Arini harus menjalani hidup sebatang kara ketika di tinggal neneknya untuk selamanya.
Rintangan untuk bertahan hidup di kota Jakarta yang besar, ditambah dengan rumitnya kisah cinta segi tiga membuat Arini harus menguatkan hatinya.
Kisah masa lalu yang kelam membuat Arini trauma akan percintaan. Namun Radit dan Bayu sepertinya berusaha sekuat tenaga mereka untuk menghancurkan sebuah dinding pembatas di hati Arini.
Lalu pada siapakah hati Arini akan berlabuh nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @pelipena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Setelah menyelesaikan makannya Arini kembali ke kamarnya untuk mengambil peralatan mandinya, terasa badannya sudah lengket karena belum sempat mandi dari kemarin. Arini pun seakan lupa waktu disini, betapa kagetnya ia ketika tahu kalau sekarang sudah memasuki waktu malam.
Arini mandi dengan cepat, itu karena teman-temannya juga mengantri untuk mandi. Maklumlah disini hanya tersedia satu kamar mandi untuk empat karyawan toko ini.
"Udah mandinya? cepat banget." ucap Vina ketika melihat Arini memasuki kamar.
"Kan buat gantian vin."
"Iya sih, tapi Vina kalau mandi nggak bisa cepat, hehe punya badan gedhe sih jadi sabunannya lama."
Arini hanya terkekeh mendengar perkataan Vina, sangat polos sekali dia.
"Arini baru lulus sekolah ya?"
"Ah tidak kok, Arini mah udah duapuluh satu tahun vin." jawab Arini.
"Masa sih, tapi kaya masih kecil."
"Waduh itu sih Arini nggak bisa menjelaskan."
Lagi-lagi ada orang membuat kesimpulan yang salah tentang umur Arini, nasib orang mungil sepertinya. Dengan tinggi 155 cm dan berat badan 43 kadang banyak orang yang salah persepsi tentangnya.
°°°
Ini hari pertama Arini bekerja, dan ia terlihat sangat bersemangat. Pagi hari sebelum toko di buka para karyawannya sibuk membersihkan seluruh toko yang menjual fashion untuk wanita ini. Arini memperhatikan bandrol harga untuk setiap barang yang di jual, tentu saja Arini terkejut dengan harga yang tertera, itu semua berada di luar ekspektasi Arini. Sepertinya ia akan tidak mampu membelinya barang hanya satu biji saja.
"Wooyyy."
Arini tersentak ketika di kagetkan oleh seseorang.
"Pagi-pagi udah bengong, kesambet loh."
"Ya Allah mas Ardan, jantung Arini serasa mau copot."
Ternyata Ardan yang datang dan mengagetkan Arini saat ia tengah fokus mengepel lantai.
"Nih aku di suruh nganter makanan untuk semuanya."
"Yeay makasii mas ganteng." Vina tiba-tiba menyela dan mengambil tentengan yang Ardan bawa.
"Dih kalau urusan makanan lo emang patut di acungi jempol vin, gercep banget." kata Ardan.
"Lah kalau nggak makan nanti bisa sakit loh, kalau sakitnya nggak sembuh-sembuh ujung-ujungnya mati dong."
"Huss ngawur." ucap Arini sambil mengibaskan tangannya.
"Kamu ngantar makanan aja lama banget, sudah jam berapa ini." kata seseorang di belakang Arini.
Arini menoleh dan melihat ada seorang pria tampan yang tengah berdiri di hadapannya itu.
"Mas Bayu." Vina cengo.
"Bentar lho mas, lima menit lagi lah, kau ini selalu ganggu Ardan kalau lagi seneng."
"Cepat, atau bye." setelah mengatakan itu pria tadi dengan cepat melangkah keluar dari toko.
Bukan hanya Vina, Arini pun hanya bisa bengong terpana dengan wajah yang hampir sempurna itu, tampan sekali.
"Dia mas Bayu kakaknya mas Ardan." kata-kata Dea mengagetkan Arini dari lamunannya.
"Oh.." Arini malu sekali.
"Haha nggak usah malu-malu gitu rin, kita ge juga suka khilaf kalau liat cowok ganteng." Mira menimpali.
"Namanya Bayu Permana, tiga puluh tahun, pria matang yang mapan, pengusaha sukses, di tambah dia masih single." Kata Vina.
"Tapi bukannya pria dingin itu susah untuk di dekati?" tanya Dea.
"Yang ku dengar sih begitu, mas Bayu sangat sulit untuk di taklukan, dia pria yang dingin terhadap wanita. Tidak seperti mas Ardan adiknya yang begitu supel dan ramah pada siapapun." jawab Vina.
"Bahkan ada gosip jika dia penyuka sesama jenis." bisik Mira.
"Ngawur kamu, mas Bayu juga pernah pacaran kok katanya." Dea menyangkal.
"Oh iya aku pernah dengar juga, cuma katanya pacarnya malah lebih milih menikah dengan sahabatnya." Vina menambahkan.
"Pasti sakit banget kan." kata Mira.
"Tentu saja sakit di tinggal pas lagi sayang-sayangnya. Iya nggak rin? diem bae perasaan." Dea mengagetkan Arini.
"Hehe aku kan orang baru jadi cukup nyimak aja." ucap Arini sambil membenarkan jilbabnya.
Cerita mas Bayu mengingatkan Arini dengan kisah percintaannya, di tinggal menikah oleh orang yang kita sayang dengan orang lain memang sangat menyakitkan, bekas luka yang di timbulkan juga sangatlah dalam. Seolah membuat Arini seperti tidak ingin mengenal cinta kembali.
°°°
Disisi lain Bayu saat ini sedang mengemudi mobilnya untuk mengantarkan Ardan pergi ke kampusnya. Selisih umur kakak beradik itu terpaut tujuh tahun, Ardan saat ini sedang menempuh semester terakhir untuk menggapai impiannya menjadi sarjana hukum.
"Gimana skripsi kamu?" tanya Bayu membuka percakapan.
"Iya gini aja mas, pusing aku."
"Ingat jangan sampai ngulang lagi kaya tahun kemaren."
"Mas jangan do'ain yang jelek-jelek dong." protes Ardan.
"Siapa yang ngedo'ain, mas Bayu cuma mengingatkan."
"Emmm... mas tadi liat karyawan baru yang pakai kerudung nggak?" tanya Ardan.
"Kenapa memangnya?"
"Dia manis sekali kan."
"Jiwa playboy mu sepertinya sedang menunjukan diri."
"Ya nggak papa dong, masih muda mah bebas."
"Entar mas kasih tau Sherin loh."
"Ya silahkan aja, orang udah putus kok."
"Dih cepat amat putusnya, perasaan bulan kemarin baru jadian."
"Cuma dua minggu doang jadian, dia matre jadi ilfil aku."
"Kamu itu kayaknya pacaran cuma mau nambah daftar mantan aja."
"Hahaha abis mereka ngebosenin mas."
"Terserah kamu ajalah, tapi ingat karma itu tak semanis kurma."
"Mitos!!."
Ardan memang di cap cowok playboy oleh teman-temannya, entah sudah berapa banyak mantan dalam hidupnya sekarang. Ardan adalah tipikal orang yang gampang bosan menjalin suatu hubungan, jika ia melihat wanita yang lebih menarik ia akan dengan cepat melupakannya.
"Mas Bayu mau aku kenalin cewek nggak?"
"Ogah, teman-teman mu masih kecil semua."
"Malah masih gurih-gurih nyoi dong, nggak bosen apa jomblo terus,"
"Lah terus?"
"Zombie dan zomblo sama-sama serem mas, cuma bedanya zombie itu bareng-bareng, lah zomblo mah sendirian wae."
"Lama-lama itu mulut aku sikat juga tuh."
"Hahaha ampun mas, lagian mas udah old gitu nggak nikah-nikah. Kasian lah sama mami udah ngebet pengin gendong cucu. Secara teman-teman mami udah punya cucu semua."
"Nikah mah nggak usah buru-buru dan, kalau mas udah dapat yang cocok pasti nikah kok,"
"Mas sih milih-milih, apa coba yang kurang dari mas Bayu. Ganteng, mapan, matang, cuma minus kaku aja kaya kanebo kering."
"Sialan lo... dasar adik lucknut."
°°°
"Arini, boleh minta tolong." tanya bu Lily.
"Boleh bu, apa yang bisa saya bantu?" tentu dengan senang hati Arini ingin membantu.
"Tolong beliin obat sariawan ya di apotek. Tempatnya ada di deretan ruko seberang jalan kok deket taman."
"Oh iya bu,"
Arini pun segera melaksanakan perintah atasannya itu, walau dalam hatinya agak cemas takut tak tahu arah jalan pulang. Namun tentu Arini sungkan menolak perintah bu Lily yang sudah baik padanya.
Saat Arini hendak kembali ke tempat kerjanya, ia melihat seorang anak kecil sedang jongkok menangis di taman.
"Adik nggak papa? kenapa menangis?" tanya Arini lembut.
Saat anak kecil itu mendongakkan wajahnya, betapa terkejutnya Arini saat ini.
"Chika, kamu ada disini nak." Arini memeluk gadis kecil itu.