NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:899
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: TEROR DALAM BAYANGAN

Bab 13: Teror Dalam Bayangan

Siska mematung. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa merasakannya di pangkal tenggorokan. Bisikan "Rhea" tadi bukan sekadar gertakan; itu adalah sebuah serangan presisi yang menghantam titik terlemahnya. Bagaimana mungkin wanita asing asal Singapura itu tahu tentang gaun tidur lilac milik Aruna? Gaun yang ia curi dan ia pakai dengan penuh kebanggaan untuk memamerkan kemenangannya di depan cermin?

"Siska? Kamu nggak apa-apa? Wajahmu pucat sekali," Bimo menghampirinya, meletakkan tangan di bahu Siska dengan nada bingung.

Siska tersentak, hampir saja ia menepis tangan Bimo. Ia menatap pintu ruang rapat yang baru saja tertutup, berharap sosok Rhea Mahendra masih di sana agar ia bisa mencakar wajahnya dan menuntut penjelasan. "Bim... wanita itu. Rhea. Kamu nggak ngerasa ada yang aneh sama dia?"

Bimo mengerutkan dahi, lalu tertawa kecil sambil merapikan jasnya. "Aneh? Dia itu brilian, Sis. Jarang ada investor yang sedetail itu. Dia tahu titik lemah proyek Bali, itu artinya dia benar-benar melakukan riset. Memang dia sedikit... angkuh, tapi dengan modal seratus miliar, dia berhak bersikap begitu."

"Bukan itu! Dia tadi bisikin sesuatu ke aku," suara Siska bergetar. "Dia bilang soal gaun tidur itu. Gaun tidur Aruna!"

Bimo terdiam sejenak, lalu menatap Siska dengan tatapan yang mulai tidak sabar. "Siska, jangan mulai lagi. Aruna sudah tidak ada. Kamu sendiri yang lihat laporannya, kan? Dia hilang di hutan, kemungkinan besar jatuh ke jurang. Kamu jangan jadi paranois cuma karena wanita itu mirip sedikit—atau punya selera parfum yang sama. Rhea Mahendra itu orang terpandang di Singapura, Adrian sudah memverifikasi semua datanya."

"Tapi, Bim—"

"Cukup, Siska. Kita butuh uangnya. Fokus saja pada pekerjaanmu. Aku tidak mau seratus miliar itu melayang cuma karena kamu merasa terintimidasi oleh kecantikannya," potong Bimo dingin sebelum melangkah keluar ruangan, meninggalkan Siska dalam kemarahan yang membuncah.

Di dalam lift, Aruna melepaskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Tangannya sedikit gemetar, tapi bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang meluap. Ia melirik Adrian yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar namun waspada.

"Kamu terlalu berani, Aruna," bisik Adrian tanpa menoleh. "Bisikan itu bisa merusak penyamaran kita kalau Siska berhasil meyakinkan Bimo."

"Siska itu pengecut, Adrian. Dia tidak akan berani cerita ke Bimo kalau dia mencuri gaun tidur istrinya yang 'gila'. Itu akan merusak citra wanita suci yang dia bangun," Aruna tersenyum dingin. "Dia akan menyimpan ketakutan itu sendiri. Dan ketakutan itu akan memakannya dari dalam."

"Langkah selanjutnya?" tanya Adrian.

"Mulai audit besok pagi. Masuklah ke sistem mereka. Temukan aliran dana gelap yang mereka gunakan untuk menyuap kepala klinik. Sementara itu, aku akan mulai mendekati Tyas. Aku tahu dia sering berada di klub malam Vortex setiap Rabu malam. Dia butuh uang untuk gaya hidupnya, dan aku punya lebih dari cukup untuk membuatnya bicara."

Malam itu, Siska tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat tatapan mata Rhea yang seolah bisa menembus kulitnya. Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju lemari besar di kamar utama—kamar yang dulu milik Aruna.

Ia membuka pintu lemari, mencari gaun tidur lilac itu. Ia ingin membakarnya. Ia ingin melenyapkan segala bukti. Namun, saat ia menyentuh gantungan baju tempat gaun itu berada, tangannya menyentuh sesuatu yang basah dan lengket.

Siska menjerit pelan saat melihat tangannya berlumuran cairan merah kental yang berbau amis darah. Di sana, gaun tidur itu sudah robek tercacah-cacah, dan di atas tumpukan kain itu, tergeletak sebuah gunting berkarat. Gunting yang sama dengan yang Bimo "hilangkan" dari mobil Aruna waktu itu.

Di cermin lemari, tertulis sebuah pesan menggunakan lipstik merah menyala:

"BAGAIMANA RASANYA MEMAKAI KULIT ORANG MATI, SISKA?"

Siska mundur dengan kaki lemas, jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Ia ingin berteriak memanggil Bimo, tapi suaranya tercekat di kerongkongan. Ia sadar, ini bukan lagi sekadar halusinasi. Seseorang ada di dalam rumah ini. Seseorang sedang mempermainkan nyawanya.

Dan di kegelapan sudut kamar, sebuah bayangan wanita berdiri diam, memperhatikan Siska yang sedang memeluk lututnya ketakutan. Bayangan itu tersenyum, lalu menghilang bersama hembusan angin malam yang masuk lewat jendela yang sengaja dibiarkan terbuka.

...****************...

Bersambung ke Bab 14: Jebakan untuk Tyas.

...Author Note:...

...Tensi makin panas! Aruna nggak cuma menyerang di kantor, tapi dia sudah mulai meneror Siska di dalam benteng pertahanannya sendiri. Gimana cara Aruna masuk ke rumah itu tanpa ketahuan? Dan apa yang akan dilakukan Siska setelah melihat gunting berkarat itu kembali muncul?...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!