NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RESTU DI BALIK GERBANG

Malam itu, kediaman keluarga Mahendra tampak lebih megah dari biasanya di bawah siraman lampu taman yang temaram. Namun, bagi Adrian, rumah itu terasa seperti benteng yang harus ia taklukkan. Ia duduk di ruang tamu yang luas, mengenakan kemeja batik rapi, sementara tangannya sedikit berkeringat. Di depannya, duduk dua pria yang paling sulit ia hadapi: Pak Gunawan yang berwibawa dan Bastian yang menatapnya dengan tangan bersedekap.

Clarissa duduk di sudut lain ruangan, mengenakan gamis berwarna navy dan jilbab senada. Ia hanya bisa menunduk, sesekali memainkan butiran tasbih birunya untuk menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan.

"Jadi," Pak Gunawan memecah keheningan dengan suara baritonnya yang berat. "Tujuan kamu datang malam-malam begini, selain mengantar Clarissa pulang, adalah untuk membicarakan hal serius?"

Adrian berdehem, mencoba menstabilkan suaranya. "Benar, Om. Saya ingin meminta izin secara resmi untuk... menjaga Clarissa. Saya ingin hubungan kami ini diketahui dan direstui oleh keluarga."

Bastian mendengus, matanya tajam menatap Adrian. "Menjaga? Lo tahu kan kondisi adek gue nggak sama kayak cewek lain? Dia butuh lebih dari sekadar kata-kata manis. Dia butuh komitmen untuk tetep ada saat dia muntah karena kemo, atau saat dia tiba-tiba drop dan harus masuk UGD tengah malam."

Adrian menoleh ke arah Bastian. "Gue tahu, Bas. Gue sudah lihat Clarissa di titik terendahnya, dan itu nggak mengubah perasaan gue sedikit pun. Justru itu yang bikin gue sadar kalau gue nggak mau kehilangan momen satu detik pun tanpa ada di samping dia."

Pak Gunawan menyesap tehnya perlahan, matanya yang tajam seolah sedang memindai kejujuran di hati Adrian. "Adrian, Clarissa baru saja memulai hidup barunya. Dia baru saja menemukan ketenangan dengan jilbabnya, dengan agamanya. Apa kamu bisa menjamin kamu tidak akan menjadi gangguan bagi proses hijrahnya?"

"Saya justru ingin kami belajar bersama, Om," jawab Adrian tegas. "Saya bukan pria sempurna, tapi saya ingin menjadi imam yang bisa membimbing dan dibimbing oleh Clarissa. Saya ingin hubungan ini membawa kami lebih dekat kepada Tuhan, bukan menjauh."

Clarissa mendongak, matanya berkaca-kaca mendengar jawaban Adrian. Ia tidak menyangka Adrian akan seberani itu di depan ayahnya.

Pak Gunawan terdiam cukup lama, suasana menjadi sangat tegang. Kemudian, ia menoleh ke arah putrinya. "Clarissa, apa ini yang kamu mau?"

Clarissa mengangguk perlahan. "Iya, Pa. Adrian adalah orang yang selalu ada buat Clarissa, bahkan saat Clarissa masih jadi orang yang paling jahat di kampus. Dia yang ngajak Clarissa ke masjid, dia yang ngajarin Clarissa buat nggak takut sama masa depan."

Pak Gunawan menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman yang sangat jarang ia perlihatkan. "Baiklah. Papa pegang kata-kata kamu, Adrian. Tapi ingat, jika kamu membuat air mata putriku jatuh karena sakit hati, kamu harus berhadapan dengan saya."

"Dan gue!" tambah Bastian dengan nada mengancam namun ada binar lega di matanya. "Kalau lo macem-macem, gue jamin lo nggak bakal bisa pegang bola basket lagi seumur hidup."

Adrian tertawa lega, beban berat di bahunya seolah terangkat. "Terima kasih, Om. Terima kasih, Bas. Saya janji."

Sebelum Adrian pulang, Clarissa mengantarnya sampai ke teras. Bulan sabit menggantung indah di langit, seolah ikut merayakan keberanian Adrian malam itu.

"Gue nggak nyangka lo seberani itu tadi," bisik Clarissa.

Adrian tersenyum, ia menatap Clarissa dengan penuh kasih. "Gue kan sudah bilang, **Sayang**. Gue serius sama lo. Masa depan kita mungkin nggak mudah, tapi gue mau kita hadapi bareng-bareng."

Mendengar panggilan itu lagi di rumahnya sendiri, Clarissa merasa sangat dihargai. "Makasih ya, Dri. Makasih sudah mau jadi bagian dari hidup gue yang sekarang."

"Sama-sama. Sekarang masuk ya, udara malam nggak bagus buat kesehatan lo. Istirahat yang cukup, jangan telat minum obatnya," pesan Adrian lembut.

Namun, kebahagiaan itu sedikit terusik keesokan harinya di kampus. Saat Clarissa sedang berjalan menuju perpustakaan, ia dihadang oleh Sherly dan beberapa mahasiswa yang masih menyimpan dendam.

"Wah, lihat nih! Pengantin baru yang katanya sudah tobat," ejek Sherly, ia melipat tangan di dada. "Clar, jangan pikir dengan restu orang tua dan jilbab itu, lo bisa hapus jejak digital lo. Gue baru saja re-post video lama lo saat lo jambak rambut adik tingkat setahun yang lalu. Videonya viral lagi, lho."

Clarissa terhenti. Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat ke sekeliling, dan benar saja, beberapa mahasiswa mulai menatapnya dengan tatapan menghakimi. Bisikan-bisikan jahat kembali terdengar: "Ternyata cuma pencitraan," "Jilbabnya cuma buat nutupi kebusukan."

Clarissa merasa pening merayap di kepalanya. Namun, kali ini ia tidak menangis. Ia memegang tasbih biru di dalam saku gamisnya, mencari kekuatan.

"Sherly," suara Clarissa tenang, hampir seperti bisikan namun terdengar jelas. "Gue nggak akan minta lo hapus video itu. Itu memang bagian dari masa lalu gue yang menjijikkan. Tapi kalau lo berharap gue bakal marah atau balas dendam kayak dulu, lo salah. Gue yang sekarang cuma bisa doain lo supaya lo nggak perlu ngerasa sakit kayak yang gue rasain buat bisa sadar."

Sherly tertegun, wajahnya merah padam karena tidak mendapat reaksi yang ia harapkan. Clarissa terus melangkah pergi, meski kakinya sedikit gemetar. Ia tahu, istiqomah itu tidak mudah. Hijab yang ia pakai bukan sekadar kain, melainkan tameng dari serangan dunia yang ingin ia kembali ke masa kelamnya.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!