang dan kemewahan yang dia miliki tidak ada artinya dibandingkan kehadiran cowok berjaket butut yang sekarang berdiri menjaganya.

Naira mengangguk pelan, menyeka air matanya. "Iya, Rama. Makasih... makasih banyak."

"Sama-sama. Udah, buruan masuk, di luar dingin," ucap Rama sambil berjalan menuntun motornya.

Naira masuk kembali ke balik kemudi dengan perasaan yang sepenuhnya berubah. Saat mobilnya berjalan pelan, dia melirik kaca spion. Di sana, di belakangnya, sorot lampu motor bebek tua milik Rama terus menyala konstan, menjaga dan memastikan bahwa malam ini, Naira tidak akan pernah sendirian lagi.

1
Wawan
Sepertinya ini sama persis degan bab di depan 💪✍️
Wawan
Nah kena Amor lu 😍😄✍️
tazayaa: hahaha🤭
total 1 replies
Wawan
Kok mirip ceritaku ya ... "Pada Suatu Masa" 💪✍️
Wawan: Panjang kalau di ceritaku 😄 ... But ide tulisamu menarik dan menyenangkan Thor 💪✍️
total 2 replies
Wawan
Satu ilklan plus mawara buat yang lagi klepek klepek 😄✍️
tazayaa: hihii terimakasih 💪😄
total 1 replies
Wawan
Suit suiiit 😍
tazayaa: hihiii🤣
total 1 replies
Wawan
Rama dan Naira 😍😍😍
tazayaa: jangan lupa baca kisah selanjutnya yaa😍😍😍
total 1 replies
Protocetus
Bibit2 timnas 💪
Protocetus
Gk sekolah mau kerja apa bossku 😂
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa: siapp, sama-sama👍
total 3 replies
Dhatu Lukita
terus semangaattt 💪💪💪
tazayaa: terimakasih kak, semangat jugaa 💪
total 1 replies
Dhatu Lukita
haloo thor aku mampir nih, semangat terus berkarya ya 💪💪💪
tazayaa: siapp kak, makasihh yaa
total 1 replies
tazayaa
bantu follow ya supaya admin semangat update niii🤭🤭
cila_aa
aduhh ada yang mulai tumbuh tapi bukan pohon nihh 🤭
tazayaa: wkwkw
total 1 replies
tazayaa
BAGUSSS POLLL!!!🩷🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!