Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas terungkap
Atmosfer kian memanas. Udara yang terhirup terasa lebih berat dari biasanya. Vivian menunduk sebentar, tatapan tajam mereka seperti menelanjangi dirinya.
Ia tak paham sepenuhnya, Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Bila bertanya seperti itu?
Ia ingin tak peduli, tapi kenapa rasanya sesak sekali?
Dinding meja yang bersih kini penuh coretan makian berwarna merah menyala. Tulisan-tulisan kasar menatapnya tajam. "Jalang Vivian", "Wanita Penggoda", "Simpanan Bos". Dan di tumpukan kertas yang dihujam pena, terselip selembar foto dirinya sedang digandeng erat oleh seorang pria yang tak menampakkan wajahnya.
Vivian mengernyit sebentar, lalu seulas senyum samar terukir di bibirnya. Ia mengenali sosok itu dengan jelas. Itu Kak Raynor. Kejadian kemarin sore, saat kakaknya menjemputnya pulang dan menuntun langkahnya yang masih lemah.
Jadi ini sumber segala fitnahnya...
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskan perlahan. Matanya berubah tajam, tak lagi lemah seperti kemarin.
"Permainan ini semakin menarik," bisiknya pelan, senyumnya melebar. "Baiklah... aku ikut sandiwaramu. Tunggu saja sampai semuanya terungkap."
Dengan kepala terangkat tinggi, ia menatap sekeliling ruangan dengan tatapan menantang.
"Siapa yang melakukannya?" suaranya tenang namun bergetar tegas. Ia tak lagi gemetar. Ia meyakini satu hal, jika ia tunduk dan menangis hari ini, maka ketakutan masa lalu akan kembali merenggutnya. Dan ia tak boleh kalah. Tidak boleh.
Dari belakang meja, suara seniornya terdengar sinis. "Kenapa? Tidak suka?"
Vivian tak menjawab. Tangannya bergerak tenang, menyingkap kertas-kertas bernoda itu ke samping, lalu duduk tegak di kursinya seolah tak terjadi apa-apa.
Wajahnya tenang di permukaan, tapi dari dalam hatinya bergejolak tak karuan. Ia menahannya. Mengendalikannya dengan sekuat tenaga.
Ketenangannya justru membuat mereka menjadi geram.
"Benar-benar tidak tahu malu ya..." gumam seseorang.
"Wajar saja. Namanya juga jalang. Wanita penggoda, simpanan bos. Urat malunya sudah hilang sejak lama," sahut yang lain disertai tawa mengejek yang memenuhi ruangan.
Vivian tetap diam. Namun di bawah meja, jemarinya bergerak lincah. Ia mengarahkan ponselnya samar-samar, merekam wajah-wajah yang terus melontarkan makian itu satu per satu. Setelah cukup, ia mengirim rekaman itu beserta foto meja yang bernoda ke kontak kakaknya.
Pesan terkirim. Belum dibaca. Belum ada balasan. Tapi tak apa, mungkin kakaknya sibuk. Ia akan menunggunya sampai waktu yang tepat tiba.
Vivian meletakkan kembali ponselnya, lalu menegakkan punggung. Menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang tak tergoyahkan.
"Kendalikan emosimu, Vivian. Jangan biarkan rasa takut menguasai semuanya. Tunggu saja... sebentar lagi, ketika waktu telah tiba, kemenangan pasti akan ku genggam."
"Memangnya kenapa kalau aku jalang?" ucapnya lantang, suaranya terdengar santai namun penuh ketajaman. "Memangnya kenapa kalau aku berhasil menggoda bos? Kalian... iri?"
Ia hampir terkekeh. Namun di mata mereka, senyum itu justru dianggap sebagai tantangan. Wajah-wajah itu memerah padam menahan amarah.
"Cih... perempuan murahan!" bentak senior itu. "Kita semua terhormat, mahal. Kita beda kelas. Tak serendah dirimu yang menjual diri!"
Seseorang di sudut ruangan berbisik cukup keras agar terdengar: "Belum apa-apa sudah begini. Bagaimana kalau Nona Stela sampai tahu? Apa yang akan terjadi padanya ya?"
"Sudah pasti tamat riwayatnya. Seperti para penggoda lain yang dulu pernah berani mendekat..." sahut temannya sambil menatap Vivian merendahkan.
Mendengar itu, Vivian kembali tersenyum tipis. Kali ini senyumnya terasa lebih yakin, lebih tenang.
"Stela...?" bisiknya lirih. "Sudah aku hadapi dan aku sudah bisa menaklukkannya. Tak ada yang perlu kutakutkan darinya."
Namun rasa percaya diri yang baru saja ia bangun seketika runtuh, ketika Renika melangkah masuk dengan amarah yang meledak-ledak.
"Saya sangat membenci adanya wanita penggoda, apalagi jika sampai orang itu ada di area kantor ini!"
Suara ketukan sepatu mahal terdengar mencekam, seirama dengan langkahnya yang tegas dan penuh amarah. Wajahnya memerah padam, emosi tampak menguasai sepenuhnya.
"Vivian, kamu masih baru, tapi saya sudah mendengar banyak laporan tidak mengenakan tentangmu," ucapnya terhenti sejenak, lalu melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapan wajah Vivian.
Semua orang menahan napas, sebagian menyembunyikan senyum puas di balik tangan. Akhirnya gadis itu tak bisa berkutik lagi, pikir mereka.
"Saya sudah melaporkan kasus ini ke pihak direksi. Karena di kantor ini, kami melarang keras segala kegiatan menjual diri!"
Vivian menatap sekeliling. Wajah-wajah itu penuh ejekan, penuh kemenangan.
"Tapi saya tidak menjual diri..." suara Vivian terdengar samar, berusaha membela diri.
"Berhenti membela diri! Bukti sudah ada di tangan saya!"
Karyawan senior di belakang Renika tersenyum miring, bibirnya bergerak tanpa suara, namun Vivian mampu membacanya dengan jelas "M a m p u s ."
Belum sempat Vivian menarik napas, sesuatu yang panas tiba-tiba menghujam kepalanya.
Cairan kopi yang lengket menetes pelan, meninggalkan jejak hitam di baju putihnya., meresap menyentuh kulitnya. Rasa tak nyaman mulai menjalar.
Perlahan ia menyentuh rambutnya yang semula ditata rapi, kini tak indah lagi.
"Ini untuk membersihkan tubuhmu yang kotor!" seru seseorang, lalu dua kotak susu coklat kembali mengguyur tepat di atas kepala. Aromanya tak menentu, bercampur dengan kopi yang semakin pekat.
Tawa riuh memenuhi ruangan. Hinaan melayang tanpa henti. Harga dirinya kembali hancur lebur. Ketenangan yang ia paksakan seketika lenyap.
Rasa takut kembali merayap, hampir menguasai kesadaran, hingga Ia tak berdaya. Air mata luruh tanpa suara.
Matanya mencari sosok Satria, satu-satunya yang mungkin bisa membela dirinya. Namun, hanya sekedar bayangannya pun tak ia temukan. Renika sengaja memberinya tugas jauh agar tak mengganggu momen ini.
Hingga suara langkah kaki terdengar tergesa dari luar.
"Bos datang! Tuan Raynor datang!"
Riuh tawa berubah menjadi bisik-bisik penuh harap. Mereka mengira hukuman terakhir akan segera dijatuhkan. Mereka tersenyum bahagia, tapi tidak dengan Renika yang seketika wajahnya memucat seputih kertas.
"Wah, Bu Renika cepat sekali menanganinya. Tuan Raynor sampai mendatangi langsung..."
"Pasti karena laporan Bu Renika, kan?"
Pujian itu bagai ancaman tajam yang menusuk jantungnya. Renika menelan ludah dengan susah payah. Matanya tak sengaja bertemu pandang dengan Vivian. Gadis itu menunduk dalam, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang dingin.
Di lengan Vivian yang terbuka, terlihat goresan-goresan merah yang mulai berdarah. Renika sadar, kekalahan sudah menyambutnya di depan mata. Gadis yang dia anggap lugu dan kampungan, bahkan lebih licik dari yang dia kira.
Renika gemetar ingin segera pergi. Namun terlambat.
Di ambang pintu, sosok pria berwajah dingin berdiri tegak. Tatapannya tajam menusuk, penuh wibawa yang membuat udara membeku seketika.
"Siapa yang membuat keributan di kantor?"
Suara berat itu meluncur pelan namun menindih seluruh ruangan. Seketika hening. Tak satu pun berani bernapas.