NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

“Giana.” 

Giana yang baru saja meletakkan Cayden di tempat tidurnya menoleh seketika. Menatap Cameron yang berdiri di depan pintu kamarnya.

“Tuan? Ada apa?” tanya Giana tanpa berdiri dari posisinya, tangannya bergerak telaten menyelimuti Cayden yang sudah tertidur pulas. 

“Boleh aku masuk? Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu,” katanya meminta izin.

Tanpa menoleh, Giana menjawab. “Ya, masuk saja, Tuan. Hal apa yang ingin Anda bicarakan? Apakah ini soal Nona Regina?” tanyanya tanpa basa-basi.

Cameron berdehem sejenak, lalu duduk di sofa kamar itu sementara Giana tetap duduk di tepi tempat tidur sambil mengawasi Cayden.

“Sebenarnya, ya. Ada hal yang harus kukatakan padamu. Tapi sebelumnya, terima kasih sudah membantuku hari ini. Aku tidak bisa membiarkan Regina tahu soal Cayden,” terangnya selugas mungkin.

Giana terdiam, menatap wajah tenang Cayden sebelum akhirnya menatap Cameron dengan sorot mata penuh tanya. “Kenapa, Tuan? Kenapa kau tidak mau mengakui Cayden? Bukankah dia anakmu?” tanyanya tak percaya.

Namun, Cameron menggeleng pelan. “Tidak, bukan itu maksudku. Aku tidak berniat menyembunyikan status Cayden dari orang lain. Hanya saja, hubungan keluarga kami ini terlalu rumit untuk dijelaskan, dan aku tidak mungkin menjelaskannya kepadamu.” 

Giana memalingkan wajah, ia sadar akan status dirinya yang bukan siapa-siapa. Hanya saja, membayangkan Cayden tidak diakui oleh ayahnya sendiri membuatnya sedih. 

“Baiklah, aku mengerti,” kata Giana akhirnya. Ia mengusap-usap pipi Cayden penuh sayang.

Cameron melihatnya dan merasa sedikit bersalah. Ia merasa lega karena Giana yang berperan penting untuk tumbuh kembang Cayden telah mengerti keadaannya, namun juga merasa salah karena harus menyembunyikan hal yang sebenarnya kepada perempuan yang terlihat tulus merawat Cayden itu.

“Terima kasih sudah mengerti. Kelak, jika ada orang-orang yang bertanya perihal Cayden, bisakah kau menjelaskan kepada mereka juga bahwa dia adalah anakmu?” Cameron kembali bertanya, atau lebih tepatnya memohon.

Giana mengangguk mengerti. “Baik, aku pasti akan melakukannya.”

“Maaf jika aku membuat banyak permintaan terhadapmu, tetapi ketahuilah, semua ini kulakukan demi kebaikan Cayden,” jelasnya, entah hanya ingin menegaskan pernyataannya ataupun menghindari kesalahpahaman yang lainnya.

“Jika itu demi Cayden, aku pasti akan melakukannya. Jangankan mengakuinya sebagai anakku, melawan badai demi dirinya saja aku akan lakukan,” kata Giana tanpa menatap Cameron yang bersiap pergi.

Mendengar itu dari Giana langsung, entah mengapa Cameron merasa aman menitipkan Cayden dalam pengasuhan perempuan itu. Selain tulus, naluri keibuan Giana juga begitu kuat.

“Aku akan pergi, istirahatlah.” Selepas mengatakannya, Cameron benar-benar pergi dan menutup pintu kamar Giana dengan rapat.

Selepas kepergian Cameron, Giana mengangkat tubuh Cayden ke dalam pelukannya. Air matanya jatuh tanpa diminta. “Mengapa nasib kita begitu mirip, Cayden? Kita lahir ke dunia dari rahim yang bahkan malu mengakui keberadaan kita. Apa salah kita?”

Cayden menggeliat pelan dalam pelukannya lalu menangis pelan seolah ikut bersedih bersama dengan Giana. 

Dengan perlahan, Giana meletakkannya kembali dan mengusap-usap keningnya agar Cayden terlelap lagi. “Tidak apa-apa, Cayden. Aku ada di sini, aku akan selalu bersamamu. Semoga waktu berpihak kepadaku,” gumamnya lalu ikut tertidur di samping Cayden.

***

Cahaya matahari yang menyusup masuk lewat jendela kamarnya berhasil membuat Cameron menggeliat dan terbangun. Merentangkan tubuh, ia lalu melirik ponselnya di atas nakas. Ada satu panggilan tak terjawab dari seseorang yang sangat ia sayangi.

Cameron mengucek matanya pelan lalu bergerak menelepon sang ibu. “Halo, Bu? Ada apa meneleponku sepagi ini?” katanya setelah panggilan tersambung. “Apa? Hari ini? Tapi aku sangat sibuk hari ini, tidak bisa pulang begitu saja.” 

Selama 15 menit, Cameron mendengarkan semua ocehan dan wejangan sang ibu yang memintanya untuk pulang ke kediaman utama keluarga sesegera mungkin. 

“Baiklah, baiklah, aku akan segera pulang hari ini juga. Sudah, jangan menasihatiku lagi. Aku tutup panggilannya, sampai jumpa di rumah,” katanya lalu memutus panggilan itu sepihak.

Cameron merebahkan dirinya lagi sambil mendesah berat. “Urusan mendadak apa? Ibu pasti hanya ingin membahas pernikahanku dengan Regina,” gumamnya merasa berat untuk pulang. 

Tetapi kemudian, ia pun bangkit dan mulai membersihkan diri. Usai berpakaian rapi dan sarapan, ia pergi menemui Giana yang tengah menjemur Cayden di halaman belakang.

“Giana,” panggilnya.

Giana langsung menoleh. “Ya, Tuan?”

Cameron mendekat, untuk beberapa sesaat ia melihat wajah keponakannya yang tampak kemerahan setelah dijemur. Ia tersenyum tipis sambil mengusap pipi Cayden.

Lalu, ia menengadah. “Aku harus pergi selama … mungkin 2 atau 3 hari, ada urusan penting,” katanya pelan.

Giana mengernyit. “Lalu? Apakah itu ada urusannya denganku?” 

Cameron menggeleng. “Tentu saja tidak. Hanya saja, aku mencemaskan Cayden. Apakah tidak masalah jika aku pergi? Cayden akan baik-baik saja, kan?” tanyanya cemas.

“Tentu saja Cayden akan baik-baik saja. Ada aku, Bibi Sarah, Perawat dan bahkan yang lainnya pasti akan menjaga Cayden. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya,” yang Giana, tersenyum tipis lalu membawa Cayden kembali ke atas.

Cameron tak berkata apa-apa lagi setelah itu, namun oa berharap tidak akan ada masalah apapun selama ia pergi. 

“Sudahlah, dia pasti akan menjaga Cayden,” katanya meyakinkan dirinya sendiri. 

1
awesome moment
thx, kak. sdh mengembalikan giana dan cay ke panti. buat agak lamaan di panti jg g p2. biar regina dan bianca tau smuanya dlu. biar cameron terbuka dlu. biar bianca nyesel dlu..biar...cay gemoy dlu😄😄😄
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat seru 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya kamu berterima kasih pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg harusnya di usir Regina 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
rasain luuhh.. bela aja teruus calon mantu manjamu ituu
E Putra
bagus ceritanya
mawar hitam
tanda kutipnya ketinggalan nih
mawar hitam
gugup
mawar hitam
gumamnya
mawar hitam
km salah paham ih 🤣
mawar hitam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mawar hitam
Make-up artist
mawar hitam
???
mawar hitam
bener2 deh si Rengginang ini 😶
mawar hitam
terpisah kalimatnya 😐
mawar hitam
kurang titik nih
mawar hitam
cakeeep, gini dong ah, tegasss
mawar hitam
dih lebay bgt
awesome moment
giana ditolong ibu panti asuhan. dibawa ke panti. tinggal dan bekerja di panti, krn disana, giana dan cay aman dan hidup layak meski...sebatas rakyat kebanyakan. bukan sbg horang kayah dan...smua tu menyiksa cameron. krn giana pergi bawa cay dan...tdk mintol samsek. kn hp ketinggalan😉😉😉
mawar hitam
hadeuhhh provokator
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!