NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Bayangan di Balik Mahkota

Meskipun cerita sebelumnya tampak sudah berakhir dengan tenang, ternyata hidup Elena adalah sebuah magnet bagi badai.

Di dunia kekuasaan, ketika satu singa jatuh, hyena lain akan datang mencoba merebut wilayahnya.

​ Elena menyadari bahwa memegang takhta jauh lebih sulit daripada merebutnya.

​Tiga bulan setelah "pembersihan" besar-besaran itu, Elena mulai terbiasa dengan rutinitas barunya.

Tidak ada lagi aksi kejar-kejaran mobil atau penyusupan ke gudang tua.

Pagi-paginya kini diisi dengan laporan keuangan yayasan, kunjungan ke panti asuhan, dan sesekali menghadiri acara gala amal yang membosankan.

​Namun, Elena tahu satu hal: Ketenangan adalah tanda bahwa badai sedang mengumpulkan kekuatan.

​Malam itu, Elena baru saja kembali ke penthouse-nya setelah acara makan malam formal.

Ia melepas sepatu hak tingginya dengan helaan napas lega.

Namun, langkahnya terhenti saat ia mencium aroma yang sangat ia kenal di ruang tamunya.

​Aroma tembakau mahal dan parfum maskulin yang tajam.

​"Paman Han?" panggilnya waspada.

Tangannya refleks meraih belati kecil yang selalu ia sembunyikan di balik bingkai foto di meja konsol.

​"Paman Han sedang sibuk mengurus sistem keamananmu yang baru saja aku 'jinakkan' sebentar, Nona Elena," sebuah suara berat menjawab dari arah balkon yang gelap.

​Sesosok pria muncul dari balik tirai.

Ia tidak terlihat seperti penjahat; ia mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, wajahnya tampan dengan rahang tegas, dan ada bekas luka kecil di alis kirinya yang justru membuatnya terlihat berwibawa.

​"Siapa kau?" desis Elena, posisinya siap menyerang.

​"Namaku Reza Mahendra," pria itu tersenyum tipis, tenang seolah sedang berada di rumahnya sendiri.

"Dan aku di sini untuk memberitahumu bahwa musuhmu yang sebenarnya baru saja mendarat di Jakarta."

​Elena menurunkan senjatanya, tapi tidak sedikit pun mengendurkan kewaspadaannya. Nama Mahendra bukan nama sembarangan.

Mereka adalah keluarga "darah biru" di dunia bisnis Indonesia, jauh lebih tua dan lebih kaya daripada keluarga Adiguna.

​"Apa urusan keluarga Mahendra denganku?" tanya Elena dingin.

​"Adrian Adiguna memang sudah membusuk di sel," Reza melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Elena.

"Tapi kau lupa satu hal. Ibu tiri Adrian, istri kedua Haryo yang selama ini kau kira sudah meninggal di luar negeri... dia masih hidup. Dan dia adalah kakak sepupuku."

​Elena tertegun. Istri kedua Haryo? Di semua dokumen yang ia curi dari brankas Haryo, informasi itu sangat minim.

​"Namanya Dian Mahendra. Dia wanita yang sangat ambisius, Elena.

Dia tidak peduli pada Haryo atau Adrian, tapi dia peduli pada satu hal: Aset Sarah Adiguna. Dia merasa aset itu adalah miliknya karena dia yang membantu Haryo 'mengurus' ibumu di masa lalu."

​Reza melemparkan sebuah amplop cokelat ke atas meja.

"Dia baru saja membeli 15% saham Sarah Foundation lewat perusahaan cangkang di Cayman Islands. Dia datang bukan untuk membalas dendam pada Adrian, tapi untuk mengambil takhtamu."

​Elena tidak menunggu pagi. Ia segera memanggil tim analis keuangannya. Kabar dari Reza benar.

Terjadi pergerakan agresif di pasar saham yang mencoba menggoyang stabilitas perusahaan Elena.

​"Dia menggunakan taktik 'serangan fajar'," gumam Elena sambil menatap layar monitor yang penuh dengan angka merah.

"Dia mencoba membuat investor panik agar mereka menjual sahamnya, lalu dia akan membelinya dengan harga murah."

​"Nona, jika ini terus berlanjut, kita bisa kehilangan kendali operasional dalam waktu empat puluh delapan jam," lapor salah satu analisnya dengan keringat dingin.

​Elena berdiri, matanya berkilat penuh amarah yang terkendali.

"Dia pikir dia bisa bermain-main denganku di kandangku sendiri? Paman Han, hubungi semua mitra strategis kita. Katakan pada mereka, siapa pun yang menjual satu lembar pun saham ke pihak Mahendra, akan menjadi musuh pribadiku selamanya."

​"Tapi Nona," Paman Han menyela, "Reza Mahendra... kenapa dia memberitahu kita? Bukankah dia bagian dari keluarga itu?"

​Elena menatap Reza yang masih santai duduk di sofa sambil menyesap kopi.

"Kenapa, Reza? Apa maumu?"

​Reza berdiri, merapikan jasnya. "Aku tidak suka kakak sepupuku. Dia terlalu serakah, dan cara dia bekerja sangat kotor. Aku lebih suka bekerja sama dengan seseorang yang punya... gaya seperti kau. Anggap saja ini investasi jangka panjang."

​Dian Mahendra akhirnya menampakkan diri. Ia mengundang Elena untuk minum teh di sebuah hotel mewah.

Dian adalah wanita berusia akhir 50-an yang terlihat sangat elegan, namun senyumnya sedingin es.

​"Kau sangat mirip dengan Sarah," ujar Dian sambil menyesap tehnya.

"Cantik, cerdas, tapi sayangnya... terlalu berani. Sarah mati karena dia tidak tahu kapan harus menyerah. Aku harap kau lebih pintar darinya."

​Elena meletakkan cangkirnya dengan denting yang keras.

"Ibuku mati karena dikhianati oleh orang-orang seperti Anda dan Haryo. Tapi aku bukan ibuku. Aku adalah produk dari semua rasa sakit yang kalian ciptakan."

​"Berani sekali," Dian tertawa sinis.

"Besok, aku akan memiliki suara mayoritas di dewan komisaris. Kau akan diusir dari gedung ibumu sendiri, Elena. Kau akan kembali menjadi Alana yang malang."

​Elena tersenyum—senyum yang membuat Dian merasa tidak nyaman.

"Apakah Anda yakin? Coba periksa ponsel Anda, Nyonya Dian."

​Dian mengernyit, lalu membuka ponselnya. Wajahnya yang penuh botox itu seketika pucat.

Berita utama ekonomi baru saja dirilis: "Skandal Penggelapan Pajak Mahendra Corp Terungkap: Dokumen Rahasia dari Cayman Islands Bocor ke Publik."

​"Kau..." Dian menunjuk Elena dengan jari gemetar.

​"Reza memang sepupu Anda, tapi dia adalah pria yang sangat pragmatis," ucap Elena tenang.

"Dia memberikan semua bukti transaksi ilegal Anda padaku. Sebagai imbalannya, aku memberinya posisi di salah satu proyek infrastruktur terbesarku."

​Elena berdiri, membungkuk sedikit di depan Dian yang sekarang tampak seperti wanita tua yang rapuh.

​"Selamat tinggal, Nyonya Dian. Besok pagi, bukan aku yang diusir dari gedung, tapi aset Anda di seluruh dunia yang akan dibekukan oleh otoritas pajak. Jangan pernah mencoba bermain dengan api jika kau masih tinggal di rumah kertas."

​Setelah Dian pergi dengan amarah yang meledak-ledak, Elena berjalan keluar ke lobi hotel. Di sana, Reza Mahendra sudah menunggunya di samping mobil.

​"Kau benar-benar kejam, Elena. Kau baru saja menghancurkan reputasi keluargaku sendiri," ujar Reza, namun nadanya terdengar kagum.

​"Kau yang memberiku pelurunya, Reza. Aku hanya menarik pelatuknya," balas Elena. "Sekarang, urusan kita selesai."

​"Benarkah?" Reza menahan pintu mobil Elena.

"Aku merasa ini baru permulaan dari kemitraan yang sangat... menarik. Jakarta terlalu membosankan jika kau hanya bermain sendirian."

​Elena menatap Reza lama, lalu masuk ke dalam mobil.

"Jangan berharap terlalu banyak, Reza. Aku tidak butuh sekutu. Aku butuh orang yang tahu cara tetap berada di jalurnya."

​Mobil meluncur pergi. Elena menatap ke luar jendela.

Ia menyadari bahwa balas dendam mungkin sudah selesai, tapi mempertahankan kehormatan adalah perang abadi.

Namun, kali ini ia tidak takut.

Ia punya kekuatan, ia punya sekutu (meski tidak terduga), dan yang paling penting, ia punya nama yang kini ditakuti oleh siapa pun yang mencoba mengusiknya.

​"Paman Han," panggil Elena.

​"Ya, Nona?"

​"Siapkan jadwal rapat besok pagi. Kita akan mengakuisisi sisa saham Mahendra yang jatuh. Aku ingin memastikan tidak ada satu pun orang dari masa lalu ibuku yang tersisa untuk mengganggu tidurku."

​Elena memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar menjadi penguasa atas hidupnya sendiri.

Sang Nyonya yang Terbuang kini telah menjadi Sang Ratu yang Tak Tergoyahkan.

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!